
KULKAS 2 PINTU
"Baiklah, aku setuju. Tapi aku juga punya permintaan kecil, aku ingin tetap bisa berkuliah dan juga beraktivitas seperti biasanya, bagaimana?!"
"Oke, gak masalah. Selama kamu tetap bisa menjaga nama baik keluarga ku, itu tak menjadi masalah buatku." jawab Satrio cepat.
"Baiklah, sekarang aku sudah bisa istirahat 'kan?" tanya Cassandra lagi.
"Tentu saja," jawab Satrio acuh.
Sementara Cassandra dengan aktivitas tidurnya. Satrio lebih memilih memeriksa beberapa pekerjaan yang dikirim oleh asistennya via email sembari menunggu waktu makan malam.
Suara ketukan pintu dari luar mengalihkan fokusnya.
"Bang Rio!! dipanggil mama turun. Makan malam sudah siap!" kata Bambang dibalik pintu.
Cassandra menggeliat di dalam selimut, perlahan menggerakkan kakinya untuk menendang selimut ke bawah lalu merentangkan tangannya ke atas seraya bergumam tak jelas.
"Sebentar lagi, Amel.. aku masih ngantuk," racau Cassandra tanpa membuka matanya.
Bukan Satrio yang menjawab panggilan Bambang, tapi Cassandra. Entah mengapa Cassandra masih bisa mendengar seruan Bambang walau dalam keadaan tidur sekalipun.
Melihat kelakuan istrinya itu membuat Satrio semakin ilfil padanya.
"Kamu sekarang ada di mana Luna?" gumam Satrio menatap Cassandra yang masih tertidur.
"Harusnya kamu yang berada di sana, bukan dia!" imbuhnya.
Satrio turun kebawah meninggal Cassandra yang masih tengah tertidur dengan sangat lelapnya di atas kasurnya dan bergabung dengan anggota keluarga lainnya yang sudah menunggunya di meja makan.
"Loh! Mana Cassandra?" tanya Mama Nuri ketika melihat Satrio turun seorang diri.
"Masih tidur, mah," sahut Satrio cepat.
"Gimana sih, kok nggak bangunin istrinya?"
"Capek kali mah, Cassandra habis diserang sama Bang Rio!" celetuk Bambang yang langsung mendapat tatapan tajam Satrio.
"Hust.. berisik kamu Bams. Tapi apa benar, kalian sudah melakukannya?!" tanya Mama Nuri penasaran.
"Bukannya lebih enak melakukan itu saat malam hari!" imbuh Mama Nuri dengan ke absurannya.
__ADS_1
Satrio memutar matanya dengan malas mendengar godaan keluarganya.
"Kalian jangan mikir aneh-aneh ya.. aku belum menyentuhnya, sama sekali dan.. dia memang masih tidur karena kelelahan setelah acara akadnya," jawab Satrio dengan datar.
"Ingat! Karena akadnya, bukan karena Satrio," pungkas Satrio dengan tegas namun, bukannya dipercaya, malah Satrio mendapatkan tatapan tidak percaya dari anggota keluarganya.
"Huh, terserahlah," katanya dengan malas lalu mulai memakan makanannya.
Kini mereka sudah berada di ruang keluarga. Sudah menjadi kebiasaan dari Keluarga Kuncoro adalah setelah makan malam, mereka akan bercengkrama dan bercerita apa yang terjadi saat mereka berada di luar rumah.
Menikmati kebersamaan anggota keluarga lainnya sembari menikmati cemilan sebelum mereka kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Sat, apa kamu sudah memutuskan akan berbulan madu kemana?" tanya Mama Nuri.
"Belum, Mah. Tapi sepertinya kami gak akan berbulan madu, Satrio banyak pekerjaan yang harus dikerjakan di kantor," jawab Satrio asal.
"Iya 'kan, Pah!" sambung Satrio menatap papa Radit seolah sedang meminta pembenaran dari perkataannya tadi.
Papa Radit yang dibawa-bawa seketika menelan salivanya saat melihat tatapan menelisik sang istri.
"I-iya, Mah.. dikantor memang sangat banyak pekerjaan tapi.. bisa kok di handle sama Papa sementara waktu selama Satrio berbulan madu!" seru Papa Radit cepat yang seketika merasa aman saat melihat senyum sang istri.
"Nah, beres bukan!" ucap Mama Nuri dengan santai.
