MANTAN JADI MANTEN!!

MANTAN JADI MANTEN!!
Chapter 10


__ADS_3

KEMARAHAN SATRIO


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan hal itu membuat mama Nuri dan keluarga Kuncoro lainnya semakin gelisah. Dan hal itu yang membuat Satrio sangat marah pada Cassandra saat ini.


Sedang di tempat lain, tepatnya di kosan. Terlihat Cassandra yang tengah tertidur setelah makan siang bersama sahabatnya, Mila. Mereka ketiduran karena terlalu kekenyangan setelah menghabiskan banyak makanan yang dipesan Cassandra via online siang tadi.


Bams yang baru pulang dari kampusnya menghampiri anggota keluarga yang lain yang tengah duduk di ruang keluarga.


"Hei, ada dengan wajah kalian? Apa ada yang aku lewatkan?!" kata Bams penasaran.


Dia melihat wajah mama Nuri yang terlihat cemas dan gelisah, begitupun dengan lainnya. Namun berbeda dengan dengan kakak nomor dua yang terlihat tanpa ekspresi.


"Kakak ipar kamu belum pulang, Bams. Dia pamit ke kampus siang tadi dan sampai sekarang belum pulang," kata mama Nuri akhirnya bersuara.


"Astagaaaa.. jadi, kalian berkumpul disini karena kakak ipar belum pulang! Aku kira ada apaan!" kata Bams lalu menggeleng.


PLAAKK!!


Mama Nuri memukul lengan anak bontotnya itu dengan keras hingga membuat Bams mengadu kesakitan.


"Auuwww, sakit, Mah!" ucap Bams sembari mengelus lengannya yang sakit.


"Makanya itu mulut dijaga kenapa. Dia itu kakak iparmu, kita punya tanggung jawab penuh padanya. Cassie anak yatim-piatu, jadi kalau bukan kita yang menjaga dan memperhatikan lalu siapa lagi, huh!" ujar mama Nuri dengan kesal.


"Iya deh maaf maaf," kata Bams dengan penuh penyesalan.


"Apa kalian sudah meneleponnya?!" sambung Bams dan seketika mereka saling menatap satu sama lain yang membuat Bams mengerutkan keningnya.


"Jangan bilang belum ada yang meneleponnya?" kata Bams lagi dan lagi lagi membuat keluarganya terdiam.


"Oh ya ampun!" ucap Bams menepuk jidatnya seketika.


"Baiklah, biar aku yang meneleponnya, berapa nomor ponselnya?" tanya Bams yang akan menelepon kakak iparnya itu.


Lagi dan lagi tak ada yang bersuara.


"Jangan bilang kalian pun tak tahu nomor ponsel kakak ipar!" tebak Bams.


Semuanya diam tak bersuara, artinya dugaan Bams benar adanya. Tak ada yang tahu nomor ponsel Cassandra kecuali Satrio. Namun entah mengapa sejak tadi Satrio seakan tak peduli tentang Cassandra yang tak kunjung pulang padahal sebentar lagi waktunya makan malam bersama.


Selain peraturan mama Nuri soal tempat tinggal anak dan menantunya, peraturan yang paling penting dan tak boleh diganggu gugat lainnya adalah siapapun juga wajib meluangkan waktunya untuk makan malam bersama, kecuali jika ada urusan pekerjaan yang memang tak bisa diwakilkan.

__ADS_1


Dan seluruh anggota keluarga Kuncoro sudah tahu akan hal itu termasuk Cassandra yang sudah diberitahu oleh mama Nuri.


"Bang Sat, gak tau kakak ipar kemana?" tanya Bams yang langsung mendapat tatapan mata yang tajam dari Satrio.


Bams yang mengerti arti tatapan kakaknya itu pun langsung meralat perkataannya.


"Maksud adikmu ini, apa Bang Satrio tidak tahu kemana kakak ipar pergi?"


"Bukankah kamu dengar yang dikatakan mama tadi, dia izin ke kampus," jawab Satrio dengan datar.


"Lalu…," kata Bams menatap kakak keduanya yang terlihat menakutkan dibanding kakak pertamanya, Dani.


Satrio yang mendapat tatapan menelisik pun menatap kearah adik bungsunya itu.


"Ada apa?" Jawab Satrio menaikkan salah satu alisnya ke atas.


"Abang pasti tahu 'kan nomor istri kakak sendiri?!" balas Bams.


Dan Bams sangat yakin jika kakaknya itu pasti tahu nomor ponsel istrinya, secara dia pasangan suami-istri bukan! Pikirnya.


Semua pandangan mata tertuju pada Satrio saat ini.


