MANTAN JADI MANTEN!!

MANTAN JADI MANTEN!!
Chapter 12


__ADS_3

CEMBURU TANDA?


Pagi-pagi sekali Cassandra sudah dan bangun dan bergabung dengan mama Nuri dan iparnya, Sofi di dapur.


Rencana mereka akan membuat cake yang baru didapatkan Sofi dari internet. Wanita beranak satu itu memang sangat pandai membuat kue, tak jarang mama Nuri seringkali menyuruh menantunya itu membuka toko kue sendiri. Namun karena sang suami, Dani belum mengizinkan jadi Sofi hanya menyalurkan hobi itu dengan membuatkan kue untuk keluarga inti saja.


"Kak Sofi kok pintar banget buat kue, aku jadi iri deh. Kuenya enak banget, Kak. Serius!" ucap Cassandra memuji kakak iparnya.


"Sayang, mama sudah berulang kali merayu kakak iparmu ini untuk membuka toko kue, tapi ya gitu.. izin Dani nggak pernah turun turun, persis dengan harga BBM yang gak turun turun!" seru mama Nuri yang mengundang gelak tawa dari anak menantunya.


"Hayo.. kayaknya ada yang sebut sebut namaku nih," kata Dani yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


"It's a secret," kata mama Nuri mencebik.


Dani menggelengkan kepala melihat tingkah konyol mamanya. Dani lalu berbisik di telinga Sofi hingga membuat Sofi tertawa karena kegelian.


"Cassie, tolong kamu tungguin oven sebentar ya, aku mau lihat Soni dulu ke atas. Kalau oven nya sudah mati, tinggal kamu keluarin cake dari oven." Kata Sofi meminta tolong pada adik iparnya.


Lalu Sofi dan Dani beranjak dari dapur menuju kamarnya di lantai dua.


Bams seperti anak muda lain ketika waktu libur, dia sangat memanfaatkan waktu untuk tidur sepuas hati.


Betapa tidak, jika hari-hari biasa bisa dipastikan kasurnya akan basah karena mama Nuri tak segan-segan menyiram wajah tampan Bams jika dia tidak bangun.


Mereka sudah berkumpul di gazebo taman belakang tempat mama Nuri dan Cassandra bicara semalam.


Taman yang semalam tak terlalu kelihatan keindahannya karena suasana yang gelap temaram.


Kini taman tersebut terlihat lebih indah dengan banyaknya aneka bunga yang berjejer dan tersusun rapi di sekitar kolam renang.


Cassandra bahkan baru sadar jika rumah mertuanya itu memiliki kolam renang yang cukup besar dengan memiliki 2 kolam yang terdiri dari satu kolam untuk dewasa dan 1 kolam cetek untuk anak-anak.


"Sayang.. bisa tolong, Mama panggilkan Bams dan suamimu turun! Katakan kalau cake pisang kesukaan mereka sudah jadi. Dan jika tidak turun sekarang, papa yang akan menghabiskan sendirian," pinta mama Nuri.


Cassandra mengangguk lalu masuk ke dalam rumah dan berlari kecil menuju tangga.


Saat sudah sampai di lantai dua, Cassandra membangunkan Satrio terlebih dahulu.


TOK TOK TOK


Cassandra masuk setelah mengetuk pintu.


"Kamu dipanggil mama turun ke taman belakang. Kata mama cake pisangnya sudah jadi," ucap Cassandra sembari menoleh ke arah Satrio yang sedang sibuk dengan laptop diatas meja.

__ADS_1


"Hemm…," jawab Satrio dengan singkat.


Lalu Cassandra keluar dan berjalan menuju ke arah kamar adik iparnya, Bams.


TOK TOK TOK


"Bams.. baaamssss!" teriak Cassandra saat tak mendapat sahutan dari Bams.


"Apa aku masuk saja," pikirnya karena tak ingin membuat mama Nuri kecewa.


Sedikit banyak Cassandra sudah tahu sifat dan watak dari anggota keluarga lainnya terkhusus sang mama mertua jika mama Nuri sangat bahagia ketika melihat anak-anaknya berkumpul bersama.


Cassandra masuk ke dalam kamar Bams yang tak terkunci lalu membiarkan pintunya terbuka dengan lebar agar tidak terjadi salah paham.


"Bams.. bangun Bams.. mama nyuruh kamu turun ke taman belakang," kata Cassandra sedikit berteriak.


Namun orang yang dipanggil tak bergerak sama sekali.


Cassandra ingat cerita mama Nuri jika diantara ketiga anaknya, Bams lah yang paling susah dikasih bangun. Bahkan terkadang mama Nuri harus menyiram Bams dengan air dingin.


Apa Cassandra akan melakukannya? Tentu saja tidak, dia bukanlah mama Nuri yang dengan berani menyiram seseorang ketika sedang tidur.


Akhirnya Cassandra mengguncang tubuh Bams dengan harapan akan segera bangun, atau paling tidak Bams bisa membuka mata agar ia bisa mengatakan pesan mama Nuri tadi.


