
Pagi ini seperti biasa Alya di jemput oleh Sean di depan rumah.awalnya Bu Salma ibunya Alya sempat curiga saat Sean datang menjadi tukang ojek lalu bertanya kepada Alya siapa laki-laki itu dan Alya menjelaskan jika dirinya mulai mengunakan aplikasi ojek online untuk pergi kemana pun karena harganya juga murah jadi dapat berhemat.
Pergi bersama menuju ke sekolah saat di lampu merah Alya mengungkapkan niatnya untuk berbicara dengan Sean.
"Kak Sean."
"Ada apa sayang?"
"Pulang sekolah kita ke danau yuk."
"Kenapa tiba-tiba ingin kesana?"
"Aku ingin membicarakan tentang jawaban yak kakak tunggu selama ini."
"Benarkah? Wah jadi tidak sabar ingin segera ke sana ."
"Harus sabar kak, kan aku juga masih harus berangkat sekolah. "
"Gimana kalau kamu bolos saja hari ini."
"G mau kak. Jadi kamu harus sabar sampai nanti kita sampai di danau."
"Baiklah jika itu keputusan mu. "
Lampu sudah berubah warna hijau Mereka melanjutkan perjalanan ke sekolah.
🩷🩷🩷🩷🩷
Di kampus Sean mengikuti kelas dengan perasaan tak nyaman karena pasalnya Ingrid sengaja duduk di sampingnya.
"Sean kamu kemana saja sih, dan kenapa aku telepon kamu g mau mengangkatnya?
"Aku sedang sibuk Grid, jadi maaf jika aku terkesan mengabaikan mu."
"Sean sebenarnya aku rindu sama kamu apa bisa kita pergi nanti setelah kelas ini?'
"Maaf Grid aku tak bisa."
"Apa alasannya?"
"Yang pasti aku tak bisa dan untuk alasannya kamu tak perlu tahu."
__ADS_1
"Kenapa begitu Sean bukankah hubungan kita sudah dekat? Bisa dikatakan pacaran, bahkan kita sudah melakukan itu."
"Please deh Ingrid kamu jangan bersikap seolah-olah kamu pacar aku. Bahkan aku tak pernah sekalipun bicara jika aku cinta sama kamu dan satu lagi kita melakukannya karena suka sama suka. Jadi jangan berpikir terlalu jauh untuk hubungan kita. "
"Dulu kamu mendekati ku dan merayuku. Setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau kamu mau mencampakkan ku Sean?"
"Tolong jangan men drama di hadapan ku Grid. Bukankah hubungan antara kita adalah simbiosis mutualisme? Kamu memberikan kepuasan kepada ku lalu aku memberikan sejumlah uang untuk mu?"
"Tapi Sean...." ucap Ingrid dengan pelupuk mata yang berkaca-kaca
"Sekali lagi aku tegaskan sama kamu, kalau aku tak ada waktu untuk mu. Jadi tolong berhenti menganggu ku."
"Kamu jahat Se.., jahat." jatuh sudah air mata Ingrid yang sejak tadi di tahannya itu. Ingrid buru-buru menghapus lalu meminta izin ke dosen untuk pergi ke toilet.
Melihat hal itu Sean hanya diam saja bahkan terlihat santai seolah tak terjadi apapun di antara mereka, Sean memang menghindar dari Ingrid karena Sean tahu seperti apa sifat Ingrid.
Di dalam toilet Ingrid menangis karena sakit hati dengan ucapannya Sean. Ingrid tak menyangka jika Sean akan berubah padahal Ingrid merasa jika ia bisa menaklukkan Sean yang terkenal dingin di kampus bahkan mereka bisa pergi berdua dan menghabiskan waktu bersama namun ternyata semua pemikirannya salah.Sean sama dengan lelaki lain hanya mau menikmatinya tubuhnya saja tanpa ada hubungan yang jelas. Ingrid berniat akan membalas semua yang sudah Sean lakukan terhadapnya. Ingrid tak akan pernah melepaskan Sean, bagaimana pun caranya.
