
Rafa pun mengantarkanku ke rumah. Dia tidak mampir di rumah karena dia ada kepentingan mendadak, Ayahnya baru saja menelfonnya untuk pulang. Aku pun langsung masuk ke dalam rumah. Orang yang selalu pertama ku temui di rumah adalah Ibuku. Aku pun memeluknya karena Aku rindu. Aku tidak bisa jauh dari Ibuku jangankan 1 bulan, 1 hari pun tak melihatnya Aku sudah rindu padanya mungkin karena waktu kecil aku selalu dimanjakan olehnya.
“Bagaimana? Anak Ayah lulus kan?” Tanya Ayahku yang tiba-tiba turun dari tangga.
“Abira lulus ayah” senyumku pada Ayah, Aku menghampiri Ayah dan memeluknya.
“ Anak Ayah hebat!” Ayah mengusap-usap rambutku.
“ Hebatlah! orang semuanya lulus 100%” sindir Jaka yang dari tadi duduk di sofa bersama ibu dan santai membaca Koran.
Saya pun menatapnya dengan tatapan sinis, Dia tidak pernah bisa melihatku senang.
“Kak, tadi Adik juara 1 loh” sahut Jafa yang meredahkan amarahku pada Jaka.
“Sungguh? Waah adikku memang sangat hebat” sahutku sambil menghampirinya dan memeluknya.
Semua keluargaku berkumpul di sini, sebabiknya Aku langsung membicarakan pada mereka keputusanku untuk kuliah dan mengambil jurusan Bahasa. Semoga saja diizinkan. Tetapi sebelum aku memulai pembicaraan, Ayah sudah memulainya terlebih dahulu
__ADS_1
“ Abirah nanti kamu lanjut di Singapore jurusan Teknology “
Aku langsung shock bukan hanya meninggalkan hobyku dalam bidang Bahasa, Aku juga harus meninggalkan rumah. Bagaimana ini?..
“ Ayah Abirah mohon, please Ayah. Ayah tahukan Abirah tidak bisa jauh dari Ibu. Dan lagi Abirah belum terbiasa sendiri, Abirah tidak ingin meninggalkan Ibu,Oma,Opa.. Ayah” mohonku sambil menangis. Aku tidak bisa memikirkan bagaimana rasanya hidup jauh dari semua orang yang berharga.
“ Sayang,, Ayahmu lakukan untuk kebaikanmu” Sahut Ibuku yang memelukku untuk menenangkanku.
“ Abirah merasa baik kok bisa belajar di sini, mengapa Abirah harus jauh-jauh pergi hanya untuk kebaikkanku? Malah ini adalah kesialanku”
“ Apa kamu bilang?” suara Ayah terdengar di seluruh ruangan, Ayah mulai marah lagi.
“ Ayah sudah batalkan kepergianmu di Singapore, Tapi kamu harus mengambil jurusan IT di sini” kata Ibu
Aku sangat senang, Aku tahu Ayah pasti masih mencintaiku. Walaupun tidak mengambil jurusan Bahasa yang penting Aku tidak jauh dari keluarga.
“Ibu, dimana Ayah? Aku ingin berterimakasih padanya”
__ADS_1
“Nanti saja, Ayahmu lagi mengontrol emosinya”
“Apakah Ibu yang membujuk Ayah?”
Kulihat Ibu hanya mengangguk dan tersenyum padaku. Aku pun langsung memeluknya
“Aku rindu Ibu"
Keesokan harinya sesuai janji Aku dan Rafa bertemu di tempat biasa. Rafa berdiri di tepi sungai dan Dia terlihat tidak seperti biasanya. Dia terlihat murung. Saya menatapnya Dia kebanyakan mendesah. Aku ingin membuatnya senang dengan mengatakan bahwa Dia menang taruhan dan Aku akan sekelas dengannya karena Aku mengambil jurusan IT sama dengannya, Aku yakin Dia pasti akan senang.
“Rafa kamu menang taruhan. Aku tidak jadi ambil jurusan Bahasa dan yang paling menyenangkan lagi kita akan satu kelas karena Aku juga akan mengambil jurusan IT” Sahutku sambil tersenyum padanya, Dia pun tersenyum tetapi hanya sebentar dan dia mengusap kepalaku dan berkata
“Belajarlah yang rajin dan jaga diri baik-baik”
“Apa maksud kamu?”
“ Aku harus pergi ke Singapore untuk lanjut belajar, Ayahku menyuruhku dan memang itu impianku tapi Aku memikirkanmu” Sahutnya. Aku tidak tahu apa yang Aku rasakan saat ini antara sedih dan bahagia karena aku menjadi salah satu alasan untuk dia.
__ADS_1
“ Tidak apa-apa Aku juga bisa jaga diri kok, lagi pula kamu pasti ada pulang berlibur kan dan kita bisa bertemu dan menghabiskan waktu saat itu.” Sahutku untuk menenangkannya. Dia pun berbaring di pahaku saat itu juga Aku merasakan seluruh aliran darahku naik hingga di kepala. Aku harus tenang. Tenang…. Sebenarnya jika aku menerima tawaran Ayah mungkin Aku bisa bersamanya kuliah di Singapore tetapi bersama keluargaku lebih utama. Kami pun menikmati suasana pagi yang cerah dan udara yang begitu menyejukkan hati.