MANTAN JADI MANTEN!!

MANTAN JADI MANTEN!!
Chapter 8


__ADS_3

TANGGUNG JAWAB SEBAGAI SEORANG ISTRI


Cassandra masuk ke dalam kamarnya tanpa tahu jika sudah pulang sejak tadi saat dirinya sibuk membantu Bik Sumi didapur.


"Ya Tuhaaann.. Kau mengagetkanku, Satrio!" Kata Cassandra memegang dadanya.


"Kau melupakan peraturannya lagi, Nona Cassandra!" seru Satrio dengan tatapan tajamnya.


"Huufft.. maafkan aku, piss." Jawab Cassandra tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya sembari mengangkat jarinya dan membentuk huruf V.


Satrio menggelengkan kepalanya lalu beranjak ke kamar mandi meninggalkan Cassandra yang masih memperlihatkan senyum nyengirnya.


BHUUM!


Satrio menutup pintu kamar mandinya dengan keras hingga membuat Cassandra terperanjat kaget karena suaranya.


"Iishh.. benar benar pria yang menyebalkan," gumam Cassandra pelan.


Cassandra menunggu Satrio keluar dari kamar mandi karena tadi dia lupa menanyakan pada Satrio perihal sarapan paginya.


Ceklek..


Cassandra lalu menoleh ke arah kamar mandi dan entah ini keberuntungan atau kesialan hingga mata polosnya harus melihat keindahan tubuh Satrio. Walau hanya tubuh bagian atasnya saja namun, itu sudah cukup membuat otaknya bertraveling kemana-mana.


Cassandra mengalihkan pandangannya ke arah lainnya. Bukan tanpa alasan, wajahnya kini bisa dipastikan sudah sangat memerah karena malu.


"Ada apa?" tanya Satrio yang seolah-olah tahu jika ada yang ada yang ingin dikatakan Cassandra padanya.


"Hem.. itu, aku mau tanya soal sarapan. Kamu mau sarapan dirumah atau di kantor?! kata Cassandra pada akhirnya.


"Kamu jangan terlalu pede, mama yang memintaku. Dan seterusnya pun aku yang akan mengurus segala keperluan," imbuh Cassandra yang tak ingin Satrio berpikiran aneh padanya.


"Di rumah," sahut Satrio singkat.


Lalu berjalan meninggalkan Cassandra menuju ruang wardrobe miliknya.


Cassandra sudah berada di dapur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya sebelum dia berangkat ke kantor.


Cassandra menata piring dan peralatan makan lainnya yang akan digunakan Satrio nanti. Tak lupa juga menata nasi goreng jakarta yang dibuat mama Nuri tadi pagi beserta menu pelengkapnya dan tak lupa capcay buatan nya pun dihidangkan, berharap jika sesuai dengan seleranya.


Cassandra kembali ke meja makan membawakan kopi susu yang menjadi minuman kesukaannya.


Ya, mama Nuri sedikit banyaknya sudah memberitahukan padanya tentang makanan dan minuman yang biasa Satrio makan dan minum saat sarapan pagi.

__ADS_1


"Ini.. minumlah mumpung masih hangat," kata Cassandra memberikan secangkir kopi susu pada Satrio.


Satrio meraih dan mengambil kopi susu yang dibuat Cassandra tanpa ekspresi dan meminumnya sedikit lalu kembali meletakkan di samping kirinya.


Tampak Satrio memindai makanan yang ada di atas meja. Dan itu tak luput dari penglihatan Cassandra.


"Apa yang kau cari?" tanya Cassandra.


"Telurnya mana?" kata Satrio akhirnya bersuara.


"Telur?" Beo Cassandra.


"Kamu mau telur apa? Nanti aku buatkan!" imbuh Cassandra.


Satrio melirik ke jam tangan yang letaknya berada di sebelah tangan kanannya.


"Nggak usah, lain kali saja," kata Satrio datar.


Cassandra yang hendak mengambilkan nasi di piring suaminya lalu berhenti saat Satrio memberikan penolakan melalui bahasa tangannya.


"Aku bisa sendiri," kata Satrio yang lagi lagi memberikan penolakan pada istrinya, Cassandra.


Cassandra menghembuskan napasnya dengan panjang namun sangat pelaaaaann.


Satrio memakan makanannya dengan tenang. Satrio memang tipe pria yang tak terlalu suka dengan keributan atau kehebohan. Maka dari tadi itu saat berpacaran dengan Cassandra dulu, saat mengetahui sifat asli Cassandra. Satrio langsung memutuskan Cassandra begitu saja karena tak suka dengan sikap dan kelakuan Cassandra yang terlampau ceria.


"Untuk kali ini saja … aku harap kau juga mengerti posisiku saat ini. Aku istrimu dan sudah seharusnya aku melayani mu selayaknya seorang istri pada umumnya," kata Cassandra menatap Satrio dengan wajah sendu.


