MAYDEA: Titik Balik

MAYDEA: Titik Balik
Jurnal


__ADS_3

...Namaku Maydea, Maydea Alexandra Chandrawinata. Ya, nama pemberian Bunda. Namun beberapa orang lebih suka memanggilku May karena menurut mereka, nama itu terkesan lebih singkat dan simpel. Sedangkan Bunda sendiri lebih suka memanggilku Alexa, dan hingga kini hanya ia yang memanggilku begitu....


...Aku senang sekali bisa hidup di dunia ini. Ya, meski beberapa orang yang cukup kolot di desaku kerap memanggilku pembawa sial. Alasannya, tentu saja karena aku berbeda. Berkulit putih, berambut putih, dan bermata biru, atau bisa juga disebut albino. Karena itu pula kulitku sangat sensitif, hingga aku pun jarang keluar rumah untuk berpanas-panasan di luar rumah seperti anak-anak lain. Berbeda juga membuatku dijauhi anak-anak lain, jadi aku memutuskan untuk menulis jurnal ini saja demi mengusir kebosananku....


...Oh, seperti yang kubilang tadi—aku bahagia hidup di dunia ini. Tahu alasannya apa? Tentu saja karena kedua orang tuaku sangat menyayangiku. Rasanya senang sekali karena kami bisa bercanda, berbagi cerita, dan membuat memori indah setiap hari. Oh, tidak—setiap waktu, bahkan!...


...Kalian tahu, aku sangat menyayangi Bunda dan Ayah. Ya, mereka adalah kebahagiaanku. Ya, meskipun Bunda dan Ayah sama-sama bekerja, namun itu tak menghalangi mereka untuk mengawasi pertumbuhanku; dengan adil mereka menjagaku—Ayah tak hanya membebankan tugas mengurus anak kepada Bunda. Intinya, aku sangat bersyukur memiliki mereka; karena kalau dipikir-pikir, banyak juga anak sebayaku yang kekurangan kasih sayang dari ayahnya yang pergi merantau; atau dari ibunya yang harus pintar-pintar membagi waktu antara mengurus anak-anak dan rumah, belum lagi dengan urusan mengontrol emosi....


...Aku, Maydea merasa menjadi anak paling beruntung dan bahagia di dunia ini....


...««« Maydea, 15/04/2011 »»»...


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


Hai, hari ini aku sangat bahagia. Kalian tahu kenapa? Ya, karena hari ini hari ulang tahunku. Ulang tahunku yang ke delapan.


Bunda memberiku hadiah beberapa buku yang sebagian merupakan buku fiksi fantasi anak-anak dan sebagainya lagi buku pengetahuan. Kata Bunda, aku harus senang membaca karena membaca bisa memberiku banyak pengetahuan baru. Selain itu, Bunda juga bilang kalau membaca bisa meningkatkan kemampuan literasi, sehingga kita tidak akan mudah termakan berita palsu.


Ayah memberiku hadiah sebuah ukulele. Hadiah favoritku karena aku memang sudah menginginkan benda itu sejak lama. Ayah dan Bunda mengerti sekali kalau aku senang musik dan memiliki bakat untuk itu. Kata mereka, suaraku bagus dan aku harus melatihnya agar bisa menjadi penyanyi profesional sukses suatu saat nanti. Kata Bunda, dulu, dia juga punya cita-cita ingin menjadi penyanyi, tapi pada akhirnya, Bunda lebih memilih fokus menjadi arsitek, seperti profesi kakek buyutku dulu.


Sejak mengetahui Bunda pernah ingin menjadi penyanyi, aku jadi semakin bersemangat. Aku ingin menjadi penyanyi profesional suatu hari nanti, melanjutkan mimpi Bunda!


Maydea, 21/05/2011 »»»


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


^^^Hari ini, aku sedih karena teman-temanku di sekolah mengatakan bahwa aku anak haram. Sebelumnya aku tidak tahu itu apa hingga salah satu dari mereka menjelaskannya kepadaku. Aku marah dan meneriaki mereka, tapi salah satu dari mereka malah menangis dan mengadu ke guru bahwa aku berbuat nakal. Aku bilang kalau mereka yang memulai, tapi guruku tak mau percaya karena anak-anak lain tak ada yang mau mengakui kebenarannya. Akhirnya, semua menyudutkanku.^^^


