MAYDEA: Titik Balik

MAYDEA: Titik Balik
Kemampuan


__ADS_3

..."Seisi dunia boleh membenciku. Namun itu tak akan menjadi penghalang di antara aku dan mimpiku. Hanya orang bodoh yang tak mau mengakui sesuatu yang dimiliki orang lain, sedang ia pun tak memiliki sesuatu itu."...


...««« MAYDEA »»»...


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


Maydea tertawa pelan seusai memainkan lagunya. Gadis itu mengusap wajahnya sekilas, lalu menatap sang adik yang ternyata tengah mengangkat ibu jarinya—memberi pujian kepada sang kakak.


"That's good!" ungkap Raka, memberikan apresiasinya. Melihat itu, Maydea mengangkat alisnya. Agaknya, gadis itu merasa ragu dengan kemampuannya sendiri.


"Really?" Mendengarnya, tanpa pikir panjang pun Raka mengangguk. Tentu saja! Suara Maydea terdengar nyaman di telinganya. Bahkan, pemuda tersebut pun juga suka dengan melodi sang kakak yang baru didengarnya tadi.


"Sayang jika kita tidak mendokumentasikannya," tutur Raka, sambil mengambil ponsel pintarnya; namun Maydea, justru tampak kebingungan—membuat Raka mengerutkan keningnya dengan heran.


"Kenapa?"


"Oh, aku lupa dengan melodinya. Kamu ingat, Raka?" tanya Maydea. Raka tampak terdiam. Pemuda itu tengah berpikir. Ia memang mengingat nadanya, namun akan sulit menjelaskannya ke Maydea. Apalagi, ia tak cukup peka dengan nada. Bukan tak mungkin ia akan salah memberi arahan. Tapi ..., apa salahnya mencoba?


Raka mulai bernyanyi. Suaranya terdengar agak fals—ya, karena dia memang tidak belajar teknik vokal apa pun dan dia juga tidak terlalu senang mendengar musik—namun setidaknya, itu bisa membantu Maydea. Perlahan, gadis itu mengingat kembali melodi yang diciptakannya tadi.


"Aku ingat! Kamu harus cepat merekamnya sebelum aku melupakannya lagi."


Raka yang memegang ponselnya, segera membuka aplikasi video, dan menekan tombol untuk merekam sembari memberikan arahan kepada Maydea untuk mulai bernyanyi. Dengan senang hati Raka melakukannya. Toh, jika bukan dirinya, siapa lagi yang mau mendukung Maydea? Bukankah sangat disayangkan jika bakat sang kakak disia-siakan hanya karena lingkungan yang tidak suportif?


"Ayo makan, Kak! Raka lapar. Kak May pasti juga lapar, kan? 'Udah waktunya makan siang, nih!" ajak Raka sambil melihat arloji yang melingkupi pergelangan tangannya. Jam setengah dua siang—13.30 WIB—pantas saja perutnya terasa tak nyaman.


"Masak mi? Kamu mau, Raka?"


Mendengar pertanyaan sang kakak, Raka mengangkat alisnya. Pemuda itu menggaruk tengkuknya, lalu menyipitkan mata. "Gak baik makan mi terus. Kita beli aja di warung. Atau—" Raka membentuk simpul di bibirnya, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Maydea. "—kita makan di rumah. Tadi, aku lihat Mama mau pergi. Kayaknya bakal lama. Jadi, rumah lagi sepi. Cuma ada pembantu di sana," bisik Raka, melanjutkan kalimat rumpangnya.


"Kalau ada yang mengadu?" Maydea menaik-naikkan alisnya, menggoda sang adik. Sejujurnya, ia ingin tahu bagaimana cara Raka menyelesaikan masalah yang mungkin saja akan terjadi. Ya, hanya mengetes.

