
KEKECEWAAN CASSANDRA
"Selamat malam semua, maaf aku terlambat," kata Cassandra sembari menundukkan kepalanya.
Walau dia belum tahu pasti dengan situasi yang sebenarnya. Paling tidak dia tahu jika dia sudah terlambat pulang dan hampir saja melewatkan makan malam bersama yang merupakan peraturan mutlak dari keluarga kuncoro.
"Duduklah, Nak. Kami senang kamu pulang dengan selamat," kata mama Nuri mengulas senyumnya.
"Kau tahu, kakak ipar.. kami sangat khawatir karena kamu pulang terlambat. Kasihan mama sejak tadi dia sangat cemas dan gelisah menantimu pulang," celetuk Bams yang mendapat lirikan tajam dari Satrio.
"Sudah, sudah.. sekarang kita malam dulu. Nanti kita bahas itu setelah makan malam," ujar papa Radit.
Setelah makan malam selesai, seperti biasa mereka akan berkumpul di ruang keluarga seperti biasanya.
Cassandra dan Sofi masuk dengan membawa beberapa cemilan seperti bolu Marbel dan bolu rol yang sudah dibuatnya beberapa jam lalu serta beberapa minuman kesukaan anggota keluarga Kuncoro.
Sedikit banyaknya Cassandra sudah tahu kesukaan dari masing-masing anggota keluarga barunya itu.
Seperti papa Radit yang suka minum teh hitam yang sangat pekat dengan gula yang sedikit, sedang mama Nuri dan Soni cucunya sama-sama suka minum susu kambing etawa hangat tanpa gula dan anggota keluarga lain seperti Bams dan Dani yang sangat suka kopi hitam tanpa gula. Sofi sama seperti Cassandra yang minum segala macam jenis minuman tanpa terkecuali.
Jangan tanyakan tentang Satrio, karena sudah tentu Cassandra tahu semua makanan dan minuman kesukaan suaminya itu.
Dan persamaan itulah yang membuat Sofi dan Cassandra semakin dekat selain dari hubungan keduanya sebagai saudara ipar.
Setiap malamnya mereka akan bercengkrama dengan akrab, menceritakan apa yang sudah mereka lakukan seharian ini.
Ada kalanya mereka membicarakan topik yang berat seputaran bisnis namun terkadang pula mereka membahas sesuatu yang absurd.
Mama Nuri mempunyai sifat yang kurang lebih sama dengan Bams yang terkadang mulutnya tak terkontrol menceritakan sesuatu yang konyol yang sering mengundang tawa anggota keluarga lain.
Mereka akan tertawa saat mama Nuri dan Bams membicarakan sesuatu yang absurd yang terkadang tak masuk akal.
"Letakkan saja, Sayang. Nanti biar Bik Sumi dan pelayan lainnya yang membereskan semuanya," kata mama Nuri saat melihat sang menantu bersiap mengangkat sisa piring dan gelas yang mereka gunakan tadi.
"Gak apa-apa, Mah, enggak berat juga kok," tolak Cassandra dengan halus.
"Sudah.. ayo, ikut Mama. Ada yang ingin Mama bicarakan sama kamu." Mama Nuri menggandeng lengan Cassandra menuju taman belakang dan duduk di dalam gazebo.
__ADS_1
"Mah.. maafin Cassie ya, tadi setelah dari kampus, Cassie tak langsung pulang dan malah ke kosan Cassie yang dulu. Niat awalnya karena kangen dengan kamar dan temanku disana tapi eh.. malah kebablasan," ucap Cassandra dengan jujur.
Mama Nuri tertawa kecil melihat tingkah menantunya yang satu ini. Sifat Cassandra sangat bertolak belakang dengan anaknya, Satrio.
"Iya.. Mama maafin tapi lain kali kalau kamu mau pergi atau ingin kemanapun, ada baiknya kamu menelepon orang rumah biar kami semua tak cemas jika kamu pulang terlambat," tutur Mama Nuri memberi nasehat.
Cassandra mengangguk cepat.
"Mama tahu hubunganmu dengan Satrio tak seperti suami istri pada umumnya yang menikah karena cinta. Tapi mama yakin dan percaya jika cinta akan datang karena terbiasa. Rasa itu akan tumbuh seiring waktu berjalan.
Cassandra tampak tertunduk dan terdiam mendengar ucapan mana mertuanya itu.
Benar kata mama Nuri jika hubungannya dengan Satrio terjalin karena keterpaksaan dan tanpa ada cinta.
Tidak, bukan tidak ada cinta karena di lubuk hati terdalam Cassandra masih tersisa rasa cinta pada Satrio yang notabene adalah mantan kekasih. Walaupun Satrio pernah melukai hatinya.
