MAYDEA: Titik Balik

MAYDEA: Titik Balik
Merasa Aneh


__ADS_3

..."Manusia memang selalu lupa dan ceroboh dalam banyak hal. Lalu sering kali, hal itu membawanya pada masalah yang akan dia sesali suatu hari nanti."...


...««« MAYDEA »»»...


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


Tengah malam telah menyingsing. Satu setengah jam lagi mendekati dini hari. Suasana pun terasa begitu sepi karena semua manusia tengah mengistirahatkan diri. Suara binatang-binatang malam seolah bersimfoni. Suhu yang rendah, jika tanpa pakaian hangat, pasti akan terasa cukup menusuk.


Di sana, pemuda itu mengendarakan motornya dengan perasaan yang waswas. Jantungnya berdetak tak karuan. Penerangan yang minim membuat suasana terasa mencekam. Angin berembus pelan—membelai kulit hingga bulu-bulunya mulai meremang.


'Sial!' Pemuda itu mengumpat di dalam batinnya. Ia tak perlu membohongi dirinya kalau ia memang takut pada atmosfer yang menyeramkan ini. Andai saja ada satu dua orang yang hadir si sekitarnya, ia pasti bisa mengatasi rasa ini—namun tak ada, dan itu membuatnya merasa semakin tenggelam oleh kelamnya kesunyian malam.


'Aku sampai di desa ini terlalu cepat,' pikirnya. Dengan penuh kehati-hatian, ia menoleh ke sekeliling. Menurut penjelasan ayahnya, selama liburan di sini bersama saudara-saudaranya, ia akan tinggal di sebuah vila keluarganya yang letaknya sekitar 300 kilometer dari pintu masuk desa. Untuk saat ini, ia tak berharap apa pun selain segera sampai ke bangunan itu.


Seharusnya, ia berangkat sore ini bersama saudara-saudaranya. Namun dengan beberapa pertimbangan, ia pun memutuskan berangkat lebih awal. Senja hari kemarin, ia memulai perjalanannya—tapi ia tak pernah menduga, kalau ia akan sampai di tengah malam seperti ini. Ia kira, sampai ke kampung ini akan membutuhkan waktu lebih lama karena tempatnya yang lumayan terpencil.


'Ayo Keeran, jangan takut!' batinnya, menyemangati diri sendiri. Ia yakin, beberapa menit lagi, ia akan segera sampai ke tempat tujuannya. 'Sepertinya masih lima puluh meter lagi,' bisiknya, dalam hati.


Keeran mengendarai motornya dengan lebih semangat kala ia membayangkan bahwa ia telah sampai ke tempat tujuannya. Ia jadi lebih lega ketika membayangkan hal itu. Namun sesosok menyilaukan yang lewat di hadapannya, berhasil membuatnya mengerem secara mendadak.


"Sial! Tidak bisakah kamu hati-hati! Hey!" katanya dengan nada yang sedikit meninggi. Ia terbawa emosi—perasaan tertekan berhasil membuatnya jadi sensitif.


"Astaga, Nona?" Keeran yang menyadari kesalahannya, segera turun dari motornya, lalu membuka helm full face-nya. "Maaf—aku terbawa emosi tadi," tuturnya.


Keeran menatap gadis yang berdiri di hadapannya dari atas ke bawah. Makhluk itu tampak benar-benar mencolok. Ia yakin sosok itu seorang albino.

__ADS_1


Dengan sabar Keeran menunggu. Namun gadis tersebut tak kunjung memberi respon, bahkan menghadap ke arahnya pun tidak. "Eh ..., tahu Vila dekat sini, tidak—vila keluarga Virya?" tanyanya, mencoba menggali informasi. Bisa ia lihat, perempuan itu mulai memberi reaksi dengan menolehkan wajahnya.


"Nona?" Keeran tampak tercengang ketika melihat raut sang gadis yang entah mengapa tampak terkejut. Wajahnya cantik, tapi sikapnya yang aneh dan menyeramkan, jujur saja membuat tubuh pemuda tersebut ingin bergetar karena takut. Apalagi, hawa dingin malam ini terasa menusuk kulit.


