MANTAN JADI MANTEN!!

MANTAN JADI MANTEN!!
Chapter 13


__ADS_3

MENJADI AIR


Akhirnya Cassandra duduk tepat di samping Satrio. Dia bersyukur dengan perubahan kecil Satrio. Paling tidak, dia tak lagi merasakan kata-kata pedas sang suami yang melebihi bon cabe level 50.


"kamu tak berenang?" Satrio membuyarkan lamunan Cassandra.


"Ah.. apa yang kamu katakan?" tanya Cassandra saat tak mendengar jelas ucapan Satrio tadi.


"Aku bilang, apa kamu tak ingin berenang?" tanya Satrio ulang.


Cassandra tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku nggak bawa baju renang," jawab Cassandra pelan.


"Disana ada baju renang. Pilihlah satu untukmu. Aku tunggu di bawah," Kata Satrio menunjuk pintu yang berada di depan kolam. Lalu Satrio menceburkan diri ke dalam kolam.


Cassandra lalu berjalan ke arah pintu yang ditunjukkan Satrio tadi. Cassandra masih tak percaya jika di dalam pintu ini terdapat banyak peralatan dan perlengkapan renang, Cassandra seperti sedang berada di dalam toko perlengkapan renang karena banyak terdapat baju renang yang ditanggung dengan beberapa model serta celana yang diletakkan di dalam etalase serta pelampung hingga kacamata renang semua lengkap.


Cassandra keluar dari ruang ganti setelah memilih baju yang akan dipakainya. Cassandra terpaksa memilih baju renang model tankini karena hanya model itulah yang tidak terlalu terbuka.


Satrio dan Bams yang sedang berlomba seketika menghentikan lombanya tatkala melihat Cassandra berdiri ditengah pinggiran kolam.


Satrio mengernyitkan alisnya saat melihat Cassandra yang memakai baju renang dengan bagian atas yang sedikit terbuka. Sedang Bams langsung bersiul saat melihat penampilan kakak iparnya yang terlihat sangat seksi.


Menyadari pandangan mata Bams pada tubuh sang istri membuatnya sedikit kesal.


"Alihkan pandanganmu, Bams. Kalau kamu tak ingin matamu ku colok!!" ucap Satrio sedikit berteriak karena mata Bams tak berkedip menatap kakak iparnya itu.


Jika bukan karena Bams adalah adiknya, bisa dipastikan jika Satrio akan langsung menghadiahkan bogeman mentah pada mata Bams. Dia tak suka melihat mata sang adik yang berfokus melihat tubuh istrinya. Bak seekor kucing yang melihat ikan segar.


Bam terkekeh mendengar ancaman dari sang kakak.


"Woles, Bang. Pemandangan indah begini jangan sampai disia-siakan," celetukan Bams membuat Satrio yang sudah kesal semakin menjadi kesal.


Satrio langsung melompat ke arah sang adik hingga membuat tubuh bams masuk ke dalam air. Mereka pun akhirnya bergulat di dalam kolam yang mengundang tawa dari seluruh keluarga yang melihat mereka.


Setelah puas memberi pelajaran pada sang adik. Satrio keluar dari kolam lalu menghampiri Cassandra yang sudah sejak tadi berdiri melihat kelakuan dua kakak beradik itu.


"Ayo!" seru Satrio menarik tangan Cassandra dan membawa masuk ke dalam rumah tanpa mengganti celana renang yang dipakai.

__ADS_1


Menyadari lantai yang basah karena perbuatan Satrio membuat Cassandra menghentikan langkah kakinya.


"Kamu lupa mengganti pakaianmu, lihatlah lantai jadi basah," kata Cassandra menunjuk ke arah lantai.


"Ada pelayan yang akan membersihkan, ayo naik, kita ke kamar." Satrio masih memegang tangan Cassandra dan membawa masuk menuju kamar.


"Masuk!" perintah Satrio.


Cassandra patuh dan langsung masuk ke dalam kamar karena tak ingin berdebat dengan sang suami.


Satrio melempar sebuah bathrobe pada Cassandra.


"Ganti bajumu cepat lalu kita kembali ke taman. Mama pasti sudah menunggu kita dari tadi," perintah Satrio.


"Tapi pakaianku ada di bawah, di ruang ganti tadi!" seru Cassandra pada Satrio.


"Apa bajumu hanya itu saja? Cepat ganti dan nggak usah banyak protes," balas Satrio lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Cassandra mencebikkan bibir ke depan mendengar perkataan Satrio yang tak ingin dibantah.


Satrio yang baru keluar dari kamar mandi seketika terpaku melihat penampilan Cassandra yang terlihat berbeda hari ini.


"Hem…," Cassandra berdehem dengan keras saat Satrio menatap dengan dalam.


Cassandra menelan salivanya saat melihat tubuh kekar dan perut sixpack milik sang suami.


"A-ada apa?" tanya Cassandra dengan gugup karena Satrio yang semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang istri.


"Aku tak ingin kamu memakai baju terbuka seperti itu lagi saat akan berenang. Itu akan membuat orang-orang berpikiran mesum saat melihatmu," ujar Satrio.


"Iya, baiklah. Tapi.. bukankah itu hal yang wajar jika aku memakai baju renang seperti tadi? Lagian bajunya tak terlalu terbuka. Itu seperti tanktop yang biasa aku pakai di kosan," sahut Cassandra.


