MAYDEA: Titik Balik

MAYDEA: Titik Balik
Candra


__ADS_3

..."Kita melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan kita bisa menembus kaca dan melihat sekilas apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan melihat lebih banyak lagi. Tapi, kita tak bisa lagi melihat diri kita sendiri."...


...««« CECILIA AND THE ANGEL (2022) »»»...


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


Maydea menatap bulan yang menerangi kelamnya malam ini. Cahayanya meluas—melingkupi permukaan Bumi hingga tak ada lagi seberkas sinarnya yang tersia-siakan. Bintang yang seolah bersembunyi, membuat sang candra semakin memancarkan aura kemuliaan dari atas sana.


"Apa Bunda mendengarkanku dari atas sana?" gumam Maydea. Gadis itu selalu berharap, bahwa langit selalu bisa menyampaikan pesan-pesannya, entah kepada Bunda ataupun Sang Pencipta.


Sejenak, Maydea yang merasa hampa pun menyorot ke bawah sana. Sang albino, kemudian tersenyum. Cahaya dari rumah-rumah itu, tampak seperti bintang dari atas sini, di mana ia berpijak. Hal yang sedang tak dapat ditemukannya dari dirgantara, ternyata bisa didapatkannya dari bentala.


"Aku rindu sekali dengan Bunda," ungkap Maydea. Gadis itu memejamkan mata dengan pikiran yang berkelana, mencoba membayangkan sang ibu tengah ada di sampingnya.


"Alexa ...!"


Sebuah suara yang berbisik, berhasil mengagetkan Maydea. Gadis itu menoleh ke samping ketika mendengar vokal bertipe alto yang terasa familier di telinganya. Benar dugaannya, itu Bunda. Dalam sekejap, ia sudah menghamburkan dirinya ke dalam pelukan wanita berparas ayu tersebut.


"Bunda ke mana saja? Aku merindukanmu," tutur Maydea, yang tengah berada dalam rengkuhan bayang Mayla. Gadis itu menyorot dalam netra ibunya. Ia bisa menangkap kelembutan dari sana—hal yang selalu dirindukannya.


"Di sebuah tempat baru. Suatu hari, kamu juga akan ke sana, Alexa ...!" Sang bunda berucap dengan nada yang amat halus. Namun Maydea yang mendengar itu, justru merasakan sesak di dadanya. Bulir-bulir bening pun menetes begitu saja dari pelupuk matanya.


"Kalau begitu, bawa aku sekarang saja, Bunda ...!" pinta Maydea. Gadis albino tersebut mengangkat tangannya tinggi-tinggi, seolah ia ingin meraih sang candra dari atas sana.


"Sekarang bukan saatnya, Sayang ...! Tapi Bunda janji suatu hari nanti," kata Mayla dengan tangan yang terjulur ke kepala sang putri dan mengelusnya dengan lembut. Maydea yang merasakan kasih sayang itu, menutup matanya untuk menikmati.


"Kenapa bukan sekarang? Kenapa harus menunggu saat nanti? Aku tak ingin menunggu, Bunda."


"Bunda juga tidak tau apa jawabannya, Alexa ...!"


"Kenapa?"


"Tanyakan hal lain saja." Maydea hanya menghela napas sebagai respon penuturan Mayla. Kini, ia mencoba menidurkan diri di pangkuan sang ibu.


Seolah mengerti, Mayla pun mengelus puncak kepala sang putri dengan cara yang sehalus tadi. Wajahnya yang tampak begitu menawan, memantulkan sinar rembulan—Maydea pun memusatkan seluruh atensinya ke sana.


"Ayah berubah, Bunda ...!" ujar Maydea, mengadu. Ada sedikit harapan di hatinya, bahwa sang bunda akan mendatangi Ayah, lalu memarahinya; namun nyatanya, Mayla hanya tersenyum tipis kepadanya.

__ADS_1


"Bunda tahu," tuturnya.


"Lalu? Apa yang harus kulakukan? Kenapa Ayah berubah?" tanya Maydea.


