Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 6


__ADS_3

Mawar menghela nafasnya lega “Siapa yang nyariin dia, nggak kok, Cuma ini pertama kalinya aku nginap di rumahmu jadi gitu aja sih” jawab Mawar.


Mereka akhirnya tertawa dan bersiap mau magriban, tapi tiba – tiba terdengar suara motor, Sekar keluar dan membuka pintu rumah.


“Ehh Kak Agung dari mana saja, nggak nyasar kan?” tanya Sekar


“Nggak kok Sekar, tadi seru aja sih banyak kenalan kakak warga kampung sini semuanya asik dan ramah, jadinya kakak telat pulang, ngobrol trus di bikini kopi pahit dulu” jawab Agung


“Ohh gitu, yaa udah deh, Kak Agung ayo shalat magrib jamaah di rumah, Bapak sama Ibu ke Kota untuk urusan bisnis.” balas Sekar


“Ya udah, Kakak shalat di rumah, dari pada kamu sendiri. Sana cepet wudhu kakak juga mau wudhu” jawab Agung berlalu ke ruangan tempat wudhu.


"Hmmm, dia belum tau kalau Mawar berada dalam kamar, hahaha" batin Sekar.


...****************...


Mawar mendengar perbincangan Sekar dengan kakak sepupunya itu, jantung Mawar kembali menjadi tidak karuan, entah mengapa dia juga tidak tahu alasannya, yang Mawar tahu, senyumnya selalu akan mekar dan salah tingkah saat mendengar nama Agung.


“Sekarrr, ayo shalat,” teriak Agung sambil memperbaiki sajadahnya, dan berdiri memperbaiki posisi.


tiba –tiba pintu kamar terbuka, Sekar dan Mawar keluar bersamaan, sedang Agung belum sadar makmumnya ada dua orang.


“Mawar, sejadahnya di panjangin aja supaya saf kita rapat” kata Sekar


Deg..


Deg..


Deg..

__ADS_1


Jantung Agung tak karuan mendengar nama Mawar. Agung membalikkan badannya, beberapa detik terdiam dengan pandangan yang tidak lepas pada Mawar serta senyumnya yang terus mengambang sempurna, rasanya Agung ingin loncat didepan Mawar saking senangnya.


“Ya Allah aku nggak mimpi kan?, bidadariku ada didekatku, jadi makmumku, ya Allah tulis namanya di lauhul mahfuzmu untukku”. Batin Agung


“Udah dehh, ayo shalat, udah telat nih, ntar abis sholat barulah senyum - senyum dan tatapin anak orang sampai puas deh” celoteh Sekar menyadarkan mereka.


Akhirnya shalat terlaksana dengan hikmat, lantunan ayat suci Agung lumayan, membuat Mawar semakin kagum dengannya.


...****************...


POV (MAWAR)


“Ya Allah, dia sangat mempesona dengan peci dan sarung yang dia kenakan, apakah aku jatuh cinta dengannya? jika benar dia untukku maka tunjukan jalannya”. batin Mawar


...****************...


Di sela - sela aktifitas Agung yang nonton di ruang tengah dekat dengan ruangan dapur, dia selalu nyuri - nyuri pandang melirik Mawar tengah berkutat dengan peralatan dapur, terlihat sangat profesional, berbeda dengan Sekar adik sepupunya itu yang lebih banyak duduk dan berceloteh.


Membuat Agung semakin kagum dengan Mawar.


Setelah semuanya siap, Sekar memaggil Agung untuk makan malam, Agung tampak takjub melihat menu masakan yang terletak di meja makan, ada sup, ayam tumis kecap, sambel ulek, peyek, terlihat sangat menggiurkan.


“Mawar sangat pandai memasak padahal dia masih SMA, anak – anak gadis di kota kalah telak sama dia, jangankan anak sekolah spertinya dia juga mengalahkan ibu - ibu rumah tangga pada umumnya” batin Agung.


