Love Phobia

Love Phobia
Bab 3 : Rencana Kevin


__ADS_3

Kevin lantas membuka kembali pintu kamar dan mendapati sang mama tergeletak di lantai


“Mama!” jerit Kevin.


Segera ia berlari dan menggapai tubuh sang mama. Kamar yang sebelumnya rapi kini telah berantakan banyak barang-barang pecah dan berserakan di mana-mana.


“Mama kenapa ma, mana yang sakit?” tanya Kevin khawatir sambil memeriksa perlahan tubuh mamanya takut jika ada bagian yang terluka


“Sakit Vin, di sini terasa sakit sekali” kata sang mama sambil memegang dadanya


“Papa meninggalkan kita, tadi mama bermimpi papa memeluk wanita lain. Rasanya sakit sekali hiks hiks”


mama menangis tersedu-sedu.


Kevin hanya diam mendengarkan racauan mamanya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya runtuh juga. Kevin menangis sambil memeluk sang mama


“Ayo vin kita susul papa, mama takut terjadi apa-apa dengan papa kamu” kata mama sambil menarik-narik lengan Kevin


“Mama tenang ya ma, papa pasti baik-baik saja ma” Kevin menenangkan sang mama


“Tapi papa tidak pernah memberi kabar Vin” kata mama dengan air mata yang semakin deras


“Papa kan lagi kerja di tempat yang jauh Ma, pasti papa sedang sibuk sekarang. Mama sabar ya, pasti papa akan segera pulang”

__ADS_1


Setelah semua kata-kata penenang dari Kevin, akhirnya sang mama kembali tenang. Kevin dengan sabar mengelus rambut mamanya. Hingga sang mama terlelap di pelukannya. Kemudian Kevin menggendong tubuh mama dan membawanya ke tempat pembaringan.


Setelah kejadian ini Kevin semakin membenci papanya. Hatinya benar-benar teriris melihat kesehatan mama yang semakin hari semakin memburuk


“Aku berjanji Ma, aku akan membalaskan rasa sakit yang telah mama alami. Papa juga harus mengalaminya. Terlebih kepada perempuan yang telah berani merebut papa dari kita” batin Kevin sambil terus menggenggam tangan Mama.


*****


“Nan nanti kalau jam pulang kamu jangan pulang dulu ya” kata Fadly menghampiri Kinan


“Kenapa mas?” tanya Kinan


“Ada yang mau saya bicarakan sama kamu”


Kinan kembali ke layar komputer, perhatiannya sedikit teralihkan karena kedatangan Fadly.


Sesaat kemudian Windi datang dengan senyum nakalnya.


“Cie cie yang di samperin Aa’ Fadly” goda Windi sambil mencolek dagu Kinan


“Apaan sih Win, jangan aneh-aneh deh” cebik Kinan


“Kira-kira mau ngomongin apaan tuh si Aa' "

__ADS_1


“Kepo banget sih” Kinan mendengus.


“Ya aku penasaran aja Nan, kamu aja yang gak pernah sadar kalau Fadly sering liatin kamu diam-diam”


“Perasaan kamu saja kali Win, gak mungkin lah Mas Fadly liatin aku. Kurang kerjaan banget” jawab Kinan sewot


“Terserah deh, aku yakin seratus persen kalau Fadly ada rasa sama kamu Nan” ujar Windi.


Kinan hanya mengangkat bahu tanda tak peduli, sangat malas untuk menanggapi pernyataan Windi yang menurutnya berlebihan.


“Tapi masa iya sih dia malah ada rasa sama Wanita galak kayak kamu Nan, di kantor ini masih banyak yang lebih feminim. Contoh nya aku” kata Windi sumringah.


Sangking sebalnya Kinan lantas meraih stofmap plastik kosong dan memukul-mukulkanya ke lengan sahabatnya itu.


“aduh sakit tahu Nan”.


“Biarin , lagian kamu hari ini nyebelin banget sih Win” kata Kinan kesal namun kemudian tertawa melihat ekspresi Windi.


“Ayangggg, tolong aku di dzolimi perempuan bar-bar ini hiks..hiks” kata Windi sambil pura-pura menghubungi seseorang di telepon.


Kemudian mereka berdua tertawa bersama. Tingkah laku mereka di perhatikan oleh Kevin yang kebetulan berjalan tak jauh dari mereka. Suara tawa yang mengalihkan perhatian membuatnya berhenti untuk mencari sumber suara.


“Apa ini yang kalian selalu lakukan di jam kerja?”

__ADS_1


Suara berat yang menghentikan tawa Kinan dan Windi seketika.


__ADS_2