Mawkish Damian

Mawkish Damian
24


__ADS_3

Komen kalian di chapter D-End agak gimana gitu yak.


Author Pov.


Taukah kalian rasanya, memiliki Suami yang cengeng dan manja, ditambah dengan anak yang juga seperti itu.


Menurun dari Tribun-Dotcom, jika gen Ayah akan menurun lebih besar pada anak.


Queen awalnya tak yakin, tapi nampaknya itu memang benar.


Pasalnya Putra pertamanya yang baru berusia 9 tahun, sangat amat persis dengan Daddynya. Dia tampan, cerdas, tempramental dan juga...


"Huaaaaaaa Mommyyyyyyyy!! DADDY JAHAT MOOOOOOM"


Queenze menghela napas sabar, begini amat ya rumahnya. Tiap hari macam pasar ikan, berisik dan ramai. Apalagi jika dihari libur seperti ini.


Dia sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya, tapi keributan kembali terulang.


"QUEEEEEEEN ANAK KAMUUU JAHAAAAAAAAAT" Teriak si bapack.


Queenze mematikan kompornya dan berjalan cepat menuju ruang makan, disana terlihat anak dan bapak tengah bergulat di sofa.


Saling jambak sih mereka, mirip Tante Dira tetangga sebelah kalau berantem sama Tante Sheeva yang juga tetangga sebelah.


"Kalian ini ya...berantem karena apasih!?" Oceh Queenze kesal. Jika mereka berdua bukan kesayangan Queenze, dirasa sutil ditangannya sudah melayang.


Keduanya nampak merengut sebal dan langsung memisahkan diri. Sedetik saling tatap, kemudian berlari cepat ke arah Queenze dan memeluknya erat.


"DIA MOMMY AKU!!"


"TAPI DIANYA ISTRI AKU!!"


"DADDY SANA IH! MOMMY PUNYANYA RIEL!!"


"RIEL YANG SANA!!"


Queenze heran saudara-saudara, kenapa dua orang ini suka sekali teriak-teriak tak jelas seperti ini.


Dipastikan jika bukan Qariel Damieenze yang menangis, maka Bapack Damian Aelionlah yang menangis.


Pelukan pada kaki dan tubuh Queenze mengerat "Hiks..dia mommy aku..hiks..DADDY GAUSAH PEGANG-PEGANG MOMMY!!" Riel mengeratkan pelukannya pada kaki Queenze.


Dia sebenarnya kesel sama Daddynya, sedangkan Damian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Queenze.


"Hiks..dia ini Istri Daddy..hiks..kamu gausah nempel-nempel sama dia!!" Balas Damian yang ikut nangis.


Akhirnya keduanya malah berlomba-lomba dalam menghasilkan air mata


"Kalian ini kenapa sih, heran aku tuh. Rasanya pengen cari suami dan anak baru" Mendengar itu, membuat kedua lelaki tadi menegang.


Bahu mereka bergetar kuat "Hiks..HUAAAAAAAA MOMMY/QUEEN JAHAAAAAAAAT" Tangis keduanya dengan histeris.


Queenze rasa, telinganya perlu dibawa ke ThT. Tiap hari dengerin teriakan mulu, kasihan telinga cantiknya. Menarik napas dalam dulu sejenak, kemudian menghela.

__ADS_1


"Uda jangan nangis, sarapan dulu yuk" Ajaknya lembut. Keduanya tak dengar dan masih nangis saja.


"Hiks..DADDY JAHAT MOM! DIA BUAT MOMMY TERIAK MULU TIAP MALAM!!"


Arre? Hah? Heh? Ape?


Damian yang tadi sedang menangis pun berhenti, dia melirik bocah dibawah sana yang masih memeluk Queenze erat. "Apaan kamu..hiks..gajelas" Ketus Damian.


Bukan marah, dia hanya malu jika kegiatan malam mereka sudah diketahui bocah cilik itu "Riel, itu bukan masalah sayang. Baikan sama Daddy yah" Bujuk Queenze lembut.


Riel awalnya tak mau, tapi demi Mommy cantik berhati malaikatnya. Apapun akan Riel lakukan.


"Huh, Dad..Riel minta maaf" Ucap Riel ogah-ogahan. Nampaknya, Ian sedikit menurun ke Riel ya, iya gengsinya itu.


Damian mendengus dan hanya menyerukan kepalanya di leher Queenze "Heum, lain kali jangan buat lagi" Cicitnya pelan.


"Kata Daddy jangan dibuat lagi ya" Queenze mewakilkan apa yang Damian katakan.


Riel mengangguk kemudian melepas pelukan di kaki Queenze, lalu berpindah ke pinggangnya.


"Mommy, kita jalan-kalan yuk. Gausah ajak Dadd-"


"HUAAAAAAAA QUEEN JANGAN TINGGALIN DAMIIIIIIIII"


Riel tertawa kencang, dia suka menjahili Daddynya sampai menangis seperti itu.


Baginya memiliki Daddy cengeng sangat menyenanngkan untuk diusili, okeh. Sifat jahilnya turunan Queenze sekali.


Queenze kembali menghela napas "Uda ih Dami, gak malu apa sama anak. Uda tua juga kamu, masih cengeng aja ya" Ucap Queenze, bukannya diam tapi Damian semakin mengeraskan tangisannya.


