Luna Dan Rizky

Luna Dan Rizky
Farel curiga?


__ADS_3

πŸƒDi Kampus


Pagi-pagi Luna sudah ada di kampusnya begitu juga dengan Farel, karena mereka ada kelas pagi.


"Luna, tunggu dulu" panggil Farel sambil berlari mendekati Luna.


"Iya kenapa Rel".


"Aku mau tanya sama kamu".


"Tanya apa".


"Mending kita duduk dulu di sini, biar enak aja ceritanya".


"Yaudah,ayo mau tanya apa".


"Kamu beneran punya hubungan sama kak Rizky" tanya Farel dengan tatapan menyelidik.


"Maksud kamu apa, tanya begitu".


"Ya nggakpapa aku cuman memastikan aja".


"Iya aku punya hubungan sama kakakmu itu".


"Kamu bilang waktu itu,kamu belum lama bekerja di Cafenya kak Rizky,tapi kenapa sudah dekat hingga punya hubungan" .


"Haduh gimana ini, Farel seakan-akan curiga sama aku" batin Luna sambil memikirkan bagaimana dia menjawab pertanyaan Farel.


"Luna,kok ngelamun".


"Ja...jadi gini Rel, sebelum aku bekerja di Cafe,aku sudah kenal sama Tuan Rizky dan ya bisa di bilang sudah cukup lama, karena perhatian dia ke aku, aku jadi nyaman".


"Tapi aku masih nggak nyangka, misalkan kamu jadi menikah sama kak Rizky dan kamu akan menjadi kakak ipar aku, pasti hatiku akan hancur sekali".


"Maksudnya Rel".


"Oh nggak kok Lun,aku cuman bercanda hehe" jawab Farel dengan sikap sok tegar padahal hatinya sakit banget.


Walaupun Luna sudah menjelaskan,Farel tidak langsung percaya karena dia masih sedikit ragu dengan jawaban Luna. Ia berencana ingin menyelidiki ini semua.


"Karena Sekarang sudah hampir jam 7:30, mending kita masuk kelas aja yok, takutnya nanti Bu Siska udah datang duluan".


"Aku masih berharap ini cuman mimpi Lun" batin Farel yang sedari tadi di perhatikan oleh Luna.


"Farel,kamu nggakpapa".


"Im okay,no problem".


πŸƒ Sementara itu ,di tempat lain terlihat bahwa Tuan Rizky sedang sibuk di kantor papanya untuk mengurus beberapa berkas, karena Papa Reza tadi mendadak untuk berangkat lagi ke luar negeri tapi Mama Nela tidak ikut bersamanya.


"Davin, segera ke ruangan saya" perintah Tuan Rizky dari telpon kantor.


"Baik Tuan" Davin langsung segera menuju ruangan Tuan Rizky.


Tok...tok...tok...


"Masuk aja Davin".


"Ada yang bisa saya bantu Tuan".


"Tolong kamu kerumah ambil titipan Oma dan bawa ke sini".


"Baik Tuan saya permisi dulu".


Tuan Rizky hanya mengangguk sambil menandatangani berkas-berkas.


"Kenapa selalu terbayang terus wajahnya Luna dalam pikiran ku".


Tuan Rizky terus saja memikirkan Luna, bayangan wajahnya seakan-akan ada dalam pikirannya.


πŸƒOke kembali lagi ke kampus.


Seperti biasa, semua anak dengan jurusan administrasi dan kepariwisataan itu sedang menulis materi yang diberikan oleh Bu Siska.


"Oh iya anak-anak, kalian harus sudah persiapkan dari sekarang apa saja yang mau di bawa nanti ketika kita studi wisata di Bogor" ucap Bu Siska.


"Baik Bu"jawab mereka semua.


"Ibu sudah bagi kelompoknya, satu hari sebelum kegiatan itu di laksanakan baru akan Ibu umumkan".

__ADS_1


"Liat aja nanti ,bakal aku kerjain habis-habisan tuh si Luna" batin si joline sambil menyunggingkan bibirnya sebelah.


Joline memang tidak suka dengan Luna, karena menurutnya Luna itu sering caper ke Farel, jadi dia merasa iri.


Saat Luna sedang menulis materi, tiba-tiba ada yang melemparnya dengan secarik kertas yang bertuliskan jangan macam-macam atau dekat-dekat dengan Farel.


"Siapa sih yang tulis beginian" batin Luna sambil melihat kiri kanan siapa yang melemparnya tadi,tapi tak ada satupun gerak-gerik yang mencurigakan.


