
BERKENALAN
Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar setelah menghabis setengah hari waktu mereka di gazebo taman belakang sekaligus makan siang bersama.
Ya, mereka melanjutkan acara kumpul mereka hingga waktu makan siang karena mama Nuri akan menemani papa Radit keluar kota sore nanti.
"Kamu mau kemana?" tanya Satrio saat melihat Cassandra menyampirkan sling bag miliknya di bahu sebelah kanannya.
"Aku mau mau ngerjain tugas di kampus bareng Amel, bolehkan!" jawab Cassandra.
"Di hari Minggu? Dan, kamu kira aku percaya!" sahut Satrio dengan cepat.
Cassandra menghentikan apa yang akan dia lakukan saat akan mengambil ponsel lalu berbalik menatap Satrio yang juga ternyata sedang menatapnya dengan tatapan menelisik.
Cassandra menyilang kedua tangan ke atas dada lalu menghembuskan napas panjang ke udara.
"Aku sudah berkata jujur padamu. Dan terserah dengan pendapatmu itu! Lagipula, bukannya kita punya kesepakatan bersama!?" seru Cassandra.
"Kamu mengizinkan aku melakukan aktivitas seperti biasanya dan kita tidak akan saling mencampuri urusan kita masing-masing, bukankah begitu?" pungkas Cassandra menatap pria dengan tatapan menyeramkan itu.
Satrio mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Cassandra barusan.
"Baiklah, maaf. Aku hanya tak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Itu akan sangat merepotkan dan membuatku kesal karena semua orang mengira aku suami yang dingin dan jahat!" ujar Satrio.
"Ya ampuuuun … dia bahkan tak sadar jika dia memang jahat padaku selama ini!" ucap Cassandra dalam hati.
"Aku tak sejahat itu, dan aku tahu kau sedang mengatai ku sekarang!" ucap Satrio membuat Cassandra speechless.
"Bagaimana kau tahu aku sedang memaki mu!" ucap Cassandra keceplosan seraya menutup mulut.
"Tertulis jelas di wajahmu, Nona," kata Satrio random.
Cassandra menyentuh wajahnya kemudian beranjak menuju meja rias dan melihat wajahnya yang tampak bersih tanpa ada tulisan yang seperti dikatakan Satrio.
"Kau mengerjaiku, ck menyebalkan," decak Cassandra kesal.
Satrio tersenyum tipis melihat kekonyolan Cassandra.
"Ini.. bacalah! Aku sudah menambah beberapa poin di dalam perjanjian kita," Satrio memberikan sebuah map merah pada Cassandra.
__ADS_1
Map itu berisikan surat perjanjian yang sudah direvisi oleh asistennya atas perintah Satrio tentunya.
Satrio menambah beberapa peraturan baru dan salah satunya adalah Cassandra tak boleh memakai pakaian yang terbuka dan seksi.
Cassandra mengerutkan keningnya saat membaca isi surat perjanjian mereka.
"Apa kau sudah gila? Bahkan cara berpakaian pun sampai kau atur!" balas Cassandra dengan kesal.
"Tentu saja, kita suami istri dan aku tak mau jika tubuh istriku dilihat oleh orang lain. Cukup hanya aku yang boleh melihat," jawab Satrio posesif.
Cassandra cukup terkejut dengan jawaban yang dilontarkan Satrio.
"Istri..!" gumam pelan Cassandra sembari menatap suaminya itu dengan tajam.
"Bisakah kita mencoba hal itu? Kita memang terpaksa menikah tapi aku tak mau mempermainkan pernikahan yang sangat sakral ini. Itu bukan gayaku," pungkas Satrio.
"Apa kau mencintaiku? Tidak, jangan.. kau tak usah menjawabnya karena aku tahu kau tak mencintaiku," jawab Cassandra cepat.
Satrio terdiam sejenak.
"Kita bisa berteman. Ya, kita bisa memulai hubungan kita dengan berteman terlebih dulu, bagaimana? Itu bukan ide yang buruk bukan!" ujar Satrio yang diangguki oleh Cassandra.
Cassandra kembali mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Satrio padanya. Dia pun tak ingin mempermainkan hubungan sakral ini, terlebih Cassandra sudah sangat nyaman hidup dengan seluruh anggota Kuncoro. Mereka begitu menyayanginya.
Cassandra pun dapat kembali merasakan kehangatan keluarga di dalam keluarga mertuanya itu. Merasakan kasih sayang seorang ibu, mendapatkan perlindungan dari ayah dan kakak, mendapatkan teman dari kakak iparnya Sofi serta mendapatkan kegembiraan dari adik iparnya dan anak dari kakak iparnya.
