
Malam sudah tiba kala gadis berambut putih itu, berlari-lari kecil menuju kediamannya. Mega-mega kelabu yang meliputi, membuat dirgantara tampak begitu kelam. Bulan maupun bintang yang biasanya menghiasi angkasa, kali ini tak dapat dilihat keberadaannya. Guntur menyambar-nyambar, sedangkan Maydea—nama gadis itu—tak kunjung sampai ke rumah kecil yang menjadi tempat tinggalnya itu.
Maydea terus menggerakkan tungkainya, seraya sesekali menyeka tirta hujan yang membasahi wajahnya. Kedua netra itu terasa perih, saking banyaknya air yang masuk ke celah-celahnya. Hidung perempuan tersebut pun sudah kembang kempis, dengan dada yang sesak, karena saking lamanya ia berlari.
'Kalau ke rumah Ayah, aku pasti akan dimarahi perempuan itu,' batin Maydea. Gadis itu terus berlari dengan gemuruh kilat yang mengiringi—sejalan dengan pikirannya yang berkecamuk. Ada rasa takut yang menyabet nuraninya, ketika membayangkan wajah garang ibu tirinya, yaitu Gayatri. Wanita paruh baya itu, pasti sudah siap menyambutnya dengan sapu lidi, yang akan digunakannya untuk memukul sang anak tiri.
Maydea heran, kenapa sejak menikah dengan Gayatri, sikap ayahnya berubah drastis. Lelaki hangat berwajah tampan yang biasanya menjadi tempat bernaungnya itu, tiba-tiba berubah menjadi dingin. Entah dengan hasutan apa, Gayatri bersama putrinya—yaitu Gendhis—telah berhasil membuat Maydea terusir dari rumah ayahnya. Untung saja, Satria masih berbaik hati mau memberinya tempat berteduh yang meski dibilang tidak layak huni berkat ukurannya yang kelewat kecil, atapnya yang bocor, juga pintunya yang hampir roboh; bahkan, terkadang Maydea merasa, kalau genting-genting yang menjadi atap bangunan itu, akan terbang terbawa angin dengan mudah ketika angin kencang pada musim hujan telah tiba.
Pernah sekali Maydea berpikir, bahwa hidupnya seperti kisah Cinderella. Namun jelas itu berbeda. Gadis itu tak mau berharap akan ada pangeran tampan yang akan melindunginya dari sang ibu tiri dan saudari tirinya yang jahat; karena sejujurnya, ia lebih ingin menyelamatkan dirinya sendiri, atau mungkin tak mau terlalu berharap lebih pada orang lain. Toh, memang pada kenyataannya, realitas tak seindah cerita dongeng; pun dongeng—bisa jadi—tak seindah, seperti apa yang kita pikirkan.
"Ah!" Maydea meringis kesakitan. Ranting kayu yang ia sandung, berhasil membuatnya terjatuh, sampai-sampai tangannya terluka oleh tanaman liar yang tumbuh subur di tanah sekelilingnya. Akan tetapi, ini sebuah pertanda baik, karena itu artinya, sekitar 20 meter dari tempat ini, di tempat itulah rumah mungilnya berdiri.
__ADS_1
Maydea menggeram, kemudian lanjut berlari dengan lebih lambat dari sebelumnya. Pascaterjerembap, sepasang tungkainya terasa sakit, pun dengan kepalanya yang tiba-tiba pening, membuatnya merasa lemah dan tak memiliki tenaga untuk menggerakkan kakinya lebih cepat lagi. Apalagi, ia memang sudah lelah, seusai berlari ratusan meter, atau mungkin beberapa kilometer ini.
Maydea akui, Gayatri memang pantas dinobatkan menjadi ibu tiri terkejam di dunia, setelah menyuruhnya pergi ke hutan untuk mencari tanaman herbal yang dibutuhkannya. Bodohnya lagi, Maydea tetap bersedia melakukan itu, meskipun sudah tahu, bahwa itu hanya omong kosong belaka, karena pada kenyataannya, tujuan Gayatri hanya ingin membuatnya celaka.
'JDAR!'
Maydea terperanjat kaget. Dengan sepasang tangannya yang gemetar, perempuan tersebut berusaha merogoh kunci rumah di tas kecilnya. Meskipun ia gadis pemberani, namun tak bisa dipungkiri, kalau ia juga takut pada bunyi gemuruh petir. Walau pula rumahnya kecil, tapi ia merasa lebih aman berada di dalam sana, meski ia pun jua tahu, kalau kilat tetap bisa menyambar kita, meski kita sedang berada di ruangan tertutup.
'Aku takut …!' batin Maydea, dalam kesendiriannya.
͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏
__ADS_1
͏͏͏͏͏
...««« AUTHOR'S NOTES »»»...
Hai, semua! Cerita ini merupakan rewrite dari cerita sebelumnya yang berjudul sama dengan cerita ini. MAYDEA: Titik Balik versi sebelumnya aku hapus karena beberapa kendala.
Versi ini, akan aku usahakan lebih baik dari versi sebelumnya. Mulai dari alur, setting karakter, hingga penulisan pun, semoga tidak mengecewakan untuk kalian.
Aku tidak janji untuk bisa update secara rutin, karena aku juga punya kesibukan di real life. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk cerita ini. Semoga, MAYDEA: Titik Balik bisa menghibur kalian semua!
...««« GOOD LUCK »»»...
__ADS_1