Mata pria itu memicing mendengar pengakuan sang istri. "Jadi kamu selalu memakai pakaian terbuka di kosan? Apa kamu tak malu!" tanya Satrio lagi.


"Tentu saja, tidak! Jangan berpikiran yang macam-macam. Kosanku itu kosan khusus perempuan jadi tak masalah jika memakai pakaian seksi sekalipun," jawab Cassandra cepat.


"Pokoknya aku nggak suka kamu memakai pakaian seperti itu lagi! Disini bukan hanya ada aku, tapi ada papa, bang Dani dan juga Bams. Jadi kamu lebih memperhatikan gaya berbusana mu. kamu mengerti!" kata Satrio posesif.


Cassandra tahu jika dia terus menjawab perkataan Satrio, bisa dipastikan akan berlangsung hingga pagi menjelang.

__ADS_1


"Baiklah, aku tak akan memakai pakaian seperti itu lagi. Bisakah kita turun sekarang? Perutku lapar dan aku sudah sangat ngiler ingin memakan cake pisang buatan kak Sofi," Cassandra beranjak dari kasur menuju pintu kamar. Satrio bahkan bisa melihat paha putih istrinya itu karena Cassandra memakai dress diatas lutut.


"Sepertinya aku akan menambahkan aturan tentang cara berpakaian wanita itu," kata Satrio bermonolog dalam hati. Lalu keluar dan menyusul sang istri yang sudah keluar dari kamar.


Kini mereka semua sudah berada di gazebo. Mereka menyantap cake dan minuman yang sudah dibuat sofi dan Cassandra tadi. Setelah bermain dan berenang, mereka sangat kelaparan hingga saling berebut cake pisang yang tersisa sepotong.


Dani, Satrio, Bams dan si kecil Soni berebutan mengambil sisa cake itu dengan cepat. Mereka tertawa bersama saat melihat Soni lah yang mendapatkan sisa cake tersebut.


Lalu mereka bertiga bersama-sama berjalan menuju lapangan tenis untuk melanjutkan kembali olahraga mereka yang tertunda karena harus menunggu kedatangan Satrio.


Berbeda dengan para lelaki di rumah Kuncoro yang menyibukkan diri dengan berolahraga bersama. Sedang para wanita justru memilih bersantai ria sembari menikmati puding yang dibuat pelayan.


"Sayang.. bagaimana hubunganmu dengan Satrio?" tanya mama Nuri pada Cassandra.


"Hem.. ya begitulah, Mah. Tak ada peningkatan yang berarti. Tapi Cassandra tetap tetap bersyukur, paling tidak sekarang dia tak pernah lagi berkata kasar padaku," ucap jujur Cassandra.


"Sabarlah, Sayang. Mama yakin nanti dia pasti bisa membuka hati," kata mama Nuri menggenggam tangannya.


"Satrio anak yang keras kepala jadi kamu harus bisa mengimbangi. Jadilah air disaat dia sedang menjadi api. Sabar dan saling pengertian kunci utama dalam suatu hubungan setelah komunikasi." kata Mama Nuri sembari menggenggam tangan Cassandra lalu menepuk punggung tangannya dengan lembut.


Cassandra mendengarkan dengan seksama nasehat yang diberikan mama Nuri.


"Tapi kalian sudah melakukan itu 'kan! Mama sudah nggak sabar mendapat cucu dari kalian," celetukan mama Nuri yang tak berfilter itu membuat wajah Cassandra memerah.


"Mama…," tegur Sofi saat melihat wajah adik iparnya itu memerah karena malu.


Mama Nuri lalu tertawa melihat wajah merah Cassandra.


"Tak apa-apa, Sayang. Kita sama-sama wanita, anggap mama adalah sahabatmu yang kapan saja kalian membutuhkan seseorang, datanglah pada mama. Mama akan berusaha menjadi pendengar yang baik untuk kalian berdua," tutur mama Nuri melihat kedua menantunya bergantian.


Cassandra tahu jika dia dan Satrio harus mulai membicarakan tentang hubungan mereka ke depan dengan serius. Terlebih dengan harapan mama Nuri yang ingin mendapatkan cucu dari hasil perkawinan mereka.


"Hem.. tapi menurut, Sofi, Satrio seperti sudah mulai ada rasa sama Cassie. Terlihat banget, Mah dari sorot mata dan gelagat dia tadi. Benih-benih cemburu itu mulai bersemi di hati anak Mama yang dingin itu,"" kata Sofi menggoda adik iparnya.


"Benarkah! Siapa? Cassie atau Satrio?" tanya mama Nuri pada menantu pertamanya, Sofi.


"Tentu saja, Satrio. Tadi, aku lihat di kolam renang. Kayaknya Satrio gak suka kalau Bams melihat tubuhmu," tutur Sofi yang disambut baik oleh mama Nuri berbeda dengan Cassandra yang terlihat tersipu malu.


"Wah, kemajuan yang besar kalau begitu. Jika perasaan cemburu sudah ada, artinya dia sudah mulai cinta sama kamu, Sayang," balas mama Nuri tersenyum.

__ADS_1


Cassandra menggigit bibirnya karena tak tahu harus menjawab apa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2