
"Pak pak. Bapak gak apa apa kan? Dewi panik bukan main, dia menoleh ke kanan dan kiri tanpa tau apa yang dia cari.
Pak, jangan nakut nakuti saya dong, Pak!
Saya harus ngapain?
Ah tunggu bentar ya, Pak! Saya panggil orang dulu buat bantuin bapak.
"Nggak perlu, Dew! Mencekal lengan Dewi dengan kuat saat Dewi hendak berdiri.
"Duhh pasti sakit banget kayaknya, bahkan memegangku aj sangat kuat. Batin Dewi.
Dewi memegang tangan Daniel, berharap bisa meringankan sakitnya Daniel.
"Kamu di sini saja, temani saya!
Saya malu jika ada orang lain yang tau.
Cukup lama dengan posisi mereka yang saling menggenggam, sedang tangan kirinya memegang asetnya yang masih terasa ngilu.
Setelah dirasa lebih baik, Daniel melonggarkan genggaman tangannya.
"Apa sudah mendingan, Pak?
"Iya, kamu sudah boleh keluar! Saya bisa sendiri.
"Hmm,,,baik, Pak. Tapi beneran bapak gak apa apa? Gak ada lecet gitu kan, pak? Tanya dewi ragu ragu, memastikan kalo Daniel benar benar baik baik saja. dia belum beranjak dari duduknya, dia masih betah menemani Daniel di lantai. Daniel tersenyum tipis melihat kekhawatiran dewi, hatinya terasa hangat .
"Gak perlu khawatir! Udah gak apa apa kok.
Kalo memang ada apa apa, kamu harus tanggung jawab, bisik Daniel tepat di telinga dewi yang sukses membuat si mpunya menegang, mebuat pipi Dewi merah padam.
Daniel terkekeh melihat telinga dewi juga merah.
"Ishh, Bapak. Malah ketawa, gak tau apa aku khawatir? Bersungut sungut.
"Kalo kamu khawatir, mending periksa sendiri, ada yang luka atau nggak!
"Dasar guru otak mesuuuummmm. Teriak dewi yang dibalas kekehan Daniel.
Udah aku pulang dulu, urus aja sendiri tuh otongmu.
Dewi berlalu pergi, tinggal Daniel yang masih memegang perutnya yang sakit habis tertawa.
----
Dewi berjalan buru buru menuju parkiran, dia ingat kalau Rendy nunggu dia. Sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 15:30.
__ADS_1
"Duh udah jam segini, pasti Rendy udah nungguin aku.
Dari kejauhan dia melihat Rendy yang melambaikan tangan dengan senyum manisnya yang tak pernah pudar di depan Dewi.
"hmm,, maaf, Ren! Udah nunggu lama.
"Iya gak apa apa, tadi Kirana udah bilang kok, kalo kamu masih ada urusan dengan guru.
"Kamu ada perlu apa, Ren? Kayanya penting banget?
"Bagiku ini penting, dew. Tapi mungkin tidak untukmu.
"Coba ngomong dulu! kalo kamu gak ngomong mana tau aku, penting apa nggak?
"Hmm,, gini, Dew. Ragu ragu
"Iya??
"Aku suka kamu, Dew. Terserah, kamu mau terima aku apa nggak. Aku hanya ingin jujur kalo aku tulus sama kamu, Dew.
Tapi tolong, setelah ini jangan benci aku! Jangan jauhi aku! Aku mohon.
"Maafin aku, Rend! Aku cuma anggap kamu teman, gak lebih. Lagian kamu tau, ada orang lain yang aku suka.
"Iya aku tau, dew. Kamu suka sama vino. Tapi dia gak pernah nganggep kamu ada.
Aku sembunyi di bawah tangga, melihat vino dari kejauhan yang sedang duduk dengan natalie yang bersandar di bahu vino.
Aku mengeratkan rahangku, mengepalkan tanganku berusaha menahan air yang hampir menetes.
Aku menghela nafas berat, dadaku terasa sangat sesak hingga sulit tuk bernafas.
"Vino,,,,aku menunduk, bergumam dengan nada frustasi, semakin sesak, semakin sesak lagi, hingga tak mampu lagi aku menahan air mata, yang telah lolos membasahi pipiku.
Vin. jika memang perasaan ini salah, tolong bantu aku lupain kamu, tolong!
Hampir dua tahun aku memendam perasaan ini untukmu, tapi kamu tak pernah sedikitpun melihat keberadaaku,, malah seakan kamu benci padaku.
Ya Allah.. Aku serahkan semua kepadaMu. Aku terima apapun yang kau siapkan untukku, yang terbaik buatku. Aku berbalik dengan mata yang masih terpejam mengadah ke atas, dengan bersandar pada dinding, aku masih menangis dalam diam berusaha menetralkan dadaku yang masih sesak.
"Jadi kamu suka sama vino? Tiba tiba ada suara di depan wajahku yang membuatku tersentak seketika, tubuhku menegang. Air mata yang sejak tadi tak mampu kubendung berhenti dengan sendirinya..
"A a aku....
Aku menjawab dengan tergagap
"Sudah gak perlu menyembunyikan itu lagi dariku, dia menarik kepalaku ke dadanya, memelukku dengan erat. Yang kubalas dengan pelukan tak kalah erat.
__ADS_1
Air mataku jatuh kembali bahkan semakin deras di pelukan rendy.
Dia mengusap kepalaku dengan sayang.
"hiks hiks, Aku salah apa, Rend? Hiks hiks, kenapa dia benci aku, Rend? Hiks.
Aku memang bukan wanita sempurna, aku bukan orang kaya, bahkan cuma anak yatim hiks hiks.
"sudah masih ada aku di sini, yang siap menjadi sandaran buatku, bahuku masih kuat kok menopang kepalamu.
Dia menjauhkan kepalaku dari dadanya, mengusap pipiku dengan sayang.
Jangan menangis ya! Kamu tambah jelek kalo matamu sembab gini, ingusan.
"ihhkk, apaan sih, Rend. Gak ada ingusnya kok. Aku mengusap hiduku karena malu.
"Nggak kok, aku cuma bercanda. Kekantin, yuk! Aku traktir makanan, apapun. Kamu juga boleh borong sama kantinnya juga kok. Dia tersenyum, memperlihatkan senyum manisnya yang mampu menggoda para gadis.
Kubalas dengan bibir manyun dan kerlingan mata malas.
"makin jelek tau kalo gitu.
"Jadi nggak sih? Traktir aku? Aku udah laper. Aku merengek sambil mengusap sisa air di sudut mataku.
"Iya ayo.
Flashback off.
--------
"Rendy, sekali lagi maafin aku.
Aku mohon tetaplah jadi temanku, sahabatku, kakakku. Aku tak mau jika suatu saat nanti aku kehilangan kamu, Ren.
"Iya gak apa apa, boleh peluk aku? Sebagai kakak.
Aku pastikan rasa cinta ini lenyap, yang ada hanya rasa sayang sebagai seorang kakak.
"Yakin??
"Iyaa, walaupun berat, kau pun pasti tau ini membuatku sakit. Tapi aku harus berusaha, aku juga gak mau kehilangan kamu, Dew.
Jadi boleh nggak nih?
"Boleh, Bang.
Kupeluk Rendy dengan erat. yang ia balas dengan tak kalah erat sambil mencium keningku dengan sayang.
__ADS_1