
..."Jika terlahir di dunia terasa adalah kesalahan, maka tak ada cara lain selain berdamai dengan kesalahan itu. Apakah hal bijak menyalahkan seseorang atas suatu takdir yang tidak bisa diaturnya?"...
...««« SARAH »»»...
...͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏...
"Kalian ...! Stop, stop!" Kinan berteriak dengan penuh emosi. Bersama Keeran yang ternyata masih memiliki stok kewarasan, mereka pun berusaha untuk melerai dua remaja yang terlibat perkelahian konyol itu.
Keeran menarik Kalandra, hingga keduanya terjatuh ke lantai; sedang Kinan menjewer Dara, hingga kuping gadis itu tampak kemerahan. Austin yang melihat itu memalingkan wajahnya, seakan ia tak melihat apa pun di sana dan ia juga tak terlibat dalam masalah itu. Di lain sisi, Bara hanya dapat tersenyum masam ketika melihat tingkah muda-mudi di hadapannya.
"Mak Lampir!" hina Kala. Remaja itu menjulurkan lidahnya, seolah mengejek sang sepupu.
"Kalajengking! Besok-besok, gue akan jual lo ke tante-tante girang! Biar lo dijengking sama mereka," balas Dara, kasar. Kinan yang mendengar itu pun langsung membekap mulut adik sepupunya. Ia tak tahan mendengar ucapan-ucapan seperti itu.
"SIALAN!" Kalandra melaung murka. Ia merinding ketika membayangkan, bahwa Dara akan benar-benar membuktikan ucapannya. Pemuda tersebut pun mengacungkan jari tengahnya.
"Kalandra!" Keeran menegur. Ia menarik tangan Kalandra dengan cepat dan kuat. Sebagai sosok dewasa, ia harus bertingkah tegas terhadap segala perilaku buruk adiknya.
"Lepas, Bang! Gue ada di pihak lo, ya! Ini pembelaan buat lo!" kata Kala, sok pahlawan. Kedua kakaknya yang mendengar itu pun mendengus.
"Kekanakan!" sindir Keeran. Lelaki itu melepas Kalandra, lalu beranjak untuk mendudukkan dirinya di atas sofa. Kini, ia tampak santai.
"Baikan! Kalau enggak, aku jewer kuping kalian sampai putus," ujar Kinan dengan suara yang dingin. Kala dan Dara yang mendengar itu pun ketakutan, meski mereka tahu, bahwa itu hanya sebuah candaan.
"Jangan Kak Kin!" sanggah Kala dan Dara, berbarengan. Mereka berdua pun saling mendekat, bersalaman, lalu berpelukan sambil mengucapkan kata maaf berulang-ulang. Cukup lama mereka melakukannya, karena ada tatapan Kinan yang memotivasi keduanya.
"Kal!" Dara berbisik pelan sambil berusaha melepaskan dekapan sang sepupu. Tubuhnya yang mungil, ketika berhadapan dengan badan tegap Kalandra, rasa-rasanya ia mau pingsan karena kehabisan napas. Kala yang paham pun langsung melepaskan pelukannya.
"Nice!" kata Kinan. Gadis itu tersenyum dengan diiringi sebuah tepukan tangan. Austin yang melihat itu pun tampak ikut-ikut, seolah ingin memeriahkan suasana—begitu pula dengan Bara. Kedua lelaki tersebut tertawa seperti anak kecil.
__ADS_1
"Bara, apa yang terjadi kepada Keeran?"
Pertanyaan Kinan berhasil mengubah tawa Bara menjadi sebuah pelototan. Tanpa diduga, lelaki itu segera menghampiri sang majikan, lalu berlutut di hadapannya.
"Maaf, Non ...! Ini salah saya! Ini salah saya! Tapi saya tidak sengaja, kok! Sumpah! Saya sama sekali tidak berniat membuat Tuan Keeran menjadi celaka!"
Kinan yang terkejut atas kelakuan tiba-tiba dari Bara pun langsung mendelik. Gadis itu mundur selangkah, lalu menatap sang pria dengan tajam. Ia menarik napas panjang sambil memegang dadanya.
"Jelaskan!" suruh Kinan. Gadis itu, kemudian mendudukkan dirinya di samping Keeran. Ia menaikkan kakinya ke sofa, lalu bersila dan memeluk bantal yang ada. Kedua alisnya terangkat ke atas, seolah bertanya.
"Ini ..., ini salah paham. Semua ini karena saya! Warga mengira Tuan Keeran sebagai maling dan Tuan Keeran dihajar karena itu!" ungkap Bara, dengan kepala tertunduk. Kinan menatap lelaki itu dengan ekspresi yang tak bisa tertebak, sedang Keeran tampak santai-santai saja. Yang lain mendengarkan penuturan Bara dengan hikmat.
"Bagaimana bisa?" tanya Kinan.
"Saya mengira Tuan Keeran maling dan berteriak. Rupanya, itu membuat para warga merasa tertarik dan datang ke sini. Setelah itu, kami semua langsung menghajar Tuan Keeran. Saya tidak sengaja, Nona! Saya tidak mengira itu Tuan Keeran karena wajahnya tertutup selimut," jelas Bara. Lelaki tersebut tampak ketakutan. Ia tahu dengan jelas karakter Kinan—gadis yang lembut dan ramah, namun mematikan.
