
Kinan memindahkan barang-barangnya seorang diri. Tadinya Windi ingin membantunya. Namun, Kinan bersikeras ingin mengerjakannya sendiri. Kinan tidak mau mengganggu pekerjaan Windi.
Ruangan itu sangat nyaman untuk Kinan tempati. Banyak benda-benda yang berbeda dari ruangan sebelumnya.
Setelah selesai menyusun semua barang-barangnya ia duduk di kursi kerjanya. Kinan mengambil buku yang di berikan Kevin. Ia menghela nafas sebelum mulai membacanya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Kinan terlalu fokus membaca hingga tidak menyadarinya.
Dering telepon mengalihkan perhatian Kinan. Kinan meraih ponsel dan mengeceknya. Ternyata Windi yang memberi pesan untuk mengajaknya istirahat dan makan siang bersama.
“Aku hampir melewatkan jam makan siang!”. Kinan menutup buku yang doi bacanya dan segera keluar dari ruangan. Kebetulan Kevin juga baru keluar dari ruangan. Kinan segera menyapanya dengan senyuman ramah. Yah... tentu saja Kinan sudah mengetahui apa yang harus ia lakukan kepada bosnya melalui buku yang di bacanya tadi. Sekarang Kinan mencoba memperaktekkannya pada Kevin.
“Selamat Siang pak.” Sapa Kinan dengan membungkukkan sedikit badannya.
“Siang!” jawab Kevin datar sambil melewati Kinan dan masuk ke dalam lift. Kinan langsung berlari menyusulnya karena ia juga ingin menuju lantai yang sama. Karena terlalu buru-buru, tanpa sengaja Kinan tersandung kakinya sendiri.
Bruk!
Kinan terjatuh di lantai dengan posisi tengkurap.
“Aduh!” pekiknya
“Astaga bagaimana ini! apa yang ku lakukan. Memalukan sekali. Apa dia melihatnya,”.
Kinan merutuki kebodohannya di hadapan Kevin. Kinan melirik Kevin sekilas. Seperti biasa, Kevin tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
“Sial! Dia bahkan tidak mau menolongku!” batin Kinan kesal.
“Kamu ingin masuk tidak? jangan membuang-buang waktuku!” ujar Kevin membuat Kinan segera berdiri. Dengan sedikit terseok-seok Kinan masuk ke dalam Lift.
Tidak ada satu pun dari mereka yang membuka percakapan. Di banding rasa sakit karena kakinya sedikit terkilir, Kinan lebih susah untuk menahan rasa malu tentang kejadian tadi. Bagaimana tidak, ia terjatuh tepat di hadapan Bos berhati batu. Kinan benar-benar malu. Ia merasa hari ini adalah hari yang paling sial di dalam hidupnya
“Emmm, Apa Anda ingin makan siang pak?” tanya Kinan. Ia berusaha bersikap profesional dengan mencairkan suasana yang menurutnya terasa sedikit mencekam.
__ADS_1
“Hm,” jawab Kevin sekenannya.
“Anda ingin makan siang di kantin perusahaan? Saya rasa selama berada di sini saya tidak pernah sekalipun melihat Anda makan di kantin,”.
Sebenarnya Kinan tidak peduli Kevin ingin ke mana dan makan dimana. Kinan hanya berusaha menjalankan tugasnya dengan baik dan membangun hubungan kerja sama yang baik dengan bosnya itu. Karena menurut buku yang ia baca. Hal pertama yang harus dilakukan untuk menghadapi sikap bos yang tempramen adalah menjaga komunikasi yang baik.
“Bukan urusanmu!” jawab Kevin bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Kevin langsung keluar dan meninggalkan Kinan seorang diri.
“Galak banget sih. Aku kan cuma tanya!” gumam Kinan sambil mengepalkan tangannya. Ia lalu keluar dari lift dengan perlahan karena kakinya masih sakit.
“Kinan, kamu kenapa!?” Windi berlari tergopoh-gopoh saat melihat Kinan berjalan sedikit pincang.
“Gak papa Win, cuma keseleo dikit saja kok,”
“Kebiasaan deh kamu. Gak pernah hati-hati kalau lagi apa-apa. Ingat Nan, ruangan kamu sekarang ada di samping ruangan direktur. Jangan sampai kamu keluarin tu sifat bar-bar mu di depan dia,”
Cih, aku bahkan sudah mempermalukan diriku sendiri di hadapan si Direktur aneh itu.
“Nan, kok kamu diam aja sih?”
“Sudah ah Win, gak usah di bahas. Aku udah laper banget ini,” ucap Kinan sambil mengelus perutnya.
“Ya udah, kuy lah.” Windi membantu Kinan berjalan.
...*****...
Jam makan siang usai. Kinan sudah kembali ke ruangannya dengan segelas ice coffe moca di tangannya. Ia membuka kembali buku panduan dan mulai membacanya.
Beberapa jam sudah berlalu dan Kinan sudah menyelesaikan bacaannya. Ia beranjak dari kursinya dan menuju ruangan Kevin untuk mengembalikan buku itu.
Apakah Kinan sudah memahami seluruh isi buku tersebut?. Tentu saja tidak. Siapa yang bisa memahami isi buku tebal itu dalam satu kali baca. Mungkin ada namun bukan Kinan orangnya. Ia tidak peduli akan hal itu. Lagi pula Kinan sudah mencoba mempraktekkan isi bukunya tadi. Tapi Kevin malah membuatnya kesal setengah mati.
Kinan mengetuk pintu Kevin beberapa kali. Namun, tidak ada jawaban apa pun dari dalam.
__ADS_1
“Aku yakin dia gak di dalam. Lebih baik aku kembali ke ruanganku sebelum dia menobatkanku sebagai penguntit,”gumam Kinan. Ia kembali ke ruangan dan menaruh buku itu di mejanya. Kemudian berjalan menuju sofa dan berbaring di atasnya. Kinan meluruskan tubuhnya yang sedikit pegal karena duduk terlalu lama.
“Hmm...Nikmatnya..rebahan memang gak ada duanya,” ucap Kinan. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka sosial media.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya dari luar.
“Siapa sih! Baru juga istirahat,” gerutu Kinan.
Kinan bangkit dari rebahannya yang nyaman dan berjalan untuk membuka pintu.
“Selamat sore pak. Ternyata Anda sudah datang.” Kata Kinan basa-basi kepada orang yang tak lain adalah Kevin.
“Sudah selesai membaca bukunya?” tanya Kevin
“Sudah pak, baru saja saya akan mengembalikannya,” jawab Kinan di sertai senyumnya.
“Bagus! Persiapkan dirimu. Besok saya ada rapat di kota B dan kamu harus ikut!” ucap Kevin membuat Kinan terkejut setengah mati.
“Apa?! Bukankah ini terlalu mendadak pak. Saya bahkan baru selesai membaca bukunya. Saya belum mengerti seluruhnya,” ucap Kinan.
“Bagaimana kamu akan mengerti jika tidak pernah mencoba melakukannya!”
“T-tapi pak, saya belum siap,” cicit Kinan.
“Saya tidak mau tahu. Besok kita berangkat ke bandara jam setengah tujuh. Pastikan kamu tidak terlambat!” kata Kevin lalu meninggalkan Kinan dan masuk ke dalam ruangannya sendiri.
______________________ㅇㅅㅇ____________________
...Hai Love...
...Terima kasih sudah mampir...
...Jangan lupa like, comment dan vote ya.....
__ADS_1