
“Apa ini yang kalian selalu lakukan di jam kerja?”
Suara berat itu menghentikan tawa mereka seketika dan refleks menoleh ke arah sumber suara.
Mereka sangat terkejut melihat Kevin berdiri tepat di hadapan mereka dengan tatapan tajam.
“apa kalian tidak pernah membaca peraturan di perusahaan ini? Perlu saya ingatkan?” Kevin menatap dua karyawannya yang saat ini hanya diam dan menunduk.
“Bukankah perusahaan melarang seluruh karyawan bermain-main di jam kerja” ucap Kevin agak keras hingga semua karyawan yang berada di ruangan itu menoleh ke arahnya.
“Maaf pak”ucap Kinan dan Windi bersamaan
Kinan dan Windi hanya terus menunduk tanpa berani melihat sang Direktur.
“Kamu” kata Kevin menunjuk Windi
__ADS_1
“Kamu anak dari pak Prasetyo bukan, ayahmu meminta perusahaan mempekerjakanmu agar kamu bisa belajar dan melanjutkan bisnisnya. Apa yang akan ayahmu pikirkan ketika mengetahui anaknya datang kesini hanya untuk bermain-main dan tidak serius belajar. Jika bukan ayahmu yang memintanya pasti kamu tidak akan pernah bekerja di perusahaan ini” kata Kevin berapi-api.
Sejak semalam suasana hatinya sangat buruk karena kondisi mamanya. Di tambah pagi ini ia melihat karyawannya tidak serius dalam bekerja membuat ia menumpahkan seluruh amarahnya dengan memarahi mereka di depan karyawan yang lain.
Windi terkejut karena tiba-tiba Kevin membahas itu. Memang benar ayahnya yang mengajukan Windi untuk bisa bekerja dan belajar di perusahaan Wijaya. Kata-kata Kevin seolah-olah mengatakan jika ia masuk perusahaan tanpa prestasi yang dimilikinya melainkan karena pengaruh ayahnya terhadap kerja sama perusahaannya dan perusahaan Wijaya.
Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha menahannya agar tidak sampai tumpah.
“Pak Kevin, kami memang salah dan kami sudah meminta maaf atas kelalaian kami. Tapi bukan berarti bapak bisa merendahkan dan memojokkan karyawan bapak di depan teman-teman yang lain” ucap Kinan dengan sedikit keras, sedari tadi ia sudah menahan amarah ketika mendengar Kevin merendahkan sahabatnya.
“Saya mengatakan itu untuk menjadikan contoh dan mengingatkan yang lain bahwa jam kerja hanya boleh digunakan untuk bekerja, bukan melakukan hal yang tidak berguna seperti yang kalian lakukan tadi” tatapan Kevin kini berfokus pada Kinan. Kevin sedikit terkejut karena Kinan yang statusnya bawahan Kevin berani membentaknya.
“Kinan sudah, jangan di teruskan. Pak Kevin atasan kita, kamu jangan membantahnya” ucap Windi pelan, ia menggenggam tangan sahabatnya dengan kuat. Windi takut watak bar-bar Kinan saat marah akan keluar di depan sang Direktur yang bisa membahayakan pekerjaanya. Kinan seakan tak sadar yang di hadapinya sekarang adalah atasannya sendiri.
“Kamu cukup berani membentak saya, berhati-hatilah dengan posisimu sekarang” ucap Kevin kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Setelah Kevin pergi akhirnya air mata yang sedari tadi ditahan Windi mengalir membasahi pipi cantiknya. Karyawan yang lain saling berbisik-bisik dan membicarakan kejadian yang baru saja terjadi.
Kinan menepuk-nepuk punggung Windi berusaha menenangkan sahabatnya itu. Walaupun sebenarnya Kinan cukup gelisah memikirkan ucapan terakhir Kevin sebelum meninggalkan ruangan itu.
“Nan, kamu berani banget sih bentak pak Kevin” tanya Windi di sela-sela tangisnya.
“Lagian kata-kata pak Kevin tadi ada benarnya, aku masuk perusahaan ini karena ayahku. Bukan seperti kalian yang masuk karena prestasi yang kalian miliki” lanjut Windi, air matanya semakin deras
“Hus, kamu ngomong apaan sih Win, Sudah dong nangisnya. Maskaramu tuh ikutan luntur, kamu beli yang murahan ya Win hahaha” Kinan berusaha bercanda agar Windi berhenti menangis.
“Ih kamu mah, bisa-bisanya di saat begini malah meledek aku. Mana mungkin aku beli maskara yang murah” kata Windi kesal sambil mengambil cermin kecil di sakunya kemudian memeriksa matanya. Takut maskara nya benar-benar luntur.
“lagian kamu itu harusnya mikirin apa yang bakal terjadi habis ini, kamu mungkin bakalan di pecat sama pak Kevin” kata Windi sungguh-sungguh.
“Nasib punya bos galak. Aku gak bisa liat kamu di rendahkan begitu Win sama orang lain, meskipun dia atasan kita aku bakal tetap lindungi kamu” ujar Kinan .
__ADS_1
“Uwuuu, so sweet banget sih kamu Nan, tapi maaf ya Kinan ku sayang. Aku gak mau punya sahabat pengangguran” kata Windi, kemudian tertawa pelan.
“Sialan” Kinan mendengus kesal.