
“Kinan Larasati, Will You Be Mine?” tanya Fadly.
What! Tunggu dulu. Aku gak salah dengar kan. Bukankah ini terlalu tiba-tiba?
Kinan terdiam. Ia terlalu terkejut dengan penyataan Fadly yang tiba-tiba.
“Kinan, Bagaimana?”. Fadly mengeratkan genggaman tangannya.
Kinan hendak bersuara. Namun ia urungkan ketika pelayan datang membawa pesanan mereka. Kinan mengambil kesempatan itu untuk menarik tangannya dari genggaman Fadly.
Mereka berdua menjadi salah tingkah. Fadly berdehem sebelum meraih minuman yang ia pesan untuk menetralkan rasa gugupnya. Begitu juga dengan Kinan, ia langsung menghabiskan setengah gelas dari minuman yang di pesannya.
“Kinan, kamu tidak perlu menjawab sekarang. Maaf karena membuatmu terkejut dengan pernyataanku yang terlalu tiba-tiba.”
“Baiklah, berikan saya waktu untuk menjawabnya” Kata Kinan.
Fadly mengangguk. Dia tahu Kinan perlu waktu untuk menjawab.
“Kalau boleh saya tahu, apa yang mas Fadly sukai dari saya?” tanya Kinan.
Dia heran bagaimana seorang manajer bisa menyukai dirinya yang hanya staf biasa. Di hari-hari kerja pun mereka jarang berkomunikasi. Hanya saja, Kinan merasa kalau Fadly sering memperhatikannya. Dulu ia pikir itu hanya perasaanya saja. Ia benar-benar tidak menyangka ternyata atasannya itu telah menaruh rasa untuknya.
“Semuanya. apa pun itu asalkan tentang kamu saya menyukainya” ucap Fadly.
Blesss......
Kata-kata Fadly membuat pipi Kinan merona. Seketika wajahnya seperti diterpa angin yang hangat .
(Efek kelmaan jomblo ygy wkwk).
__ADS_1
“Haduh meleyot, kok aku baperan banget sih. ” kata Kinan dalam hati, ia berusaha menyembunyikan kegugupannya.
“Bagaimana bisa mas Fadly menyukai saya. Padahal saya hanya karyawan biasa, sedangkan mas Fadly adalah atasan saya.” Kata Kinan.
“Kinan, Jatuh hati tidak bisa memilih. Tuhan memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi. Bahagia adalah bonus. Aku suka bagaimana kau menyertai hariku. Selalu ada senyuman, bahkan ketika kita berjauh-jauhan."
Kinan mematung. Ia berusaha mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Fadly. Apakah ini mimpi? Ia bahkan tidak pernah membayangkan seorang Fadly mengucapkan kata indah itu kepadanya.
Flashback Off
“Ya ampun Kinan, jangan kelamaan jawabnya. Itu sama saja kamu ngegantungin perasaannya mas Fadly” Kata Windi.
“Aku bingung Win. Apa kata teman-teman yang lain kalau sampai mereka tahu aku sama mas Fadly ada hubungan. Pasti mereka nuduh aku godain mas Fadly. Kamu kan tahu fansnya disini luamayan banyak” ucap Kinan setengah berbisik.
“Yang ngejalanin hubungan itu kalian berdua. Kamu gak perlu pikirkan apa yang orang lain bilang. Toh, mereka gak tahu cerita sebenarnya kan”.
“Nanti aku pikir-pikir lagi deh. Aku mau ke ruangan pak Kevin dulu” kata Kinan beranjak dari kursinya.
Kinan berjalan keluar tanpa memperdulikan candaan Windi. Ia harus segera pergi ke ruangan Kevin sebelum bosnya itu kembali memarahinya.
Tok tok tok
Kinan mengetuk pintu ruangan Kevin. Tidak ada jawaban dari dalam.
“Apa dia belum datang ya?”. Kinan lalu memegang gagang pintu dan membukanya perlahan. Ia memasukkan kepalanya untuk memastikan Kevin benar-benar tidak ada di dalam.
“Sepertinya memang belum datang. Syukurlah, aku bisa lanjut tidur sebentar” Kata Kinan bahagia. Ia menutup kembali pintu tersebut. Ketika berbalik tanpa sengaja ia menabrak orang yang dari tadi berdiri tepat di belakangnya dan memperhatikan apa yang Kinan lakukan.
“Aw” Kinan meringis kesakitan sambil memegang jidatnya.
__ADS_1
“Selain bermain-main dalam bekerja, apa mengintip juga hobimu?” tanya Kevin dengan wajah datarnya.
“M-maaf pak, saya hanya memastikan bapak ada di dalam atau tidak” kata Kinan gelagapan.
“Saya tidak butuh penjelasanmu”. Kevin lalu masuk ke dalam ruangannya tanpa mempedulikan Kinan.
Kinan mengikuti Kevin masuk ke ruangan itu. Ia berdiri di depan meja kerja Kevin dan bersiap untuk perintah selanjutnya. Kevin mengeluarkan buku tebal dari lacinya dan menaruhnya di atas meja.
“Ini adalah buku peraturan yang harus kamu pelajari untuk menjadi sekertaris saya. Untuk hari ini kamu hanya perlu mempelajarinya”.
Kinan ternganga melihat buku yang di berikan Kevin. Ia mengambil buku itu dengan kedua tangannya.
“Gilakkk! Buku setebal ini di suruh pelajari dalam satu hari. Yang benar saja” batin Kinan kesal.
“Mulai hari ini kamu bisa menempati ruangan yang ada di sebelah ruangan saya. Pindahkan semua barang-barangmu ke ruangan itu hari ini”.
“Baiklah. Saya permisi pak”. Kinan lalu meninggalkan ruangan Kevin.
Suasana hatinya sedang buruk. Kinan masih mengantuk karena kurang tidur semalam. Ditambah lagi ia harus membaca buku yang panduan sekertaris yang tebal dan pindah ruangan.
“Hufttt, semangat Kinan” ucap Kinan pada dirinya sendiri.
...******...
...Dukung terus karya ku ya Reader' s...
...Jangan lupa like dan vote kalau kalian suka sama ceritanya...
...Selamat Membaca💜...
__ADS_1
...******ㅁ스ㅁ******...