
“Permisi pak, orang ini yang tadi Anda cari. Dia yang sudah menolong ibu Anda”. Kata polisi kepada pria itu. Kemudian pria tadi berbalik untuk melihat orang baik yang menyelamatkan ibunya.
“Pak Kevin!” Kata Kinan terkejut.
“Kamu!” .
“Lo kenal dia Vin?” tanya David.
“Dia karyawan gue di kantor.”
“Ohh.” David memperhatikan penampilan Kinan dari bawah sampai atas.
“sepertinya tugas saya sudah selesai. Untuk selanjutnya biar nona ini yang menjelaskan tentang kejadian yang menimpa ibu Anda”.
“Terima kasih untuk bantuannya pak” Kevin menjabat tangan petugas kepolisian sebelum mereka pergi dari ruangan itu.
Kevin beralih menatap Kinan yang masih terlihat kebingungan.
“Kamu ikut saya!” katanya sambil menunjuk Kinan.
“David, lo jagain mama ya. Gue tinggal sebentar”
“Oke aman” .
Kevin lalu meninggalkan ruangan Dengan malas Kinan mengikutinya dari belakang. Setelah mengetahui wanita yang ia tolong adalah Ibunya Kevin membuat banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.
Di saat Kinan sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ia menabrak sesuatu. Rupanya Kevin menghentikan langkahnya secara tiba-tiba yang membuat Kinan menabrak punggungnya.
“Aw.” Kinan menjerit Kecil sambil memegangi kepalanya.
“Kamu sengaja nabrak saya?.”
“Eh, nggak pak. Kan bapak yang berhenti tiba-tiba.”
“Jadi kamu salahin saya?”
Kinan mendengus kesal. Kalau saja Kevin bukan atasannya, sudah pasti Kinan akan memaki-makinya sekarang.
“Maaf pak.” Akhirnya Kinan memilih mengalah. Ia benar-benar tidak punya tenaga untuk berdebat.
“Terima kasih sudah menolong mama saya.”
“Rupanya dia juga bisa minta maaf, bukankah seharusnya aku mendengar kata-kata itu dari tadi. Kenapa mesti marah-marah terlebih dahulu”Kinan berdecih dalam hati.
__ADS_1
“Sama-sama pak, bukankah sudah jadi kewajiban setiap orang untuk saling menolong.” Ucap Kinan di barengi senyum terpaksanya.
“Saya boleh pulang sekarang kan pak?” tanya Kinan. Ia sudah tidak kuat lagi menahan kantuk dan lelah. Besok adalah hari pertama ia resmi menjadi sekertaris Kevin. Kinan khawatir dia akan bangun terlambat dan membuat manusia di hadapannya sekarang murka.
“Kamu pulang dengan siapa?.” Tanya Kevin
“Sendiri pak” jawabnya.
“Saya antar kamu pulang.”
Kinan membulatkan matanya.
“What! Aku gak salah dengar kan. Duh nggak-nggak, aku nggak bisa bayangin satu mobil sama manusia es kayak dia.” Batin Kinan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Eh, gak perlu pak. Saya bisa pulang sendiri. Lagipula saya bisa pesan taksi online kok” tolak Kinan
“Saya tidak mau ada penolakan. Saya akan tetap mengantarkan kamu pulang. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasih saya karena kamu telah menolong mama.” Ucap Kevin.
“T-tapi pak..”
“Saya tunggu di mobil” ucap Kevin datar kemudian berjalan menuju parkiran tanpa menunggu jawaban Kinan.
Kinan menggeretakkan giginya, ia kesal karena Kevin bertindak semaunya sendiri. Dengan terpaksa mengikuti langkah Kevin ke parkiran rumah sakit. Kinan melihat Kevin sudah berada di dalam mobil. Lalu kemudian membuka pintu belakang mobil.
Kinan membeku. Ia masih memegang pintu mobil.
“lalu aku harus duduk dimana sialan, apa aku harus duduk di pangkuanmu” kata Kinan yang tentunya hanya bisa ia ucapkan di dalam hati.
“Duduk disini” Kevin menunjuk kursi di sebelahnya.
Kinan menurut tanpa berbicara sepatah kata pun. Terlalu banyak bicara akan membuatnya semakin lama bersama orang yang menurutnya manusia ter menyebalkan di bumi.
“Dimana alamat rumahmu?.” Tanya Kevin ketika mereka sudah keluar dari halaman rumah sakit
“Jalan Flamboyan di perumahan V.”
Kevin kemudian mulai melajukan mobilnya membelah kabut di malam hari. Selama perjalanan mereka tidak ada yang berbicara. Kevin hanya melihat jalan tanpa menoleh ke arah Kinan. Sementara Kinan tidak bisa lagi menahan matanya agar tetap terjaga. Ia tertidur di sepanjang perjalanan.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba di alamat yang di sebutkan Kinan. Kevin menoleh dan melihat yang tertidur dengan nyenyaknya. Kevin berdehem, namun tidak ada respon dari Kinan.
“Hey kau! Bangunlah. Kita sudah sampai” kata Kevin agak keras.
Kinan masih tetap setia menutup matanya. Akhirnya Kevin mencoba membangunkan Kinan dengan mengguncang lengannya.
__ADS_1
“Hey bangun”
“astaga menyusahkan sekali. Kamu tidur atau pingsan” kata Kevin kesal.
Kevin mencoba lagi dengan mendekatkan tubuhnya dan menepuk-nepuk pipi Kinan. Kinan merasa terganggu dan membuka matanya. Namun, karena posisi Kevin terlalu dekat membuat Kinan terkejut dan berteriak.
“Apa yang Anda lakukan!” kata Kinan sembari mendorong Kevin.
“Aw.” jerit Kevin, tangannya terbentur setir kemudi ketika Kinan mendorongnya.
“Upss. Maaf.” Ucap Kinan.
“Kamu wanita tapi tenaga mu besar sekali.” Kata Kevin sambil mengusap tangannya yang kesakitan.
“Lagian bapak ngapain dekat-dekat saya coba.
Jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya pak.” Ucap Kinan. Ia sangat terkejut ketika melihat wajah Kevin tadi terlalu dekat dengan wajahnya.
“Apa katamu!Mencari kesempatan?. Cih, percaya diri sekali.” Kevin mencebik.
“Yaa bisa jadi kan” kata Kinan pelan.
“Jadi kau berharap saya mencium mu begitu?
Jangan mimpi.” Kata Kevin di sertai senyum miringnya.
“Kau tidak tidur berapa tahun hah, susah sekali di bangunkan” lanjutnya.
“Ya ampun pak, saya juga gak mau kali di cium sama bapak, lagian ini sudah tengah malam kan. Ya wajar dong kalau saya tidur terlalu nyenyak” kata Kinan tak mau kalah. Ia lalu membuka pintu dan keluar dari mobil.
“Tunggu!” kata Kevin ketika Kinan hendak menutup pintu mobil.
“Apalagi pak” Kinan sudah tidak sabar untuk sampai ke rumah. Ia benar-benar merindukan kasurnya yang empuk.
“Untuk masalah hari ini, tolong rahasiakan dari siapapun” pinta Kevin.
...Dukung terus karya ku ya Reader' s...
...Jangan lupa like dan vote kalau kalian suka sama ceritanya...
...Selamat Membaca💜...
...Salam dari Author yang masih belajar wkwk...
__ADS_1
...******ㅁ스ㅁ******...