Magic Dream

Magic Dream
emotion


__ADS_3

Karena tak sempat sholat maghrib di mansion akhirnya Jaemin menyuruh supirnya untuk berhenti di sebuah taman yang lumayan sepi agar Kavita bisa sholat dengan khusuk.


"sudah?" tanya jaemin melihat Kavita menghampirinya setelah merapikan mukenah


"em~~" Kavita mengangguk


"jalan-jalan dulu yuk sekitar sini" tawar Jaemin


"ayo, supir kamu juga bisa istirahat lebih lama"


"iya, kamu lelah?"


"tidak sama sekali aku justru senang bisa jalan-jalan seperti sekarang" Kavita melihat Jaemin sekilas dengan mata berbinar senang


"baguslah kalau kamu suka, aku kira kamu akan tak suka karena perjalanan lumayan panjang"


"aku justru sangat menyukainya, kamu menunjukkan hal-hal yang jarang kulih-"perkatan Kavita terpotong ketika mereka mendengar suara yang keras terlihat tak jauh dari mereka jalan seorang anak yang sedang dimarahi ibunya


"kamu pikir membesarkanmu itu hal yang mudah?! kenapa kau selalu menyusahkan aku!!!kenapa kau tak ikut bersama ayahmu yang br*ngs*k itu!" itulah kata-kata yang dikeluarkan sang ibu sambil bertindak kasar pada anaknya. membuat rahang Jaemin mengeras mendengarnya lantas ia menghampiri mereka


"aku terpaksa mengurusmu! tak ingin! kau tau!" kata sang ibu lagi


"bawalah anakmu ke panti asuhan kalau begitu "timpal Kavita


"siapa kalian?"tanya sang ibu


"jika tak ingin merawat anakmu serahkanlah ke panti asuhan" Kavita menarik pelan anak itu ke pelukannya menenangkan sang anak yang menangis tersedu


"jangan ikut campur ini bukan urusan kalian" tambahnya hendak menarik paksa anak itu yang membuat Kavita menangkis tangannya


"berikan anakku, atau kau kulaporkan" tegasnya


"kami yang akan melaporkanmu balik" tegas Jaemin


"kembalikan! dia anakku, aku yang melahirkannya terserahku mau kuapakan dia!"


"yaaa!!! bukan berarti jika kau yang melahirkannya kau bisa memukulinya seenaknya, membentaknya apalagi memperbudak anakmu!!! jika tak mampu merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang berikan pada panti asuhan jangan hancurkan mentalnya!!!" ucap Kavita keras sambil menutup kedua telinga anak perempuan dalam pelukannya


"jangan hancurkan hidupnya, kumohon! dia anugrah yang dititipkan Tuhan padamu yang mestinya kau jaga dengan baik, tidak untuk kau manfaatkan apalagi kau bebankan masalahmu padanya" Kavita berkaca-kaca melihat ibu sang anak


"kau bisa mengurusnya dengan baik atau tidak? jika tidak ayo kuantar kalian ke panti asuhan terdekat" Jaemin berkata tegas sambil mengusap pundak Kavita agar ia tenang


"tidak, akan kurawat dia dengan caraku" tegas sang ibu

__ADS_1


"baiklah, biar kuantar kalian kekantor polisi kalau begitu. agar polisi melihat memar-memar di badan anakmu itu"kata Jaemin tajam


"yaaa!!! kembalikan anakku" kata sang ibu hendak mengambil paksa membuat Jaemin dengan cepat menahan tangannya agar tak menyerang Kavita


"lepaskan!!" katanya memberontak


"kantor polisi atau panti asuhan?!?!" tegas Jaemin mengeratkan cengkraman tangannya pada wanita itu


"baiklah-baiklah, antar saja ke panti asuhan. ada untungnya juga aku bisa melepaskan anak merepotkan yang tak tau diuntung itu!" katanya


Jaemin mengehela nafas lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi sang supir, hingga mobil datang dan mereka pun menuju panti asuhan terdekat.


......................


Sesampainya di panti mereka memantau ibu dan anak tadi mengurus identitas masuk sang anak.


"sepertinya kita harus melaporkannya juga ke polisi, aku tak mau orang-orang seperti itu merasa bebas memperlakukan anaknya tak manusiawi hanya karena ia sudah melahirkannya" kata Kavita


"kau benar, biar supirku yang menghubungi polisi" Jaemin pun kemudian berbicara pada supirnya dan menelfon polisi


"kau tak apa?" Jaemin kembali setelahnya, ia baru sadar tangan Kavita tak berhenti bergetar bahkan sang empunya pun terlihat gelisah


"aku hanya-" Kavita sadar Jaemin menyadari efek trauma yang ia alami sekarang


Kavita menangis tanpa suara dipelukan Jaemin, ia benar-benar benci jika traumanya tiba-tiba kembali karena kepalanya akan terlalu berisik dalam waktu yang lama dan badannya akan terasa begitu ngilu.


