
Sungguh, jika ingin memilih Riel dan Edgar tak mau punya bapack kayak Damian. Setelah perjuangan besar mereka untuk mengikat Damian di kursi, kini mereka bingung.
Daddy mereka diam kayak mayat, tatapan matanya kosong, wajahnya pucat.
"Bang, itu Daddy apa demit?" bisik Edgar takut. Riel mengedik, kakinya napak kok.
"Kakinya napak, dia Daddy" jawab Riel. Edgar mencengkram kaus lengan Riel dan mengguncangnya.
"Abang! Dia bukan Daddy. Dia demit yang menyerupai Daddy, Ed sering lihat adegan itu di tipi!" seru Edgar lebay.
Riel memutar malas matanya "Gausah ketularan begonya Daddy deh" ketus Riel.
Edgar merengut, abangnya ke taik. Gak laik Edgar tuh, bagusan dia tendang pantat abangnya biar berdarah lagi.
Dan disaat seperti ini, 2 jam setelah kepergian Mommy mereka dari rumah. Mereka terbodoh tak tau harus apa "Kita mau ngapai lagi bang?" tanya Edgar.
Riel diam "Gatau ah, pen beli treuk" gumam Riel seraya berjalan menuju sofa depan tv. Pusing, dia sedang bertengkar dengan Alshee gara-gara pantat.
Masalahnya tuh, Alshee gak sengaja nusuk pantat Alzi pas mereka tidur bareng. Bagi Riel itu sama seperti Alshee berselingkuh, jadi dia marah dan mereka putus.
Riel nyesel, apalagi tatapan kecewa Alshee membuatnya sedih "Abang jomblo ya sekarang? Ahahaha mampoesin" Ed bajingan ini memang suka nistain anggota keluarganya.
Kecuali mommy cantiknya, Edgar tak akan mau menistakan mommy tersayangnya. "Bacot nak kecil" sarkas Riel.
Edgar ngakak sendiri, uda gila ni bocah. Perlu disiram air ruqyah sama tanah kuburan. "Mommy lama ya" gumam Riel.
"Mungkin lagi ngurus surat cere-"
"BRENGSEK!"
"LONTONG!" Ed kaget, omongannya di potong dengan teriakan emosi Daddynya. Dia mengelus dadanya dan memandang horor Damian yang memandangnya gelap.
Segera Edgar merapatkan tubuhnya ke tubuh Riel "Abaaaaaang, DADDY KESURUPAN JIN TOMAAAAAAANG!!" Teriak Edgar histeris kayak cewek chili-chili lokal.
__ADS_1
Riel menggeplak kepala Edgar dan mendorognya menjauh "Berisik!" ketus Riel.
"Huaaaaaa abaaaaaaang!!" Edgar masih histeris.
"Apaan sih setan!?"
"HUAAAAAAAA ABAAAAAAAANG!!"
Edgar masih histeris gajelas, Riel mengatur pernapasannya agar tak emosi dan menonjok wajah Edgar.
"HUAAAAAAA ABAAAAANG-"
Bruagh!
"HUAAAAAAAAA MOMMYYYYYYY!!"
Edgar nangis kejer sambil megang pipi kanannya, Riel baru aja nonjok pipi Edgar. Gak terlalu kuat kok, hidungnya cuma sampe mimisan doang.
"Berisik banget sih, suara kamu sampe ke simpang komplek loh Edgar!" Queenze yang baru kembali dari klinik melangkah masuk.
Edgar diseret kayak sampah gaes, badannya terduduk dan diseret begitu saja "ABANG GAPUNYA OTAK KAU MEMANG!!" Teriak Edgar yang merasa tersakiti.
Sakit hati yanto. Anjir yanto siapa.
Riel bodo amat, seng penting yang boleh nge bully adiknya dan buat luka adiknya cuma Riel seorang. Kalau ada yang berani buat Edgar nangis selain Riel, maka Riel akan diam aja.
Tinggal ngelacak siapa yang buat luka dan retas rekeningnya sampe ludes.
Queenze berdiri di depan Damian dengan tangan yang saling bersidekap, sebuah amplop coklat ada di tangannya.
"Kamu tau ini?" tanya Queenze seraya menunjukan amplop ditangannya.
Damian pucat, dia menggeleng kaku.
__ADS_1
"Ini amplop, masa amplop aja kamu gatau" ketus Queenze, masa amplop aja Damian gatau. Makin tua makin bego, bener kata Riel:).
Damian merengut sedih, seperti kucing kena siram aer panas.
"Ini itu-"
Tok! Tok!
"Anjir iklan" desis Queenze emosi, mengganggu saja.
Dia berjalan mendekati pintu dan melihat siapa tamu tak diundang itu.
Cklek.
"Damiaaaan sayangkuuuuuu, aku datang sayaaaaaang"
Queenze memandang aneh perempuan berdada gedhe itu. Pasti silikon, Queenze memandang dadanya yang tak terlalu gede.
Apa Damian sekarang suka wanita berdada hedon? "Maaf Nek, nenek siapa?" ketus Queenze.
Wanita itu melongo, dia cantik gini dipanggil nenek "Heh Tante girang!! Lo siapa!? Selingkuhannya Damian gue ya!?" seru wanita itu.
Queenze menatap angkuh wanita menor itu "Aku lupa, kau itu wanita gila yang sedang di gosipkan satu komplek. Kemarin Pak Alby sama Pak Theo yang kau giniin, gak cukup apa tamparan sama jambakan Dira dan Sheeva? Masih mau aku kasih juga?"
Wanita itu pucat, melihat seringai dingin dan mengerikan dari wanita di depannya membuat wanita itu ciut.
"Maaf, saya salah alamat. Suami saya kasih alamat palsunya Iyu genting, maap ye" wanita itu segera pergi.
"Ada-ada aja manusia jaman sekarang" Queenze segera menutup pintu.
"Oke, mari kita lanjut- DAMIAN!?"
Queenze berlari mendekati Damian yang sudah terkulai lemah di kursinya. Nampaknya dia shock batin sampai pingsan.
__ADS_1
Tbc..