
..."Kenapa orang-orang harus membenci dan menghakimiku atas suatu kesalahan yang bahkan aku sendiri tidak mengerti itu apa?"...
...««« MAYDEA »»»...
͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏
'PLAK!'
Suara tamparan yang menggema itu, rasa-rasanya dapat membuat para pendengarnya merasa ngilu. Keras dan pastinya menyakitkan.
Seorang wanita paruh baya berwajah garang menatap gadis yang berlutut di hadapannya dengan tatapan yang tajam. Cukup mengerikan. Namun perempuan berambut putih yang habis dipukul itu, ternyata masih sanggup untuk menegakkan tubuhnya—membuat sang pemukul merasa marah.
"SIAPA YANG MENYURUHMU BERDIRI, HA?"
"Ibu, aku—"
"Aku bukan ibumu anak pembawa sial!"
Maydea menggeram sembari memegang pipinya yang kemerahan. Gadis itu menatap sang ibu tiri dengan berani. Ia tak terima dengan julukan yang disematkan Gayatri untuknya.
Gayatri mendengus, lalu beralih ke kaki Maydea. Dipukulnya kaki gadis itu dengan kuat, menggunakan sapu lidi. Ekspresinya tampak benar-benar jahat.
"Jangan sebut aku dengan julukan itu!" Maydea berteriak marah, menunjuk Gayatri dengan jari telunjuknya. Sang ibu tiri yang memang telah tersulut emosi pun langsung mendorong gadis albino itu.
"Itu fakta yang tak bisa kamu tolak! Ibumu meninggal, dan itu karena kamu! Kamu memang anak pembawa sial! Anak hꪖram! Ibumu, pasti berselingkuh dari Satria, hingga lahirlah anak sepertimu; yang tidak mirip dengan ayah dan ibunya. Dari mana kamu mendapatkan mata biru itu kalau bukan dari perbuatan lꪖcur ibumu, ha?!" Maydea ꪑꫀremꪖs kuat tangannya, lalu dalam sepersekian detik tangan itu sudah melayang ke pipi Gayatri. Gadis tersebut menampar ibu tirinya.
"BERANI KAMU, HA?!" Gayatri mengangkat tinggi-tinggi sapu lidinya, bersiap memukul Maydea. Namun gadis berkulit putih itu, justru menatapnya dengan nyalang—menantang.
"Cukup, Ma!" Seorang pemuda berseragam putih abu yang baru datang tampak terkejut, lalu berlari kecil menghampiri Maydea—memeluknya, seolah memberi perlindungan.
"Pergi Raka! Biarkan Mama memberi hukuman kepada pembangkang ini!"
"Maydea kakaknya Raka. Sudah tugas Raka melindungi Kak May," tutur sang pemuda. Tatapannya tampak lembut, menatap sang ibu dengan pandangan memohon.
"Kak, pergi!" bisik Raka. Maydea yang mendengarnya pun bergegas, berlari kecil menuju rumah kecilnya yang tak jauh dari sana—mengabaikan Gayatri yang sudah uring-uringan. Ini sudah biasa, dan tak akan ada masalah besar setelah ini karena ada Raka yang melindunginya.
Beberapa warga menatap Maydea iba, dan mayoritas tampak tak peduli. Pemandangan seperti ini pun sudah biasa.
Dengan tertatih, Maydea berjalan menuju rumahnya—memegang pipinya yang terasa perih. Gayatri benar-benar keterlaluan. Wanita tua itu memarahinya hanya karena tanaman herbal. Pun kalau Maydea tak datang ke rumah itu, Gayatri pasti akan mendatanginya—mencarinya seperti seorang polisi yang mencari buronannya.
Maydea menyandarkan dirinya ke dinding rumah. Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam. Ia tahu, ia tidak bisa terus seperti ini. Ia tak yakin ia mampu bertahan sampai kapan. Yang ada di pikirannya, nasibnya benar-benar sulit. Pergi ke kota, tentu saja bukan hal yang mudah. Apalagi ia sendiri, akan sulit beradaptasi di sana. Akan beda halnya jika ada orang lain bersamanya.