"Non—hey!" Keeran hanya menggelengkan kepala ketika gadis itu malah berlari cepat menjauhinya. Pemuda itu sempat kepikiran untuk mengejarnya, namun ia tidak memiliki waktu untuk permainan seperti itu. Yang terpenting, ia harus segera sampai ke vila dan mengistirahatkan diri di sana.


'Gadis aneh!' bisiknya, dalam hati. Pemuda itu memakai kembali helmnya sebelum beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu.


"Tunggu! Untuk apa seseorang ada di luar tengah malam begini?" lirihnya dengan jantung yang berdetak cepat. "Jangan-jangan—" Keeran segera menggelengkan kepala berkat pikiran negatif yang merasuk ke otaknya.


"Aku harus segera sampai vila! Bagaimana jika gadis tadi bukan manusia?" ucap Keeran, panik, sembari naik kembali ke motornya dan mengemudikannya. Beberapa detik kemudian, ternyata ia sudah bisa melihat bangunan yang dicarinya—berdiri kokoh dan terawat di ujung sana.


'Aku sampai! Syukurlah aku selamat!' Dengan tubuh yang bergetar, Keeran segera menghentikan kendaraannya ketika sampai di pintu gerbang vila yang terkunci rapat. Ia terdiam beberapa saat, lalu merogoh ke tas kecil di pinggangnya. Kemarin, ibunya memberi kunci bangunan kepadanya.


"Ah—aku lupa jika Kala yang membawanya! Sial!" Keeran menggeram kesal, lalu menendang ban motornya dengan penuh emosi. Ia teledor, dan sekarang, ia bingung harus mengistirahatkan dirinya di mana.


"Tapi bagaimana dengan nasibku?" Keeran mengasihani dirinya sendiri. Pasti, ia terlihat sangat mengenaskan sekarang. Kalau Kalandra dan saudara-saudaranya yang lain tahu, ia pasti akan ditertawakan.


"Sial!" Keeran memandang ke sebuah sofa di depan vila. Sepertinya bukan tempat yang buruk untuk menidurkan diri. Lagi pula, ia membawa sebuah selimut untuk berjaga-jaga; sedang untuk masuk, bisa ia lakukan dengan memanjat pagar setinggi dua meter itu.


"Tidak sia-sia aku pernah membolos dua kali waktu SMA dulu! Yeah—I'm so cool!" seru Keeran. Dengan semangat seperti anak muda yang ingin tawuran, ia bergegas melakukan apa yang ada di buah pikirannya. Dalam sekali coba, ia berhasil; hal itu membuatnya merasa semakin bangga akan pengalaman yang sebenarnya agak tercela itu.


Di sisi lain, Maydea tampak mengerutkan keningnya sembari menatap Keeran dari kejauhan—pada jarak yang menurutnya aman. Pria itu melompat-lompat. Gadis albino tersebut, tentu saja merasa bingung dengan tingkah Keeran yang tiba-tiba terlihat sangat senang sampai seperti itu.


"Apa yang terjadi? Awalnya, dia terlihat marah dan menendang-nendang ban motornya; namun tak lama setelah itu, dia malah terlihat senang seusai berhasil melompati gerbang vila." Maydea melanjutkan kebiasaan bergumamnya. Gadis itu, kemudian menghela napas. Wajahnya yang minim ekspresi, tiba-tiba saja membentuk suatu raut yang malah membuatnya terlihat imut.

__ADS_1


"Untung saja aku ingat dia ada di foto itu. Kalau tidak, mungkin aku sudah menganggapnya orang jahat. Dia datang lebih cepat dari yang pria tua itu bilang," lirih Maydea. Ia kembali menatap sang candra dengan senyum di wajahnya. 'Orang aneh,' pikirnya.


