
Rutinitas harian mereka kembali mereka lakukan, bekerja sampai sore, pulang, main di ranjang, tidur, lalu kerja lagi.
Queenze sedikit jenuh, dia butuh hiburan sedikit. Wanita cantik itu mendongak memandang suami tampannya yang sedang fokus pada laptop di depannya.
Meja kerja milik Queenze berada tak jauh dari meja kerja Damian, dia bertopang dagu sembari memandang lekat wajah Damian yang masih saja tampan walau sudah 44 tahun umurnya.
Sedikitnya Queenze bersyukur menikah dengan Damian, walau tingkahnya sedikit abnormal untuk ukuran Pria dewasa. "Dami," panggil Queenze pelan.
"Heum?"
"Bosen"
Damian berhenti mengetik dan langsung menyimpan data file di laptopnya tadi. Dia berdiri dan merapikan jasnya, lalu berjalan mendekati meja Queenze.
"Kalau gitu ayo jalan-jalan" ucapnya lembut seraya mengelus pipi Queenze. Senyum manis langsung Queenze berikan, dia membereskan berkas di mejanya lalu berdiri.
Memeluk mesra lengan kokoh Damian dan mendusel disana "Kamu mau belanja? Atau makan?" tanya Damian lembut.
Keduanya berjalan menuju pintu keluar "Mau ke Red doorz yang ada di London." celetuk Queenze asal. Damian terdiam sebentar kemudian mengangguk patuh.
"Biar aku pesenin tiketnya-"
"Damian aku cuma bercanda sayang"
Damian tertawa pelan, dia tau Queenze bercanda, hanya saja setiap permintaan yang keluar dari bibir ranum Queenze adalah perintah mutlak bagi Damian.
Keduanya berjalan menuju lift, bertepatan dengan lift yang terbuka dan menunjukan seseorang yang sangat Queenze hindari.
"Buk Queenze, Pak Damian selamat siang" sapa Jerome sopan. Damian tak merasakan ketegangan yang melanda Queenze, dia masuk ke dalam begitu juga dengan Queenze.
"Pagi Jerome, kamu sudah kembali bekerja ternyata, gimana kabar kamu? Uda nikah belum?" tanya Damian santai. Posisinya Queenze di depan Damian sedangan Jerome di sebelahnya.
Tangan Damian masih bertengger melingkar di bahu Queenze. "Kabar saya baik Pak, saya belum nikah karena ada yang harus saya selesaikan" ucap Jerome tenang.
Damian mengangguk tak acuh, lift berhenti di lantai 26 dan Jerome melangkah keluar. "Saya duluan Pak, Buk" ucapnya ramah sebelum akhirnya Lifr tertutup.
Suasana canggung tercipta di dalam Lift begitu Jerome keluar "Jadi, dia alasan kamu takut semalam?" bisik Damian dingin dan penuh intimidasi.
Ini adalah hal yang Queenze lebih takutkan, sisi gelap Damian yang muncul saat Queenze terusik dan tak nyaman "Bukan ih, kamu jangan emosi dulu Dami. Aku gak papa kok" bujuk Queenze.
Dia mengelus dada Damian, menenangkan prianya itu. Damian diam, dia menarik tangan Queenze dan mengecup telapak tangannya.
"Aku gabakalan biarin kamu merasa gak nyaman" bisik Damian lembut namun serius. Queenze meneguk ludahnya kasar dan mengangguk mengiyakan.
Semoga Jerome tak kembali koma.
Sedangkan itu "Jerome, senang bekerja sama denganmu"
Jerome tersenyum simpul, Pria berusia 42 tahun itu juga senang bekerja sama dengan Leon yang tak kunjung bangun daru tidurnya.
..........
Setelah seharian berkeliling kota dan berbelanja di mall, kini pasangan bucin ini tengah dalam perjalanan menuju rumah mereka.
"Oh iya, kamu ada field trip bareng beberapa karyawan ke Jepang besok" ucap Queenze yang tengah melihat jadwal milik Damian.
Damian mengangguk "Kamu ikut kan?" tanya Damian, tangan kirinya memegang erat tangan kanan Queenze seolah takut kehilangan.
Queenze menggeleng santai dengan tatapan yang masih tertuju pada jadwal Damian "Enggak, nanti Edgar sama Riel gak ada yang ngurus" jawab Queenze tenang.
Damian diam, dia merengut mendengar jawaban Queenze "Jadi aku gak ada yang urus?" rajuknya.
"Urus diri kamu sendirilah"
"Queen jahat...hiks..Queen gak sayang Dami lagi" lirih Damian seraya melepas genggamannya pada tangan Queenze, tapi kemudian di pegang lagi.