Cassandra sangat bersyukur akan hal itu. Dan dia tak ingin sampai kehilangan kebahagiaan itu.
"Baiklah, aku setuju. Mari kita mulai dengan berkenalan terlebih dulu," senyum Cassandra terlukis jelas diwajahnya.
"Sebagai awal mari kita perkenalkan diri kita masing-masing. Aku, Cassandra tapi orang terdekatku biasa memanggilku Cassie." lanjut Cassandra mengulurkan tangan ke hadapan Satrio.
Satrio terpaku melihat senyum wanita didepannya saat ini. Satrio ikut tersenyum melihat senyum manis Cassandra. Dan wanita itu melihat senyum itu.
"Aku, Satrio. Panggil Rio saja, sahabatku memanggilku dengan sebutan itu," kata Satrio tersenyum dan meraih uluran tangan Cassandra padanya.
Akhirnya mereka saling mengenalkan diri satu sama lain. Mereka pun tertawa bersama karena kelakuan konyol mereka. Tawa yang sangat jarang dilihat Cassandra bahkan saat mereka berpacaran dulu pun Satrio hampir tak pernah tertawa bersama.
Cassandra berjalan ke meja kerja Satrio lalu mengambil pulpen kemudian menandatangani perjanjian kontrak mereka dengan cepat.
__ADS_1
"Nah, sudah. Ini ..." Cassandra mengembalikan kembali map merah itu pada Satrio.
Satrio mengambil map tersebut lalu menyimpan di dalam lemari brankas.
"Sekarang aku boleh pergi 'kan? Aku janji akan pulang sebelum waktu makan malam. Dan kalau aku telat.. aku pasti akan menelepon mu atau orang rumah," ujar Cassandra tersenyum meyakinkan Satrio.
"Pergilah, tapi ganti bajumu dulu. Dress yang kamu gunakan terlalu pendek, pakai yang panjang yang melewati lutut." kata Satrio menunjuk ke arah kaki Cassandra.
"Are you kidding me!!" Dress yang digunakan masih dalam taraf normal, Rio. Dan hanya ini pakaian yang aku punya. Aku jarang membeli pakaian jadi aku tak punya banyak stok dan model yang seperti kamu inginkan," sahut Cassandra dengan kesal.
Satrio tak menjawab interupsi Cassandra. Dia berjalan menuju ruang wardrobe lalu menuju lemari pakaian Cassandra.
Satrio lalu membuka lemari itu dan mencari pakaian yang menurutnya pantas menurut standar dia tentunya.
"Ini.. bukan! Ini.. ah, bukan juga. Apakah ini.. oh may …" kata Satrio yang kaget melihat baju model crop top dengan berbagai macam warna di lemarinya.
"Kau memakai baju anak SD ini?!" tanya pria tampan itu yang kini menenteng sebuah baju dengan kedua jari dan memperlihatkan pada Cassandra.
"Itu baju model sekarang, Yo.. itu fashion Korea, asal kau tahu!" Cassandra mencebikkan bibirnya saat mendengar perkataan Satrio yang mengatakan baju yang dia kenakan adalah baju anak SD.
"Kiblat fashion mu sangat aneh. Bukankah perempuan lebih suka bergaya anggun dan glamor!" seru Satrio yang memang lebih tertarik dengan wanita yang terlihat dewasa dengan busana yang anggun.
"Maksudmu, seperti mantan kekasihmu itu, hem.. siapa namanya ... ya.. Luna," ucap Cassandra dengan malas.
Satrio tak menanggapi ucapan Cassandra. Satrio sangat malas membahas tentang Luna. Wanita yang meninggalkannya di detik-detik terakhir acara ijab qobul mereka.
Satrio lalu menarik tangan Cassandra keluar kamar lalu turun ke bawah. Dan mereka berpapasan dengan kakak ipar mereka di tangga.
"Kalian pada mau kemana?" tanya Sofi saat melihat kedua adik iparnya itu turun ke bawah bersamaan
"Belanja.. kampus…," jawab keduanya bersamaan tanpa berhenti dan tetap melangkahkan kaki kebawah.
Cassandra menarik tangannya yang digenggam oleh Satrio.
"Yo.. aku mau ke kampus, Amel sudah nungguin aku disana," kata Cassandra menghentikan langkahnya.
Satrio menoleh ke arah Cassandra.
"Iya, tapi setelah dari butik. Aku tak mau kau memakai baju SD tadi ke kampus!" ucap Satrio sarkas.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...