
..."Seringkali ada banyak hal yang tidak berjalan sesuai kemauan kita. Namun apa pun yang terjadi, jangan pernah biarkan hal apa pun itu menghalangi jalanmu....
...««« FEY »»»...
...͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏...
Maydea merebahkan dirinya di atas kasur untuk tidur seperti biasanya. Namun ekspresinya, benar-benar tak dapat berbohong. Ia gelisah. Gadis tersebut menggigit jari telunjuknya dengan kerongkongan yang tercekat.
Beberapa menit belakangan, Maydea jadi lebih sering mengembuskan napasnya. Ia tak bisa tenang dengan fakta yang baru saja diketahuinya. Semua ini terasa aneh dan mengusik nuraninya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa tenang jika terus seperti ini," gumam Maydea. Sedari tadi, ia terus mencoba untuk menidurkan diri—namun ketika ia memejamkan mata, bayang-bayang Gayatri terus menghantui pikirannya. Selain mengganggu di alam nyata, wanita tua itu, kini juga mengganggu alam bawah sadarnya.
"Dia menyembunyikan rahasia ini. Aku yakin yang lain tidak tau; hanya aku yang mengetahuinya," lirih Maydea. Gadis itu terus bergerak dari atas kasurnya yang keras. "Tapi untuk apa? Untuk apa dia melakukannya?" sambungnya.
Maydea bangun dari posisi tidurnya. Dalam posisi berdiri, ia terus mondar-mandir. Ia mengusap wajahnya kasar dan mengeluarkan napasnya dengan gusar.
"Lalu apa yang dikatakan Bunda di dalam mimpi itu?" Terdengar, Maydea mendesah kasar, lalu mengambil buku jurnal beserta alat tulisnya. Ia melemparkan benda itu ke kasur secara asal, berikut dengan tubuhnya sendiri.
THE JOURNAL »»»
Hari ini, aku mendapatkan dua kejutan besar. Satu baik dan satu buruk.
Hal baiknya, hari ini, Bunda datang ke mimpiku. Kami mengobrol bersama, dan yang terakhir, dia menceritakan sebuah dongeng untukku dengan cara menyanyikannya. Setelah itu, ia menghilang dan aku terbangun dari bayang semu itu.
Aku sangat merindukan Bunda. Ah, sayang sekali—aku tahu dia mengatakan hal penting, namun aku melupakan bagian itu.
Lalu, kejutan lain datang dari Gayatri. Aku rasa, ini benar-benar sesuatu yang buruk.
Aku tahu ini salah. Gayatri menyembunyikan sesuatu dari kami semua.
Aku tahu, dia merupakan wanita yang licik dan jahat. Sialnya, aku lupa bahwa aku tak tahu apa pun tentangnya. Identitasnya sebelum menikah dengan Ayah, benar-benar terasa misterius bagiku.
Kini, aku tahu kalau Gayatri melakukan jual beli organ manusia secara ilegal. Tapi untuk apa dia melakukannya?
__ADS_1
What should I do?
Maydea, 22/07/2022 »»»
Puas—gadis albino tersebut pun menutup jurnalnya, lalu memejamkan matanya. Sekarang, ia jadi sedikit lebih tenang. Ia harus fokus; sedangkan perasaan cemas yang berlebihan, justru membuatnya kehilangan poin itu.
"Apa aku perlu menanyakan masa lalu Gayatri kepada Raka?" tanya Maydea kepada dirinya sendiri—namun tak lama, ia menggeleng. Jika ia melakukan hal seperti itu, adik tirinya tersebut, pasti akan curiga. Akan aneh kalau Maydea yang biasanya tak peduli, tiba-tiba menanyakan hal semacam itu.
"Tak perlu dipikirkan! Ya! Selagi Gayatri tak tahu jika aku tahu, kurasa aman," bisik Maydea. Ia telah merebahkan dirinya dengan santai di atas kasur. Dalam sekelebat, matanya terpejam. Bayang Gayatri pun mulai menghilang. Gadis itu sudah siap menghampiri alam mimpinya.
