Love Phobia

Love Phobia
Bab 12 : "Cimiwiw Cafe & Resto"


__ADS_3

“Cie cie yang bareng A’a Fadly. So sweet banget sih kalian” ledek Windi ketika Kinan sampai di mejanya.


“Apaan sih Win, heboh banget.” Kata Kinan ketus.


Beberapa saat yang lalu, Kinan sampai di kantor bersama Fadly. Banyak karyawan yang melihat momen itu saling berbisik dan bertanya-tanya apa hubungan di antara keduanya. Yah, secara tidak langsung Fadly adalah orang yang lumayan tampan. Berpenampilan rapi dan ramah kepada siapa pun. Jabatannya di kantor juga cukup berpengaruh. Fadly menjabat sebagai Manajer Keuangan Perusahaan. Meskipun jabatannya masih di bawah Kevin, tapi Fadly juga mempunyai banyak fans wanita di kantor.


“Kok kalian bisa berangkat bareng Nan?. Atau jangan-jangan kalian sudah jadian!” Kata Windi sambil menatap Kinan penuh selidik.


“Kebiasaan deh kamu kalau ngomong suka ngawur” Kinan menampol lengan Windi.


“Tadi ban motor ku bocor di tengah jalan. Kebetulan mas Fadly lewat. Ya sudah, aku bareng dia saja” jelas Kinan.


“Ya ampun Kinan, itu bukan kebetulan. Itu namanya Takdir. Fix kalian berdua jodoh”.


“Terserah kamu deh Win”.


“Ya elah, gitu aja ngambek. Becanda kali Nan Hehe”.


Kinan hanya mendengus sebal.


“Nan, kamu beneran belum kasih jawaban ke mas fadly?” tanya Windi.


“Jawaban apa?” Kinan balik bertanya.


“Itu loh, yang kalian omongin restoran. Kan mas Fadly nembak kamu” kata Windi sedikit berbisik.


“Oh, belum” jawab Kinan.


Flashback On (Akhir bab 7)


“Kinan!” panggil seseorang di belakang mereka.


Windi dan Kinan lantas menoleh ke sumber suara.


“Iya mas. Ada apa?”

__ADS_1


“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Fadly.


“Sekarang mas?”


“Ya sekarang lah. Masa taon depan” celutuk Windi. Kinan refleks menginjak kaki Windi.


“Aw, sakit tahu Nan. Brutal banget sih jadi cewek” ucap Windi sambil memegang kakinya yang di injak Kinan. Fadly yang melihat itu hanya tersenyum ringan.


“Saya pinjam teman kamu sebentar ya” kata Fadly sambil melihat Windi.


“Silahkan mas, gak usah di balikin juga gak papa kok hehe. Lagian ini sudah jam pulang kan. Mas Fadly antar pulang saja sekalian. Ya kan Kinan” ucap Windi yang membuat mata Kinan melotot. Windi menjulurkan lidahnya ke arah sahabatnya itu.


“Kita ke restoran dekat sini ya” kata Fadly setelah mereka keluar dari ruangan. Kinan mengangguk dan mengikuti langkah Fadly menuju parkiran.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di “Cimiwiw Cafe & Resto”. Karena memang sudah waktunya jam makan siang, restoran itu menjadi ramai pengunjung.


“Kamu mau pesan apa” tanya Fadly setelah mereka menempati salah satu meja yang ada di sana.


“Saya pesan lemon squash aja mas".


“Tau darimana?” tanya Kinan heran.


“Dari Windi”


Kinan menghela nafas ringan. Sejak kapan sahabatnya itu memberi tahu Fadly tentang kesukaannya pada kopi. Dan untuk apa dia memberitahunya.


“Ohh. Saya sudah minum 4 gelas kopi hari ini. Kalau sampai ketahuan Windi saya minum kopi lagi, bisa-bisa saya di maki-maki sama dia hehe” jawab Kinan sambil pura-pura tertawa.


Fadly memanggil pelayan dan memberi tahu pesanan mereka.


“ngomong-ngomong, apa yang ingin mas Fadly bicarakan?” Tanya Kinan setelah pelayan pergi.


Fadly manatap Kinan penuh arti. Sedangkan yang di tatap menjadi salah tingkah. Kinan menunduk dan memperhatikan semut yang numpang lewat di atas meja untuk menghindari tatapan Fadly.


“Duh, ngapain pake ngeliatin segala sih. Langsung ngomong aja kenapa.” Batin Kinan.

__ADS_1


“Sebelum itu, ada yang mau saya tanya kan”. Kata Fadly akhirnya.


“Tanya apa?” Kinan mendongakkan kepalanya.


“Apa pendapatmu tentang saya?”


Kinan menaikkan sebelah alisnya.


“Pertanyaan macam apa ini. haruskah ku jawab jujur? Kita bahkan tidak terlalu akrab.” Kata Kinan dalam hati


“emm, menurut saya. Mas Fadly adalah atasan yang paling baik di kantor.” jawab Kinan seadanya.


“Hanya itu?”


Kinan mengangguk ragu. Fadly tersenyum melihat ekspresi wajah Kinan.


“Kenapa mas bertanya itu?”


“Kinan, saya ingin jujur sama kamu. Saya tahu ini mendadak dan pastinya membuatmu bingung. Saya sudah menyimpan perasaan ini cukup lama dan saya tidak bisa menundanya lagi. Entah kapan perasaan ini bermula. Yang jelas, kamu adalah salah satu alasan saya semangat masuk kerja setiap harinya”


Deg


Kinan terdiam, ia menunggu Fadly melanjutkan ucapannya. Fadly meraih kedua tangan Kinan.


“Kinan Larasati, Will You Be Mine?” tanya Fadly.


...*****...


...Dukung terus karya ku ya Reader' s...


...Jangan lupa like dan vote kalau kalian suka sama ceritanya...


...Selamat Membaca💜...


...******ㅁ스ㅁ******...

__ADS_1


__ADS_2