“Kak Agung mau makan atau menghayal sih? Ayo makan..” ucap Sekar


“Ehh iyaa, maaf, abisnya menu masakan Mawar bikin aku takjub, anak seusia kalian bisa masak kaya gini, biasanya anak skolah paling tahu telur ceplok doang” kata Agung sambil mengambil makanan yang tersaji


“Enak aja, kalau ada Mawar hummm udah deh, semuanya beres kalau soal masak dia ahlinya, makanya aku selalu minta Mawar bikin dua porsi untuk makan siang kami di sekolah” ucap Sekar yang juga sudah mengambil beberpa hidangan.

__ADS_1


“Wahh, enak dong jadi teman Mawar bisa sejahtera, apa lagi kalau jadi suaminya mungkin sangat amat sejahtera dijamin dengan masakan enak kaya gini tiap hari” ucap Agung dengan senyum lebar dan sedikit memberi gombalan tapi sepertinya serius.


Mawar dari tadi hanya diam, dan mencerna kata “Suami” membuat wajahnya memerah, selain makan, Mawar tidak mengeluarkn seidikit kata pun dari mulutnya.


Ritual makan dan cuci piring telah selesai, mereka duduk dan nonton sejenak sebelum rencana kerja tugas sekolahnya dikerjakan, karena tidak akan lama lagi kelulusan, Mawar dan Sekar punya banyak tugas sekolah.


Saat nonton Agung membuka pembicaraan “Mawar dan Sekar kalau tamat mau kuliah dimana, trus ambil jurusan apa?” kata Agung


“Kalau Sekar mau jadi Chef, buka restoran di berbagai wilayah, bercabang dan beranak pinak deh” Kata Sekar sambal tertawa


“Kalau aku mau kuliah ngambil jurusan bisnis kak” sahut Mawar


"Ohh gitu, bagus dong, kakak juga nantinya ngarah kesana, ke dunia Bisnis karena usaha ayah kakak juga bisnis, terus maunya di kampus mana, dikampus kakak aja di kota J” kata Agung


“aku belum tahu Kak kampus mana, sementara nyari beasiswa, semoga dapet karena aku nggak mau buat Bapak sama Ibu susah untuk nguliahin aku, kalau nggak ada beasiswa yaa nggak apa – apa juga nganggur dulu sementara sambil nungguin beasiswa” balas Mawar


Agung mendengar dengan serius karena itu pertama kalinya ia mendengar Mawar mengucapkan lebih dari satu kalimat, dan itu membuatnya senang, malam itu di lewatkan dengan diskusi, senda gurau, kerja tugas sama – sama.


Mawar dan Agung tanpa sadar sudah membuka jalan untuk membuat sebuah hubungan.


...****************...


Hari - hari terlewati dengan indah, dua bulan terlewati kedekatan Mawar dan Agung. Mereka habiskan dengan ngobrol, becanda, jalan - jalan dan pastinya ada Sekar sahabat Mawar yang selalu ikut bersama mereka. Laporan Agung pun sudah selesai sejak lama tapi karena Mawar dia mengulur waktunya untuk kembali, Sekar dan mawar pun tak terasa telah menyelesaikan ujian akhir dan mereka hanya menunggu hari wisuda penamatan.


Beda dari biasanya, Mawar lebih terbuka dengan Agung, banyak cerita, tertawa dan seperti halnya remaja pada umumnya yang sedang dii mabuk cinta yang lagi bersemi, saat dirumah pun, yang biasanya Mawar mengabaikan Handphonenya, saat ini Mawar lebih intens menenteng handphone tersebut.


Orang tua Mawar sadar akan perubahan itu, mereka sudah mencurigai anak nya sedang di landa kasmaran, tapi mereka percaya Mawar bisa dipercaya. Karena mereka mendidik Mawar dengan baik selama ini. Mereka tidak pernah mencari tahu siapa yang membuat anak kesayangannya itu berbunga – bunga, orang tua mawar menganggap itu normal bagi remaja karena mereka telah melalui nya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2