
Akhirnya pengumuman kelulusan pun tiba. Dan ini adalah hal yang mendebarkan bagi seluruh siswa. Sebenarnya menurut Aku sih tidak mendebarkan karena, karena pastinya seluruh sekolah memaksimalkan agar semua siswanya lulus. Yang mendebarkan itu nilai akhir ujiannya karena itu yang akan menjadi pertimbangan orangtuaku. Semua siswa pun berkumpul di lapangan yang panas ini, dan berita kelulusan disampaikan bahwa semua lulus 100%. Semua orang pun bergembira. Membosankan untukku, ini bukan mendebarkan karena semuanya sudah pasti lulus dan mereka merasa senang untuk hal yang seperti ini. Tetapi saya merasa sedih karena akan meninggalkan sekolah yang dulunya aku menghabiskan waktu di dalamnya bersama guru-guru yang baik. Tetapi memang inilah yang harus dilewati di dunia ini, pertemuan pasti ada perpisahan.
“Abirah ayo kita pergi menikmati kelulusan kita” Ajak Rafa yang tiba-tiba mengagetkanku dari lamunan.
“Ayo!”
Rafa membawa sebuah mobil yang mewah untuk ke sekolah,sedangkan aku yah numpang dengan Dia. Mobilnya berlaju dengan normal, Aku hanya menikmati pemandangan jalanan yang penuh dengan pedagang-pedagang kaki lima.
“Aku ingin bilang sesuatu kepada kamu” Rafa memulai pembicaraan
“Bilang saja”
“Sebenarnya sudah lama Aku ingin memberitahu kamu tapi tunggu kita menyelesaikan sekolah dulu.”
“Iya langsung saja” lirikku sebel, Aku sangat tidak suka orang yang berbicara tidak langsung pada intinya.
“ Sebenarnya Aku ingin kamu jadi…”
__ADS_1
“Lihat itu!” Aku tiba-tiba memotong pembicaraan Rafa, karena Aku melihat seorang kakek pedagang cemilan yang kehilangan kedua kakinya. Tapi dia masih saja mau berjualan dengan keliling menggunakan alat bantu yang ku tak tahu alat apa itu, semacam terbuat dari kayu dan mempunyai roda. Saya menyukai orang yang masih mau bekerja walaupun mereka mempunyai kekurangan dibanding orang yang hanya tahu menadakan tangannya menunggu belas kasihan orang lain.
“Rafa ayo turun, kita beli cemilan dia”
Rafa pun memberhentikan mobilnya. Kami pun menghampirinya.
“ Jual apa kek?” Tanyaku seraya menghampirinya
“ Jual cemilan dari kacang nak, 1 bungkus 2000 saja” katanya sambil tersenyum melihatku
“Waaah tinggal 40 bungkus Nak, jadi semuanya 80 ribu, tapi kakek kasih diskon boleh bayar 70 ribu saja. Hari ini
kakek boleh pulang istirahat dengan cepat,” Tawanya sungguh menyejukkan mengingatkanku pada Kakek di rumah.
Aku pun mengambil kacang yang sudah disatukannya. Dan aku memberinya uang 100 ribu. Diapun hendak memberikanku kembalian, tetapi aku menolaknya dengan ikhlas.
“ Terimakasih Nak” Sahutnya sampai berulang-ulang sampai Ia pun pergi.
__ADS_1
Aku pun berbalik, ku lihat Rafa yang menatapku dengan tatapan yang lembut. Sungguh tatapan ini sangat mengerikan bagiku, hatiku boleh cepat hancur jika ditatap seperti itu.
“Ehemm.. Jadi lanjut jalan gak?” Tanyaku memecah keheningan yang mencekam.
Kami pun melanjutkan perjalanan.
“Bukannya kamu tidak suka kacang” Tanya Rafa
“ Kan Aku beli buat kamu” Senyumku
“ Dasar… Kamu sudah berbohong pada Kakek itu”
“ Tapi Aku kan berbohong demi kebaikan, Oh yah, tadi kamu mau ngomong apa?”
“ Nanti saja” jawab Rafa. Dia tadi mau ngomong apa yah? Mungkin tidak penting.
Kami pun menghabiskan waktu bersama seharian, pergi shooping, pergi ke pantai, pergi ke taman, pergi ke bioskop dan masih banyak lagi tempat yang kami kunjungi hari ini. Aku sangat bahagia memiliki sahabat sebaik dia dan sepeduli dia. Aku tidak ingin kehilangan semua kebahagiaan ini walaupun Aku tahu ini adalah sifat yang egois yang hanya ingin selalu bahagia. Tapi bukankah semua orang ingin bahagia.
__ADS_1