
“ Tidak Ayah, Abirah yang salah. Hampir
setiap hari dia melemparku dengan apapun yang dipegangnnya padahal aku tidak
mengganggunya hanya memberikan dia saran. Hukum dia saja Ayah dia memang kuat
marah” Jelas Jaka kepada Ayah. Aku langsung melotot, kaget, Jaka ini sudah
keterlaluan.
“ Ayah, sungguh jaka berbohong. Iyakan Oma?” kulirik Omaku yang sedang duduk melihatku
sambil tersenyum, tidak memberi respon apapun.
“ Baiklah kalau tidak ada yang mau mengaku, Ayah yang putuskan kalau Jaka yang salah jadi
jaka Ayah hukum tidak boleh bermain basket selama sebulan” Tegas Ayah.
“hahahahahahhaha.. Ops Maaf “ Tawa lepasku membuat semua orang melihatku. Tetapi aku senang
akhirnya Ayah membelaku, Aku lebih senang melihat ekspresi Jaka yang harus
meninggalkan hobynya selama sebulan bagaikan ditinggal mati oleh pacar. Wkwkwkw..
“Dan kamu Abirah”
“iya Ayah”
“ Kamu juga saya hukum untuk fokus belajar sampai waktu ujian selesai, jadi ayah akan
mengunci perpustakaan buku bacamu. Tidak boleh membaca buku lain selama ujian
kamu belum selesai”
“Tapi Ayah..”
“Tidak ada tapi-tapian!” Tegas Ayah
Ini semua pasti Oma yang melaporkannya. Ahhh sungguh sial. Saya sangat suka membaca tapi
kalau membaca buku pelajaran di sekolah itu membosankan. Tapi apa boleh buat
nasi sudah menjadi bubur.
Selepas makan saya langsung pergi kekamar untuk membaca buku yang membosankan itu. Jam demi
jam berlalu, Matahari telah berganti dengan bulan yang indah. Kutatap bulan itu
dibalik jendela kamar, aku sangat bahagia diberi kehidupan dan keluarga yang
harmonis. Ayahku adalah seorang pembisnis yang selalu keluar Negara tetapi Ayah
selalu menepati janjinya dan pulang tepat waktu sesuai yang dijanjikan. Saya sangat
senang memiliki Ayah yang tegas dan baik.
“ Abirah, Rafa ada dibawah” Teriak Ibu di tangga. Saya langsung segera lari menuju ke
lantai dasar,. Di ruang keluarga Aku melihat Rafa yang sedang bermain Komputer bersama
Jafa. Oh yah, Rafa adalah sahabatku sejak kecil. Dia sekolah bersamaku sampai
__ADS_1
detik ini, saya sangat menyayanginya sebagai sahabat begitupun dengannya. Keluarganya
juga adalah pembisnis dan merupakan rekan bisnis Ayahku. Itulah sebabnya kami
sangat dekat.
“Heii, Aku bosan nhi. Kamu ada sesuatu gak yang mengasyikkan?” tanyaku pada Rafa. Aku langsung
duduk di dekatnya yang mengajari Jafa bermain game di Komputer.
“Yang asyik yah main game atau pergi kencan sana”
“Kencan dengan siapa?” Lirikku kesal
“ Dengan guru ganteng kamu di kelas, kamukan tertarik dengan kegantengannya ”
“ Tidak boleh!! Pak gurukan sudah ada istri. Rafa nyebelin” kutinggalkan dia, biarkan dia
bermain dengan adikku daripada jawaban dia selalu menggangguku. Rafa dan kak
jaka sama saja.