"Kak May!" Beberapa menit kemudian, Raka datang dengan membawa beberapa obat. Maydea tersenyum melihat itu. Adiknya selalu saja bertanggungjawab atas perbuatan ibunya.
__ADS_1
"Maaf, Kak! Mama memang keterlaluan," tutur Raka sambil menggeleng. Ia mengakui kalau Gayatri memang jahat, tak perlu membohongi dirinya sendiri. Temperamen wanita baruh baya itu benar-benar buruk. Kadang, Raka yang merupakan anak kesayangannya saja bisa kena pukul kalau ia sedang emosi.
"Sudah biasa. Tak perlu minta maaf. Bukan kamu yang salah." Raka hanya bergumam mendengar itu. Ia sudah hafal dengan kalimat yang memang sudah biasa diucapkan Maydea itu.
"Aku punya tabungan, Kak."
"Lalu?"
"Kalau Kak May mau pergi duluan ke luar kota, itu bisa—" Belum sempat Raka menyelesaikan ucapannya, namun Maydea sudah menggeleng. Jelas, itu akan sangat merepotkan adiknya. Rasanya janggal dan memalukan, mengingat bagaimana seorang kakak sepertinya, harus bergantung kepada adiknya.
"Itu uang kamu, Raka ...! Kakak akan merasa bersalah kalau menggunakan uang itu." Maydea menatap Raka dengan lembut. Jujur saja, ia merasa tersentuh dengan perhatian adik tirinya itu.
"Raka enggak merasa repot dan keberatan, kok. Lagi pula, kalau Raka butuh, Raka bisa minta uang ke ...—Ayah." Raka tampak ragu untuk mengucapkan kata terakhirnya; takut kalimat yang dibuatnya malah menyinggung Maydea. Cukup aneh, karena anak tanpa hubungan darah sepertinya, justru lebih mudah mendapatkan sesuatu dari sang ayah; dibandingkan dengan si anak kandung yang hidupnya justru memprihatinkan.
"Cuma satu tahun. Tunggu kamu lulus SMA. Itu yang kamu janjikan, kan?" Mendengar kalimat itu, Raka pun tersenyum. Ya, itu benar. Ia pernah berjanji akan membawa Maydea pergi dari desanya suatu hari nanti—memberi sang kakak kebebasan, seperti yang diinginkan gadis itu selama ini.
"Ya. Semoga Raka berhasil masuk universitas itu," katanya. Raka pun menghela napasnya. Selesai mengobati luka sang kakak, pemuda itu pun meletakkan alat-alat kesehatan ke lantai yang dingin. Sejenak, ia merasa prihatin dengan kondisi itu.
"Butuh selimut tambahan gak, Kak? Aku kasih kalau mau." Pertanyaan Raka membuat Maydea tersenyum tipis, lalu menggeleng beberapa detik kemudian.
Raka pun menghela napas, lalu menatap ke luar rumah, di mana orang-orang berlalu lalang di sana. Cukup ramai karena tempat ini, memang dekat dengan perkebunan dan toko-toko yang menjual kebutuhan pokok.
"Kalau aku enggak keterima 'gimana, ya, Kak?" tanya Raka tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.
"Belum tentu, Kak ...! Di luar sana masih banyak yang lebih pintar dari aku, dan mereka juga bisa ditolak oleh kampus impian mereka."
"Mungkin mereka pemalas." Maydea membalas singkat. Jawabannya benar adanya, namun seperti tak ada kepastian di sana. Mungkin?
"Aku kadang juga malas."