"Sayang…," mama Nuri membuyarkan lamunan Cassandra.
"Hemm," jawabnya singkat.
"Mama sangat berharap kamu tak akan menyerah dengan sikap dingin Satrio padamu. Mama yakin lambat laun, Satrio pasti akan mencintaimu," kata mama Nuri dengan yakin.
Mama Nuri tergelak. Lalu dia menceritakan tentang kisah cinta antara ia dan suaminya, papa Radit.
"Dulu, mama dan papa menikah karena dijodohkan. Kami sama-sama tak memiliki landasan kuat dalam pernikahan kami. Tapi.. cinta itu mulia tumbuh seiring berjalannya waktu dan karena terbiasa," ucap mama Nuri menerawang kisah cintanya dulu bersama sang suami.
"Permisi, Nya. Nyonya disuruh masuk sama tuan," kata bik Sumi yang menghampiri mereka.
"See.. kamu lihat sekarang 'kan, papa sekarang begitu mencintai mama dan tak ingin berjauhan lama dengan mama," ucap mama Nuri tertawa keras.
"Sabar dan cobalah mengambil hati suamimu dengan segala kelebihan yang kamu punya. Mama yakin kamu pasti bisa kembali menumbuhkan rasa yang dulu pernah Satrio rasakan dulu padamu. Bersemangat lah." kata mama Nuri memberi semangat.
Mama Nuri menggenggam tangan Cassandra dan mengusap punggung tangannya.
"Ayo, kita masuk," ajak mama Nuri.
"Mama duluan saja, sebentar lagi Cassandra masuk," sahut Cassandra tersenyum ke arah mama Nuri.
__ADS_1
"Baiklah, Sayang. Mama masuk duluan, jangan Terlalu lama, nanti kamu masuk angin." Pungkas mama Nuri lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.
Cassandra memikirkan semua yang dikatakan mertuanya itu padanya. Walau belum mendapat cinta dari sang suami, paling tidak dia sudah mendapat banyak cinta dari anggota keluarga kuncoro lainnya. Dan itu cukup bagi Cassandra saat ini.
Setelah 30 menit, Cassandra kembali ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya.
Cassandra berharap, Satrio sudah tidur hingga dia tak akan mendapat kemarahannya lagi seperti tadi.
Jujur, Cassandra sangat sakit hati saat Satrio dengan teganya berbuat kasar padanya, terlepas dari masalah yang dibuatnya.
"Huufft.. semoga dia sudah tidur." gumam Cassandra lalu mengetuk pintu kamarnya dengan pelan.
Senyum Cassandra terbit saat melihat lampu kamarnya sudah mati semua.
Cassandra berjalan pelan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual malam sebelum tidur. Dia tak ingin langkahnya bisa membangunkan singa yang sedang tidur.
Namun saat akan masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba lampu kamarnya kembali menyala. Hal itu sontak membuat Cassandra kaget hingga terlonjak.
Seperti seorang pencuri yang ketahuan saat akan mencuri. Cassandra lalu berbalik dan benar saja, Satrio tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
Cassandra menundukkan kepala dengan tangan yang saling bertautan. Ia siap mendengar perkataan Satrio yang tentu akan memekakan telinga dengan kata-kata pedasnya.
"Sepertinya kau sudah tahu kesalahanmu," ucap Satrio to the point.
"Cassandra mengangguk pelan. Maafkan aku. Itu tak akan terjadi lagi, aku janji." balas Cassandra dengan sungguh-sungguh.
"Sebenarnya aku tak peduli walau kau pulang jam berapa atau bahkan tak pulang sama sekali, tapi.. yang aku pedulikan adalah mama. Aku tak suka melihat mama cemas dan gelisah seperti tadi. Dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu padamu." kata Satrio dengan lugas tanpa tedeng aling-aling.
"Hemm," jawabnya dengan singkat.
Cassandra tak bisa berkata kata lagi. Air matanya siap terjun bebas jika harus berkata dengan panjang.
Sakit, kata yang tepat menggambar hati Cassandra saat ini.
Cassandra langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Satrio.
Terserah jika nanti Satrio akan mengatakan jika ia tak belajar mata pelajaran PKN lagi atau tak tahu beretika. Cassandra hanya tak mau jika ia akan semakin diinjak-injak jika dia terlihat lemah di depannya dengan menangis.
__ADS_1
Setelah meluapkan segala rasa sakit di hati, akhirnya Cassandra keluar dari kamar mandi. Beruntung lampu kamarnya sudah kembali dimatikan oleh Satrio jadi dia tak akan melihat wajah sembabnya karena menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...