"Ah.. syukurlah. Bangunlah cepat Bams, mama bilang kalau kau tidak bangun sekarang, papa yang akan menghabiskan cake pisang buatan kak Sofi di taman belakang," ucap Cassandra dengan lega karena bisa menyampaikan pesan mama Nuri padanya.


"Ya sudah, aku keluar. Ingat! Jangan tidur lagi, kalau tidak.. kau tahu apa yang akan mama lakukan jika sampai masuk ke dalam kamarmu!" seru Cassandra dengan sedikit mengancam dengan menjual nama mama mertuanya.


...-o0o-...


Akhirnya Bams bangun dan keluar secara bersamaan dengan Cassandra. Satrio yang baru keluar dari kamar pun melihat ketika Cassandra yang keluar dari kamar Bams bersamaan.


Satrio berjalan beriringan dengan Bams dan juga Cassandra. Namun saat akan melangkah turun, lengannya di tiba-tiba ditarik oleh Satrio hingga membuat sang istri nyaris terpeleset dan jatuh jika saja Bams tak menahan tubuh kakak iparnya itu.


"Berhati-hatilah, Cassie. Untung ada aku, coba tidak.. kamu pasti sudah patah tulang," seru Bams menggelengkan kepalanya.


Bams sudah turun terlebih dahulu meninggal pasangan suami-istri itu.


"Maaf.. aku tak bermaksud membuatmu kaget," ucap Satrio meminta maaf.


Satrio yang niatnya ingin membicarakan sesuatu hal penting dengan Cassandra. Dia akhirnya mengurungkan niat awalnya karena insiden tadi dan akan mencari waktu yang tepat nanti.


Inilah yang membuat mama Nuri bahagia jika melihat ketiga anak dan menantu serta cucunya berkumpul bersama. Entah itu hanya untuk bertukar cerita atau bahkan hanya untuk bersenda gurau bersama. Bagi mama nuri, keluarga adalah harta yang paling berharga di dunia ini.

__ADS_1


Cassie tersenyum melihat keharmonisan keluarga kakak iparnya, Dani dan Sofi serta Soni yang sedang bermain bola bersama di sekitar kolam renang.


"Sayang.. berikan cake ini untuk suamimu disana!" tunjuk mama Nuri ke arah Satrio yang sedang berjemur setelah berenang.


"Iya, Mah." Cassandra beranjak dari duduknya lalu menghampiri Satrio yang sedang berbaring di kursi panjang disisi kolam renang.


"Ini…," Cassandra menyodorkan sepiring cake pisang lengkap dengan kopi susu favoritnya.


Satrio membuka matanya perlahan saat mencium aroma dari cake pisang dan kopi susu buatan Cassandra.


Sejujurnya, Satrio lebih menyukai kopi susu buatan Cassandra dari pada buatan Bik Sumi ataupun mama Nuri. Entah apa yang dia masukkan hingga rasanya akan berubah jika bukan buatan sang istri.


Satrio tak tahu saja jika beda tangan akan beda rasa walaupun bahan dan takarannya sama karena pembuatnya membuat dengan penuh cinta.


"Terima kasih," jawab Satrio dengan pelan walau masih terdengar datar.


Cassandra tersenyum mendengar ucapan Satrio yang dianggapnya adalah sebuah keajaiban.


Bagaimana tidak, sudah hampir seminggu mereka menikah dan baru kali ini Cassandra merasa ada ketulusan dari ucapan Satrio padanya tadi.


Saat Cassandra akan beranjak, Satrio menahan lengannya lagi, namun kali ini lebih lembut.


"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan," kata Satrio menatap wajah sang istri cukup lama.


"Duduklah," ulang Satrio dan Cassandra langsung duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi yang diduduki Satrio.


"Tadi kamu ke kamar Bams untuk apa?" tanya Satrio masih menatap wajah Cassandra dan merupakan rekor terlama sejak mereka menikah.


"Oh, yang tadi?!" balas Cassandra dan Satrio mengangguk pelan.


"Tadi, mama menyuruhku membangunkanmu dan Bams dikamar. Kenapa?" tanya Cassandra, dia memang tak tahu kenapa Satrio menanyakan hal itu padanya.


"Lain kali, bangunkan dia cukup sampai pintu kamarnya saja. Tak perlu sampai masuk ke dalam kamarnya. Kau sudah mengerti!" kata Satrio menegaskan.


Walau Cassandra tak mengerti maksud ucapannya, namun dia tetap mengangguk dan akan mengingat perkataan Satrio.


"Baiklah kalau begitu, aku mau ke mama dulu." Ujar Cassandra yang akan beranjak namun lagi-lagi Satrio menahannya.


"Tetap disini, temani aku. Disana ada papa yang menemani mama," kata Satrio lagi lalu mulai menikmati cake dan kopi yang dibawakan Cassandra tadi.


Bukan tanpa alasan Satrio melarang Cassandra masuk ke kamar Bams lain kali. Satrio tipe pria yang tak suka jika barang atau miliknya di gunakan atau diganggu oleh orang lain, tak terkecuali sang adik.


Satrio menampik jika perasaan yang dia rasakan saat ini bukanlah sebuah rasa cemburu atau rasa apapun itu. Dia hanya tak suka saja jika miliknya sampai diganggu apalagi dimiliki orang lain.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2