
Kinan benar-benar tidak habis pikir, berulang kali dia membaca surat itu untuk memastikan kalau ia tidak salah lihat.
"Jadi bagaimana, apa kau mau?" tanya Kevin
"Apa Bapak serius, ini benar-benar tidak masuk akal. Bukankah seharusnya saya mendapat hukuman? mengapa malah menjadikan saya sekertaris bapak?" Kinan balik bertanya.
"Aku memberi tawaran yang bagus kau malah meminta hukuman, kalau kau tidak mau ambil saja surat pengunduran diri itu dan segera angkat kaki dari perusahaan ini" kata Kevin penuh penekanan di setiap katanya.
Kinan terdiam, dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Tapi ia lebih tidak ingin jika harus menjadi sekertaris dari bos galak itu.
"Aku memberi waktu sampai sore, sekarang kau boleh kembali ke ruangan mu" ucap Kevin.
"Bolehkan saya meminta waktu sampai besok pak, saya harus memikirkan matang-matang tawaran ini" pinta Kinan.
"Aku tidak suka menunggu terlalu lama, nanti sore kamu harus sudah memberikan jawabannya" kata Kevin santai.
"Baik pak, saya permisi" Kinan lalu bergegas keluar dari ruangan Kevin.
"Dasar egois, mentang-mentang bos huh" batin Kinan kesal.
Kinan berjalan menuju lift dan menekan tombol ke lantai bawah. Sampai di ruangannya, ia langsung serang berbagai macam pertanyaan dari Windi
"Ya ampun Kinan, kamu lama banget sih. Kamu gak di apa-apain kan sama pak Kevin" ucap Windi sambil memutari badan Kinan untuk memeriksanya.
__ADS_1
"Win kamu ngapain sih, jangan di raba-raba juga kali, geli tau" kata Kinan mengehentikan Windi.
"Aku kan cuma memastikan kalau kamu utuh tanpa lecet sedikitpun".
"Emangnya kamu kira pak Kevin apaan, Singa?"
Windi mengedarkan pandangan di sekelilingnya dan berbisik ke Kinan.
"Iya" kata Windi pelan. Kemudian mereka tertawa kecil bersama.
"Jawab Nan, kenapa pak Kevin manggil kamu?" Windi kembali bertanya setelah mereka duduk.
"Gimana kalau kamu buatin aku kopi dulu, aku lagi stress banget nih" pinta Kinan dengan raut wajah yang di buat memelas.
"Siap nyonya" Windi langsung berdiri. Kinan menaikkan sebelah alisnya.
"Khusus hari ini boleh, besok-besok jangan harap" kata Windi sambil menjulurkan lidahnya membuat Kinan tertawa
Setelah beberapa saat Windi kembali dengan segelas kopi di tangannya. Kemudian menaruhnya di atas meja Kinan.
"Yey, makasih ayang" ucap Kinan senang
"Iya. Ini kopi terakhir buat hari ini ya Nan. Kamu itu perempuan tapi doyan minum kopi. Kayak bapak-bapak tau gak" ucap Windi sewot.
__ADS_1
"Biarin wleee" Kinan menjulurkan lidahnya kearah Windi.
"Lama-lama ku tarik juga itu lidah" kata Windi kesal
Kinan menikmati kopi buatan Windi, perasaannya mulai tenang dan sedikit teralihkan dari masalah yang menimpa nya.
"Sekarang jawab Nan" kata Windi tak sabaran.
"Nih liat" kata Kinan menyodorkan sebuah surat.
"Surat pengunduran diri!!!" kata Windi terkejut.
"Kamu di pecat Nan?" tanya Windi serius.
"Idih serius amat lu" kata Kinan tertawa geli melihat ekspresi temannya.
"Ih seriusan Nan, kamu mah gitu. Kamu di pecat?".
"Iya kalau aku nggak terima tawaran ini" kata Kinan sambil menyodorkan satu surat lain.
"Apa ini?" tanya Windi namun tidak di jawab Kinan.
"Surat Pernyataan Sekertaris Direktur Perusahaan Wijaya? Maksudnya?" tanya Windi tidak paham
__ADS_1
"Aku di minta jadi sekertaris nya pak Kevin" jawab Kinan.
"Whattt!!!!"