Maydea berlalu pergi. Ia harus segera pulang karena hari semakin larut. Seperti yang dirasakan Keeran; gadis itu juga merasa kalau suasana malam ini sangat mencekam. Bahkan, di sepanjang perjalanan pulang, tubuh Maydea selalu menegang. Sebagai indigo, ia telah melihat beberapa makhluk tak kasat mata di permulaan hari ini. Mereka tak mengganggunya; paling-paling hanya menimbulkan suara-suara menyeramkan seperti tawa melengking, tangisan menyayat hati, atau bahkan nyanyian kesunyian yang selalu membuat Maydea merasa hampa ketika mendengarnya.


Terkadang, Maydea merasa seperti dirinya mayat berjalan. Ia benar-benar sedikit berekspresi dan minim interaksi. Orang-orang sering menyebutnya aneh karena itu; karena selain minoritas secara fisik, sikapnya pun juga sama tak umumnya.


Maydea sering berpikir mengapa sifatnya berbeda dari kedua orang tuanya. Ibunya ramah pada siapa saja; ayahnya Satria, biar telah berubah pun, pria itu tetap menjadi tipe orang yang mudah bergaul. Aneh saja mengingat sifat Maydea tidak dibuat-buat; bukan karena pengalaman buruk atau apa—namun memang alami seperti itu.


'Gayatri?!' Maydea memekik terkejut dalam batinnya. Ia memandang sang ibu tiri dari tempatnya berada, lalu bersembunyi. Dicermatinya apa yang sedang dilakukan Gayatri dengan sosok manusia berbaju serba hitam itu, tapi sayang ia tak bisa mendengarkan apa yang tengah mereka perbincangkan.


Maydea mengernyit heran sampai kedua alisnya benar-benar menyatu. Perilaku Gayatri sekarang, terlihat sungguh mencurigakan. Seolah wanita itu tengah melakukan transaksi barang terlarang. Gayatri menerima kantong plastik yang entah apa isinya dari pria itu, lalu ia menyerahkan sejumlah uang di dalam amplop.


Maydea tampak curiga. Interaksi itu dilakukan cukup jauh jaraknya dari kediaman Chandrawinata. Sekarang, Maydea baru saja merasa tersesat. Ia terlalu asik berpikir hingga tak menyadari kalau ia salah jalan. Namun siapa sangka itu membuatnya menemukan suatu hal yang menarik.


Ada suatu hal yang disembunyikan Gayatri! Ya—pasti! Hal itu, pasti sangat penting.


'Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Gayatri terlihat sangat mencurigakan!' batin Maydea dengan tatapan tajamnya. Ia bersembunyi di balik semak-semak—menyamarkan tubuh serba putihnya yang mencolok.


'Hari baru dimulai. Tapi aku sudah merasa aneh dengan apa saja yang sudah terjadi.'


Maydea masih memantau, lalu tak berapa lama, Gayatri pun berpisah dengan sosok itu. Gadis itu merasa lega karena ia tak ketahuan, tapi ia kaget ketika tahu bahwa seorang berbaju hitam tersebut berjalan ke arahnya. Maydea pun kembali bersembunyi.


"Menjual organ dalam manusia memang sangat menguntungkan! Tidak sia-sia aku bersusah payah untuk itu!" kata sosok tadi, sambil melepaskan topeng yang menyamarkan identitasnya.


Mendengar pernyataan tadi, Maydea membelalakan matanya. Seketika, ia merasa kepalanya sakit. Ia tahu sebuah rahasia besar. Ia merasa hal ini janggal. Ia merasa seluruh hidupnya benar-benar aneh sekarang! Ibu tirinya yang agak misterius itu, ternyata melakukan jual beli organ manusia secara ilegal. Lalu yang menjadi pertanyaan besar, apa tujuannya?

__ADS_1


'Siapa Gayatri sebenarnya? Aku benar-benar tidak tahu identitasnya sebelum menjadi istri baru Ayah. Ah—apakah nyawaku tengah berada dalam bahaya karena aku tahu persoalan itu?'


__ADS_2