Mawkish Damian

Mawkish Damian
35


__ADS_3

Keadaan kembali seperti biasanya, bekerja, pulang, main di ranjang, bekerja lagi. Begitu saja rutinitas harian mereka.


Tapi ada beberapa hal yang mengganjal di hati Damian, pasalnya tingkah Queenze selama 1 minggu belakangan ini agak aneh.


Queenze lebih suka pergi bekerja sendiri, makan siang sendiri, pulang saja dia yang mau bareng Damian.


Damian curigesen kalau sebenarnya Queenze nyembunyiin sesuatu darinya.


Dan hari ini dia akan menanyakannya pada Queenze.


...*///*...


Keadan ruang makan lumayan hening, Riel, Edgar dan Damian sama-sama diam. Kali ini mereka akan bekerja sama karena mereka juga merasa heran pada mommy mereka itu.


Lebih pendiam dan jarang bersuara, biasanya jika Ed dan Riel membuat masalah, Mommy mereka akan merepet tiada henti sampai mereka tidur.


Tapi kali ini, mommy mereka hanya tersenyum tanpa ocehan seperti biasa.


"Mom" panggil Damian bernada, Queenze yang baru saja meletakan susu hangat di meja lantas menoleh.


"Kenapa?"


Damian menunduk sebentar, dia memasang ekspresi semelas mungkin "Ada yang mau Dami bilang" cicit Damian, sebenarnya dia tidak yakin dengan rencana mereka.


Damian menoleh ke arah kedua anaknya, keduanya memberikan jempol mereka tanda menyemangati.


"Aku..hamilin perempuan lain" bisik Damian takut. Mereka menunggu reaksi apa yang akan Queenze keluarkan.


Bukannya marah, Queenze malah tersenyum kalem "Omongan adalah doa loh Dami" ucapnya santai.


Damian pucat seketika, dia berdiri dan langsung memeluk tubuh langsing Queenze.


"Bercanda! Bercanda-bercanda-bercanda!! Dami cuma bercanda huhuuuuuuu. QUEEEEEEEEN DAMI GAMAU BUNTINGIN PEREMPUAN LAIIIIN!!" histerisnya.


Queenze mengelus punggung Damian "Makannya omongan tuh dijaga" heran Queenze, ada-ada saja tingkah suaminya pagi ini.


Edgar menepuk jidatnya pelan, ide buruk meminta Daddy cengengnya untuk berbohong seperti itu. Dia jadinya histeris sendiri.


"Mommy, kenapa diam aja. Kami ada salah?" tanya Riel lembut. Queenze sedikit melirik kemudian mengalihkan pandangannya.


Dia melepas pelukan Damian, lalu melangkah menjauh meninggalkan meja makan "Kan, mommy gabakalan jawab kalau ditanya" Edgar lemas.


Tak mendengar ocehan dari Mommynya membuat Edgar lemas. Dia butuh tenaga dan tenaga itu bersumber dari mommynya.


"Jadi gimana Dad?" tanya Riel.


Damian berfikir keras, apa mereka melewatkan sesuatu sampai Queenze mengabaikan mereka seperti ini.


"Tunggu dulu.." bisik Damian.

__ADS_1


Dia ingat apa yang sudah dia lupakan.


Brak!


Damian membanting kepalanya ke meja makan sampai menimbulkan bunyi yang keras, Ed meringis pelan. Kepala Daddynya sekeras baja sampai tahan dibanting seperti itu.


"Daddy tau?" tanya Riel semangat.


Damian mengangguk "Kesalahan kita sangat fatal Ed, Riel" ucap Damian lemas.


"Emang kita ngelupain apa Dad?" tanya Edgar.


Damian mengusap wajahnya kasar "Kita ngelupain ulang tahun Mommy kamu 2 hari yang lalu!!" seru Damian pelan.


Baik Riel dan Edgar pucat.


Brak! Brak!


Mereka ikut membanting kepala mereka ke meja makan. Sial! Kesalahan mereka sangat amat fatal untuk dimaafkan.


..........


Queenze fokus, dia sedang fokus pada laptop di depannya. Tak peduli pada tatapan yang Damian layangkan sedari tadi.


Damian berpangku dagu seraya menatap lekat Queenze, dia sedang memikirkan cara terbaik untuk meminta maaf pada Queenze.