Hari-hari terus berlalu, dan saat ujian tiba Aku menjalaninya dengan mudah. Bagiku semua
pertanyaan yang ada adalah sesuatu yang pernah kubaca di buku lain bukan buku
sekolah. Membingungkan, pertanyaan-pertanyaan ujian kebanyakan tidak pernah
diajarkan. Akhirnya saat pengawas keluar dari ruangan semua temanku kulihat
saling meminta jawaban satu sama lain. Dan terlebih lagi kebanyakan berkumpul
di sekitar Rafa untuk meminta jawaban. Rafa adalah sahabatku yang sangat
untuk ikut kompetisi maupun olimpiade. Sedangkan Aku tidak kalah juga dong,
jika tak ada Rafa mungkin Aku yang akan juara satu umum tetapi selama ini Aku
masih tidak bisa mengalahkannya.
Tiba-tiba Rafa menoleh ke arahku yang sedang menatapnya dari belakang, Dia tersenyum
padaku. Ohhhh… manisnya dia…lesung pipinya terlihat jelas di wajahnya. Tetapi
Aku tidak boleh punya hati kepada sahabatku sendiri, itu rasanya memalukan apalagi
dia diperebutkan banyak cewek. Hari demi hari berlalu, dan akhirnya ujianpun
selesai. Seluruh sekolah pun mulai libur dan menunggu hasil pengumuman
kelulusan.
“Akhirnya selesai juga!!” kubaringkan badanku di padang rumput yang luas ini sambil
menikmati angin sungai yang menerpa.
“Kamu tidak lapar yah?” Tanya Rafa yang ikut berbaring di sampingku.
“Tidak mood, ujian sangat susah buatku tidak mood makan” balasku sambil memejamkan
mata.
__ADS_1
Kicauan burung di sore hari lebih indah, mungkin sang induk burung baru kembali untuk
memberi makan anaknya. Di tempat inilah Aku dan Rafa selalu bermain,belajar,
dan menghabiskan waktu bersama. Aku selalu ingin seperti ini bersamanya
selamanya dalam ikatan persahabatan yang utuh.
“Nanti kamu ikut Aku yah ambil jurusan Bahasa di kampus,nanti kita boleh sekelas lagi”
sahutku memecah kesunyian
“ Aku tidak bisa, Aku harus ambil Tekhnik Informasi, Ayah dan Ibuku ingin saya masuk
di bidang itu, kamu saja yang ikut denganku masuk ke jurusan IT. Jangan ambil
Bahasa, itu terdengar membosankan”
“ Aku ingin menjadi seorang penulis dan juga ingin menghasilkan banyak karya, itu sebabnya
aku mengambil jurusan Bahasa”
“ Zaman sekarang mana ada yang mau membaca buku, kecuali kamu saja yang memang kutu
buku. Sadar… sekarang zaman modern semua serba digital. Semua orang akan
membaca lewat handphone atau pun computer. Tidak ada lagi yang minat membaca di
buku.”
“justru itu, Aku ingin meningkatkan kembali minat baca dengan menghasilkan karya yang
spektakuler. Kan Aku bisa mengirim karya lewat online dan bisa dibaca secara
online”
“ Kamu pikir orangtua kamu setuju, Aku yakin tidak”
“ Aku akan meyakinkan mereka.. Yuk bertaruh jika orangtuaku setuju kamu harus punya waktu
untukku selama sebulan dan mengikuti perintahku”
“Waaahh…Ngeri juga…kalau tidak setuju, Bagaimana?”
“ Terserah kamu mau apa”
“ Oke kalau orangtua kamu tidak setuju kamu harus cium Aku jika bertemu selama satu
bulan”
“ ihhhhhh apaan sih!” sinisku dengan wajahku yang terasa terbakar
“ Kata kamu terserah aku mau apa. Aku mau itulah”
“ Kan boleh minta yang lain”
“ Aku hanya mau itu saja, sebagai tanda persahabatan kamu harus mau, hanya ciuman
persahabatan kok” senyumnya
“Baiklah” Aku pun tidak bisa membayangkan kalau aku kalah taruhan. Sangat berharap
__ADS_1
diizinkan. Dan pasti diizinkan.