^^^Orang tuaku dengan orang tua anak yang bermasalah denganku dipanggil ke kantor guru, tapi orang tua anak itu datang lebih dulu. Mereka memarahiku dan bilang kalau aku memang anak haram. Mereka bilang ibuku selingkuh, karena itu lahirlah aku yang tampak berbeda. Aku tak mau percaya semudah itu dan berteriak ke mereka, lalu mereka menjuluki aku sebagai anak yang tidak punya sopan santun. Aku tak mengerti apa salahku, karena menurutku, aku hanya ingin membalas perlakuan mereka.^^^

__ADS_1


^^^Beberapa menit kemudian Ayah dan Bunda datang dan memelukku. Orang tua anak tadi memarahi kedua orang tuaku dan aku yang tak terima langsung menjelaskan kronologinya. Tentu saya Bunda dan Ayah percaya padaku, lalu kulihat Ayah memberi mereka sebuah amplop yang tak kuketahui apa isinya, lalu mereka pun meminta maaf dan pergi. Tak lama setelah itu guru datang dan bilang kalau masalahnya sudah selesai.^^^


^^^Aku bingung. Ketika di rumah, Bunda dan Ayah menjelaskan kepadaku kalau apa pun hal buruk yang dikatakan orang-orang tak perlu didengarkan. Mereka juga bilang kalau apa yang kualami bisa dijelaskan secara medis, lalu mereka bilang kalau suatu saat nanti, di sekolah aku akan mendapatkan pelajarannya. Aku pun hanya mengangguk paham setelah itu. Sehabis itu, kami saling berpelukan. Mood-ku langsung membaik setelahnya; namun aku masih kepikiran dengan amplop yang tadi diserahkan Ayah kepada orang tua temanku. Apa itu?^^^


^^^««« Maydea, 03/01/2012^^^


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


^^^Hai, rasanya lama sekali aku tak menulis di sini. Enam bulan—ya, aku mengingatnya. Bertepatan dengan kematian Bunda, sejak hari itu, aku tak menyentuh buku ini hingga hari ini tiba.^^^


...Besok hari ulang tahunku yang ke-13. Ulang tahun pertamaku tanpa Bunda. Sedih sekali rasanya. Tapi Ayah bilang, dia punya kado istimewa untukku. Ayah tak mau memberitahu itu apa, karena ia bilang itu kejutan. Aku sangat penasaran dan aku tidak sabar menanti hari esok....


...««« Maydea, 20/05/2016 »»»...


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


Aku sedih. Kado dari Ayah, ternyata adalah ibu sambungku. Ya, ibu tiri. Mereka menikah tiga hari lalu, di luar kota tanpa sepengetahuanku. Jujur saja, aku tak menyangka Ayah akan menyembunyikan hal sebesar itu kepadaku. Aku benar-benar terkejut, dan ... kecewa.


Hal yang mengejutkannya lagi, ternyata aku punya saudara tiri. Ada dua, satu perempuan dan satu laki-laki. Yang satu bernama Kak Gendhis yang usianya empat tahun di atasku, sedangkan yang satu lagi bernama Raka yang usianya dua tahun di bawahku. Terlihat sekali Kak Gendhis tidak menyukaiku; namun Raka, adiknya, tampaknya anak baik-baik.


Hari ini, sejarah baru terbentuk di hidupku. Aku punya ibu sambung dan dua saudara tiri!


Maydea, 21/05/2016 »»»


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


^^^Entah kenapa dari hari ke hari, sifat ayah semakin berubah. Seperti yang kuceritakan kemarin, Ayah memarahiku karena tak sengaja memecahkan vas bunga kesayangan Ibu. Ya, ibu tiriku, Gayatri.^^^


^^^Kurasa, hidupku akan berakhir sekarang. Ayah mengusirku dari rumah, menyuruhku tinggal sendiri di sebuah rumah kecil. Alasannya karena aku ingin melukai Kak Gendhis, padahal tidak sama sekali—itu hanya fitnah.^^^

__ADS_1


^^^Aku tak tahu apa yang terjadi pada Ayah. Dia seperti bukan ayahku. Aku rindu ayahku yang dulu, juga Bunda. Setelah dipikir-pikir lagi, ternyata hidup tak seindah itu. Ya, karena saat itu, aku belum mengerti dunia yang sebenarnya.^^^


^^^««« Maydea, 15/05/2018^^^


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


͏͏͏͏͏


...Hari ini aku berulang tahun. Hidupku di rumah kecil ini, ternyata tak seburuk itu. Setidaknya, aku menemukan banyak buku di sini. Mungkin, rumah ini, dulu adalah perpustakaan mini milik Bunda....