Queenze memandang Riel sejenak kemudian mengelus kepalanya.


"Kamu naik ke atas bentar ya, Mommy mau bujuk Daddy kamu dulu" Bisik Queenze lembut. Riel mengangguk patuh, sebelum pergi dia mencium perut sedikit besar milik Mommynya.


"Dek, abang harap kamu gak cengeng kayak Daddy" Bisik Riel sebelum pergi. Queenze tertawa pelan melihatnya, lucu sekali sih.


Setelah Riel pergi, Queenze melepas pelukan Damian dan berbalik. Menangkup wajah Pria menggemaskannya itu dan menyeka air matanya.


"Hiks...Queen gak sayang Dami lagi...hiks..Queen jahat.."Lirihnya ngelantur.


Queenze menggeleng geli "Kamu, selamanya adalah kesayangan aku. Jadi jangan kayak gitu lagi, Riel itu anak kamu Dami. Dia hanya bercanda" Bisik Queenze memberi pengertian.


Damia mengabaikan itu, dia memeluk Queenze dan menyamankan posisinya "Aku gak perduli, yang aku perdulikan cuma kamu" Bisik Damian.


Inilah sisi jahat Damian, dia tak perduli dengan anaknya. Yang dia perdulikan dalam hidupnya hanya Queenze, maka dari itu dia menganggap Riel sebagai musuhnya.


Musuh dalam merebutkan kasih sayang Queenze di rumah "Kamu gaboleh gitu ih" Rutuk Queenzs seraya memukul pantat Damian.


"Hehe, memang kenyataan gitu kok"


"Uda ya, jangan berantem lagi sama Riel. Dia masih kecil loh sayangku, cintaku, suamiku, duniaku, segalanya bagiku"


Damian tertawa malu, dia kembali menyerukan kepalanya di ceruk leher Queenze dan menciumnya.

__ADS_1


"Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Kalau kamu mati aku juga ikut mati, aku gak perduli hal lain selain kamu" Gumam Damian tenang.


Keseriusan terdengar jelas disana, Queenze tak bisa marah atau bereaksi lebih. Damian memang tak terlihat terlalu menyayangi Riel, dia hanya perduli pada Queenze.


"Iya sayang, aku juga. Tapi-"


"Gak ada tapi-tapian!"


"Okey"


Queenze tersenyum simpul, sudahlah. Dia hanya menikmati momennya selagi bisa, momen bersama keluarganya yang sangat dia cintai ini.


"Hoi! Kalian mau buat anak di ruang makan?" Keduanya melepas pelukan mereka begitu suara cempreng seseorang masuk.


2 orang wanita dengan 2 orang Pria berjalan masuk ke rumah mereka. Damian mendengus sebal "Gak sopan!" Ketusnya.


"Heh, diam kau cengeng. Aku gak ada urusan sama kau" Ucap wanita yang bernama Dira Theodore itu.


"Benar, aku hanya ingin menemui Queenze dan menanyakan resep cookies nya" Celetuk wanita yang bernama Sheeva itu.


Prianya nampak berdiri di sebelah Sheeva "She-Sheeva..ayo p-pulang..kasihan Alshee di rumah sendirian" Bisik Pria itu ditelinga sang istri.


"Iya Albyku sayang, bentar aku mau nanyak sesuatu sama Queenze" Jawab wanita itu seraya mencium singkat pipi suami tampannya itu.


"Kamu mau ngapai Dir?" pertanyaan polos pria satu lagi sampaikan.


"Aku mau nanyak resep bermain di ranjang model baru-"


"Maaf ya mbak Queenze, bang Dami. Istri saya kadang mulutnya minta di sekolahin lagi sampai S2. Kami permisi yo" Pria itu langsung menggendong seperti karung di bahu istrinya.


"Mending praktek sekarang aja" Ujarnya seksi diselingi seringainya.


"Gausah gila ya bapak Theo, ingat uda tua bangkek"


"Lah kamu juga uda tua kan"


"Sorry ya, aku tuh masih muda. Istilahnya makin tua makin jamilah~"


"Halah, uda ayo kita buat adik untuk Tedi"


Alby dan Sheeva yang merasakan jika pasangan Queenze dan Dami hendak melakukan hal yang sama memilih untuk undur diri.


"Nah, gimana kalau kita main di kamar? Aku mau *****" Queenze langsung menyilangkan kedua jari telunjuknya.


"No, kamu puasa sampai dede bayi lahir uwu"


Damian menghela napas pendek "Yaudah ***** aja pun jadi" Gerutunya. Queenze tertawa gemas dan menciumi pipi suaminya itu.


Beruntung Queenze dicintai Damian sampai sebesar ini. Jarang sekali bisa mendapatkan pria sejenis Damian ini.


Queen akan menjaganya, sekarang tak ada lagi penghalang diantara Queen dan Dami. Karena hama terbesarnya sudah Queen singkirkan.


Ya...disini..bukan hanya Damian yang bisa membunuh orang demi Queenze. Memangnya siapa lagi dalang perusakan rem mobil Jerome dan Leo.

__ADS_1


Sampai membuat kedua Pria itu koma sampai sekarang.


Bersambung.


__ADS_2