
Setelah menjalani liburan yang begitu indah bersama sang kekasih dan juga sahabat-sahabatku, aku bisa merasakan bahwa hidupku sangatlah indah. Aku sangat senang dan bergembira dengan hari libur ini, walaupun ayah belum kembali pulang akan tetapi yusuf boleh menggantikan kebahagiaanku yang tertunda itu. Dan saya juga berjanji pada yusuf jika ayah sudah balik dan kami berencana pergi liburan aku akan mengajak yusuf bersamaku. Detik demi detik terus berjalan dan terus berganti. Sebenarnya kami ingin mengambil penginapan malam ini di sini akan tetapi karena salma terkena sakit jadi kami memutuskan pulang malam ini juga. Nita dan Mira pun memutuskan untuk mengantarkan Salma pulang karena rumah mereka agak dekatan. Sedangkan rumahku sangat jauh dari rumah mereka. Yusuf pun membawa mobil sendiri begitupun denganku jadi kami tidak pulang bersama. Tetapi mobil kamilah yang pulang bersama. Hehehehehehehe….
Di pertikungan jalan akhirnya aku dan yusuf berpisah. Aku segera melajukan mobilku agar cepat sampai. Dan aku sangat berharap ayahku sudah sampai di rumah. Tiba-tiba aku sangat terkejut, aku hampir saja menabrak seekor kucing di jalan. Entah siapa yang meninggalkan kucing di tengah jalan seperti itu. Setelah menunggu kucing itu menyingkir akhirnya aku melanjutkan perjalananku.
Setelah sampai di rumah aku mendengar suara ribut di dalam rumah. Apakah ada pesta? Atau ayah sudah kembali? Tanyaku dalam hati dengan sangat gembira aku pun langsung pergi memarkirkan mobilku. Aku melihat
ada sepotong bambu yang berdiri tegak dan juga di atasnya tergantung kain putih yang kusut. Apakah ini? Bukankah ini tanda ada orang yang meninggal bukan? Lalu siapa yag meninggal?.. oh aku baru ingat ternyata hari ini adalah hari ulan tahun adikku. Mereka ini. Apakah tidak ada ide lain selain seperti ini untuk membuat surprise buat anak sendiri. Aku ingin cepat-cepat bergabung juga di dalam dan merayakan kebahagiaan ini.
Aku pun membuka pintu rumah dan saat itu aku melihat keluargaku yang tengah berkumpul di ruang keluarga ada Opa dan Paman-pamanku yang sedang menangis. Mereka melihatku sejenak dan mereka terdiam menatapku. Aku pun tersenyum saja, lalu aku berbisik aku sudah tahu. Aku pun segera membuat diriku menangis. Agar nanti jafa bisa semakin takut saat melihatku menangis. Aku mencoba untuk mengingat hari-hari yang menyakitkan agar
__ADS_1
aku menangis. Tetapi tak ada satupun hal yang menyakitkan yang aku ingat. Sungguh aku benar-benar susah menangis. Agar rencana mereka tidak berantakan karenaku, aku pun coba membayangkan bahwa ayahku benar-benar meninggal dan saat itu aku benar-benar sukses untuk menangis.
Sejenak opa melihatku dengan rasa heran saat aku mulai menangis. Mungkin dia mengakui kehebatanku yang bisa membaca apa yang sedang mereka lakukan tanpa memberitahuku. Aku pun terus melanjutkan tangisku sambil menunggu Jafa. Tiba-tiba orang yang ditunggu-tunggu akhirya datang juga. Dan dia benar-benar jalan menujuku dan memelukku. Aku bisa merasakan kesakitan yang dirasakan adikku. Dia yang terus saja menangis di
dalam pelukanku seolah-olah benar-benar tertipu dengan permainan keluarga ini.
“Kakak jangan nangis, ayah sebentar lagi pulang” kata adikku yang terus saja menangis. Aku sejenak tidak mengerti apa yang ia maksud. Apakah ayahku belum pulang lalu bagaimana rencana ini dilakukan?. Aku terus menatapa setiap sudut ruangan, semua keluargaku berkumpul. Ibuku dalam pelukan tanteku dan ibuku terlihat begitu lemas. Ada apa ini? Mengapa mereka begitu mendalami peran. Mengapa mereka terlihat sangat serius dari sebelumnya.
terbuka selebar-lebarnya. Beberapa orang masuk dengan mengangkat seorang lelaki yang terlihat pucat di atas keranda itu. Ada apa ini.. mengapa dramanya begitu sangat serius dan begitu jelas. Dimana perayaannya? Mengapa orang begitu lama menangis?. Ayahku dibaringkan di tempat tidur yang sudah disediakan di ruangan sebesar ini. Ibuku mendekatinya dan terus menerus berteriak. Tanteku terus saja menenangkannya. Sedangkan aku terus dalam kebingunganku.
__ADS_1
“ada apa ini?” tanyaku sambil menahan keringat dingin yang membasahi tubuhku lantaran kekawatiran dan ketakutanku. Semua orang memandangku dengan wajah yang heran.
“ ada apa ini?” tanyaku sekali lagi dengan suara yang lebih keras karena tidak ada yang menjawabku.
Aku segera pergi mendekatiku ayahku dan menggoyangkannya.
“ayah bangun! Apa-apaan ini? Permainan seperti apa ini? Ayah bangun! Jafa sudah menangis. Lihatlah! “
Aku langsung menyeret jafa ke dekat ayah
__ADS_1
“ayah lihatlah jafa sudah menangis, dia sudah tertipu ayah. Bangun sekarang ayah.. ucapkan ulantahun buat jafa” aku terus memaksa ayah untuk bangun tetapi opa segera memelukku dan terus menahan tanganku agar tidak menggerakkan badan ayahku berulang kali.