MANTAN JADI MANTEN!!

MANTAN JADI MANTEN!!
Chapter 7


__ADS_3

KEAKRABAN MERTUA DAN MENANTU


Setelah mengambil air putih dan menutup pintu kulkas. Satrio kembali berjalan dan menghampiri Cassandra yang tengah menundukkan kepalanya kebawah.


Melihat Cassandra yang bergeming, mau tidak mau membuat Satrio akhirnya bertanya walau sebenarnya dia sangat malas mencampuri urusan orang lain.


"Kamu ke dapur mau apa ngapain?" tanya Satrio datar.


"Jelas jelas ke dapur ya.. pasti nyari makanlah, pakai acara tanya segala lagi..!" gumam Cassandra dalam hati.


"Aku lapar, Yo.. eh, maksudku Satrio. Sejak siang aku belum makan dan sepertinya maag ku kambuh lagi!" Seru Cassandra sembari memegang perutnya yang terasa perih.


Satrio menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Tunggu disana!" Satrio menunjuk sebuah kursi bar yang memiliki ukuran lebih tinggi dari kursi pada umumnya.


Cassandra lalu duduk diatas kursi yang ditunjuk Satrio tadi.


"Ini.. minumlah sebelum makan," kata Satrio memberikan satu tablet obat maag pada Cassandra.


"Terima kasih," sahut Cassandra dengan cepat lalu meraih obat yang diberikan Satrio padanya.


"Ini..," katanya lagi seraya memberikan segelas air putih pada Cassandra.


"Setelah 30 menit, baru makan makananmu," lanjut Satrio mengingatkan lalu kembali berjalan keluar dari dapur.


Huft.. Cassandra menghembuskan napasnya ke udara.


...-o0o-...


"Selamat pagi, Mah," sapa Cassandra saat melihat mama Nuri tengah sibuk membuat sarapan di dapur yang dibantu oleh asisten rumah tangganya.


"Pagi, Sayang.. loh! Kamu kok cepat banget bangunnya, kan biasanya pengantin baru bangunnya tuh agak siangan!" seru Mama Nuri.


Cassandra tersenyum mendengar perkataan absurd mama mertuanya itu.


"Cassie bisa bantu apa, Mah?" tanya Cassandra mengalihkan pembicaraan.


"Sudah hampir beres kok, Sayang. Mama buat masakan yang simpel saja untuk sarapan seperti nasi goreng jakarta ini. Ini menu favorit sarapan papa dan yang lainnya. Tapi kalau kamu mau makan yang lain nanti tinggal bilang sama bibi, nanti bibi akan buatkan. Atau.. kamu mau Mama yang buatin?!" kata mama Nuri menawarkan.


"Terima kasih, Mah. Cassie bisa bisa buat sendiri, simpel kok." jawab Cassandra mengulas senyum.

__ADS_1


"Baiklah, Mama keluar dulu. Mau bangunin papa dan bams." kata mama Nuri memegang lengan Cassie.


Cassandra mengangguk lalu kembali melanjutkan apa yang sangat ingin dia lakukan sejak dulu.


"Non Cassandra mau makan apa? Biar bibi buatkan," Kata bibi Sumi, asisten rumah tangga yang bekerja dari awal pernikahan mama Nuri dan Papa Radit.


"Enggak apa-apa, Bi, biar aku yang masak, aku suka masak di kost-an jadi sudah biasa." Ujar Cassandra yang sibuk mondar-mandir mengambil bahan makanan yang akan dia masak.


"Nanti, Nyonya bisa marah, Non," balas Bik Sumi dengan wajah memelas.


"Kalau begitu biar Bibi yang bantu ambilkan bahannya, nanti aku yang masak, gimana!" kata Cassandra memberikan solusi.


"Baiklah, Non. Nona mau masak apa?" kata bik Sumi akhirnya.


"Aku mau buat capcay, Bik. Tolong siapkan semua bahannya ya," titah Cassandra pada bik Sumi.


"Iya, Non." Sahut Bik Sumi dengan cepat lalu menyiapkan semua bahan yang akan digunakan Cassandra.


"Wah, Non Cassandra sepertinya sangat lihai memasak!" kata bik Sumi dengan kagum.


Cassandra tersenyum mendengar pujian Bik Sumi.


"Aku sudah biasa, Bik. Dibilang jago sih enggak jago jago amat tapi bisalah beberapa masakan," jawab Cassandra dengan pedenya.


