
Malam ini Kinan mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Dia bahkan browsing tentang apa saja yang dua perlukan sekertaris ketika akan pergi keluar kota. Kinan mengemasi beberapa pakaian dan juga barang-barang yang di butuhkan esok hari. Setelah selesai Kinan meraih ponselnya di atas nakas dan menghubungi ibu nya.
“Assalamualaikum bu,” ucap Kinan ketika telepon telah tersambung.
“Waalaikumsalam nak. Bagaimana kabarnya nduk?” Jawab bu Rahma, Ibu Kinan di seberang telepon.
“Alhamdulillah Kinan baik bu. Maaf ya bu, akhir-akhir ini Kinan jarang menelepon ibu,” ucap Kinan sedih.
“Tidak apa nduk. Lagi pula, sekarang jabatanmu naik. Pasti kerjaannya lebih banyak,”.
“Bagaimana kabar Ibu dan Kanaya? Apa semua baik-baik saja?”.
“Ibu dan Kanaya sehat. Adikmu itu sedang aktif dengan berbagai kegiatan di sekolahnya. Ibu kadang khawatir karena dia jadi telat makan. Badannya itu kurus sekali,” celoteh bu Rahma.
“Hahah, ya namanya juga anak remaja bu. Apalagi Kanaya juga sebentar lagi lulus SMA kan. Jadi wajar toh dia banyak kegiatan.” Kata Kinan.
“Oh iya bu, besok Kinan ada kerjaan di luar kota. Doakan Kinan ya bu. Semoga semuanya di lancarkan,”.
“Iya nduk, doa ibu tidak pernah terputus untuk anak-anak ibu. Ibu selalu mendoakan kalian berdua,”.
“Ya sudah bu, Kinan tutup teleponnya ya. Titip salam untuk Kanaya ya. Assalamualaikum,”.
“Waalaikumsalam, sehat-sehat ya nduk,”.
“Iya bu,”.
Tut...Tut...
Sambungan telepon terputus. Kinan lega ibunya baik-baik saja di sana. Semenjak ayahnya meninggal, Ibunya jadi sering sakit-sakitan. Apalagi Kinan harus merantau ke kota untuk mencari kerja dan meninggalkan ibu dan adiknya yang masih sekolah. Sebenarnya ia ingin bekerja di desanya saja agar bisa sambil menjaga ibu nya. Tapi lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya di desa sangat minim. Kalaupun ada, gajinya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kinan menyebarkan berkas lamarannya di berbagai perusahaan di kota ini melalui media online. Karena nilainya yang bagus membuat perusahaan Wijaya tertarik memanggilnya untuk interview. Berkat kegigihannya, akhirnya Kinan bisa bekerja di perusahaan itu.
Kinan lalu menghubungi Windi. Sahabatnya itu belum tahu kalau besok dia akan ke luar kota.
“Halo Win,”.
“Halo mbak sekertaris,” kata Windi jahil.
“Mulai deh,” ucap Kinan kesal.
“Hehe, jangan marah-marah atuh neng. Ntar cepat tua loh. Ada apa nih telepon malam-malam. Tumben banget. Kangen yaa...”
“Idih najis banget, aku cuma mau bilang kalau besok aku bakal keluar kota sama pak Kevin,”
“Oh..terus?”
__ADS_1
“Kok kamu gak kaget sih Win?”
“Kenapa mesti kaget. Itu kan memang tugas sekertaris,” ucap Windi santai.
“Iya sih, Cuma aku kurang percaya diri,”
“Ya ampun Kinan. Kamu itu pintar. Buang jauh-jauh deh kurang percaya dirimu itu. Kamu aja berani bentak lordnya perusahaan Wijaya. Masa kerjaan gitu doang ciut,” sindir Windi.
“Siapa Lord?” tanya Kinan bingung.
“Ya si Kevin lah. Siapa lagi coba,” Kata Windi. Dia memang berani memanggil Kevin tanpa embel-embel pak di depannya jika berdua dengan Kinan.
“Hahah, ada-ada saja sih kamu. Ku aduin pak Kevin loh besok,”ancam Kinan sambil tertawa.
“Ya jangan dong, kamu mau aku di kick dari perusahaan. Ntar kamu kesepian lagi kalau gak ada sahabatmu yang cantik membahana ini,” kata Windi. Mereka berdua tertawa bersama.
“Ya udah deh. Istirahat gih,” ucap Kinan.
“Oke deh. Selamat berpetualang sama lord yaaa” kata Windi lalu mematikan teleponnya.
Kinan meletakkan kembali ponselnya di nakas. Tak lupa menyetel Alarm agar ia tidak bangun terlambat besok. Setelah beberapa saat, Kinan akhirnya tertidur lelap.