"Aku harap kau bisa tak membuatku menjadi istri yang tak berguna, paling tidak aku bisa melakukan tugasku di dalam rumah suamiku," imbuh Cassandra yang tetap kekeh duduk di samping suaminya.


Satrio tak menjawab atau menggubris perkataan istrinya. Dia terus memakan makanannya hingga tandas lalu kembali menyeruput kopi susunya hingga tak bersisa lalu kembali atas kamarnya dan mengambil tas kantornya.


Cassandra tersenyum melihat kopi susu buatannya habis tak bersisa.


Cassandra yang hendak menyusul suaminya ke atas lalu mengurungkan niatnya saat melihat Satrio yang akan turun kebawah.


Cassandra lalu mengikuti langkah kaki suaminya menuju pintu depan.


Satrio yang merasa ada yang mengikutinya pun berhenti lalu berbalik ke arah belakang.


"Apa yang kau lakukan? Aku tak suka kau mengikuti kemanapun aku pergi!" seru Satrio dengan wajah tak suka.


"Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya melakukan seperti apa yang dilakukan mama tadi saat mengantar papa sampai ke depan pintu!" tukas Cassandra jujur.

__ADS_1


Walau pernikahan ini terbilang terpaksa, namun Cassandra tetap ingin melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang sebenarnya walau hanya sebatas melayani makan dan kegiatan lainnya di luar dari urusan ranjang tentunya.


Satrio menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Baiklah, terserah padamu. Toh itu juga sudah aku tulis batasan-batasannya bukan! Jadi jangan sampai kamu melewati batasnya," balas Satrio mengingatkan.


"Tentu saja, tenanglah," jawab Cassandra dengan cepat dan tanpa membalas perkataan pedas suaminya.


Sejak kemarin hingga tadi pun mereka terus berdebat hingga membuatnya jengah dan memilih diam agar permasalahannya selesai sampai disini saja.


Sesampainya di depan pintu, Satrio berbalik lalu mengecup kening Cassandra, dan hal itu sontak membuat Cassandra membeku di tempat.


Satrio dengan tenang dan tanpa beban kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah menunggunya di depan pintu rumah.


"Ck.. ck.. ck.. cibir Satrio melihat ekspresi istrinya melalui jendela kaca mobilnya.


Setelah kepergian Satrio. Cassandra lalu menyentuh kening yang tadi dikecup oleh suaminya lalu beralih memegang dadanya yang berdebar dengan kencang saat bibir Satrio menyentuh keningnya.


Ada sesuatu yang berdesir di hatinya saat merasakan sentuhan suaminya itu.


"Astagaaa jantung.. bisakah kau bersikap biasa saja! Untung Satrio tak mendengar debaran mu tadi, jika tidak.. dia pasti akan mentertawakan ku dengan sangat keras," kata Cassandra bermonolog dalam hati.


Cassandra lalu beranjak dan masuk ke dalam rumah. Cassandra tengah bersiap berangkat ke kampus, kebetulan hari ini dia ada kelas siang jadi dia akan bersiap sebelum berpamitan pada mama mertuanya.


"Loh.. kamu mau kemana, Sayang?" tanya mama Nuri yang baru keluar dari kamarnya dan tak sengaja berpapasan dengan Cassandra yang baru turun dari kamarnya di lantai 2.


"Kebetulan, ketemu Mama. Cassie mau pamit, Cassie mau ke kampus. Kebetulan aku ada kelas siang nanti. Boleh ya, Mah!" kata Cassandra pamit pada mama Nuri.


"Memangnya kamu nggak izin cuti di kampus?" tanya mama Nuri lagi.


Cassandra tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Nggak, Mah. Nggak sempat, 'kan nikahnya dadakan jadi—" mulutnya seketika tercekat saat akan menjelaskan tentang pernikahannya.


Jujur Cassandra masih bingung setiap kali ada yang menanyakan tentang bagaimana bisa dia menikah dengan Satrio, suaminya saat ini.


"Oh, astagaaa.. Mama lupa … lupakan pertanyaan konyol mama, Sayang," kata mama Nuri tergelak.


Bagaimana bisa dia lupa kejadian kemarin saat anaknya, Satrio yang tiba-tiba mengganti mempelai pengantin wanitanya tanpa memberitahukan sebelumnya pada keluarga besarnya.


"Baiklah, Nak pergilah. Tapi sebelum itu, kamu harus meminta izin suamimu dulu. Walau bagaimanapun juga, Satrio kini sudah menjadi suamimu yang artinya dia berhak dan bertanggung jawab atas dirimu sepenuhnya," imbuh mama Nuri menasehati.


"Kamu mengerti 'kan maksud Mama?!" kata Mama Nuri lagi.

__ADS_1


Lalu Cassandra mengangguk dan segera kembali ke atas kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2