Mawkish Damian

Mawkish Damian
42. Selesai.


__ADS_3

Riel panik, dia sangat panik. Daddynya keluar dari kamar mandi dengan keadaan wajah penuh darah dari hidung dan mulutnya.


Kini Riel sedang berjalan di sebelah ranjang yang Daddynya tempati, jadwal operasi dipercepat.


"Daddy..hiks..Daddy pasti sehat..hiks..Daddy pasti kuat.." Riel tak bisa untuk tidak menangis, Damian meliriknya sendu.


"Queen.." lirih Damian, matanya semakin meredup, dia kesulitan bernapas karena darah di sekitarnya.


"Mommy bentar lagi datang..hiks..Daddy harus kuat"


Damian semakin lemah, matanya terpejam "Queen.." lirihnya, air mata menitih dari mata kanannya. Menjadi pertanda jika dia bahagia.


Aku..udah gak sakit lagi Queen..


Riel mematung, Daddynya baru saja dibawa masuk ke ruang operasi. Kedua tangannya bergetar, Daddynya..nampak sangat lemah.


"Daddy kuat..hiks..Daddy pasti kuat.." isak Riel.


Di ruang operasi.


"Siapkan defibilator, alat kejut jantung. Pasang 220"


Semua bergerak dengan cepat, 1 nyawa sangat berarti bagi mereka "Pasien mengalami gagal jantung mendadak Dok, kankernya juga semakin ganas dan merusak saraf otaknya" laporan selesai.


Dokter Tedi mengangguk "Kita harus bisa menyelamatkannya" bisiknya.


Damian terpejam dengan damai, senyum tenang terulas, dia sudah tak sakit lagi. Sebenarnya, dia sudah tak ada di dunia ini lagi.


Disaat yang sama, Queenze berjalan perlahan mengikuti langkah Edgar, mereka baru membeli kue untuk ulang tahun Damian.


Senyum manisnya terbentuk, dia kangen Damian, dia ingin segera bertemu Damian.


"Edgar"

__ADS_1


"Iya mommy?"


"Mommy sayang sama kamu, sama abang juga. Mommy sayang kalian berdua"


Ada apa dengan mommynya? Apa dia mau mati? Seperti ucapan perpisahan saja. Keduanya sampai di sebelah mobil mereka.


"Ed, masuklah duluan"


Edgar tak menjawab, dia tetap berdiri di sebelah Queenze.


Drrtt.


Queenze merogoh kantung coatnya, nama Riel tertera di panggilan hpnya "Halo abang"


"M-mommy.."


Kenapa nada suaranya bergetar.


Riel memejamkan matanya, isakan lirih tak tertahan lagi "Daddy..hiks.."


"Daddy kamu kenapa-"


Queenze tak melanjutkan ucapannya, matanya terpaku pada sosok Damian yang ada di sebrang jalan. Melambai bahagia ke arahnya.


"Damian?"


Sosok Damian itu tersenyum lebar yang sangat manis "QUEENZEEEE, DAMI UDA GAK SAKIT LAGI, QUEEN KEMARI CEPAT" teriakan penuh kebahagiaan itu terdengar.


Tanpa pikir panjang, Queenze berlari, meninggalkan Edgar yang heran sendiri "Mommy!? Jangan kesana mom!!" Edgar mengejar Queenze.


"Damian!? Kamu kok keluar!?" seru Queenze.


Damian hanya tersenyum manis di sebrang sana "Queenze" panggilnya lembut. Queenze tersenyum bahagia, air mata kebahagiaan mengalir.

__ADS_1


Tanpa sadar dia berlari menyebrang jalan tanpa melihat sekitarnya "MOMMYYYYY!!" Teriak Edgar panik.


Queenze tak dengar, dia hanya fokus pada Damian. Bahkan teriakan warga sekitar seakan membal di telinganya.


TIN TIIIIIIIN!!!


Waktu seakan melambat, Queenze sadar akan satu hal. Dami...kamu gamau pergi sendiri ya..


Tak masalah, senyum tetap terbentuk di wajah Queenze. Bahkan ketika....


Ckiiit!!


BRAK!!


"MOMMYYYYYY!!!!!"


Tubuhnya terpental jauh, menghantam aspal dan berguling di jalanan sore itu. Anyir, bau anyir penyapa penciuman Queenze.


"Da..mi.." lirihnya.


"Uhuk!"


Darah kembali muncrat dari mulutnya, kepalanya pasti mengeluarkan darah yang banyak.


Tapi tak masalah, karena akhirnya Damian tak pergi sendirian, dia mengajak Queenze ikut bersamanya.


Damian memang pergi, tapi dia membawa Queenze turut pergi bersamanya, karena setelah mempertahankan Queenze hidup-hidupan.


Kini mereka bersama di kematian, di hari ulang tahun Damian, hari jadi pernikahan mereka dan juga.


Hari kematian mereka.


...Mawkish Damian, Selesai....

__ADS_1


__ADS_2