'Semoga ..., Bunda datang lagi ke mimpiku. Apalagi, aku melupakan hal penting itu,' harapnya.
»»»
Sang surya mulai menampakan badannya dari cakrawala. Ayam jantan pun berkokok. Siulan burung menjadi simfoni yang indah di pagi hari ini.
Embun-embun tampak menetes dari dedaunan. Kabut tipis terasa mengganggu jarak pandang. Hawa dingin, sekarang, justru terasa menyegarkan. Apalagi, ada mentari yang selalu memberi kehangatan.
Seperti biasa, suasana di desa, tampak begitu tenang di fajar ini. Seorang lelaki berusia 30 tahunan, terpantau tengah melakukan rutinitas hariannya. Dengan busana yang begitu santai, ia menenteng beberapa alat berkebun di tangannya. Sebuah siulan pun terdengar dari bibirnya yang mengerucut.
"MALING! MALING! ADA MALING!" teriaknya, keras. Secara spontan, instingnya mulai bekerja. Ia yang teringat akan tanggung jawabnya pun tak terima jika ada orang asing di bangunan yang dijaganya. Sontak, ia pun memukul sosok itu secara bertubi-tubi dengan sapu lidi di tangannya.
Terlihat, sosok yang awalnya tak terganggu dengan suara perusak telinga itu pun mulai terusik; bersamaan dengan beberapa warga yang mulai berdatangan berkat teriakan pria tadi. Mereka yang baru sampai pun bergabung untuk memukuli sosok yang diduga maling itu.
"STOP! STOP! ARGH! PAK BARA—INI SAYA: KEERAN! TOLONG HENTIKAN! ARGH! INI SAKIT!" Sang pemuda yang dipukuli itu melaung penuh derita. Wajahnya sudah babak belur, namun para warga seakan tuli. Ia pun meringkuk seperti bayi, hingga tiba-tiba salah seorang pelaku ada yang mengambil cangkul.
'Eh, ini seperti tidak asing!' batin Bara yang pertama kali menemukan keberadaan Keeran tadi.
"Astaga! Ini ..., ini ..., i—ini, kan ..., TUAN KEERAN!" Mulut Bara pun terbuka lebar-lebar. Ternyata, ia sudah salah sangka dengan menuduh majikannya sebagai pencuri.
"BERHENTI SEMUA! INI HANYA SALAH PAHAM! EH, EH! MAU APA KAMU?! LEPAS CANGKULNYA, DIDIT! KAMU MAU MENCELAKAI MAJIKAN SAYA?! CUKUP SEMUA!" Bara jadi berkoar-koar sendiri. Ia menghentikan warga dengan meloncat-loncat. Agaknya, ia benar-benar frustrasi akan kesalahannya.
"Aduh ...! Ini salah paham, semua ...! Laki-laki ini, majikan saya—tadi cuma salah paham," ungkap Bara. Semua warga tampak menghela napas kecewa. Mereka semua, lalu menatap Keeran yang masih berada dalam posisi meringkuk. Sontak, rasa bersalah pun datang.
__ADS_1
"Tuan ...!" lirih Bara sambil menyentuh bahu Keeran. Ketika pemuda itu berbalik, mereka semua pun terkejut dengan apa yang mereka lihat. Wajah tampan Keeran sudah penuh luka! Sudut bibirnya, bahkan mengeluarkan darah.
Bara pun meringis ngeri kala menangkap sorot tajam nan dingin dari sang majikan. Warga yang ketakutan, mulai berpergian. Didit yang tadi sempat ingin memb^cok Keeran dengan cangkul pun langsung meletakkan benda itu kembali, lalu berlari terbirit-birit.