🩷🩷🩷🩷🩷
Selesai kelas pertama Sean langsung pergi dari kampus menuju sekolahan Alya. Sean sudah tak sabar ingin pergi ke danau dan mendengar keputusan Alya nanti. Sean berharap usahanya tak sia-sia untuk mendapatkan Alya.
Tiba di SMA PELITA Sean menunggu sebentar sebelum akhirnya Alya terlihat keluar dari gerbang dan berjalan menuju arahnya. Senyuman Alya begitu manis sehingga membuat Alya semakin cantik di mata Sean.
"Jadilah kak, aku juga udah izin sama Ibu kok. Aku bilang jika ada les tambahan jadi akan pulang telat. "
"Gadis pintar, kalau begitu ayo naik kita ke danau sekarang."
"Oke.⁰"
Interaksi keduanya tak lepas dari sorot mata Raisa, gadis itu sangat mencemaskan Alya. Raisa takut jika Alya hanya akan di permainkan oleh Sean, Raisa tahu seperti apa Sean. Baik buruknya Sean Raisa tahu karena sang Kakak adalah teman baik Sean bahkan mereka satu geng.
"Semoga kamu tak di permainkan oleh Sean Al,dan semoga kamu bisa menjaga dirimu." gumam Raisa melihat Alya pergi dengan Sean.
🩷🩷🩷🩷🩷🩷🩷
Setibanya di danau Sean dan Alya duduk di ujung jembatan setelah melepas sepatu dengan memainkan kakinya ke dalam air.
"To de points aja ya Al, bagaimana jawaban kamu Al?
"G sabaran banget si Kak?"
__ADS_1
"Apa aku masih kurang sabar cantik? Kamu mengantungkan hubungan ini lebih dari satu bulan dan apa aku salah jika ingin tahu jawabannya saat ini? Bukankah tadi pagi kamu bilang ingin memberikan jawabannya hari ini?"
"Iya deh iya aku akan jawab sekarang. "
"Jujur kak sebenarnya dari awal aku...."
"Kamu tak mencintai ku ya?"
"Bisa tidak kalau aku bicara jangan di potong? Aku belum selesai dengan ucapan ku kak."
"Maaf. "
"Jujur dari awal aku takut untuk dekat dengan mu karena ada yang bilang kamu adalah seorang playboy. Bahkan banyak wanita yang menjadi korban mu, namun semakin kesini aku merasa sangat nyaman saat ada di samping mu."
"Al kamu jangan dengerin omongan orang tentang aku, coba pakai hati mu untuk menilai ku."
"Apa yang kak Sean ucapkan benar, maka dari itu aku membiarkan kakak dekat dengan ku selama 3 bulan ini dan dari situ aku bisa menilai kamu seperti apa."
"Lalu?'
"Aku juga memiliki perasaan yang sama dengan kakak setelah kita dekat."
"Maksud kamu, kamu juga cinta sama aku?"
"Ya kak, aku juga mencintaimu dan aku mau jadi pacar kamu tapi dengan syarat."
"Apa syaratnya sayang, aku akan lakukan asal kamu mau jadi pacar aku?"
"Aku mau kita backstreet agar kedua orang tua ku tak tahu."
"Hanya itu syaratnya?"
"Iya."
"Oke. Kita backstreet jadi mulai hari ini kita pacaran kan?"
"Iya kak."
"Yes ,yes. Akhirnya Alya terima cinta ku" ucap Sean berdiri sambil sambil lompat ke senangan. Alya melihat tingkah laku sean hanya bisa tersenyum. Sean kembali duduk dan mengambil tangan Alya lalu diciumnya
"Terimakasih sudah menerima perasaanku, jujur aku bahagia sekali."
__ADS_1
"Iya kak aku juga bahagia dan ku harap kakak tak mengecewakan ku."
"Iya. Aku akan berusaha menjaga kepercayaan mu sayang, sini duduk lebih dekat lagi sama aku." Alya langsung bergeser mendekat dengan Sean. Satu tangan Sean bersarang di pinggang Alya dan satunya lagi menggenggam tangan Alya. Posisi duduk yang dekat membuat Alya menyandarkan kepalanya di bahu Sean. Mereka berdua menikmati keindahan danau dengan sesekali Sean mencium punggung tangan Alya.