
Damian memberontak, Ziyel hendak membawanya ke Psikolog karena 3 hari ini dia berusaha untuk memotong nadi di lehernya.
Ziyel bahkan harus memasung kedua kaki Damian dan merantai kedua tangannya. Tiada hari tanpa berteriak, menangis dan meraung di kamarnya. Dia sudah menyayat pergelangan tangannya sebanyak 20 kali.
"AKU GAMAU!! AKU GAK GILA!!" Raung Damian seraya mengigit tangan Ziyel kuat. Membuat Pria paruh baya itu meringis kesakitan dan menarik paksa tangannya.
Damian menggeleng kuat "Hiks..Dami gak gila Pa..huaaaaaaa Dami cuma mau Queen Dami balik..hiks..Queen balik..hiks..Queen tega ninggalin Dami....huhuuuu Queen balik.." Rengek Damian diselingi tangisannya.
Dia menghentakan kedua kakinya ke lantai dan menggerakan tubuhnya. Tingkahnya persis seperti anak kecil yang merajuk karena mainannya hilang. Ziyel tak menggubris dan memilih kembali memasung kaki Damian.
Dan merantai tangannya, Damian merontak dan membuat gemercik rantai terdengar.
"PAPAAAAAA LEPASIN DAMI!! DAMI GAK GILA!! DAMI CUMA MAU QUEEN BALIK!! PAPAAAAAAA!!" Damian berteriak histeris.
Dia menarik rantai dengan sekuat tenaga yang dia punya. Air mata kepedihan kembali mengalir
"Hiks..Papa kok jahat..hiks..Dami kan gak gila..huhuuuu Dami cuma mau Queen balik..itu doang..hiks.." Racau Damian.
Dia bersender di dinding, menangis..sedetik kemudian tertawa sarkas penuh kepedihan.
"Haha..HAHAHAHAHAH QUEEN MAH BERCANDANYA KELAMAAN....Hahaha..iya..benar..ini pasti bercandaan doang..hahahah" Damian tertawa seperti orang gila.
Sepertinya, keputusan Ziyel untuk membawa Damian ke Psikolog benar. Batin dan mental Damian sedikit terguncang.
Dia diam, menangis dalam diam di kamarnya yang gelap. "Queen..apa kesalahan aku sangat besar..sampai kamu ninggalin aku..padahal aku cinta banget sama kamu.." Lirihnya dengan tatapan kosong menyedihkan.
"Queen..aku janji..bakalan lakuin apapun yang kamu mau..asal kamu balik.." Lirihnya lagi, dia memiringkan kepalanya. Kemudian tertawa pelan lagi.
"Hihi, Queen..kamu tuh cantik banget, aku sampai harus bunuh mereka yang berusaha deketin kamu. Bahkan demit bgst yang ada di mimpi aku, dia juga aku bunuh loh" Racau Damian lagi.
Dia menggerakan kedua kakinya seperti halnya anak kecil, bibirnya merengut sebal "Tapi kamu malah pergi, gapapa deh. Nanti juga kamu datang pas pemakaman aku nanti" Racaunya semakin gila.
"Hihi, benar. Nanti kan kalau aku mati kamu pasti datang, kasih bunga lili putih di makam aku, terus kamu pasti nangis disana. Hahahah aku gasabar deh"
Damian terus meracau, tanpa sadar jika ada yang memandangnya penuh sirat kerinduan dan perasaan bersalah yang besar. Dia masuk ke kamar Damian tanpa membuat si empunya sadar.
"Terus, terus kalau aku mati. Kamu pasti nyesel dan mau nyusul aku, terus kita bareng-bareng lagi deh~" Racaunya. Senyum lebar yang manis sampai membuat eye smilenya terbentuk "Hihi..aku gasabar.." Lirihnya.
__ADS_1
Air mata semakin deras, dia menggigit bibirnya kuat "Hiks..aku gasabar..hiks..tapi aku gakuat..aku gakuat lagi kamu tinggalin Queen..hiks..aku gakuat..." Dia kembali menangis terisak.
Kenapa hidupnya terasa tidak adil sekali, kenapa. Kenapa semua harus terjadi disaat Damian sudah merasakan kebahagiaan yang dia dambakan selama ini.
"Queenze...Agata..kamu tau, aku tuh...bisa jadi jahat..tapi juga bisa jadi bodoh..sayangnya selama aku sama kamu, aku jadi bodoh banget..hehehe..aku kayak orang idiot yang ngerengek, nangis, dan manja sama kamu..kamu pasti risihkan"
Ucapan itu bagai sebuah panah beracun bagi yang mendengarnya.