__ADS_1


"Mbak Ratih, kan, komplotan kita! Mestinya aman. Lagi pula, warga sekitar juga enggak begitu peduli. CCTV juga cuma ada di luar rumah. Aku bisa kasih alasan ke Ibu kalau dia sampai tau," tutur pemuda tersebut. Ia, lalu menarik gitar sang kakak untuk diletakkan kembali ke tempatnya.


"Ayo, Kak May! Mbak Ratih pasti senang kalau kedatangan teman!"


Maydea menerima ajakan Raka dan segera berdiri dari tempatnya. Mereka berdua pun beranjak dari rumah kecil tersebut.


...««« BEBERAPA WAKTU KEMUDIAN »»»...


"Mbak Ratih! Ada Kak May, nih!" Raka berseru senang sembari menghampiri seorang wanita berbusana daster bermotif batik itu. Namanya Ratih, salah seorang asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di kediaman Satria—lebih dari satu dasawarsa. Usianya baru 28 tahun; namun ketika kecil dulu, ia sering ikut orang tuanya yang juga bekerja di rumah ini. Maka dari itu, tak heran lagi jika ia mengenal dan tahu banyak hal mengenai Maydea, meski sebenarnya mereka tak cukup dekat karena sikap gadis itu yang cenderung pendiam, cuek, dan tertutup. Baru beberapa bulan belakangan mereka menjadi sedikit lebih akrab berkat keberadaan Raka yang pintar menjadi penengah di antara keduanya.


"Masak apa, Mbak?" tanya Raka. Mendengar itu, Mbak Ratih pun menyunggingkan senyumnya, lalu melirik Maydea yang tengah mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Tadi, Nyonya minta rendang. Tapi kalau Aden minta masakan lain, bisa Mbak buatkan," jawab Mbak Ratih. Raka mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar itu. Rendang adalah makanan kesukaan kakak perempuannya, Gendhis. Ah, apa mungkin ibunya sedang pergi untuk menjemput gadis itu?


"Ibu pergi ke mana, Mbak? Jemput Mbak Gendhis?"


"Iya, Den. Baliknya sekitar jam empat sore nanti kayaknya. Mereka kalau jalan berdua, kan, biasanya mampir-mampir dulu. Oh, saya siapkan makanannya, ya?"


'Apa mungkin Kak May seorang indigo? Kadang, dia juga suka bicara sendiri, kan?' batin Raka.


"Lihat apa, Kak?" Raka menyipitkan matanya, memandang curiga ke arah Maydea. Kadang, ia ingin bertanya secara terang-terangan, namun takut menyinggung sang kakak.


"Tempat sampahnya bagus," jawab Maydea, acak. Mendengar itu, Raka tergeletak. Kenapa pernyataan itu terdengar aneh sekali? Padahal, semua tempat sampah, bentuknya juga seperti itu; namun kenapa yang satu ini bisa menjadi pusat perhatian kakaknya?


"Jawabannya ada-ada aja, deh." Maydea pun hanya tersenyum tipis berkat perkataan adiknya.


Sejujurnya, alasan Maydea melihat ke ujung ruangan sana, tentu saja bukan karena tempat sampahnya yang cantik, melainkan karena ada hal lain yang menarik perhatiannya di sana. Ya—itu merupakan sesosok makhluk yang tidak gadis itu ketahui bagaimana wujudnya dengan jelas, namun hampir bisa dipastikan bahwa itu sejenis hantu.


Sepanjang ingatan Maydea, makhluk itu selalu menghadap ke arah tembok, hingga yang terlihat hanya punggungnya. Tapi itu pun sudah cukup mengerikan, karena gadis albino itu bisa menyorot ke betapa hancur dan menjijikkannya bagian belakang itu. Hanya darah kental yang bercampur makhluk kecil sejenis belatung. Ya, 'hanya' karena Maydea, bahkan pernah melihat yang lebih mengerikan dari itu.


Selama bertahun-tahun belakangan ini, Maydea selalu dibuat penasaran oleh makhluk itu. Tentang apa tujuannya di rumah ini, sejak kemunculannya, pada tujuh hari sebelum kematian ibu Maydea. Terkadang, perempuan itu merasa, kalau semua ini ada kaitannya. Ah—apa mungkin ini sejenis guna-guna?