Melupakan hari lahir istri tercintanya adalah tindakan buruk yang pernah Damian lakukan seumur hidupnya, dia berjanji akan mengingat tanggal keramat itu.


"Saya permisi sebentar Pak"


Keasikan melamun membuat Damian tak sadar jika Queenze tak lagi duduk di kursinya, dia mendongak dan menatap bingung Queenze.


"Maaf, coba ulangi"


Queenze menghela napas panjang "Saya permisi keluar sebentar" ucap Queenze lagi. Damian ber oh ria lalu mengangguk.


Queenze melangkah menuju pintu keluar, setelah pintu tertutup dan Queenze tak lagi terlihat, Damian mengusak kasar rambut kecoklatannya.


"Sial! Sial! Sial! Apa yang harus aku lakukan!?" seru Damian pelan. Dia prustasi hanya dengan memikirkan cara untuk meminta maaf pada Queenze.


"Kau bodoh Damian, bodoh!" bisik Damian.


Damian bodoh, dia bisa melupakan tanggal penting milik Queenze. Wajar saja istrinya marah dan mengabaikan mereka semua.


...****...


Queenze melangkah perlahan turun dari tangga darurat, dia ada pertemuan rahasia dengan seseorang saat ini.


"Buk Queenze" sapa Leo ramah, lebih tepatnya Leo merasuki tubuh Jerome dan memanfaatkan tubuh pria lajang itu.

__ADS_1


Queenze mendecih, jika bukan karena bantuan Jerome soal hotel dan wanita yang ikut bersama Damian ke Jepang, Queenze ogah menerima ajakan Jerome.


Dan juga, Jerome adalah satu-satunya orang yang mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah pada saat Queenze 2 hari yang lalu.


"Ada apa?" tanya Queenze langsung. Dia tak mau berlama-lama dan membuat kecurigaan pada yang lainnya.


Leo tersenyum simpul, dia mendekati Queenze dan langsung memeluknya dengan sangat erat, Queenze tak sempat mengelak, dia kaget.


"Sudah lama saya ingin memeluk anda, sejak saya koma atas perbuatan anda 20 tahun yang lalu" bisik Leo lembut.


Jleb.


Dingin, Queenze merasakan sesuatu yang dingin menusuk punggungnya. Bau anyir langsung tercium begitu Leo melepaskan pelukannya.


"Kau-"


Bruk!


Tak sempat menyelesaikan perkataannya, Queenze sudah tak sadarkan diri karena ternyata pisau yang Leo tancapkan memiliki bius di ujungnya.


Leo menyeringai, dia menggendong bridal tubuh Queenze "Akhirnya, kamu jadi milik aku Queen" bisik Leo senang.


Dia berjalan menuju pintu darurat belakang, pintu yang hanya Leo yang bisa memasukinya karena cuma dia yang punya kuncinya.


Rencananya benar-benar lancar, memperdaya Amelia agar menciptakan lipstick di kemeja Damian, menarik hati Queenze dengan ucapan dan kado.


Itu semua rencana Jerome dan Leo, tentu saja agar dia bisa menarik Queenze dari Damian yang tak pantas memiliki wanita seperti Queenze.


"Dan mulai sekarang, kamu tak akan ingat dengan Damian dan anak-anakmu lagi. Obat dari keluarga Tuan Jidan memang paling ampuh untuk menghilangkan ingatan seseorang"


Adonis dopamin, obat penghilang memori dari keluarga Jidan temannya. Obat yang mampu menghilangkan memori seseorang dalam jangka waktu yang sangat lama.


Jerome akan meminumkan obat itu pada Queenze, dan setelahnya dia akan membawa pergi Queenze dari Jakarta.


Pergi sejauh mungkin, agar Damian tak bisa menemukannya lagi.


Selamanya.


...****...


Firasat Damian tak enak, sudah 2 jam Queenze keluar dan belum kembali lagi. Kuku jempolnya sudah menjadi korban gigitan Damian.


Dia khawatir Queenze terluka atau menghilang, Damian bisa gila jika itu memang terjadi.


Bukan hanya gila, Damian bisa menghancurkan segalanya jika Queenze benar-benar hilang dari hidupnya.


"Queen..kamu kemana sih"


Damian tak bisa diam, dia harus segera mencari Queenze karena firasatnya mengatakan.

__ADS_1


Jika Queenze tak sedang baik-baik saja.


Bersambung


__ADS_2