__ADS_1
Queenze menggeleng geli "Kan cuma sehari doang Damian" ucap Queenze memberikan pengertian. Damian pura-pura gak dengar, bibirnya mengerucut sebal dengan tatapan tak acuhnya.
Seperti anak-anak, ngambul gajelas "Yaudah ngambek aja, nanti gausah masuk sangkar lagi-"
"Iya ih iya! Kamu mah ancamannya gitu banget"
Senyum kemenangan terbentuk di wajah Queenze, memang ancaman soal sangkar akan selalu manjur 100%. "Jangan selingkuh ya kamu, kalau selingkuh nanti Danutnya reuni sama pisau daging di dapur"
Damian meneguk ludahnya kasar, danutnya tegang hanya dengan mendengar ancaman pisau daging "Iya Queen, aku gak selera sama perempuan lain. Sangkar kamu emang yang paling da best"
Queenze mengangguk puas "Awas aja kalau ada lipstick di baju kamu. Aku usir kamu dari rumah" ancam Queenze lagi.
"Gak mungkin, itu gak mungkin terjadi" jawab Damian santai seolah itu tak mungkin
Meanwhile, two days later.
Damian melangkah masuk ke dalam rumah, tubuhnya amat sangat lelah setelah 2 hari tak tidur karena pekerjaannya di Jepang sangat banyak.
"Queeeeeeen" panggilnya manja sedikit lesu. Queenze yang sedang mencuci piring berhenti, dia mematikan keran dan langsung berlari ke arah ruang depan.
"Yo Dad" sapa Edgar santai, dia sedang bermain Ps 5 di ruang santai tanpa terlalu peduli pada Daddynya. Damian juga tak peduli, dia cuma mau ketemu dan meluk Queenze saat ini.
Damian merentangkan tangannya begitu Queenze berjalan ke arahnya, pelukan penuh kerinduan langsung tercipta diantara mereka berdua.
"Euunggg, aku kangen banget sama kamu" bisik Damian lembut dan manja, Queenze tertawa pelan mendengarnya. Dia menyamankan senderannya di bahu Damian.
Tak sengaja mata tajamnya melihat sesuatu lipstick?-pikir Queenze nething.
Senyum manisnya langsung berganti dengan senyum penuh kepalsuan, dia melepas pelukan Damian dan melepas jas hitam Damian.
"Kamu mandi sekarang, ada yang mau aku bilang sana kamu" ucap Queenze sedikit sensual.
Damian berfikir Danutnya akan segera masuk sangkar setelah mandi, dengan semangat dia berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
"Riel" panggil Queenze pada Riel yang baru keluar dari kamarnya. "Ya mom?" tanya Riel seraya mendekat.
"Carikan mommy tiket ke Jepang, hari ini. Jangan kasih tau Daddy kamu"
Riel memiringkan sedikit kepalanya bingung, tapi dia memilih untuk menurut "Penerbangan jam berapa mom?" tanya Riel.
"Jam 12 malam"
"Mommy yakin?"
Queenze melirik sinis Riel yang tersentak kaget, gak pernah-pernahnya Mommnya marah seperti ini. Nampaknya Daddy sudah membuat masalah besar dengan mommy cantiknya.
"Siap Mom, bakal Riel carikan segera" ucap Riel kemudian kembali masuk ke kamarnya. Dia harus mengecek daftar tiket di laptopnya, bukan beli, Riel meretas pakai pin atm orang.
Dan gabakal ketahuan, jadi otomatis mereka gak akan ngeluarin biaya apapun soal tiket. Padahal uang berserak kayak akhlak, tapi masih aja ngeretas:)
Queenze melangkah menuju kamar, dia harus mengintrogasi suami nakalnya dulu perihal Lipstick sialan itu.
...******...
Damian keluar dari kamar mandi, dengan bathroob menutupi tubuh atletisnya, dia melihat Queenze berdiri di depan lemari pakaian mereka.
"Kamu ngapain sayang?" tanya Damian seraya mendekat. Queenze melirik kemudian berbalik, kemeja putih yang tadi Damian pakai ada di tangan Queenze.
Dia menyodorkan kemeja tadi ke depan Damian "Apa ini?" tanya Damian heran.
Queenze mendengus dingin, senyum miring penuh kemuakan terbentuk di wajahnya "Kamu selingkuh, sama perempuan divisi mana?" tanya Queenze langsung.
"Apa!? Aku gak selingkuh Queen. Gak mungkin" sergah Damian seraya menarik kasar kemejanya tadi. Matanya terpaku pada bekas lisptick di bahu pakaian Damian.