"Cuma kadang, Raka ...! Kalau kadang atau sesekali, itu namanya, kamu bukan pemalas; cuma lelah dan bosan, mungkin," sanggah Maydea. Raka yang mendengar itu pun tersenyum. Berkat sang kakak, ia punya semangat lebih untuk masuk di universitas impiannya. Ya—menjadi orang sukses untuk membanggakan dan membahagiakan gadis itu. Tak peduli mereka tak memiliki hubungan darah sekalipun. Anggap saja itu sebagai upaya balas budi atas segala kebaikan Maydea dan Satria kepada dirinya; juga permintaan maaf atas segala kesalahan ibu dan kakaknya. Ia sungguh menyayangi Maydea; juga kecewa pada sang ibu yang senang bertingkah seenaknya.
"Kebahagiaan Kak May, pasti akan datang. Aku janji," tutur Raka. Ia memang murah mengucapkan janji; namun ia tak akan berbohong. Ia akan menjamin itu. Ia akan membuktikan ucapannya dengan segala usahanya. Itu hak Maydea, karena ia pun sudah berjanji atas hal itu.
"Jangan terlalu mudah mengucapkan janji! Akan menyulitkan kalau kamu tidak bisa menepatinya," kata Maydea. Raka yang mendengar itu mengerutkan keningnya.
"Kak May percaya Raka, kan?" tanya Raka. "Kakak pasti bisa bahagia, seperti dulu. Kak May, pasti bisa meraih impian Kakak untuk menjadi penyanyi terkenal," ucapnya.
Maydea memejamkan matanya. Benar, ia punya impian. Namun, keyakinan di hatinya agar semua itu bisa terwujud, kecil adanya. Ia tak seperti orang lain yang punya orang lain di baliknya. Jika hanya dirinya, apakah itu cukup?
"Aku buat lagu baru. Mau 'nyanyi gak, Kak?"
"Tentang?"
__ADS_1
"Ini acak, sih. Tiba-tiba aja dapat idenya. Ceritanya tentang seseorang yang mau memberi kebahagiaan ke orang yang disayanginya," ungkap Raka. Pemuda itu tersenyum. Lagu itu menggambarkan dirinya; ia yang ingin membahagiakan Maydea.
...««« THE LYRICS »»»...
...You'll be happy...
...You'll be the happiest...
͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏
͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏
...Hey, Babe...
...What are you thinkin' about?...
...So Baby hold my promise...
...So Baby hold my world...
...As like you hold my world...
͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏
͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏
...'Cause you'll be happy...
...You'll be the happiest...
...««« Aka, 24/06/2022 »»»...
Maydea menarik kedua sudut bibirnya setelah membaca sekilas lirik yang Raka berikan kepadanya. Tadi diselipkan di saku seragam putih abu pemuda itu dan diberikan kepadanya dalam keadaan kusut. Mungkin sempat terinjak—atau apa?
"Tadi dibuat mainan sama temanku, Kak," desis Raka. Wajahnya tampak kusut. Maydea rasa, adiknya itu benar-benar merasa kesal.
"Yeah, calm down. No problem, Raka ...! It's still readable." Maydea mengelus pelan pundak Raka, menenangkan pemuda itu. Ya, memang seharusnya ini tidak menjadi masalah besar.
Raka pun menghela napasnya, lalu berdiri dan berjalan menuju sudut ruangan. Pemuda itu membuka kain yang menutupi sebuah benda—sebuah gitar akustik, hadiah darinya untuk sang kakak.
Setelah Raka menyerahkan gitarnya, Maydea tampak merenung. Ia tengah memikirkan nada yang tepat untuk lagunya. Sambil memetik gitarnya, gadis itu memejamkan mata.
Raka menatap sang kakak selama beberapa menit. Ternyata butuh waktu yang lumayan bagi gadis itu untuk berpikir. Ya, Raka mengerti karena itu memang tak mudah. Bahkan, sudah beberapa kali Maydea berganti kunci, melodi, dan posisi duduk. Namun sepertinya, kini, gadis itu sudah menemukan inspirasinya ketika membuka mata.
__ADS_1