
Queenze menghela napas lesu di sebelah ranjang rumah sakit, Damian masih pingsan. Perkataan Dokter tadi membuat Queenze takut.
"Dami...ya ampun.." gumamnya sedih.
Kenapa harus Damian, kenapa bukan Queenze saja "Kenapa kamu gak bilang?" gumam Queenze bergetar. Air mata tergenang di matanya dan hampir menetes jika Queenze berkedip.
Queenze menggenggam erat tangan Damian yang tidak diinfus, dia mengecup berulang tangan kesayangannya itu.
"Eungh..Queen.."
Queenze tersenyum kecil, apapun pasti selalu Queenze yang pertama dicari "Iya sayang?" tanya Queenze lembut seraya mengelus kepala Damian.
Tapi sesuatu membuat Queenze pucat, dia segera menarik tangannya kembali dan berusaha untuk tenang.
"Dami, apa yang sakit?" tanya Queenze lembut, Damian menatapnya lekat. Kemudian matanya berkaca-kaca.
"Hiks..Queen..jangan tinggalin Dami.." lirih Damian lemas, kepalanya pusing sekali.
Queen mengangguk, dia mengecup singkat dahi Damian dan mengelus tangannya "Aku gabakal ninggalin kamu, tapi kematian yang memisahkan kita"
Bagaimana caranya Queenze memberitahu Damian perihal hal ini "Queen..kamu gak bakal ceraikan aku kan?" bisik Damian.
Mata sayunya benar-benar terlihat kesakitan "Enggak, maaf ya tadi aku marah-marah"
"Salah aku..bukan salah kamu.."
"Iya, salah Dami"
Queenze tersenyum hangat, dia sangat mencintai Damian. Dia tak sanggup untuk kehilangan pria kesayangannya ini.
"Kamu makan dulu ya, baru minum obat" Queenze bergerak mengambil nampan berisi makanan yang dibawa suster tadi.
Damian berusaha bangkit untuk duduk, bersender di kepala ranjang sembari memijit dahinya "Queen, kepala aku pusing" lirihnya.
"Dami.."
Damian menatap Queenze dengan tatapan sayunya yang berkaca-kaca, ini benar-benar sakit "Iya?" bisik Damian.
"Kamu tenang aja, kamu gak papa kok" ucap Queenze bergetar.
Damian semakin kalut "Queen, aku kenapa?" tanya Damian berusaha untuk tenang dan berfikir positif.
"Kamu..hiks..kamu gak papa" lirih Queenze.
Damian menangkup wajah Queenze dan memandangnya lembut, senyum tulus terulas di wajah tampannya yang pucat "Aku tau, aku sedang tidak apa-apa Queen. Beritahu saja" bujuk Damian.
__ADS_1
Queenze memeluk Damian dengan erat, air mata mengalir semakin derasnya "Stadium 2..hiks..kanker otak stadium 2.." lirih Queenze.
DEG!
Damian menegang, tangannya terkulai lemas di kedua sisi tubuhnya. Air mata jatuh, dadanya sesak, rasa pusing di kepalanya semakin menjadi sakitnya.
"Queen.." lirihnya bergetar, dia takut.
Takut akan pergi dan malah meninggalkan Queenze sendiri "Kamu tenang, aku bakalan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Ini masih stadium 2. Kamu kemo, dan operasi, kamu pasti sembuh sayang"
"Tapi aku takut..huaaaaaaa aku takut Queen, aku takut...hiks..aku takut.."
Queen juga takut Dami, dia juga takut harus berdiri di sebelah makam bertabur bunga dengan nisan Damian Aelion. Queenze juga takut, takut sendirian tanpa adanya Damian di sebelahnya.
Ketakutan mereka sama, sama-sama takut saling meninggalkan.
..........
1 bulan kemudian.
Biasanya hari-hari Damian akan dipenuhi dengan berkas dan laptop, tapi sebulan belakangan ini semua berubah.
Pagi hari obat, siang obat, Kemothrapi, obat lagi, muntah, pusing, rontokan rambut dan overthingking berlebih.