"Maaf, Tuan ...! Maaf ...! Bara benar-benar tidak tahu kalau itu Tuan Keeran. Saya kan, tahunya Tuan datang besok bersama yang lain," tutur Bara sambil membungkuk di hadapan yang majikan. Keeran pun hanya diam sembari meringis. Ia menahan sakit di sekujur tubuhnya. Orang-orang tadi benar-benar kejam.
"Seharusnya dipastikan dulu, Pak Bara ...!" kata Keeran dengan nada penuh penekanan. Ia memejamkan mata menahan amarah. Ingin menyalahkan, namun hanya salah paham. Masalah ini bisa dibawa ke ranah hukum, tapi ia tak ingin melakukannya karena malas berurusan dengan polisi. Pasti sangat ribet!
"Tunggu! Saya ambilkan obat sama minum dulu ...!" Bara tampak tergesa-gesa pergi ke rumahnya. Beberapa menit kemudian, ia pun kembali lagi dengan seorang wanita tua yang membawa secangkir teh di tangannya. Oh, Keeran ingat siapa dia!
"Bibi! Lihatlah apa yang diperbuat anakmu kepadaku! Kamu harus menghukumnya!" ujar Keeran, mengadu. Ia menyeka darah yang menetes dari wajahnya. Coba pikirkan—bukankah luar biasa jika liburan indah kalian, ternyata malah dibuka dengan adegan penganiayaan seperti ini?
"Nanti saja urus dia! Astaga! Biar Bibi mengobati lukamu!" Melihat wajah penuh kekhawatiran itu, Keeran hanya tersenyum dengan wajah bonyoknya. Namun hanya sebentar karena ia merasa perih di sudut bibirnya. Ah—apa reaksi saudara-saudaranya jika melihat ini besok?!
"Tuan—maaf, ya ...!" pinta Bara sambil menyatukan kedua telapak tangannya. Pria itu pun kemudian mulai membantu ibunya untuk mengobati luka Keeran yang pasti sangat menyakitkan. Beruntung sekali, ia sadar sebelum si Didit benar-benar menyakiti tuannya dengan cangkul tadi.
"Tidak bisa! Karena kamu, liburanku terganggu. Bahkan, aku hampir mati, Bara ...! Aku tidak mau tau—kamu harus mengumpulkan orang-orang yang tadi menganiaya aku dan suruh mereka meminta maaf kepadaku. Terutama yang namanya Didi-Didi tadi!" ketus Keeran. Bara pun menyanggupinya dengan sungguh-sungguh.
"Apakah setelah itu kamu akan memaafkanku?"
"Lakukan saja! Memaafkan atau tidak, itu tergantung aku nantinya!" kata Keeran. Ia menatap Bara dengan tajam.
"Nah ..., bagian wajah sudah selesai. Tehnya diminum dulu, ya ...!" ujar Sarah, ibu Bara. Wanita tua itu menggelengkan kepalanya dengan prihatin, lalu menghampiri sang anak yang tengah berlutut beberapa meter darinya. Sebal, ia pun segera menarik kuping lelaki itu.
"Anak nakal! Kamu sudah melukai tuanmu sendiri!" geram Bibi Sarah, sambil memperkeras jewerannya. Bara pun tampak pasrah, meski ia rasa, telinganya sudah akan putus karena itu. Biar bagaimanapun, ia memang salah.
"Sudah, Bi ...! Nanti saja hukumannya. Dia harus melakukan perintahku dulu," tutur Keeran. Kemudian, ia kembali meringis kesakitan. Pemuda itu memegang ujung mulutnya yang memar sambil mengingat kejadian semalam.
...««« AUTHOR'S NOTE »»»...
Halo semua! Sebagai Author, saya harap, kalian menyukai cerita ini! Jangan lupa memberi dukungannya, ya! Oh, iya—jika ada pertanyaan, silakan tanya di grup chat atau chat Author secara langsung!
Anyway, maaf banget kalau bab ini agak pendek. Terima kasih atas dukungan kalian!
__ADS_1
...««« GOOD LUCK »»»...