
3 hari kemudian.
Queenze mengurut pangkal hidungnya, tumpukan berkas menggunung di depannya. Pusing kepalanya memikirkan berkas itu semua.
Mana hari ini adalah hari operasi dan juga ulang tahun Damian. Damian sudah rawat inap di rumah sakit semalam, dia akan di operasi nanti malam.
Dan Queenze sudah membeli kado untuk Damian. Yang menjemput Queenze nanti adalah Edgar, dengan sopir tentu saja. Mereka harus membeli kue terlebih dahulu.
Tok tok.
"Masuk"
Cklek.
Pria tampan bertubuh tegap melangkah masuk, wajahnya bak dewa yunani walau usianya tak lagi dini. Mata kebiruannya yang indah, disertai alis tebal rapi, hidung mancung, kulit putih.
Mata yang akan membentuk bulat sabit disaat dia tersenyum. Itu mirip mata Damian. "Ada apa Benjamin?" tanya Queenze datar.
Dia sangat menjaga jarak dari sekretaris baru ini. Tak mau membuat Damian terpuruk dengan gosip aneh tentang dia dan sekretarisnya.
"Begini Buk, akan ada rapat bersama Dith's corp. 2 jam lagi" ujar Benjamin tenang.
Queenze mengangguk "Buk, anda tidak mau menerima tawaran saya?" ujar Benjamin sedikit bernada, dia berjalan mendekati meja Queenze.
Badannya di condongkan ke depan Queenze, senyum menggoda dia berikan "Heuum, Buk Queenze bagaimana? Anda mau tidak?"
Queenze heran, kenapa bisa pria aneh penggila dada wanita ini diterima di perusahaannya. "Benjamin, tolong kenali batasan anda." peringat Queenze.
Setelah Jerome yang kini sudah menginap di penjara, pria aneh fetish dada wanita kini muncul. Benjamin merengut sebal "Anda sok jual mahal" rajuknya.
Menggemaskan sih, tapi lebih menggemaskan lagi Damian "Berhenti mengoceh, lanjutkan pekerjaanmu"
Benjamin menghentakan kakinya, dia berjalan keluar dari ruangan Queenze dengan hati dongkol. Queenze bertopang dahu seraya memandang lekat fotonya bersama ke tiga laki-laki berharganya.
Queenze memejamkan matanya, ingatan saat dia bertemu Damian mampir ke kepalanya.
__ADS_1
"Maaf tapi-"
"Jangan menyentuhku"
Queenze tersenyum kecil, masa-masa yang paling banyak masalah. Dan untuk hadiah ulang tahun Damian, Queenze sudah menyiapkannya.
Flashback tadi pagi.
Queenze mengelap tangan, dan wajah Damian dengan kain yang sudah dicelupkan ke air hangat "Selamat ulang tahun Dami" ucap Queenze lembut.
Damian tersenyum simpul, dia bergerak perlahan untuk mencium dahi Queenze lama, dan penuh dengan perasaan.
"Makasih Queen" ucap Damian senang.
"Kamu mau minta kado apa?"
Damian diam, dia nampak berfikir sebentar "Aku mau kupluk, gambar panda hehe" Queenze mendengus geli.
Dia merapikan rambut tipis Damian, yang bahkan sudah menampakan kulit kepalanya. Damian sering malu jika Queenze melihat kepalanya yang mulai botak.
Damian mengangguk mantap "Aku siap" ucapnya pelan.
Queenze memeluk Damian dan mengelus punggungnya "Sebelum aku berangkat, kamu mau susu dulu gak? Uda lama kamu gak minta susu" ujar Queenze.
Damian tersenyum lebar, dia mendusel ria di leher Queenze "Mau dong, Dami mau susu. Hehehe, Dami mau susu" ucapnya senang.
Damian nampak lebih sehat, tidak seperti hari sebelumnya, wajahnya sedikit merona di pipinya. Bibirnya tak sepucat sebelumnya.
Damian tersenyum, mata bulan sabitnya terbentuk indah.
"I love you so much, always and forever" ucapnya tulus. Matanya berbinar cerah dan penuh kebahagiaan.
Queenze terharu "I love you so much too, always and forever" bisik Queenze.
Entah kenapa, pagi ini terasa lebih hangat dan damai bagi keduanya. Angin sejuk seperti memberi mereka harapan baru.
__ADS_1
"Kita bakalan sama-sama terus"
"Pasti Dami, pasti. Kita bakalan bersama, tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi"
Brak!
"DADDY MET ULTAH!"
"SELAMAT HARI NETAS DADDY~"
Mereka berdua tertawa bersama melihat tingkah anak mereka. Benar, bahkan maut bukan lagi halangan bagi cinta mereka berdua.
Flashback end.
...****...
Damian cemas, Queenze belum kembali padahal dia akan masuk ke ruang operasi 3 jam lagi "Daddy tenang, Edgar lagi jemput mommy" ujar Riel kalem.
Dia sedang membereskan pakaian milik Daddynya ke dalam lemari kecil yang ada di ruang inap Damian.
"Riel, bantu Daddy dulu"
Riel dengan cepat berdiri dan membantuk Damian untuk turun. Berjalan perlahan menuju kamar mandi "Daddy,"
"Hm?"
Riel menunduk, matanya berkaca-kaca "Maafin Riel kalau banyak salah.." lirih Riel.
Damian terpaku, senyum manis sampai membentuk mata bulan sabit terbentuk, dia mengelus gemas kepala Riel "Ngapai minta maaf, Daddy gapernah marah kok. Setelah Daddy sehat, kita lamar Alshee ok"
Riel cemberut, dia uda putus 3 minggu yang lalu dari Alshee, tapi mereka uda deket lagi, tapi mereka belum balikan.
Sesaat sebelum Damian masuk ke kamar, dia menepuk bahu Riel "Daddy sayang sama kamu, sama Ed juga. Maaf kalau selama ini Daddy belum bisa jadi Daddy yang kalian harapkan" setelahnya dia masuk.
Riel terpaku, dadanya terasa sesak, itu seperti kalimat perpisahan. Dan Riel tak suka itu.
__ADS_1
Tbc..