
MENJADI POSESIF
Saat ini mereka sudah berada didalam sebuah butik. Tampak semua pegawai yang melihat menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Cassandra menanggapi mereka dengan tersenyum.
Seorang pelayan toko menemani keduanya kemudian mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangan VIP di butik tersebut.
Ruangan khusus yang disediakan bagi pelanggan yang membeli setidaknya satu bulan sekali dengan minimal pembelian serta membeli produk edisi terbatas setiap bulan.
Para anggota member VIP akan mendapatkan layanan istimewa ketika berkunjung ke butik. Mulai dari dijamu makanan dan minuman dan pelanggan VIP juga bisa mendapatkan layanan didatangi ke rumah ketika mereka hendak berbelanja.
Cassandra yang baru pertama kali berbelanja di butik semewah ini mendapatkan pengalaman yang baru.
Setiap pelanggan VIP akan mendapat 1 pelayan yang akan melayani mereka dalam berbelanja.
Satrio mengangkat tangan ke atas lalu pelayan tersebut datang dan menghampiri kedua pasangan suami-istri itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan. Perkenalkan saya, Dina yang akan melayani, Tuan dan Nyonya selama berbelanja," kata pelayan butik itu memperkenalkan diri dengan sopan.
"Baiklah, Dina. Bawakan pakaian yang yang sesuai dengan ukuran istri saya, mulai dari pakaian casual sampai untuk acara formal," ucap Satrio yang baru selesai menyesap kopi susu yang disediakan oleh pelayan butik.
"Dan ya.. pilihkan model yang dibawah lutut dan yang tidak terlalu terbuka," sambung Satrio memberikan kode untuk segera menyiapkan pesanannya.
Pelayan itu menunduk dengan hormat lalu meninggalkan kedua pasangan itu dan mengambilkan beberapa model pakaian.
"Ini, Tuan beberapa model pakaian yang terbaru minggu ini," ucap Dina yang datang dengan mendorong stand hanger yang berisi beberapa pasang pakaian.
"Cobalah," kata Satrio memberikan kode pada sang istri..
Wanita berparas cantik itu lantas mengikuti pelayan yang bernama Dina itu dan masuk ke dalam fitting room.
Ia sedikit heran pada Dina yang ikut masuk ke dalam fitting room bersamanya.
"Nyonya mau mencoba pakaian yang mana dulu?" tanya Dina pada Cassandra.
"Terserah padamu saja, aku ikut," jawabnya.
Dina mengambil baju yang akan dicoba Cassandra kemudian membantu memakaikan. Awalnya ia menolak dan mengatakan jika dia akan mengenakan sendiri, namun karena tak ingin pegawai itu mendapat masalah dari manajer toko, akhirnya ia mengikut saja yang dikatakan pegawai wanita itu.
Cassandra mencoba sebuah dress berwarna hitam panjang dengan hiasan swarovski yang membuat dress itu semakin indah dan terlihat mewah.
Cassandra keluar dan memperlihatkan pada Satrio.
"Ini baju yang pertama, Tuan," ujar Dina seraya membuat tirai fitting room yang ada dihadapan Satrio.
Satrio yang tengah menatap ponsel pun menengadahkan kepalanya dan menatap Cassandra yang baru keluar dari fitting room.
__ADS_1
Satrio terkesima melihat penampilan Cassandra. Matanya tak berkedip melihat penampilan sang istri yang terlihat sangat, sangat berbeda. Wanita itu yang biasanya bergaya apa adanya itu terlihat anggun dan dewasa saat memakai gaun hitam itu.
"Bagaimana, Tuan!" seru Dina saat Satrio bergeming.
Satrio mengalihkan pandangan lalu mengangguk.
"Oke, bungkus semua yang sudah kamu pilih. Saya suka semua," sahut Satrio.
"Hantarkan semua pakaian tadi ke alamat saya, dan berikan sebuah dress yang akan dia kenakan sekarang," imbuh Satrio kemudian beranjak dari sofa lalu berjalan menuju kasir.
Saat ini mereka berdua sudah berada di atas mobil menuju kampus yang sama dengan kampusnya dulu hanya saja berbeda fakultas.
"Sampai gerbang saja, nggak usah masuk," ucap Cassandra saat mobil Satrio akan masuk ke dalam parkiran.
"Kenapa? Apakah kamu takut jika seseorang melihatmu!" seru Satrio langsung memberhentikan mobil saat mendengar apa yang dikatakan Cassandra.
Wanita itu lalu melihat ke arah pria di depannya dengan tatapan malas.
"Please deh, Yo. Kamu nggak usah cari masalah lagi, sejak pagi aku sudah mencoba bersabar dan mengikuti semua kemauan mu. Lagian waktu kita nikah 'kan banyak anak mahasiswa yang hadir sebagai perwakilan dari kampus!" seru Cassandra mengingatkan.
Satrio menghela napas lalu membuka pengunci otomatis mobilnya. Dan tak berselang, wanita itu langsung membuka pintu dan keluar dari sana.
Pria tampan itu hanya bisa menatap punggung wanita yang sudah menjadi istrinya. Hal yang tak pernah dibayangkan. Bahkan Satrio memang tak pernah memikirkan akan menikahi wanita yang sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya.
"Siapa pria itu, apa dia nggak tahu kalau wanita itu sudah menikah!" kata Satrio bergumam.
Karena moodnya berantakan, akhirnya Satrio kembali pulang kerumah dan tak jadi berkumpul bersama para sahabatnya.