__ADS_1


"Nah, ini makanannya sam—eh, Non? Den?" Kedatangan Mbak Ratih menyadarkan Maydea dan Raka dari lamunan mereka. Wanita yang baru datang itu, tampaknya kebingungan dengan tingkah dua anak majikannya yang menatap ke ujung sana. "Lihat apa? Kok Non sama Aden sampai melamun begitu?"


"Tempat sampahnya menarik, ya, Mbak?"


"Hah?! Maksud Aden?"


"Bukan hal penting. Lupakan!" Maydea melirik sekilas ke sang adik, lalu menatap makanan yang tersaji di atas meja. Ia sadar, bahwa jawaban yang ia sodorkan kepada Raka tadi, memang sangat konyol. Tapi ia tak peduli tentang itu, karena pada dasarnya, ia memang tidak berniat memberi jawaban. Ya, biarkan saja adiknya itu terus bertanya-tanya.


"Mau ikut makan?" tawar Maydea, namun Ratih menggeleng. Ia masak terlalu banyak hari ini dan ia makan dengan bagian yang sengaja ia sisihkan untuk dirinya sendiri. Tak ada larangan untuk itu; tak akan ada yang memarahi, selagi ia tak mengambil porsi yang belebihan.


"Tadi sudah makan, Non."


"Oh." Maydea mengangguk paham, lalu menarik kedua sudut bibirnya dengan netra yang sesekali melirik ke pojok sana. Keberadaan itu, sejujurnya saja membuat ia merasa tak nyaman; belum lagi dengan fakta lain, bahwa ia sudah diusir dari rumah ini.


Ketika makan, tampak jelas Raka selalu mengawasi Maydea. Sang kakak menyadari itu, namun lebih memilih untuk mengabaikan. Faktanya, gadis itu pun menyadari alasan Raka berperilaku seperti itu. Ya, apalagi jika bukan karena penasaran?


"Ada apa, Raka?" tanya Maydea setelah menelan makanannya. Pemuda dengan seragam lengkap yang ditanya seperti itu pun tampak terkejut dan kelabakan. Sejujurnya, ia tidak menduga Maydea akan bertanya seperti itu kepadanya; ya, meski ia pun tahu jika perbuatannya cukup mencolok.


"Kak May cantik," jawab Raka. Ia berbohong, tetapi dengan menyertakan fakta. Jadi, meski yang ia jadikan alasan bukan hal yang sebenarnya, namun apa yang dia ucapkan benar adanya—Maydea memang cantik.


"Tapi, sepertinya bukan itu alasannya," bisik Maydea. Raka yang mendengar itu, ingin tersedak rasanya—tersedak oleh fakta.


"Habis makan, kamu harus ganti baju. Seragam sekolah yang baunya menyengat, Raka!"


"Ha?! Apa iya?" Raka mencium aroma seragamnya—memang asam. Pemuda itu, kemudian menggaruk tengkuknya. Ia memang sengaja tidak berganti busana. Toh, besok hari Minggu.


"Kak—ada kemampuan lain selain 'nyanyi, gak?" tanya Raka, tiba-tiba.


"Kemampuan seperti apa yang kamu maksud?" Maydea mengerutkan keningnya. Ia pura-pura tidak mengerti. Lagi pula, dengan cara apa pun, ia harus tetap menyembunyikan fakta bahwa ia seorang indigo. Bahkan, Raka pun juga jangan sampai mengetahui hal itu. Ya, tidak dengan penekanan. Tapi akan lebih baik jika kemampuan itu ia sembunyikan.


"Ya, indigo misalnya," kata Raka. Sang kakak yang mendengar itu, hanya tersenyum penuh misteri—membuat tanda tanya besar memenuhi pikiran sang adik. Ada berapa banyak hal yang disembunyikan Maydea?

__ADS_1


__ADS_2