Love Phobia

Love Phobia
Bab 9 : Kamu?


__ADS_3

Kinan dan supir taksi bergegas menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana Kinan di bantu supir taksi langsung membawa wanita itu ke IGD.


“Sus! Tolong. Ada ada yang pingsan” kata Kinan memanggil perawat yang ada di ruang itu.


Para perawat bergegas membantu Kinan dan segera memberikan pertolongan pertama.


“Mbak, silahkan urus administrasinya dulu” ujar salah satu perawat.


Kinan mengangguk dan bergegas menuju tempat administrasi rumah sakit. Sebelumnya Kinan mengucapkan terima kasih kepada supir taksi sebelum ia pergi.


“Mbak, saya mau bayar administrasi untuk pasien IGD tadi” kata Kinan setelah sampai.


“Ini tagihannya mbak, silahkan di cek dulu.” Kata suster menyerahkan dokumen pembayaran.


“What!!! 950 ribu!!.” Batin Kinan. Mata nya melotot melihat angka-angka yang tertera di dokumen tersebut”.


“Harganya terlalu mahal untuk rakyat jelata sepertiku huhu” Kinan menangis dalam hati.


“Mbak, tagihannya mau di bayar sekarang?” tanya petugas itu membuyarkan lamunan Kinan.


“Eh iya mbak, tapi saya gak bawa uang cash. Boleh saya tahu ATM terdekat di sini? KTP akan saya tinggal disini sebagai jaminan” kata Kinan sambil menyerahkan KTP nya.


“ATM ada di halaman rumah sakit mbak, di sebelah parkiran” jelas perawat.


“Terima kasih” ucap Kinan lalu segera menuju halaman rumah sakit.


Beberapa saat kemudian Kinan kembali dari ATM lalu segera melunasi tagihan di meja administrasi.

__ADS_1


“Tabunganku hiks hiks” Kinan kembali menangis di dalam hati. Ia kemudian kembali ke ruang IGD untuk melihat keadaan Wanita yang sudah di tolong nya tadi.


“Bagaimana keadaannya Sus?” tanya Kinan.


“Sudah lebih baik. Sekarang pasien sedang tidur.” ujar sang perawat.


“Syukurlah” Kinan bernafas lega. Meskipun tabungannya terkuras banyak, Kinan cukup bahagia bisa menolong wanita itu. Uang bisa di cari, tapi membantu sesama lebih penting. Begitu pikir Kinan sekarang.


“Mbak harus lebih perhatikan kondisi mental ibu mbak, selama pemeriksaan pasien banyak mengalami gejala depresi berat. Sebaiknya segera konsultasikan dengan psikiater untuk pemeriksaan lebih lanjut” kata perawat menjelaskan.


“Tapi saya bukan keluarganya sus. Saya hanya menolong ibu itu” kata Kinan.


“Begitu rupanya. Sebaiknya segera hubungi kantor polisi untuk membantu mencari keluarganya” ucap Suster itu sebelum pergi.


Kinan mengangguk dan segera menghubungi pihak kepolisian. Setelah menjelaskan semuanya lewat telepon. Kinan masuk ke ruang IGD dan melihat wanita itu masih tertidur pulas.


“Aku akan menemaninya di sini sampai keluarganya datang” gumam Kinan. Ia ingin memastikan sendiri jika wanita ini benar-benar bertemu keluarganya. Tidak lama, petugas membawa wanita itu untuk dipindahkan ke ruang rawat inap.


Kinan duduk di kursi tunggu ruang rawat inap. Beberapa kali Kinan menguap karena mengantuk. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Akhirnya ia benar-benar tertidur di kursi tunggu.


...*****...


Beberapa saat kemudian terdengar keributan di dalam ruang rawat inap yang membuat Kinan terbangun dari tidurnya. Ia segera berdiri dan melihat beberapa petugas kepolisian dan beberapa orang berjaket hitam. Kinan segera menghampiri mereka untuk menanyakan apa yang terjadi.


“Apa yang terjadi pak?” tanya Kinan kepada salah satu polisi.


“Apa mbak yang menghubungi kami?” tanya polisi itu

__ADS_1


“Iya benar” jawab Kinan.


“Keluarga pasien sudah di temukan, sekarang mereka ada di dalam” jelas polisi itu.


“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Terima kasih pak.” Ucap Kinan dengan rasa syukur.


“Mari ikut saya, tadi anaknya mencari orang yang menolong ibunya” kata polisi membawa Kinan masuk ke dalam ruang rawat Inap.


Kinan melihat pria berpakaian rapi duduk di samping tempat tidur wanita tadi. Kinan tidak dapat melihat wajahnya karena posisi pria itu membelakanginya. Kinan seperti merasa familiar dengan postur tubuh pria itu. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya.


“Permisi pak, orang ini yang Anda cari tadi. Dia yang sudah menolong ibu Anda”. Kata polisi kepada pria itu. Kemudian pria tadi berbalik untuk melihat orang baik yang menyelamatkan ibunya.


Seketika Kinan membulatkan matanya dan tanpa sadar menjatuhkan dompet yang di pegang nya. Begitu juga sebaliknya, pria itu juga tampak terkejut melihat Kinan.


“Pak Kevin!”


“Kamu!”


...Dukung terus karya ku ya Reader' s...


...Jangan lupa like dan vote kalau kalian suka sama ceritanya...


...Selamat Membaca💜...


...Salam dari Author yang masih belajar wkwk...


...******ㅁㅅㅁ******...

__ADS_1


__ADS_2