***
Di kampus
"Hai, Cassie," sapa pria yang bernama Ardi itu saat melihat Cassandra berjalan masuk ke dalam fakultas.
"Hai, Ardi. Mana si Amel? Nggak bareng!" tanya Cassandra saat melihat sosok Ardi di belakang.
"Nggak, nyokap lagi minta tolong sama dia buat temenin ngurus sesuatu, entahlah apa itu," jelas Ardi.
"Oh gitu ya, kalau gini kan aku gak perlu datang ke kampus segala. Bisa ngerjain sendiri dirumah. Dasar Amel!" Cassandra mendengus kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Ya udah, biar aku yang gantiin Amel nemenin kamu ngerjain tugasnya , gimana?" tanya Ardi menawarkan. Dalam hati pria itu berdoa agar wanita itu mau menerima ajakannya.
"Nggak usah deh, Ar. Terima kasih, nggak enak juga kalau ada yang lihat kita berdua begini," Cassandra pamit pada Ardi dan meninggalkan pria itu yang masih mematung melihat kepergian wanita yang sudah sejak lama ditaksir, namun sayang wanita itu sudah menikah beberapa minggu yang lalu.
Ya, pria itu adalah Ardi, sepupu dari Amel. Sudah sejak lama dia memiliki rasa pada wanita itu namun dia pendam karena masih belum siap jika mendapat penolakan jika dia menyatakan perasaannya.
__ADS_1
Pasalnya, kata Amel kalau Cassandra tak ingin berpacaran dulu dan hanya ingin fokus menyelesaikan kuliah namun entah angin apa tiba-tiba saja Ardi mendengar kabar jika Cassandra sudah menikah dengan seniornya di kampus. Bagai tersambar petir, hatinya hancur dan semangatnya luruh bahkan sebelum dia berperang.
Meninggalkan Ardi dengan rasa kecewanya. Wanita itu lalu mengarahkan kaki menuju perpustakaan yang berada tidak jauh dari fakultas sang suami dulu.
Walau sudah lama lulus, namun pesona sang suami masih begitu terasa di sana, terlebih setiap kali ada event yang diselenggarakan oleh pihak kampus, Satrio pasti akan diundang sebagai tamu kehormatan.
Wanita itu berjalan dengan santai tanpa memperdulikan orang-orang yang sejak tadi melihatnya dengan berbagai macam tatapan dengan suara sumbang mereka.
Cassandra hanya bisa menghela napasnya saat melihat tatapan tajam dan sinis dari para wanita yang mengagumi suaminya.
Cassandra terlihat sibuk dengan beberapa buku diatas meja yang tadi diambil. Fokusnya tiba-tiba terpecah saat seorang pria yang sangat dikenal ikut duduk di sampingnya dengan santai bahkan tanpa izin atau berbasa-basi sebelumnya.
Wanita itu menoleh ke arah orang yang duduk disampingnya. Ia lalu menghela napas saat mengetahui sosok pria itu.
"Pergilah, Brian. Jangan cari masalah disini, kamu tahu 'kan ini wilayahnya, Satrio walau dia sudah tak berkuliah disini!" seru Cassandra mengingatkan.
Ya, pria tampan, putih dan memiliki perawakan sebelas dua belas dengan Satrio itu adalah pria yang dulu dengan berani berkelahi melawan seniornya demi seorang wanita yang dipermalukan di depan umum dua tahun yang lalu.
Dan tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata memperhatikan merek dan bahkan ada yang sampai memotret mereka diam-diam saat melakukan interaksi.
Setelah dua jam berada di sana. Akhirnya ia keluar dari perpustakaan kemudian berjalan menuju kantin kampus. Perutnya sudah sedikit perih karena melupakan makan siangnya.
"Mau kemana lagi?" tanya Brian saat melihat Cassandra mulai berjalan menuju gedung sebelah.
"Kantin, aku kangen masakan pak Yanto," jawab Cassandra.
Tanpa ba-bi-bu bebo, Brian menarik tangan wanita itu keluar ke arah kampus dengan sedikit berlari hingga membuat orang-orang di sekeliling mereka memperhatikan hingga mereka menghilang dibalik pintu kaca universitas.
"Mau kemana? Kan aku bilang mau makan di pak Yanto, Bri," sela Cassandra saat tangannya ditarik oleh Brian.
"Ya iya, hayoo. Dia sudah pindah di seberang sana!" balas Brian menunjuk salah satu ruko yang berada tidak jauh dari kampus mereka.
Dan akhirnya mereka berangkat bersama-sama dengan menggunakan motor Ducati Monster berwarna hitam milik Brian.
Karena menikah dengan pria yang merupakan pria terpopuler dan terkenal di kampus membuat Cassandra bak seorang selebritis yang diikuti kemanapun dia pergi. Efek yang sangat besar yang harus dirasakan wanita itu karena sudah menikah dengan pria tenar di kampus.
CEKREK CEKREK CEKREK
Begitu banyak cctv dan paparazi di sekitar Cassandra saat ini bahkan sampai mengikuti kemanapun dia pergi.
Sementara Cassandra sibuk menikmati makanan yang sudah tersaji di depannya.
Ditempat berbeda, tepatnya di sebuah ruang kerja, terlihat seorang pria dengan kepalan tangan terlihat memutih karena menahan rasa amarah karena mendapat informasi dan beberapa foto yang memperlihatkan orang yang sangat dikenalnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1