"Oh. Sebagai hukumannya, kamu akan mendapatkan kerja ekstra tiga minggu penuh, Bujang Lapuk ...! Tidak ada tambahan gaji," kata Kinan, santai. Bara yang mendengar itu pun tampak pasrah sambil mengembuskan napasnya kasar. Austin datang, lalu menepuk bahunya, sebelum ikut mendudukkan diri pada area kosong di sebelah Kinan.
Bara menegakkan tubuhnya, lalu menatap muda mudi di hadapannya dengan lesu. "Saya pamit. Ada banyak hal yang harus di urus. Nanti, Ibu saya akan datang untuk memasak. Saya akan memberitahukan kepadanya terlebih dahulu," lirihnya. Namun, baru akan beranjak pergi, ternyata Sarah sudah tiba dan berada di depan pintu.
"Tuan Satria mengajak kalian untuk makan siang bersama," kata wanita tua tersebut.
Sarah baru saja datang dari rumah Satria. Pria itu memanggilnya dan menitipkan pesan yang isinya mengajak para anak muda dari kota tersebut untuk makan siang bersama, dengan prediksi bahwa mereka berempat akan sampai ketika pagi hari tiba.
"Wah, makan!" seru Kala dan Dara, kompak. Keduanya tampak bersemangat, begitu pun dengan Austin yang langsung tersenyum lebar. Kinan hanya sedikit menarik kedua sudut bibirnya untuk menghormati ajakan tersebut. Semuanya menerima dengan tangan terbuka, kecuali Keeran yang tampak merengut.
"Aku tidak mau ikut!" kata kembaran Kinan itu. Mereka yang mendengar itu pun mengerutkan dahinya dengan bingung, namun Keeran seolah tak ingin menjelaskan.
"Aku mau tidur. Bangunkan aku jika makanannya sudah siap," katanya, lalu beranjak.
__ADS_1
Keeran menghela napas, lalu berjalan memasuki kamar. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan pikiran yang menerawang. Jujur saja, karena cerita dari Sarah, ia jadi tak menyukai rekan kerja orang tuanya itu, berikut dengan istri baru lelaki paruh baya tersebut.
Sikap buruk Satria dan istrinya, itulah yang menjadi alasan kuat baginya untuk menolak ajakan Satria. Tapi tanpa ia sadari, sebenarnya ia melakukan itu karena merasa peduli dengan Maydea. Ia tak terima ketika mendengar cerita bahwa gadis albino tersebut disakiti oleh keluarganya sendiri.
Sebagai teman (?), Keeran tak mau menjalin hubungan dengan orang yang menyakiti temannya.
Keeran mencebikkan bibirnya. Perkenalannya kemarin dengan Maydea, nyatanya masih terbayang-bayang di dalam benaknya. Ia tak tahu kenapa—namun jujur saja, meski ia tak mengerti dengan perasaannya, tapi ia yakin bahwa ia merasa tertarik kepada gadis itu.
"Dia jahat dengan putrinya," gumam Keeran. Pemuda itu memejamkan matanya, lalu tertidur dengan tenang tanpa memikirkan orang-orang di luar sana yang mengkhawatirkannya.
»»»
"Ada apa dengan Keeran, Bara?" tanya Kinan. Ia menatap pintu kamar adiknya dengan cemas.
"Saya tidak mengerti, Nona ...! Tapi ..., saya yakin ini ada hubungannya dengan gadis pembawa sial itu."
"BARA!" Sarah menegur anaknya. Wanita tua itu tampak cemas. Ia tak mau Maydea semakin menanggung beban dan akibat dari sesuatu yang bukan kesalahannya. Lebih buruk lagi jika putranya lagi yang menjadi salah satu penyebabnya.
"Apa maksudnya? Pembawa ... sial?" tanya Austin. Pemuda itu terlihat penasaran. Ia mendekati Bara dan ibunya.
"Itu—"
"Tidak, tidak!" Belum sempat Bara memberi penjelasan, namun Sarah sudah menariknya untuk keluar vila. Perempuan itu menatap putranya dengan tajam. "Dasar perjaka tua! Jangan suka bermulut ember!" desisnya, pelan. Hanya Bara uang bisa mendengar itu.
Tampak, keempat muda mudi pun saling menatap dengan pandangan yang kebingungan. Lalu, Kala dan Dara menyorot pintu kamar Keeran dengan mulut yang dipenuhi makanan ringan. Kinan duduk di sofa, lalu mengambil ponsel pintarnya untuk memeriksa pekerjaan; Austin yang masih pengangguran pun memilih bergabung bersama dua remaja menyebalkan tersebut.
"Dengar-dengar, mantan pacar lo waktu SMA bunting, Bang ...!" kata Dara, tiba-tiba. Austin yang mendengar itu pun tampak tertarik, begitu pula dengan Kalandra.
"Wih! Di luar nikah?" tanya Kala. Lelaki itu tampak antusias. Jika sudah lengkap formasi seperti ini, maka sudah dipastikan, bahwa salah satu kegiatan wajib mereka adalah bergibah ria.
__ADS_1
"Ya. Tapi mereka udah nikah tiga hari lalu," jelas Dara. Gadis itu melirik Austin sebentar, mengamati ekspresinya. Hanya butuh waktu beberapa detik, acara menggibah pun semakin memanas. Bahkan sudah beberapa kali ketiganya saling menyindir. Kini, semua terlarut dalam kegiatan masing-masing. Tanpa disadari, beberapa pasang mata tengah mengawasi mereka. Tak terlihat, namun ada.