Setelah selesai kelas kuliah hari ini Luna langsung menuju parkiran bersama Rani, karena hari ini mereka ingin pulang bareng,saat Rani hendak menyalakan motornya, datang Farel dengan menawarkan tumpangan untuk Luna.


"Lun,kamu ikut aku aja ya naik mobil".


"Tapi maaf Rel,aku pulangnya sudah bareng sama Rani".


"Kok gitu sih Lun,aku begini nggak ada maksud apa-apa kok,ini aku mau bantuin juga kan karena kamu sebentar lagi mau jadi kakak ipar aku".


"Hah kakak ipar, maksud kamu apa Rel" Rani sedikit kaget mendengar apa yang di ucapkan oleh Farel.


"Nanti aja ku ceritakan, panjang ceritanya Ran" ucap Luna sambil menyela pembicaraan Farel.


"Iya deh iya,awas ya tapi jangan lupa".


Luna mengangguk sambil tersenyum.


"Aku pulang bareng Rani aja Rel, soalnya aku juga mau ke minimarket sama Rani dan ingin membeli sesuatu". Ucap Luna dengan berbohong karena ia tidak mau terlalu memberi harapan kepada Farel.


"Yaudah deh kalau gitu Lun,aku duluan ya".


Farel langsung menuju mobilnya dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ayo Lun,kita pulang".


"Oke gaskeun Ran".


Mereka berdua pun langsung melesat melaju menuju kontrakannya Luna,saat di perjalanan,Rani bertanya tentang maksud yang di bicarakan oleh Farel tadi.


"Luna,ayo ceritakan yang di maksud Farel tadi,aku sudah kepo tau" ucap Rani sambil menyetir motornya dengan kelajuan sedang.


Luna langsung menceritakan semua kejadian yang terjadi kemarin hingga kesepakatan dia antara Tuan Rizky pun dia ceritakan ke Rani, karena Luna menganggap Rani sudah seperti saudaranya sendiri.


"Jadi begitu Lun ceritanya, terus Farel nggak tau kalau kamu pura-pura punya hubungan sama kakaknya itu".


"Aku jadi penasaran deh, seperti apa sih Tuan Rizky itu".


Tak terasa sambil berbincang-bincang, mereka berdua sampai juga di kontrakannya Luna,Rani langsung pamit pulang saja karena dia ada acara keluarga.


"Makasih ya Ran,sudah mau nganterin aku pulang".


"Iya sama-sama Lun, aku pulang dulu ya" lambai Rani dan langsung melesat dengan laju.


Luna langsung masuk ke dalam kontrakannya,dan ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. setelah mandi,Luna beristirahat sejenak untuk menenangkan pikirannya.


Dret...dret...dret...


Belum lama Luna beristirahat,suara ponselnya berbunyi,dan ternyata dari Rara,teman ia bekerja di Cafe.


"Hallo Ra,ada apa".


"Kamu sudah selesai kuliah kah hari, kalau sudah kamu cepetan ke Cafe, soalnya banyak banget pelanggannya dan karyawan banyak yang nggak masuk jadi kamu harus cepat-cepat kesini".


"Oke deh Ra,aku akan segera kesitu".


Luna lalu mematikan ponselnya, dan langsung bersiap-siap,sambil memesan ojol.


πŸƒDi Cafe


Luna baru saja sampai Cafe dan langsung di sambut oleh Rara, mereka berdua pun menuju ke dapur untuk melayani para pelanggan yang membludak hari ini di karenakan sudah masuk jam makan siang.


"Ya ampun banyak banget ya Ra".


"Iya lah Lun, makanya aku telpon kamu suruh cepat-cepat kesini, soalnya kami kewalahan menghadapi para pelanggan yang membludak, karyawan yang lain juga pada izin karena lagi sakit".


"Kalau begini ceritanya harus bekerja lebih ekstra lagi dong Ra".


Hampir lama Luna,Rara dan para karyawan lainnya melayani para pelanggan yang sangat banyak hingga mereka tidak ada waktu untuk istirahat sejenak.


Sudah sekitar 1 jam lebih mereka melayani para pelanggan, akhirnya sekarang sudah bisa istirahat dan makan atau minum walaupun sebentar untuk mengisi tenaga mereka lagi.


"Luna,kamu ikut ke ruangan saya sebentar" ucap Tuan Rizky yang baru saja datang,di ikuti oleh Sekretaris Davin di belakangnya dengan membawa paper bag.

__ADS_1


Luna langsung mengangguk dan mengikuti Tuan Rizky ke ruangannya,bersama Sekretaris Davin juga.


"Davin,kamu boleh keluar sekarang".


