Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 9


__ADS_3

“Saya juga nggak tau Pak, saya tidak melihat dengan jelas wajah mereka, tapi wanitanya pake hijab Pak, saya takut salah tebak, nanti Pak Adi saja yang mastiin benarnya informasi saya Pak” balas Rosmini


“Hahh?! di Desa ini yang memakai hijab hanya Mawar anaknya Pak Prass, nggak mungkin. Dia anak yang baik baik”. Timpal Pak Adi


“Ini mesti kita tindaki, benner - benner mencemarkan nama Kampung dan mempermalukan kita, dia bukan contoh yang baik.” Sahut salah satu warga


“Jangan nuduh dulu bapak – bapak, mari kita cek Bersama kebenarannya” ucap Pak Adi berusaha menenangkan.


“Ayo kita ke sungai” kata Pak Adi selaku Kepala Desa.


Salah satu warga ada yang sudah berlari ke arah rumah Pak Prass untuk memberikan informasi tadi, dan tak lama kemudian Pak Prass dan ibu Dewi juga berlari menuju sungai.


Sesampai nya mereka di sungai terlihat jelas, mereka menyaksikan Agung mencium Mawar tepat di keningnya, dan jarak mereka sangat dekat, Pak Adi sangat geram dan semua yang menyaksikannya, dari belakang warga yang tengah Pak Pras dan ibu Dewi juga kaget karena mereka melihatnya walaupun nafas mereka masih memburu karena mereka baru tiba di tempat tersebut.


“Habis kau Mawar” senyum kemenangan terpancar di wajah Rosmini.


...****************...


“MAWARRRRRRRRR.....”teriak Bu Dewi


“Apa yang kalian lakukan” salah satu warga


Mereka semua mendekat, dengan wajah yang geram, mereka seakan akan ingin membunuh mereka berdua.


Mawar dan Agung hanya terlihat bingung dan ketakutan melihat beberpa warga, orang tua Mawar dan Kepala Desa mendekati mereka.


“Ada apa Pak ?” kata Agung


Beberapa warga sudah mendekati dan memegang Mawar serta Agung.


“Pak Adi, sudah melihat sendiri tapi apa yang mereka lakukan, ini memalukan desa kita, Allah akan mengutuk desa kita, mereka pezina.” teriak salah satu warga

__ADS_1


“Pak Adi, nikahkan mereka atau berikan hukuman adat pada mereka”


ucap yang lain.


Suasana riuh, karena semua warga ikut mengeluarkan pendapatnya, karena keributan itu memancing warga lainnya ikut berkerumun, jumlah warga semakin bertambah informasi di kampung lebih cepat tersebar dari pada internet.


Termasuk Sekar yang berlarian menemui sahabatnya dan Kakak sepupunya itu, hanya saja Sekar tak bisa melewati kerumunan warga. Akhirnya Sekar memutuskan pulang melapor ke Bapaknya tentang kejadian tersebut.


Bapak dan ibu Mawar tidak bisa mengatakan apa – apa lagi, keduanya membisu selama Mawar di bawa ke Balai Desa untuk di introgasi, sedangkan Mawar saat itu meronta – ronta “Saya tidak berzina, Bapak Ibu tolong percaya Mawar” sambil menangis.


Sedangkan Agung mendekati Pak Adi dan menjelaskan


“Pak saya tidak macam - macam tolong percayalah dan tolong kendalikan masyarakat untuk tidak main hakim sendiri”. kata Agung


“Nggak nyangka yaa, anaknya Pak Prass udah hijab berzina” ucpan warga


“Iyaa nih, malu - maluin, merendahkan martabat perempuan” nyinyiran warga


“Iya, kan si lakinya juga kaya”


“Dia wajahnya aja yang polos padahal berbahaya, pantas aja aku sering liat dia merayu si ponakan Pak Wiijaya di jalanan”


“Iya sama, aku pernah liat mereka juga berduaan, jangan – jangan mereka sudah sering melakukannya” iihhhh.


Semuanya mencemooh Mawar, Agung juga di cemooh tapi hanya beberapa orang saja yang mencemoohnya karena mereka tahu Agung bukan orang sembarangan yang bisa di cemooh.