Queenze bersidekap dada "Jadi itu lisptick siapa? Bencong?" ketus Queenze.
__ADS_1
Damian menggeleng panik, dia melempar kemeja tadi dan berusaha mendekat, tapi Queenze menghindar dan melangkah mundur "Aku gatau Queen, sumpah aku gak ada selingkuh disana!" ujar Damian ribut.
Dia benar-benar tak tau soal lisptick sialan itu "Aku gak percaya," sinis Queenze. Damian meremat rambut basahnya dan menggeram emosi.
"Aku jujur! Aku gak selingkuh dan aku gatau itu punya siapa!!"
Queenze seolah tutup telinga, dia berjalan menuju pintu kamar "Queen aku mohon! Percaya sama aku!" seru Damian putus asa.
Dia berlutut di lantai, kebiasaannya jika sudah putus asa dalam masalah rumah tangga mereka. Ataupun masalah lainnya.
Queenze berbalik dan kembali menyilangkan kedua tangannya, dia berdiri dengan angkuh di depan Damian yang berlutut di lantai kamar.
"Riel uda 20 jalan 21 tahun, dan baru sekarang kamu mau selingkuh?" tanya Queenze santai tapi menusuk. Damian mendongak dan segera menggeleng takut.
"Enggak Queen enggak, aku gak selingkuh!" sergah Damian kesal tapi sedikit takut. Kenapa Queenze tak percaya padanya.
Queenze menaikan dagunya dan menatap angkuh Damian "Jadi lipstick itu punya siapa?" tanya Queenze dingin.
Damian diam tak bisa menjawab.
"Gabisa jawab kan? Kamu tidur di luar selama kamu belum bisa kasih aku jawaban" perintah mutlak itu membuat Damian terkaku.
Queenze berjalan keluar kamar "GAMAUUUUU!! hiks...Queen Dami gamau bobok diluar..hiks....nanti Dami gabisa ***** lagi..QUEEEEEEEEEEN!! HUAAAAAAAAA PAPAAAAAA QUEEN MARAAAAAAH!!"
Damian merangkak mendekati Queenze yang berdiri di depan pintu, dan langsung memeluk kakinya
"Huaaaaaaa Queen jangan gini..hiks..Dami gak selingkuh!..hiks..serius Dami gak bohong" tangisnya melas.
Queenze memijit dahinya yang pusing "Mom? Daddy kenapa?" Queenze menoleh begitu pertanyaan dari Edgar terdengar.
"Daddy kamu selingkuh-"
"AKU GAK SELINGKUH!!"
"Lihat, dia bahkan berani bentak Mommy"
"Hiks...maaf..huaaaaaaaa maaaaaaf!"
Edgar menggelengkan kepalanya melihat tingkah Daddynya "Uda Mom, cari Daddy baru aja" goda Edgar.
Damian membeku, dia memeluk kaki Queenze semakin erat "AKU BUNUH DIRI KALAU KAMU CARI SUAMI BARU!! hiks...AKU GAK IKHLAS KALO KAMU CARI SUAMI BARU!! hiks..huaaaaaa aku bunuh dia nanti!!"
Edgar tertawa terbahak seraya berjalan pergi, sedangkan Queenze semakin pusing. Dia melepas paksa pelukan Damian di kakinya dan melangkah keluar kamar.
"QUEEN!! AKU GAK SELINGKUH KENAPA KAMU GAPERCAYA!! hiks..aku gak selingkuh..HUAAAAAAAA AKU GAK SELINGKUH QUEEN!!"
Damian berdiri dan berusaha mengejar, tapi Queenze sudah masuk ke kamar sebelah dan langsung mengunci pintu kamarnya.
Brak! Brak!
Damian memukul dan menggedor brutal pintu kamar, dia menangis histeris. Padahal beberapa tahun terakhir dia sudah jarang menangis, tapi masalah kali ini sangat berat.
"QUEEN!! hiks...QUEEN AKU GAK SELINGKUH!! huaaaaaaaaa aku gak selingkuh Queen!!" histerisnya.
Queenze tak peduli, dia memasukan pakaiannya ke dalam koper yang ada di kamar itu, untung ada baju simpanan di kamar lain.
Tangisan Damian tak terdengar lagi.
"Ngapain dia?" gumam Queenze was-was.
"MOOOOOOOOOOOM!!! DADDY MAU MINUM RACUN TIKUS!!"
Queenze berlari dengan panik keluar dari kamar, dia lupa Damian itu bipolar. Sudah lama tak kumat, saat ini mulai lagi.
Bersambung
__ADS_1