Mengapa mereka sampai tak memikirkan sampai disitu! Mereka terlalu fokus tentang keberadaan anggota keluarga barunya itu sampai tak berpikir jika suaminya sendiri tampak santai dan terlihat biasa-biasa saja tanpa ada raut kecemasan.


"Sat, Sat.. benar-benar ya kamu! Lihat perbuatanmu itu.. Mamamu sampai pucat gitu mikirin istrimu yang entah bagaimana keadaannya sekarang," papa Radit begitu kecewa dengan sikap anak yang begitu dia banggakan selama ini, walau memang sifat cueknya dan dinginnya itu tak bisa dirubah lagi.


Papa Radit menggandeng istrinya masuk ke dalam ruang makan dan menunggu anak-anak mereka disana.


"Telepon istrimu sekarang! Kami tunggu kamu di meja makan." kata Dani yang akhirnya membuka suaranya sembari menepuk bahu sang adik.


"Mas.. aku kasihan banget sama Cassie, bisa-bisanya Satrio tak cemas dan tak mencari istrinya," kata Sofi dengan pelan seraya berjalan ke ruang makan bersama suami dan anaknya.


"Hust! Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri, mereka sudah dewasa," kata Dani agar istrinya diam dan tak berkomentar lagi tentang persoalan rumah tangga sang adik.


Sofi mencebikkan bibirnya mendengar perkataan suaminya.


"Aku akan tetap membantu, Cassie. Aku tak ikhlas melihat Cassie diperlakukan dingin sama Satrio." Batin Sofi lalu duduk dan bergabung dengan kedua mertuanya.


...-o0o-...


"Bams masuk duluan, Bang Sat—" ucapannya terhenti saat melihat sosok wanita yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan keluarganya.

__ADS_1


"Sekali lagi kamu memanggilku "bangsat", aku bakalan langsung…," Bams memotong perkataan Satrio dengan menunjuk sesuatu yang berada di belakangnya.


Satrio tak melihat Cassandra masuk ke dalam rumah sampai Bams yang memberitahukannya dengan gerakan tangannya yang menunjuk ke arah depan.


"Selamat malam, aku belum terlambat 'kan makan malam!" seru Cassandra yang baru sampai di rumah mertuanya.


Satrio berbalik lalu menatap Cassandra dengan tatapan membunuh.


Cassandra yang tak tahu menahu jika keterlambatannya pulang membuat polemik di rumah mertuanya.


Cassandra berjalan dan menghampiri suami dan adik iparnya seperti biasa dan tanpa beban sama sama sekali.


Bams melihat tatapan mata kakaknya saat menatap kakak iparnya yang membuatnya menelan salivanya dengan kasar. Baru kali ini dia melihat tatapan mengerikan sang kakak.


"Buruan masuk, MAA-SSU-UUK!! kata Bams dengan gerakan mulut tanpa mengeluarkan suara sama sekali.


Ya, dia memberikan kode kode pada sang kakak ipar. Dia ingin membantu iparnya itu karena takut jika kakaknya akan menghabisinya detik itu juga.


"Apaan sih, Bams.. aku nggak ngerti kamu ngomong apa??" kata Cassandra dengan polosnya.


Bams menutup mata dengan satu tangan sesaat saat Cassandra tak mengerti arti kode yang diberikan olehnya.


"Aku masuk duluan, Kak, Bang," kata Bams akhirnya pasrah.


Cassandra menatap Bams seakan ingin mengatakan. "Ada apa dan apa yang terjadi sebenarnya?"


Saat Cassandra akan masuk ke dalam rumah, Satrio tiba-tiba mencengkram tangan Cassandra dengan kuat hingga membuatnya mengadu kesakitan.


"Auuww.. kau menyakitiku," kata Cassandra mengadu.


"BUKANKAH AKU PERNAH BILANG JIKA JANGAN PERNAH MEMBUAT MASALAH DI RUMAH INI!!" bentak Satrio yang pada akhirnya menumpahkan segala kemarahannya pada Cassandra.


Ya, karena Cassandra lah hingga membuat kedua orang tuanya kecewa padanya. Dan jangan lupakan dengan perkataan sang kakak ipar, Sofi yang mengatakan jika dia adalah suami yang jahat.


Cassandra yang mendapat bentakan tiba-tiba membuatnya terperangah melihat kemarahan sang suami.


"Aku.. aku...," perkataan Cassandra terpotong saat mendengar teriakan mama Nuri.


"BIARKAN CASSIE MASUK DULU, SAT!!" Pekik mama Nuri dari arah ruang makan.


Suara sang mama membuat kesadarannya kembali.

__ADS_1


"Masuklah, mama memanggilmu," kata Satrio masih dengan sikap dingin dan datarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2