
Queenze fikir sisa hidupnya kemali berkurang setelah melihat kelakuan Damian malam ini. Pria itu memeluk kaki Queenze sangat erat dan menangis disana.
Setelah Riel menahan Damian agar tak meminum racun tikus, Damian mengamuk dan menangis keras.
"Kamu sekarang maunya apa Damian?" tanya Queenze dingin, dia pusing sekali. Masalah lipstick, masalah Jerome, SEMUA JADI MASALAH!.
Damian tak menjawab dan terus menangis di paha Queenze, dia benar-benar seperti anak kecil jika menangis seperti ini.
"Damian aku sedang bertanya!" sentak Queenze emosi.
Damian kaget, dia mendongak dan menatap Queenze dengan tatapan tak percayanya.
"Kamu bentak aku?..eung..hiks.......huaaaaaaaaaaaa...hiks...QUEENZE BENTAK DAMI!!..hiks..QUEEN GAK SAYANG DAMI LAGI!!" histerisnya.
Riel dan Edgar menggelengkan kepala mereka, kenapa mereka punya Daddy yang cengengnya minta ampun.
"Udalah, Ed mau tidur aja. Pusing" gumam Edgar kemudian berjalan menuju kamarnya.
Riel berlalu tanpa banyak bicara, dia harus menyelesaikan urusan tiket mommynya dulu "Lepasin kaki aku Damian" ucap Queenze tenang.
Tapi Damian menggeleng ribut dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafin aku dulu...hiks..aku gak selingkuh Queen..hiks..sumpah.." melas Damian.
Queenze memijit dahinya yang berdenyut "Iya-iya terserah kamu aja. Aku pusing, lepasin kaki aku"
Queenze tak mau memperpanjang masalah dan perdebatan, karena yang ada hanya teriakan dan tangisan Damian.
Damian mendongak, memandang Queenze dengan tatapan sedihnya, air matanya masih menetes dan isakan terdengar "Hiks..serius?" tanya nya takut.
Queenze mengangguk tak acuh, Damian mengusak hidungnya di paha Queenze kemudian berdiri "Maafin aku" cicitnya sambil memegang ujung kaus Queenze.
__ADS_1
Dia seperti anak kecil yang takut dihukum ibunya sendiri "Yaudah, aku mau buat susu dulu. Masuk kamar, pakai baju kamu" ucap Queenze lembut.
Damian mengangguk patuh, dia mengusap kedua matanya dan berjalan menuju kamar mereka yang ada di lantai 2. Queenze menghela napas pendek, kemudian dia berjalan menuju dapur.
...****...
Malam berlalu dan pagi telah tiba, Queenze melangkah dengan tenang menuju mimbar yang tersedia di Hall perusahaan mereka.
Tadi malam dia sudah pergi ke Jepang dan pagi ini baru kembali ke Jakarta. Damian tak tau karena Queenze sudah memasukan obat tidur dalam dosis lebih, itu agar Damian tak terbangun.
Dan juga Riel dan Edgar sudah mengikat kedua tangan dan kaki Damian, jaga-jaga jika pria itu mengamuk dan berusaha untuk bunuh diri lagi.
"Selamat pagi semua" ujar Queenze tenang namun semua tau jika Sekretaris sekaligus istri bos mereka itu sedang dilanda emosi.
Raut wajahnya dingin tanpa ada senyum seperti biasanya, mereka tak ada yang buka suara sama sekali. Kicep seperti kucing yang disiram air panas.
"Saya berdiri disini bukan sebagai Sekretaris Tuan Damian, saya berdiri disini sebagai Nyonya Damian. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan pada kalian" tutur kata Queenze benar-benar datar dan dingin.
Suasana kamar hotel sepi karena Damian sedang pergi ke kamar mandi. Semua terkesiap melihat adega selanjutnya.
"Gila, berani banget dia" desas desus cibiran langsung terdengar, seorang wanita yang menjadi pelaku di video nampak menyuruk di belakang temannya.
Kenapa dia bisa ketauan begitu cepat.
"Nona Amelia, silahkan anda maju ke depan karena saya ada hadiah untuk anda" ujar Queenze ramah disertai senyum manisnya. Senyuman yang menunjukan kemarahan yang besar.
Queenze rela pergi ke Jepang untuk memeriksa CCTV hotel yang Damian tempati. Dia tak mau ada hama yang merusak rumah tangga indahnya bersama Damian.
...****...
Jam sudah menunjukan pukul 1 siang, efek dari obat tidur di susu Damian sudah hilang dan membuatnya terbangun.
__ADS_1
"Queen..." panggilnya manja, tapi tak ada sahutan.
Damian hendak bangun, tapi tertahan karena kedua kaki dan tangannya terikat di ujung atas dan bawah tempat tidur.
"Eh? Kok diikat. QUEENZE!!"
Damian meronta, dia panik dan pikiran burik merasuki kepalanya.
Cklek.
Damian menoleh, dia fikir itu adalah Queenze padahal sebenarnya itu hanyalah Edgar "Uda bangun Dad?" tanya Edgar santai seraya bersender di dinding dekat pintu.
Damian mendelik "Mana mommy kamu!?" seru Damian sebal.
Edgar mengedik, dia asik mengupil tanpa peduli pada Damian yang mulai gelisah tak menentu "Mommy kamu mana Edgar!?" seru Damian lagi.
Edgar kembali mengedik "Lagi cari Daddy baru untuk kami mungkin. Daddy kan selingkuh jadi mommy mau selingkuh juga" ujar Edgar santai.
Dia bersidekap dada dan menatap penuh kepuasan pada Damian yang sudah frustasi sendiri "Enggak! Mommy kamu gak mungkin cari daddy baru!"
"Yowes kalau gak percaya, Ed mah terima aja kalau semisal Mommy cari suami lagi-"
"ENGGAK!! GAK ADA DADDY BARU!!"
"Lah? Kok ngamok" gumam Edgar heran, dia mengedik kemudian melangkah keluar. Membiarkan Daddynya mengamuk sendiri di tempat tidur.
Damian meronta, dia berusaha melepaskan diri dari rantaian gila di kaki dan tangannya "QUEENZE!! KAMU GABOLEH CARI SUAMI BARU!! QUEENZE!!" Teriak Damian.
Dia gak ikhlas lahir batin kalau Queenze cari suami baru!.
Bersambung
__ADS_1