"Kamu muak ya sama aku...iya sih..Ian juga jahat sama kamu, dia ngehina kamu kan..makannya aku mau bunuh diri aja, tapi kalau aku mati...hiks..Leo sinjang sialan itu bakal ngerebut kamu..Huaaaaaa gaboleeeeh"
Orang yang sedari tadi menyaksikan ocehan Damian tertawa pelan, disaat seperti ini Damian masih terlihat menggemaskan dimatanya. Dia sudah gila ya.
Orang itu mendekat dan berdiri di depan Damian. "Kamu ngapai sih ngoceh sendirian" Ujarnya lembut seraya berjongkok dan menatap lembut Damian.
Damian tersentak, dia perlahan mendongak dan menatap tak percaya siapa yang ada di depannya "Kenapa liat aku kayak gitu, kangen ya~" Goda wanita itu lagi.
Damian pasti terbodoh, sedetik kemudian mata dan bibirnya berkedut. Air mata mengalir lebih deras.
"Hiks..Queenze balik..HUAAAAAAA PAPAAAAAA QUEENNYA DAMI BALIK PAAAAAA..HUAAAA QUEEEEEEEEN" Damian menangis lagi, tapi tangisannya itu bahagia.
"Bentar ya" Ucapnya pelan kemudian berjalan menjauh, Damian seakan melihat bayang-bayang Queenze yang akan pergi darinya.
"Huh..ha..QUEEN MAU PERGIIIII!? HUAAAAAAAAAA QUEEN MAU PERGI LAGI!..hiks..QUEEN MAU NINGGALIN DAMI LAGI!! PAPAAAAAAA QUEENNYA MAU PERGI LAGI PAAAAAAAA" Damian menangis histeris dan berusaha mengejar.
Dia tak mau kembali Queenze tinggalkan "Dami tenanglah, aku cuma mau ambil kunci." Ucapan itu tak menangkan Damian.
"ENGGAK! KAMU BOHONG! KAMU MAU NINGGALIN AKU LAGI!! kenapa Queen....hiks..kenapa...apa karena aku gila? Huhuuuuuu tapi uda aku bilang..hiks..aku gak gila"
Damian masih terus meracau, sedangkan Queenze sedang fokus pada gembok di rantai pasung dan tangan Damian.
"Jahat..hiks..Queen jahat..hiks..Dami gamau ***** lagi..hiks..Queen jahat.."
"Ya bagus, kamu gausah ***** sama aku lagi" Queenze menjawab dengan santainya. Setelah melepaskan pasung dan rantai di tangan Damian.
Pria itu langsung menerjang Queenze dengan pelukan erat penuh kerinduan. Dia mendusel di belahan Dada Queenze dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku...kangen sama kamu.." Lirihnya bahagia.
__ADS_1
Queenze mendengus geli "Perasaan aku ninggalin kamu baru 3 hari deh" Celetuk Queenze. Damian merengut sebal "3 hari itu serasa 3 dekade! Lama bangeeeeet" Halah Dami halah.
Yang pentingkan Queenzemu udah balik toh.
"Kamu kemana aja sih?" Gerutu Damian sebal.
"Aku ngurusin si sinjang dulu, dia uda ngerusak rem mobil kamu sampai blong. Dan sekarang lagi di rumah sakit, koma karena kecelakaan sama truk gandeng"
"Mampus, jadi manusia kok meresahkan...mending gebetin kuntilanak aja sana" Oceh Damian lagi.
Queenze tak menyela, dia hanya mengelus kepala Damian dengan lembut. Dan sesekali menciumnya.
"Queen" Panggil Damian seraya mendongak.
"Hm?"
Damian memberikan senyum manisnya "I love you, kita nikah yuk" Ujarnya polos. Queenze mendengus geli dan tak menjawab.
Dia hanya mengelus kepala Damian dan menciuminya. Damian yang tak mendapat jawaban hanya merengut dan kembali mendusel, tapi kembali mendongak.
"Queen" Panggilnya.
"Hm?"
"Susu"
"Nanti ya, nanti malam"
Damian loading sebentar, wajahnya merona hebat setelah sadar arti di kata terakhir Queenze. Senyum malu terbentuk dan dia kembali mendusel.
"I love you" Bisik Damian yang tak Queenze dengar.
Damian senang, karena Queenze kembali lagi. Walau 3 hari sudah Damian ditinggal, tapi Queenze kembali lagi dihidup Damian.
Damian tak menginginkan hal lain, selain hidup damai bersama Queenzenya.
Bersambung.
__ADS_1