...*****...
Kevin sedang menyuapi Mama Linda di kamarnya. Dengan lembut ia membersihkan bubur yang menempel di sudut bibir mamanya. Kondisi Mama Linda mulai membaik setelah kejadian mamanya hilang waktu itu. Kevin juga heran. Ia pikir mamanya akan semakin parah. Namun nyatanya, mama Linda terlihat jauh lebih sehat. Bahkan mamanya sudah mau bicara sedikit-dikit padanya. Kevin bersyukur sekali. Dia semakin sering memberikan perhatian kepada mamanya. Bahkan di jam istirahat pun, Kevin menyempatkan diri untuk pulang ke rumah dan membuatkan mamanya bubur dan membantunya Minum obat.
“Ma, besok Kevin ada meeting di luar kota. Apa mama akan baik-baik saja?” tanya Kevin lembut.
Mama Linda menatap putranya sambil tersenyum. Tangannya mengelus pipi Kevin.
“Anak mama sudah besar sekarang. Kapan kamu menjadi sebesar ini?” ucap mama Linda dengan tatapan sendu. Kevin memegang tangan mamanya lalu mengecupnya.
“Mama yang membesarkan Kevin,” ujar Kevin.
“Pergilah nak, mama akan baik-baik saja. Ada suster yang akan menjaga mama,” ucap Linda dengan senyumnya.
“Mama sangat cantik jika tersenyum seperti ini. Mama harus berjanji untuk terus memberikan senyum ini pada Kevin,”
Mama Linda mengangguk dan memeluk putranya dengan sayang.
“Kevin,” panggil mama Linda.
“Iya ma,”
“Apa kamu bisa membawa gadis yang menolong mama saat itu? Mama ingin sekali bertemu dengannya,”
__ADS_1
Kevin mengerinyit kan dahi ketika mendengar permintaan mamanya. Apa gadis yang di maksud mamanya adalah Kinan?. Tapi untuk apa ia mencarinya.
“Mama ingin bertemu dengannya? Tapi untuk apa?” tanya Kevin.
“Mama ingin berterima kasih padanya,”
“Mama tenang saja. Kevin sudah mengucapkan terima kasih padanya. Bahkan Kevin mengantarnya pulang dengan selamat,”
“Benarkah? Kalau begitu anak mama tahu dimana gadis itu tinggal?” Mama Linda terlihat antusias.
“Iya ma, jadi mama tidak perlu khawatir ya.” Kevin mengelus tangan mamanya.
“Tapi mama ingin bertemu dengannya. Apa Kevin bisa membawanya kesini?” bujuk mama Linda.
“Kenapa mama ingin sekali bertemu dengannya hm?”. Kevin bingung. Baru kali ini mamanya berbicara sebanyak ini. Bahkan membujuknya untuk membawa gadis yang menolongnya itu kerumah.
“Dia memiliki tubuh yang hangat. Mama ingat sekali. Saat itu mama sangat kedinginan. Dia datang dan memeluk mama dengan erat. Dia gadis yang baik.” Ucapnya. Pandangan matanya menerawang mengingat kembali serpihan kejadian yang pernah menimpanya.
Kevin terdiam. Benarkah apa yang di bilang mamanya. Setahunya, Kinan adalah gadis pembangkang dan pemalas. Ia bahkan mengingat jelas bagaimana gadis itu membentak dirinya di hadapan para karyawan.
“Kevin, kenapa diam nak?” sentuhan lembut mama Linda menyadarkan Kevin dari lamunannya.
Kemudian ia menatap mamanya penuh arti.
“Apa mama sangat ingin bertemu dengannya?”
Mama Linda mengangguk.
“Baiklah, aku akan membawanya kesini,” ucapan Kevin membuat senyuman di wajah mamanya mengembang dengan sempurna.
“Tapi mama harus berjanji pada Kevin untuk rajin minum obat. Dan pastikan senyum ini tidak hilang lagi." kata Kevin.
“Tentu,” jawab mamanya bahagia.
Kevin kembali meraih sang mama ke dalam pelukannya. Malam ini ia merasa bahagia sekali, sang mama akhirnya berbicara banyak hal padanya. Dia akan memikirkan cara untuk membujuk Kinan agar mau datang ke rumahnya. Demi kebahagiaan mamanya, semua akan Kevin lakukan bagaimana pun caranya.
______________________ㅇㅅㅇ____________________
...Hai Love...
...Terima kasih sudah mampir...
...Jangan lupa like, comment dan vote ya.....
...💜💜💜...
__ADS_1