"Baik Tuan" Sekretaris Davin langsung memberikan paper bag itu kepada Tuan Rizky,dan ia pun langsung pergi ke luar.


"Ini hadiah dari Oma,buat kamu bilangnya".


"Ini apa Tuan".


"Aku juga nggak tau, buka saja tidak apa-apa".


Betapa kagetnya Luna saat dia membuka paper bag itu yang ternyata isinya kalung berliotin berlian, yang kisaran harganya mencapai Rp130 juta. Tapi Luna enggan menerimanya karena itu terlalu mahal dan Luna merasa tidak pantas menerima kalung semahal itu.


"Maaf Tuan,saya tidak bisa menerima hadiah kalung ini, sampaikan kepada Oma karena ini terlalu mahal dan tidak pantas untuk saya yang seperti ini".


"Biasanya Oma tidak suka jika pemberiannya di tolak oleh orang lain. Jadi terima saja jika tidak ingin melihat Oma marah keadamu".


"Ta... tapi Tuan".


"Dengar Luna, terima saja apa yang di berikan oleh Oma,kurasa Oma sudah menyayangimu" mereka berbicara cukup dekat hingga hembusan nafasnya bisa dirasakan satu sama lain.


"Ya ampun, kenapa jantungku ini sudah seperti mau loncat saja ketika bertatapan seperti ini dengan Tuan Rizky. Apa aku sudah mulai menyukainya" batin Luna.


"Yasudah kalau gitu,aku kesini hanya ingin mengantarkan titipan Oma. Aku mau ke kantor papa ku lagi,dan jaga baik-baik hadiah pemberian dari Oma". Tuan Rizky langsung berbalik badan dan ingin keluar, karena ia tidak kuat bila lama-lama melihat wajah Luna yang sangat manis itu.


"Tuan tunggu, sampaikan kepada Oma terimakasih atas hadiahnya. Dan hati-hati di jalan ya Tuan".


Tuan Rizky hanya mengangguk sambil menunjukkan senyum khasnya yang terlihat sangat menawan itu,siapa saja yang melihat senyuman itu pasti akan terbayang-bayang terus.


Luna lalu menuju ke dapur lagi untuk bergabung dengan yang lain dan melayani para pelanggan yang baru datang.


"Luna, tolong antarkan makanan ini di meja nomor 57 ya,aku masih mau ngantar di meja ujung sana jadi belum sempat" ucap Rara sambil menunjuk meja nomor 57.


"Oke siap Ra".


Luna mengambil nampan yang di pegang oleh Rara dan memberikannya kepada pelanggan dengan meja nomor 57.


"Permisi Mbak,ini pesanannya sudah siap".


"Oh iya, makasih ya".


Luna mengangguk dan pergi lagi ke belakang untuk mengambil pesanan yang sudah di pesan oleh pelanggan lain.


Sudah hampir jam 10 malam,Cafe sudah terlihat lengah dan satu per satu pelanggan sudah pergi. Karyawan pun memutuskan untuk menutup Cafe dan pulang.


"Kamu naik apa Lun pulangnya" tanya Rara yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


"Aku lagi pesan ojol,tapi belum dapat-dapat nih".


"Ikut aku aja kalau gitu Lun".


"Makasih tawarannya Rara,tapi aku nggak mau ngerepotin kamu,lagian rumah kamu nggak searah juga sama aku ya kan. Jadi aku nggak mau ngerepotin kamu malam-malam begini".


Luna tidak enak jika harus merepotkan temannya itu.


"Beneran nih nggakpapa aku tinggal kamu disini".


"Iya nggakpapa Ra, santai aja kali".


Rara lalu berpamitan,dan pergi meninggalkan Luna yang masih di parkiran.


"Duh lama banget ya dapat ojolnya,kaki sudah pegel banget rasanya nih. Atau aku jalan sampai persimpangan jalan situ aja ya ,siapa tau nemu pangkalan ojek".


Luna lalu berjalan menuju persimpangan tiga tersebut. Tapi pada saat di persimpangan,ia tidak menemukan pangkalan ojek melainkan dua orang laki-laki yang tidak dikenal. Dua laki-laki tersebut langsung menghampiri Luna yang berjalan sendirian dan mencoba untuk merayu tapi Luna tidak menghiraukannya.


"Neng mau kemana sih,kok jalannya sendirian aja mau abang temenin nggak" ucap salah satu laki-laki tersebut.


"Maaf ya bang,saya disini hanya permisi numpang lewat bukan cari masalah. Jadi izinkan saya lewat sini".


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


Waduh Luna kenapa tuh?😱


Jangan lupa like, vote dan follow author ya ☺️❀️

__ADS_1


__ADS_2