"Bunda tidak tahu jawabannya, Alexa ...! Tapi—"


"Bunda selalu menjawab tidak tahu," keluh Maydea. Gadis itu menekuk bibirnya ke atas dengan kesal, sedang sang bunda malah terkekeh melihat itu. Seolah gemas, ia mencubit pipi sang putri.


"Bunda ...." lirih Maydea dengan tubuh dan hati yang sama-sama bergetar. Rasa-rasanya, ia masih tak percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi di dalam hidupnya.


"Dengarkan dulu ...!"


"Ya?"


"Kamu harus tetap berjuang. Jangan biarkan suatu hal apa pun menghalangi mimpimu, Alexa ...!" Mayla meraih tangan anaknya, lalu memberi kecupan di sana. Di bawah sinar sang candra, mereka melepaskan kerinduan yang meledak-ledak setelah bertahun-tahun tak berjumpa.


"Bagaimana kalau aku ingin menyerah? Ini melelahkan ...!"


"Berjanjilah untuk tidak melakukannya. Jangan biarkan dirimu kehilangan jiwamu, Alexa ...! Jangan sampai kamu kelihatan dirimu sendiri, meski kamu telah kehilangan banyak hal di dunia ini," tutur Mayla, menasihati. Maydea yang mendengar itu pun menarik simpul tipis di bibirnya. Ia menyeka matanya yang sudah berair, lalu mengangguk.


"Aku janji!"


"Kenapa Tuhan tidak adil kepadaku, Bun?" tanya Maydea, tiba-tiba. Gadis itu berhasil memecah keheningan.


"Itu yang selalu dikeluhkan orang-orang. Kamu hanya perlu menikmati hidup dengan caramu sendiri, Alexa ...!" Ucapan Mayla, membuat Maydea mengerucutkan bibirnya. Jujur saja, ia tak puas dengan jawaban itu.


"Bilang saja kalau Bunda juga tidak tahu dengan jawaban pertanyaan itu," sanggah Maydea. Akibat penuturan itu, Bunda pun terkekeh pelan.


"Bukan maksud Bunda seperti itu, Alexa ...! Hanya saja, bukankah lebih baik kamu memikirkan jawabannya sendiri?" kata Mayla. Wanita itu masih mengelus pelan surai sang putri.


"Kenapa begitu?"


"Karena dengan menggunakan akal, manusia jadi bisa lebih 'sedikit' memahami tentang Sang Pencipta. Tentunya, juga karena kamu lebih bisa memahami sesuatu yang kamu pikirkan sendiri daripada yang kamu tahu dari orang lain," ungkap sang bunda. "Namun, hal yang harus kamu ingat, bahwa jawaban yang sesungguhnya hanya diketahui oleh Tuhan itu sendiri—sedang kita hanya bisa mencoba memahami-Nya," sambung wanita tersebut.


"Karena manusia hanya melihat segala sesuatu dalam cermin?"


"Kamu masih mengingatnya?"

__ADS_1


"Iya—itu novel yang Bunda ceritakan padaku, kan, waktu aku masih kecil? Dialog indah surga dan bumi ...," tutur Maydea dengan pikiran yang menerawang. Gadis itu, lalu tersenyum. Sejak usia sepuluh tahun, ia sudah menjadi penggemar Jostein Gaarder dan karya-karyanya.


Mayla tersenyum tipis dengan kepala yang mendongak—menatap sang candra dengan netra coklatnya yang terang. "Kamu akan bahagia, Alexa ...! Bunda berjanji kepadamu," lirihnya.


"Aku merindukanmu, Bunda ...!" ungkap Maydea. Dilihatnya sang ibu yang tengah tersenyum, menatapnya penuh sayang. Sontak saja, hati gadis albino tersebut menghangat—sudah lama ia tak merasakan ini.


