Love Phobia

Love Phobia
Bab 7 : Keputusan Kinan


__ADS_3

Saat ini adalah jam istirahat, mereka sedang menikmati makan siang di kantin perusahaan. Windi masih menatap lekat-lekat surat yang di berikan Kinan tadi. Sesekali ia mengumpat karena terlalu kesal oleh pilihan yang di berikan Kevin untuk Kinan.


“Wah, aku bener-bener nggak habis pikir deh sama pak Kevin. Isi otaknya apaan sih” gerutu Windi sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Eh tapi bukannya Pak Kevin sudah punya sekertaris ya Nan?" tanya Windi


"Dengar-dengar sih sekertaris lamanya mengundurkan diri" jelas Kinan


"Iya lah, siapa yang tahan sama sikapnya yang galak itu" gerutu Windi


"Dulu kamu puja-puja tuh pak Kevin. Kok sekarang malah di katain galak sih" kata Kinan sambil tertawa


"hiii, ternyata galaknya sama aja kayak bapaknya" Windi bergidik ngeri.


"Hahahaha" Kinan tertawa lepas.


"Jadi apa keputusan mu Nan" tanya Windi setelah beberapa saat.


“Aku sudah tentukan keputusanku, aku bakalan terima tawaran menjadi sekertaris itu” Kata Kinan setelah segelas ice coffee nya habis, otaknya seakan bisa kembali berpikir jernih berkat ice coffe itu.


“Kamu yakin nan, kayaknya pak Kevin itu cuma mau ngerjain kamu deh. Baru ini dalam sejarah dunia karyawan buat kesalahan tapi malah naik jabatan sebagai ganjarannya” ucap Windi


“Kamu tenang saja Win, aku yakin pak Kevin bukan tipe orang yang begitu. Dia pasti berpikir matang-matang sebelum memutuskan sesuatu” kata Kinan yakin.


“Ya sudah, apa pun keputusanmu pasti aku bakalan dukung Nan, selama itu yang terbaik menurutmu” ucap Windi mengelus tangan Kinan

__ADS_1


Kinan tersenyum mendengar penuturan Windi. Ia bersyukur meskipun tinggal sendiri di kota ini, ia masih memiliki Windi sebagai tempat berbagi keluh kesah.


...*****...


Kinan berjalan di pelan mendekati pintu ruangan Kevin. Sebelumnya ia telah di panggil untuk segera datang. Setelah menarik nafas panjang, Kinan akhirnya mengetuk pintu ruangan itu.


Tok tok tok


“Masuk” terdengar suara dari dalam.


Kinan masuk namun kali ini ia tidak lagi menundukkan kepala. Dengan berani ia menatap mata Kevin.


“Kamu sudah berani mengangkat kepalamu” kata Kevin, namun tidak ada tanggapan dari Kinan.


“Jadi apa jawabanmu?” tanya Kevin langsung pada intinya.


Kevin tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya. Sepertinya ia puas mendengar jawaban Kinan.


“Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?” tanya Kevin sekali lagi


“Saya yakin pak, saya akan berusaha menjalankan tugas baru yang bapak berikan” ucap Kinan.


“Bagus, saya harap kamu bisa mengatasi semua tugas yang nantinya akan lebih berat dari jabatan mu yang sekarang” kata Kevin.


“Terima Kasih pak” kata Kinan sambil memberikan senyum terbaiknya.

__ADS_1


“Cih, mungkin kamu masih bisa tersenyum sekarang. Kita lihat saja apa senyum itu bisa bertahan setelah kamu resmi menjadi sekertaris nanti” kata Kevin dengan senyum miring, kata-katanya seolah adalah peringatan tanda bahaya yang menanti Kinan.


Kinan hanya diam, ia tidak mau bertanya apa maksud dari perkataan bos galak itu karena pasti hanya keluar jawaban yang membuat otaknya panas.


“Demi kesehatan jiwa dan raga sebaiknya kunci mulutmu rapat-rapat nan, sabar...” kata Kinan dalam hati.


“Boleh saya pergi sekarang pak” tanya Kinan.


“Tentu saja, untuk apa kau berlama-lama di sini” Kata Kevin datar.


“Baiklah, saya permisi pak” Kinan pamit sambil membungkuk kan badan.


Tak ada jawaban dari Kevin, Kinan akhirnya berbalik dan segera keluar dari ruangan. Ketika sampai di koridor Kinan berbalik menatap pintu ruangan Kevin yang menurutnya adalah pintu keramat.


“Dasar manusia es, pakai ngancam segala. Kalau bukan karena ibu pasti aku lebih pilih surat pengunduran diri itu, arghhh” Kinan menghentak-hentakan kakinya kesal. Kemudian dia segera masuk ke dalam lift untuk kembali ke ruangannya.


Setelah sampai, Kinan langsung menuju dispenser untuk membuat minuman dingin. Kinan ingin menyegarkan otaknya yang hampir meledak karena Kevin.


“Eits, stop! Kamu mau buat kopi lagi Nan? Gak-gak, jangan berani-berani kamu sentuh itu hari ini.” Kata Windi langsung merampas gelas dari tangan Kinan.


“Apaan sih Win, aku cuma mau minum air es doang kali” kata Kinan sewot.


“Awas loh ya kalau kamu sampai kamu minum kopi lagi hari ini. Bakal aku tuntut semua perusahaan kopi yang ada di Indonesia” ucap Windi melotot.


“Sok banget idih, lebay banget” kata Kinan tertawa

__ADS_1


“Kinan!” panggil seseorang di belakang mereka.


__ADS_2