Love Phobia

Love Phobia
Bab 2 : Tentang Kevin


__ADS_3

"Nan, kamu tau gak gosip terbaru siang ini" kata Windi.


Sekarang adalah jam makan siang, Kinan dan Windi berapa disalah satu meja kantin menunggu pesanan makanan mereka datang.


" Gosip apalagi sih Win" Kinan hanya menanggapi dengan malas.


"Katanya Pak Kevin itu penderita Love Phobia loh" jelas Windi.


"Hah? apaan tuh Love Phobia" tanya Kinan.


"Orang yang anti cinta gitu loh Nan, pokoknya rata-rata penderita Love Phobia ini takut banget sama yang namanya jatuh cinta" jelas Windi.


"Oh" Kinan hanya ber oh ria.


"Gitu doang tanggapan mu Nan".


" Ya terus aku gimana Win, teriak-teriak gitu?".


"Memangnya kamu gak penasaran kenapa pak Kevin bisa jadi penderita Love Phobia" tanya Windi.


Kinan mengangkat bahunya, sambil meminum capuccino pesanannya yang baru saja tiba.


"Kayaknya aku salah pilih teman ghibah deh. Atau jangan-jangan kamu juga Love Phobia ya" Windi memicingkan matanya ke arah Kinan


Uhuk!


Kinan tersedak minumannya mendengar penuturan Windi


"Heh sembarangan kalau ngomong, ya enggak lah" Kata Kinan dengan mata mendelik kesal.


"Ya siapa tau kan"


" Hahah, lagian kamu itu ngapain sih ngurusin hidup pak Kevin Win, dia juga butuh privasi kali"


"Iya sih, tapi semua karyawan lagi bahas ini. Jadi tranding topiknya perusahaan".

__ADS_1


Kinan hanya manggut-manggut, dia tidak mau ambil pusing mengenai masalah yang bukan urusannya. Apalagi masalah atasannya. Kinan sebagai bawahan sadar diri, membicarakan aib atasan bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan.


Tak lama semua pesanan Kinan dan Windi pun datang, mereka menyantap makanan sambil sesekali tertawa bersama.


...*****...


POV Kevin


Rumor tentang penyakit ku sudah tersebar, tak sedikit karyawan yang membicarakan hal tersebut. Rasanya aku ingin segera memecat orang-orang yang telah berani mengusik privasi ku.


Tentang aku yang menderita love phobia sebenarnya bukan hanya sekedar rumor belaka. Aku benar-benar sama sekali tak tertarik dengan yang namanya cinta walaupun aku tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun.


Semua itu bermula ketika pernikahan orang tua ku kandas saat aku duduk di bangku sekolah menengah atas. Hatiku sakit ketika pada akhirnya papa memilih pergi dengan wanita lain dan meninggalkan mama.


Aku ingat sekali saat itu mama menangis dan memohon agar papa tak menceraikannya. Namun, papa tak mengindahkan permohonan mama dan tetap memilih untuk pergi.


Mama mulai mengalami depresi, setiap malam ketika aku berkunjung ke kamarnya. Mama selalu saja menangis. Semakin lama, penampilan mama tak terurus. Tubuhnya kurus, rambutnya berantakan karena mama selalu saja menarik kuat rambutnya sendiri.


Pernah aku mendatangi rumah baru papa dan memohon agar papa kembali kepada mama. Aku bahkan menceritakan betapa depresinya mama ketika papa meninggalkan kami waktu itu. Namun jawaban yang aku dapatkan sungguh di luar dugaan.


“Papa akan tetap bertanggung jawab untuk biaya pendidikan mu hingga selesai, karena nantinya kamu yang akan menggantikan papa di perusahaan. Untuk masalah mama mu, apa tidak sebaiknya kita bawa kerumah sakit jiwa nak, papa khawatir kalau mama di rawat di rumah saja akan mengganggu pendidikan mu” kata papa saat itu


“Tidak pa! Sampai kapan pun mama tidak akan pernah kesana. Mama tidak gila pa. Mama hanya terpukul karena papa meninggalkannya.Mama juga tidak akan mengganggu pendidikan ku. Begini kah perlakuan papa kepada orang yang papa cintai. Kalau papa tidak mau kembali biar aku yang menjaga mama” kataku berapi-api. Aku sangat marah ketika papa menyebut nama tempat itu.


Papa hanya menghela nafas mendengar jawabanku, pada akhirnya papa memutuskan untuk menggunakan jasa perawat pribadi untuk membantuku mengurus mama. Aku setuju dengan keputusan itu daripada mama harus pergi ke Rumah Sakit Jiwa


Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi percaya dengan cinta. Bahkan mendengar kata itu saja aku sudah sangat muak. Aku berkaca pada kisah kedua orang tuaku bahwa cinta hanya akan manis di awal. Sisanya hanya akan menimbulkan luka yang akan merugikan salah satu pihak. Bagiku semua itu sudah tidak ada gunanya lagi


POV Kevin End


...*****...


Kevin sampai dirumah sekitar jam 9 malam dan langsung menuju kamar mama nya yang terletak di lantai dua.


“Mama aku pulang” kata kevin setelah membuka pintu kamar

__ADS_1


Tak ada jawaban, hanya suara senandung kecil yang terdengar oleh Kevin. Perawat yang melihat kedatangan kevin segera berdiri dan membungkuk hormat


“Apa yang mama lakukan hari ini” tanya Kevin sambil mengusap pelan rambut mamanya


“Tidak ada tuan, nyonya hanya bersenandung sepanjang hari. Kadang-kadang tertawa kecil” jelas perawat


Kevin menghela nafas kecil mendengar jawaban dari sang perawat


“Terima kasih untuk hari ini, kamu boleh pulang”


Sang perawat kembali membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan


“Ma, apa mama belum mengantuk hm, ini sudah malam. Sebaiknya mama tidur sekarang” kata Kevin lembut. Tangannya mengusap pelan tangan sang mama


“Kevin anak mama, apa papa sudah pulang nak?” tanya mama dengan nada yang terdengar menyedihkan


Kevin memandangi wajah sang mama, guratan halus mulai terlihat di wajah cantiknya. Di tambah mata sayu dan rambut yang mulai habis. Melihat itu semua membuat perasaannya kembali sakit


“Papa akan pulang bulan depan ma” jawab Kevin berbohong.


“Benarkan nak, papa pasti pulang. Dia pasti sangat sibuk sekarang” kata mama dengan senyuman tipis


“Iya ma, sebaiknya mama tidur sekarang. Angin malam tidak akan bagus untuk kesehatan mama” bujuk Kevin halus


Mama menurut, ia menggenggam tangan Kevin menuju tempat tidur. Kevin membantu mama berbaring, menyelimuti dan mengecup kening sang mama dengan sayang


“Selamat malam” ucap Kevin sebelum meninggalkan ruangan.


Setelah menutup pintu kamar, rasa sakit itu kembali datang. Sudah kesekian kali mamanya menanyakan pertanyaan yang sama dan dia pun menjawab dengan jawaban yang sama.


Pernah ia menjawab jujur pertanyaan mamanya dan yang terjadi setelah itu adalah sang mama berteriak histeris bahkan mencoba mengakhiri hidup dengan menusukkan gunting ke tubuhnya.Kevin takut semua itu kan terulang lagi. Dia tidak mau kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya


Saat akan menuju ke kamarnya sendiri, tiba-tiba dari dalam kamar mamanya terdengar suara teriakan yang kencang dan juga suara benda berjatuhan


“Mama!” Jerit Kevin

__ADS_1


__ADS_2