Maydea pikir, jika yang dialaminya sekarang hanya mimpi, maka tak masalah jika ia terjebak di bayang semu ini selamanya; bersama sang bunda yang dicintainya. "Bisakah aku di sini selamanya? Mau Bunda menemaniku?" tanyanya. Ia tak mau berpisah dan ini pertama kalinya Mayla datang walau hanya di mimpinya. Tentu saja, Maydea merasa begitu bahagia karena ini.


"Bunda punya sebuah rahasia," tutur Mayla.


"Apa itu? Apa Ayah mengetahuinya?"


"Ayahmu tidak tahu, Alexa ...! Ini Bunda lakukan untuk berjaga-jaga. Di area halaman sempit rumah kecil tempat tinggalmu sekarang, Bunda menyimpan sejumlah harta untukmu. Tertanam di dekat pohon cemara." Mayla menerbitkan senyumnya. Beruntung, ia sudah menyiapkan bekal untuk anak semata wayangnya. Wanita itu harap, ini bisa membantu Maydea.


"Aku akan mencarinya. Bisakah aku kabur ke kota dengan itu?"


"Itu lebih dari cukup, Alexa ...!"


"Aku mau dengar Bunda bercerita. Maukah kamu melakukannya sambil bernyanyi?"


"Tentu. Apa pun untuk putri kecil Bunda. Tidurlah ...!" Hanya itu yang diucapkan Mayla. Ia menatap dalam sang putri di pangkuannya, lalu mulai melakukan tugas terakhirnya.


"Di suatu desa kecil, hiduplah seorang gadis cantik yang pintar dan baik hati. Semua orang mencintainya, hingga suatu hari seorang pemuda tampan dari kota datang ke sana. Mereka berkenalan, lalu menjadi semakin dekat ...."


Maydea tersenyum tipis sembari memejamkan matanya. Apa yang diceritakan Mayla, sebenarnya terasa membosankan baginya—namun rasa rindunya akan cerita dan suara merdu sang bunda, lebih besar dari itu.


Lama-kelamaan, Maydea pun mulai mengantuk. Perlahan, semuanya berubah menjadi samar. Suara Mayla, perlahan mengecil dan akhirnya menghilang—lalu tubuhnya menjadi transparan dan menghilang. Sesaat setelah itu, Maydea pun segera tersadar.


»»»


"Bunda ...!" lirih Maydea. Gadis itu mengucek matanya, menatap ke langit malam. Pandangannya mengedar ke sekeliling. "Tadi hanya mimpi?" gumamnya, lalu menarik napas dalam-dalam.


Maydea segera bangkit dari tidurnya. Ia terlalu nyenyak. Kini, ia melakukan peregangan terhadap otot-ototnya yang terasa pegal. Ia ketiduran di tempat terbuka seperti ini. Beruntung saja tak ada orang jahat di sekitar sini yang berniat menyakitinya. Lagi pula, desanya tergolong aman. Seumur hidupnya, Maydea hanya sekali dua kali mendengar ada orang yang melakukan tindak kriminal—dengan Gayatri yang tak terhitung di sana, tentunya.


"Sudah tengah malamkah?"


"Aku rasa Bunda memberitahu suatu hal penting di mimpi. Tapi apa? Kenapa aku malah melupakannya?" Maydea menggeram, lalu mengembuskan napasnya secara kasar. Gadis itu menatap langit malam dari tempatnya. Ia suka malam, namun membenci sesuatu di baliknya. Apa lagi kalau bukan ..., mereka.

__ADS_1


"Ah, aku melupakan itu." Sekejap, gadis albino itu merasakan jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Namun ia mencoba untuk tetap tenang. Yang penting, mereka tak pernah menyakitinya; paling sering hanya berbisik dengan menampakkan muka seramnya. Lagi pula, Gayatri terasa lebih mengerikan daripada makhluk-makhluk itu.


"Candra ...." Maydea menatap rembulan dengan netra birunya, lalu tersenyum. Di sana, benda langit itu tampak memesona dengan pancaran sinarnya yang agung. Ia menyukai sang candra seperti ia menyukai namanya sendiri ~ Candra—Chandrawinata.


__ADS_2