Agung adalah ponakan pemilik perkebunan paling luas di desa dan orang terpandang. Hanya karena Mawar orang biasa, mereka seenaknya menghina dan merendahkan Mawar.


Akhirnya Pak Adi membuka suara dengan lantang.


“Bapak – bapak dan Ibu sekalian, kejadian hari ini saya akan mengurusnya dengan baik, saya akan musyawarah dengan kelurga mereka berdua, keputusan akhir kita dengarkan besok, kita akan berkumpul di balai ini lagi untuk mendengar keputusan akhirnya, jadi silahkan bubar.”

__ADS_1


Semuanya sudah bubar sedangkan di Balai Desa hanya ada Mawar, Agung, Pak Pras, ibu Dewi, Kepala Dusun dan dua orang lainnya selaku RT dan RW nya, Pak Adi yang selaku Kepala Desa, Imam Desa, dan kedua orang tua Sekar dan Sekar sendiri yang baru tiba.


“Selamat datang Pak Wijaya dan Bu Intan, mari silahkan duduk”.


mereka pun duduk.


Pak Adi sudah menjelaskan semuanya dan sesekali Sekar membantah, “Bapak, Sekar yang ajak Mawar ke sana, Mawar tidak salah, Sekar yang paksa, Kak Agung gak salah dia tulus suka sama Mawar, tolong mereka” ucap Sekar sambil nangis karena tidak tega melihat sahabatnya dihakimi oleh warga setempat, sedang Agung pun ikut diam seribu bahasa.


“DIAM KAMU, Bapak sudah sangat memanjakan mu, liat apa yang terjadi saat ini.” Kata Pak Wiajaya membentak Sekar.


Tak lama kemudian Pak Wijaya menelfon orang tua Agung, dan menjelaskan semuanya tentang masalah yang terjadi di Desa yang melibatkan Agung.


“Baiklah Pak Adi, kita menunggu Mas saya, orang tua Nak Agung tiba, mereka sudah dalam perjalan kesini, kita bisa menunggunya dua jam lebih, karena mereka berangkat dari kota A”


“Baiklah Pak”. jawab Pak Adi


...****************...


Bu Dewi menarik anaknya menjauh dari Balai Desa dan Pak Pras mengikutinya, lengan Mawar di hempasnya, dengan menahan amarahnya Bu Dewi menatap anaknya sangat dalam sedangkan air matanya sudah tidak terbendung.


“Mawarrrr!!! Apa Ibu punya salah? apakah ibu pernah tidak mengajarimu sopan santun? apakah selama ini kasih sayang kami masih kurang kepadamu? Mawar tatap ibu dan katakan yang sebenarnya Nak! Apakah hatimu tidak perih melihat air mata kedua orang tuamu? lihat Bapakmu Mawar,, liatttt!!! kau sudah mempermalukannya, apa salah kami nak? apakah kau malu terlahir miskin?!” ucapan Bu Dewi dengan suara yang berat sambil menangis karena amarah yang tak terbendung.


Sedangkan Pak Pras tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya sesekali menghapus air yang keluar dari ujung pelupuk matanya.


Mawar menagis sejadi - jadinya sampai wajah putihnya berubah menjadi merah, matanya bengkak, mendengar semua perkataan ibunya, itu kali pertama mendengar ibunya marah dengan kepadanya selama 17 tahun ini.


Mawar lansung memeluk kaki ibunya,


“Bu, kenapa ibu mengatakan itu, Mawar sangat bahagia lahir dari kelurga kita, maafkan Mawar Bu, yang tadi ibu liat tidak seperti yang ibu pikirkan, dia mencium kening Mawar karena sedang melamar Mawar Bu, Kak Agung mau menikahi Mawar dan sebelumnya kami tidak pernah berduaan Bu, kami memang saling menyukai tapi kami tidak melakukan sampai yang masyarakat tuduhkan ke Mawar Bu, Buuu maafkan Mawar Bu, Pak, maafkan Mawar, jangan menangis, hidup Mawar selalu untuk kalian, membahagiakan kalian adalah tujuan hidup Mawar” Mawar menjelaskan sambil menangis sesegukan.


Bersambung..

__ADS_1


Stay tune ya kakak readers.


__ADS_2