Cassandra masuk ke dalam kamarnya setelah mengetuk pintu, hal yang harus dia lakukan sesuai dengan peraturan yang dibuat suaminya, Satrio.


"Dia kemana pagi-pagi begini?" gumam Cassandra saat tak melihat Satrio didalam kamar.


"Ish, kenapa juga aku mikirin dia," Cassandra menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan pikirannya pada Satrio.


Harusnya dia bersyukur karena Satrio tak di dalam kamar saat ini hingga dia bebas bergerak tanpa harus terikat dengan segala aturannya.


Cassandra bergegas masuk ke dalam kamar mandi lalu bersiap turun ke bawah dan bergabung dengan keluarga kuncoro lainnya.


...-o0o-...


Cassandra dan keluarga Kuncoro lainnya sudah berada di ruang makan terkecuali Satrio yang masih belum pulang dari lari paginya.


"Ayo, makan!" perintah mama Nuri.


Mereka memulai makan paginya dengan tenang.

__ADS_1


"Memangnya Satrio belum pulang, Mah?" tanya papa Radit saat tak melihat Satrio di meja makan.


"Iya, Pah seperti biasa. Habis subuh di masjid langsung lari pagi di taman belakang kompleks bareng teman-temannya," sahut mama Nuri disela makannya.


Papa Radit menghela napasnya lalu menggerakkan kepalanya melihat kelakuan anak nomor duanya itu.


"Kamu makan duluan saja, Nak. Suamimu itu memang begitu, kalau sudah ketemu sama teman-temannya pasti lupa waktu," ujar Papa Radit saat melihat Cassie tak menyentuh makanannya.


"I-iya Pah," jawab Cassandra malu-malu.


"Ngomong-ngomong ini yang buat capcay nya siapa? Rasanya berbeda dari yang biasa Papa makan," kata papa Radit saat mencicipi capcay buatan Cassandra.


"Itu buatan anak mantu, Papa," sahut mama Nuri seraya tersenyum melihat ke arah Cassandra yang menunduk malu mendapat pujian dari papa mertuanya.


"Mama sama Papa beruntung, bisa dapat menantu yang cantik dan jago masak," kata Dani menimpali perkataan papa Radit.


"Iya dong, Mama sangat bersyukur memiliki mereka berdua," sahut mama Nuri cepat.


"Sofi yang jago baking dan Cassie yang jago masak! Ah.. betapa beruntungnya hidup mama mendapat menantu seperti kalian," imbuh mama Nuri melihat menantunya satu persatu dengan bangga.


Wajah Sofi dan Cassie mendadak memerah saat mendapat pujian bertubi tubi dari mama mertuanya.


"Kami pun beruntung, Mah. Mama mertua yang terrrrrr besttt di dunia!" kata Sofi akhirnya.


"Iya, benar kata Kak Sofi. Mama adalah mertua yang terbaik bagi kami," kata Cassandra menimpali ucapan kakak iparnya.


"Sudah, sudah.. kepala mama kalian lama lama bisa besar kalau kalian memujinya terus," canda Papa Radit.


"Ye.. Papa sirik aja!" celetuk mama Nuri membuat semua anggota keluarga Kuncoro tertawa tak terkecuali sang cucu, Soni.


Satrio dan Cassandra tetap akan tinggal di pondok mertua seperti pendahulunya sang kakak, Dani dan istrinya, Sofi yang juga tinggal bersama mama Nuri dan papa Radit.


Sudah aturan dari mama Nuri memang jika anak- anaknya kelak menikah, mereka tetap harus tinggal bersama.


Dan hal itu tak membuat Sofi dan Cassandra tak protes dan tak keberatan karena sifat mama Nuri yang easy going dan benar-benar memposisikan dirinya sebagai pengganti ibu dari menantunya.


Hal itu pula yang membuat hubungan antara menantu dan mertua berjalan dengan damai dan tentunya bahagia karena mama Nuri tak pernah sekalipun memposisikan dirinya menjadi "mertua" pada umumnya melainkan memposisikan dirinya sebagai ibu dari para menantunya.


"Cassie, setelah Satrio pulang, kamu langsung tanyakan padanya apakah ingin sarapan dirumah atau di kantor. Karena biasanya Mama yang tanyakan, tapi karena Satrio sudah menikah, jadi mulai sekarang kamu yang akan mengambil alih tanggung jawab Mama mengurus suamimu itu," kata mama Nuri saat dirinya berpapasan dengan menantunya di dapur.


"Iya, Mah," sahut Cassandra tersenyum lalu kembali ke dalam kamarnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2