"Dami, ayo minum obat sayang" Queenze berujar dengan penuh kelembutan, dia membantu Damian untuk duduk di kasurnya.
"Queen...Dami capek.." lirih Damian memohon. Dia menggenggam pergelangan tangan Queenze dan menjauhkan obat itu dari hadapannya.
Queenze terenyuh, hatinya sakit melihat suaminya yang biasanya selalu bersemangat dan manja, kini terlihat lemah dan kesakitan.
Tak ada binar di matanya, hanya ada kekosongan dengan wajah pucatnya.
"Dami, kamu bisa sembuh sayang. Yakin, kamu bisa sehat lagi" bujuk Queenze.
Damian memejamkan matanya saat rasa sakit menghampiri kepalanya.
Tes..tes..
Keduanya terdiam, ini sudah sering terjadi "Mimisan..Queen.." bisik Damian lemah. Queenze tersenyum getir, dia membantu Damian untuk turun dari kasur.
Dan memapahnya menuju kamar mandi "Aku bisa sendiri.." Queenze tak yakin, tapi tatapan teduh yang Damian berikan membuatnya mengalah.
"Hati-hati, awas jatuh" peringat Queenze.
Damian mengangguk, dia masuk ke kamar mandi dan segera menguncinya. Damian berjalan mendekati wastafel dan mengambil tisu di dekatnya.
__ADS_1
Menyeka darah yang mulai berhenti, lalu menghidupkan kran air. Damian memandang kosong pasa cerminan dirinya di kaca.
Tangannya dibawa ke arah rambutnya, menggusaknya pelan kemudian merematnya perlahan.
Dan melihatnya, senyum getir penuh kepahitan terbentuk.
"Jelek..hiks..Dami jelek..hiks..Queen gabakal suka Dami lagi..hiks..Queen gasuka orang botak.."
Damian jadi ingat, kenangannya dulu saat masih menjadi Ceo dan Queenze belum dia nikahi. Saat Queenze memintanya untuk pangkas.
"Pangkas ya Dami, rambut kamu uda panjang"
"Iya"
"Dibotakin aja-"
"GAMAUUU NANTI QUEEN GAMAU SAMA DAMI LAGI!"
Tawa miris terdengar, "Aku benci diriku sendiri" lirih Damian seraya membuang kasar helaian rambutnya yang rontok.
Tubuhnya merosot perlahan "Hiks..aku benci..hiks..aku benci diriku sendiri!!" Damian memukul kepalanya berulang kali.
Dia benci penyakitnya, dia benci dirinya. Kenapa harus sekarang, kenapa mimpinya harus jadi kenyataan!!.
"Dami..jangan benci diri kamu sayang.."
Damian menguatkan tangisannya, dia menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya di sana.
"Aku benci...hiks..aku gak berguna..huaaaaaaaa aku benci!!"
Queenze menitihkan air mata dari balik pintu luar, dia ikut bersender di pintu. Mendengar tangisan perih yang Damian keluarkan "Damian.." lirihnya.
Queenze sudah mencoba semuanya, tapi tak ada yang memberikan hasil yang baik. Malahan semakin hari semakin memburuk, stadium 2 nya sudah naik ke stadium 3.
Damian akan segera di operasi 3 hari lagi, tepat di hari ulang tahun Damian dan hari jadi pernikahan mereka yang ke 21 tahun.
"Damian, 3 hari lagi kamu ulang tahun. 3 hari lagi kamu akan sembuh, 3 hari lagi, semua akan selesai. Percaya sama aku" ujar Queenze lembut.
Damian mengusap air matanya "Queen..jangan tinggalin aku..hiks..jangaaaan.." pintanya.
"Gabakal Dami, aku gabakal ninggalin kamu"
Satu ketakutan terakhir Damian, sejak dia sakit dan tak lagi bekerja. Queenze lah yang menggantikannya, dan Sekretaris baru yang menjadi partner Queenze.
Adalah seorang laki-laki berusia 38 tahun, tampan dan tentunya masih melajang. Dia digosipkan suka sama Queenze yang notabenenya berusia 43 tahun.
__ADS_1
Lebih tua 5 tahun darinya.
Tbc..