...Sedih sekali karena tak ada ukulele kesayanganku. Satu tahun lalu, Gendhis merusaknya—dengan sengaja, dan aku tahu itu. Aku marah dan menjambaknya, hingga akhirnya Ayah melerai kami. Gendhis bilang, dia tidak sengaja. Ayah percaya padanya dan bilang mau membelikan ukulele baru untukku. Namun itu terdengar omong kosong sekarang, karena hingga kini, ia tak memberikannya kepadaku....


...««« Maydea, 21/05/2018 »»»...


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


͏͏͏͏͏


Empat tahun sudah berlalu. Usiaku 19 sekarang. Terpaksa aku tidak melanjutkan kuliahku karena keterbatasan biaya. Semakin lama, Ayah semakin tak peduli kepadaku.


Kalian tahu yang menyakitkan?


Ayah mau membiayai biaya kuliah Gendhis, tapi tidak dengan kuliahku. Gayatri menghasutnya. Katanya, anak-anaknya lebih menjanjikan dibandingkan aku. Jelas sekali dia mengarang, dan anehnya lagi Ayah mempercayainya. Ayah bahkan tidak tahu kalau aku menjadi juara satu umum di SMA-ku.


Satu-satunya orang yang paling baik padaku adalah Raka. Ya, adik tiriku. Dia baik dan suka sekali menolongku. Dia, bahkan rela memberikan sebagian uang jajannya kepadaku. Sebagai balasannya, aku sering mengajarinya beberapa bahasa asing. Ya, aku memang bisa beberapa bahasa. Dulu, Bunda yang mengajariku. Buku-buku peninggalan Bunda pun sangat membantu.


Ah, ya ..., banyak yang bilang aku ketinggalan zaman. Benar, karena aku memang tak punya ponsel pintar; yang kupunya hanya ponsel jadul peninggalan Bunda, dan itu pun sudah tidak bisa digunakan. Aku pun tidak punya cukup uang untuk membeli barang mahal semacam itu. Ayah juga sepertinya tak tertarik untuk membelikannya secara pribadi kepadaku; apalagi Gayatri.


Meski tak punya smartphone, tapi aku bisa menggunakannya. Raka mengajarkannya kepadaku, pun dengan perangkat elektronik lain seperti komputer. Senang sekali, masih ada dia yang mau peduli kepadaku. Tahun lalu, bahkan, dia memberiku hadiah sebuah gitar akustik baru. Dia beli dengan uang tabungannya sendiri. Aku ingat, Gayatri sempat marah-marah karena itu. Katanya buang-buang uang untuk hal yang tidak berguna. Padahal, kalau dipikir-pikir, dia dan putrinya pun, bahkan lebih parah daripada aku.


Kadang, aku berpikir untuk pergi ke luar kota. Kabur maksudku. Sebenarnya, aku bisa meminta izin, dan aku yakin mereka akan mengizinkanku; apalagi Gayatri—dia pasti senang aku pergi jauh. Namun aku tak mau itu terjadi. Aku yakin, ia akan menjadikanku sapi perah. Aku, mungkin akan bekerja di kota, tapi semua uangku dia yang mengambilnya. Tapi kan, aku bisa kabur ketika sudah sampai di kota sana .... Nah, bukan itu masalah utamanya. Aku tak punya uang, dan itulah penghalangnya. Di sini, aku mungkin bisa bekerja serabutan, namun di kota aku tak yakin. Ayolah—hidup di tempat asing dan sendirian?


Oh ..., aku ingat Raka pernah bilang padaku untuk menunggunya. Itu juga alasanku tetap di sini. Ia bilang, ia mau kuliah di kota supaya bisa membawaku ke sana. Karena itu, dia jadi semakin rajin belajar—demi masuk ke universitas impiannya, juga ... aku. Romantis, kan?


Aku kerap membantu Raka belajar. Dia tipe anak yang pintar, karena itu, tidak begitu sulit mengajarinya. Aku yakin, sih, dia bisa menembus ke universitas impiannya.

__ADS_1


Ah, tapi ..., apakah aku sanggup menanti satu tahun lagi?


Maydea, 13/06/2022 »»»


__ADS_2