"sakit" tanpa sadar gumaman itu lolos begitu saja dari mulut Kavita


"mana yang sakit?" Jaemin lantas melepaskan pelukannya untuk mengecek apakah ada yang luka dari diri Kavita


"apa mau ke rumah sakit?" tanya Jaemin lagi membuat Kavita menggeleng


"aku mau sholat dulu" Kavita melihat ponselnya yang bergetar dan tertera notif yang mengatakan sudah masuk waktu isya' disana


"baiklah ayo kutemani" Jaemin menggandeng lengan Kavita agar mengikutinya


Setelah mengambil mukenah di mobiil dan bertanya adakah rungan yang lumayan luas untuk Kavita sholat pun mereka diantar perawat panti.


Saat Kavita selesai sholat dan sedang melipat kembali mukenahnya polisi datang menghampiri mereka.


"apakah benar kalian saksi pemukulan yang dilakukan ibu tadi?" tanya polisi


"ya kami berdua melihatnya" jawab Kavita menghampiri

__ADS_1


"apakah ada bukti fisik?"


"bapak bisa lihat langsung memar dibadannya" jawab Kavita


"saya juga sempat merekamnya sebentar tadi" tambah Jaemin menunjukkan video di ponselnya


"baik, boleh kirim videonya ke saya" ujar sang polisi dan Jaemin pun mengirimnya


Setelah beberapa lama memberikan keterangan mereka pun pamit pulang.


......................


Di perjalanan Jaemin yang penasaran dengan Kavita pun langsung bertanya


"apakah-" belum selesai Jaemin berkata Kavita pun membalasnya


"ya seperti yang kau lihat tadi, aku memiliki masalah intern dan mungkin yang kamu lihat selama ini bukanlah Kavita yang asli jadi kumohon jangan berharap apapun karena kemungkinan besar hanya kecewa yang akan ditimbulkan" ya sebenarnya Kavita tau maksud-maksud dari pembicaraan mereka di rumah Jaemin tadi hanya saja Kavita enggan menanggapi karena takut justru akan semakin dalam dan malah menghancurkan reputasi maupun hubungan formal mereka atau apapun itu.


"aku tau, oleh karena itu jadilah diri kamu sendiri di depan para member dream terutama aku agar kita bisa nyaman satu sama lain dalam bekerja sama dalam urusan pekerjaan maupun berteman. karena sesungguhnya aku dan para member dream tak akan pernah memutuskan hubungan antara kita dimasa depan, sekalipun kamu sudah bukan lagi manajer kami" jelas Jaemin


"entahlah aku hanya ingin bersikap profesional saja" Kavita menunduk bingung


"berhenti bersikap profesional dan memandang kami partner kerja saja jangan memaksakan diri untuk selalu begitu, bersikap alamilah dikehidupan sehari-hari agar kamu nyaman" tambah Jaemin


"ya, akan kupikirkan dulu" Kavita merebahkan kepalanya pada sandaran mobil


"kau bisa bersikap profesional jika di depan kamera selebihnya bersikap alamilah seperti hari ini" saran Jaemin


"em~" Kavita mengangguk pelan lalu memejamkan matanya


"kamu sudah pernah berkonsultasi sebelumnya?" tanya Jaemin pelan


"sedang berjalan"


"rutinlah jika senggang, hal itu juga membutuhkan fokus agar merasa lebih baik"


"akan kuusahakan"


"katakan jika butuh bantuanku jangan ragu, sekarang tidurlah kamu pasti lelah" jaemin menarik pelan kepala Kavita agar bersandar pada pundaknya.


Pada akhirnya Kavita tertidur hingga sampai di apartement, Jaemin lantas menggendongnya dan merebahkannya di kamar Kavita. Tak lupa ia melepas sepatu Kavita agar dapat tidur dengan nyaman


"kau tau semua orang mempunyai masalalu, dan masa depan yang tepat bagi seseorang iyalah mendapat seseorang yang tak akan pernah menganggap masalalu seseorang itu penting karena kita hidup di masa sekarang bukan masalalu. ku harap kamu bisa melepaskan masalalumu itu dan membahagiakan dirimu sendiri sekarang" ucap Jaemin yang duduk disisi ranjang lantas mengusap lalu mengecup pelan kepala Kavita kemudian pergi ke dorm NCT Dream.

__ADS_1


__ADS_2