"Dan, siapkan keberangkatan adikmu bulan madu, terserah di negara mana asal mereka bersama pasti akan tetap indah," ucap Mama Nuri berseri-seri membayangkan anak dan menantunya berbulan madu dengan romantis.
"Iya, Mah beres." sahut Dani cepat.
Satrio hanya diam dan tak menanggapi perkataan sang mama. Baginya tak akan berpengaruh jika dirinya menolak karena mamanya itu sangat tidak suka yang namanya penolakan.
...-o0o-...
"Jam berapa ini?" gumam Cassandra bermonolog saat terbangun karena rasa lapar.
Cassandra menatap Satrio yang tengah tertidur di sampingnya.
"Ternyata saat tidur pun dia tetap tampan, tapi sayangnya sifat dan kelakuannya sangat minus parah," batin Cassandra.
Cassandra bangkit dari kasur dan berjalan keluar dari kamarnya.
Suasananya saat ini dalam keadaan gelap karena seluruh anggota keluarga sudah masuk kedalam mimpi indah mereka.
__ADS_1
"Auh, sakit," ucapnya sembari meringis menahan sakit diperutnya.
Bagaimana tidak, terakhir kali dia makan saat pagi bersama dengan sahabatnya Amel di kost-an miliknya. Nasi uduk komplit merupakan menu wajib yang pasti mereka makan saat pagi menjelang.
"Aaahh, pantas saja maag ku kambuh, ternyata sekarang sudah jam 12 malam," gumam Cassandra saat melihat jam di hadapannya.
Cassandra turun ke bawah dan berharap masih ada yang tersisa dari makan malam mereka tadi. Namun saat sampai di ruang makan, nampak meja tersebut sudah kosong dan bersih tak bersisa.
Cassandra menghembuskan napasnya berat.
"Apa mereka menyimpannya di dalam kulkas ya?" gumam Cassandra berjalan menuju dapur dengan penuh pengharapan.
Cassandra masih terkagum kagum melihat tampilan dapur sang mertua yang membuat matanya berbinar. Bagi orang yang mempunyai hobi memasak seperti Cassandra tentu area dapur merupakan tempat sakral baginya.
"Super super lengkap," ucapnya berdecak kagum saat berkeliling di dalam area dapur yang bahkan ukurannya 10 kali lebih besar dari kamar kostnya.
Cassandra memang sudah biasa melihat peralatan elektronik seperti ini saat dirinya berjalan jalan di mall namun, dia tak menyangka jika dirinya bisa memilikinya, walau bukan miliknya pribadi, namun Cassandra sudah sangat bahagia membayangkan akan memasak di dapur seperti ini.
Cassandra bahkan memainkan kulkas di hadapannya saat ini, yang besarnya seperti sebuah lemari pakaian.
"Ck' kamu pikir itu mainan!" decak Satrio saat melihat kelakuan sang mantan kekasih yang sekarang menjadi istrinya.
Cassandra terkesiap saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.
Satrio mencibir Cassandra yang tingkahnya seperti seorang anak kecil yang mendapatkan sebuah mainan baru saat melihat kulkas yang dianggap biasa oleh Satrio.
Cassandra melirik Satrio dengan malas.
"Ck.. mengganggu kesenangan orang saja," decak Cassandra dengan pelan, namun masih bisa didengar Satrio karena suasananya yang sepi.
Satrio tak menggubris perkataan istrinya itu.
Satrio berjalan ke arah Cassandra lalu berhenti tepat di hadapannya. Posisi mereka kini terlihat intim karena Cassandra berada di tengah-tengah antara Satrio dengan kulkas.
Postur tubuh Satrio yang memang lebih tinggi dari ukuran tubuh Cassandra yang hanya sebatas dadanya saja membuatnya Satrio harus sedikit menunduk ketika ingin mengatakan sesuatu pada Cassandra.
"Apakah kau akan terus berdiri disini dan menghalangiku mengambil air didalam kulkas!" seru Satrio berbisik membuat Cassandra sedikit meremang karena hembusan napas Satrio yang terlalu dekat dengan tengkuknya.
"Ah..i-iyaa maaf!" kata Cassandra sembari menggaruk tengkuknya. Bukan karena gatal melainkan karena dia sangat gugup bisa berdekatan dengan Satrio setelah kejadian putusnya beberapa tahun yang lalu.
...**********...
__ADS_1