MAYDEA: Titik Balik

MAYDEA: Titik Balik
Sebuah Perkenalan


__ADS_3

..."Setiap individu adalah berbeda dan memiliki keunikannya masing-masing. Kita hidup dalam sebuah standar masyarakat; namun bukan berarti yang berbeda dari itu harus dibedakan. Kita tak sama, namun kita setara."...


...««« FEY »»»...


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


"Hai—kamu, Maydea?" Keeran mengulurkan tangan kanannya dengan ragu kepada gadis bermata biru itu. Sisi tangannya yang lain tengah mencoba menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia tersenyum dengan kaku.


Selama beberapa detik, Maydea mengabaikan sosok baru itu. Gadis tersebut lebih memilih untuk memusatkan atensinya ke bunga-bunga cantik yang menjadi bagian dari bangunan vila bercat putih itu.


"You already know—so there's no need to ask again," tutur Maydea. Gadis itu menghentikan aktivitasnya dalam menyirami tanaman. Ia pun bergeser sedikit, lalu menyorot ke arah pemuda berjaket kulit tersebut.


"Ya," sahut Keeran, tampak kikuk. Ia bergumam sebentar, lalu bergegas menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Tarikan di kedua sudut bibirnya pun, secara otomatis melebar ketika sang perempuan menerima uluran tangannya.


"Siapa namamu?"


"Keeran," jawabnya. Ia merasa canggung ketika melihat ekspresi Maydea yang tak menunjukkan sorot keramahan. Wajah gadis itu tampak datar, seolah ia memang tak memiliki niat untuk berkenalan dengan sang pemuda.


"You arrived quicker than my father said," tutur Maydea. Ia melepas jabatan tangannya, lalu kembali menyirami taman yang mayoritas berisi bunga-bunga beraneka ragam itu.


"Ayahmu?" tanya Keeran, lirih. Nuraninya terasa getir. Sejujurnya ia khawatir ketika mengucapkan kalimat itu. Ia tak ingin Maydea tersinggung. Namun, pikiran negatifnya itu sama sekali tak bisa dipercaya. Gadis albino tersebut, justru tampak santai.


"Ya. Kemarin dia bilang kalau anak-anak rekan kerjanya akan datang lusa. Bukankah itu berarti besok?" Maydea meletakkan sejenak alat penyiram tanamannya, lalu sedikit melakukan peregangan. Udara pagi ini yang terasa sejuk, membuatnya lebih bersemangat dari biasanya.


"Memang. Tapi aku datang dulu. Ya—mengerti? Ini hanya untuk memastikan," ungkap Keeran. Ia menyorot Maydea dengan saksama, lalu menggaruk lengannya karena merasa salah tingkah.


"Kata Ayah, aku akan menjadi tour guide kalian. Akhirnya aku menyetujuinya dengan terpaksa. Waktu itu, dia juga memberiku fotomu bersama saudara-saudaramu," ucapnya. Maydea menggosok-gosokkan tangannya ketika udara terasa mendingin selama beberapa detik.


"Maaf jika kamu terpaksa melakukannya." Keeran meringis. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menepis segala perasaan aneh yang ia rasakan. Maydea hanya menatap itu dengan alis yang terangkat.


"No problem," sahut Maydea. Gadis itu menatap sebuah jam yang tergantung di dinding berjarak beberapa meter dari posisinya—kemudian, ia pun menghela napas. "Ada apa?" tanyanya.


"Ada apa? Maksudnya?" Keeran mengerutkan keningnya dengan bingung. Ia menatap Maydea dengan pandangan bertanya. Sejenak, ia merasa terhanyut ketika pandangannya, tak sengaja bertemu dengan pandangan gadis tersebut.


"Jangan membuang waktu hanya untuk berkenalan. Sekarang hampir jam sembilan. Kamu tidak ingin sarapan?"


"Oh!" Keeran tampak tersadar. Ia tersenyum. Sorot kekaguman, bisa ditemukan dari tatapan matanya. Entah kenapa, ia merasa jika Maydea bukan hanya sekadar gadis desa biasa.

__ADS_1


"By the way ..., senang bertemu denganmu."


"Ya," jawab Maydea, singkat. Gadis itu menghela napasnya, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya dengan sosok pemuda yang terus saja mengekor hingga belasan menit lamanya.


"Masih lama, Maydea? Cuaca semakin terik. Bukankah itu bukan hal baik untuk seorang albino? Bukankah kulitmu lebih sensitif dari kebanyakan manusia normal?" Putri dari Mayla itu, memilih untuk mengabaikan Keeran setelah mendengar pertanyaan itu. Namun baru beberapa detik, ia pun berdecak sebal.


"Aku tau jika kulitku sensitif, begitu pun juga kamu. Bisakah kamu berhenti mengekor?Your behavior reminds me of Danu, Keer ...!" katanya. Remaja yang dengan surai yang dikuncir tinggi itu menatap tajam sang lelaki.


"Danu?"


"Mantan pacar kakak tiriku. Waktu itu dia tak mau putus; karena itu dia selalu mengekor pada Kak Gendhis," tutur Maydea. Gadis itu memandang langsung ke mata Keeran, membuat pemuda itu salah tingkah dan secara spontan mengalihkan pandangannya ke arah bunga-bunga.


"Lihat—bukankah bunga itu mirip denganmu?" seru Keeran, tiba-tiba. Dengan telunjuknya, ia menunjuk ke arah sebuah tanaman.


Dahi Maydea berkerut. Gadis itu mengalihkan pandangannya, lalu menatap ke arah tumbuhan yang ditunjuk Keeran. Namun ternyata, wajahnya langsung berubah masam setelah itu—membuat sang pelaku kebingungan.


"Kenapa? Ah—apa kamu tau nama bunga itu?" tanya Keeran, tampak antusias, sedang Maydea hanya dapat mengembuskan napas dengan pelan.


"Itu Bunga Senduro. Secara umum dikenal dengan nama Eledweiss. Nama ilmiahnya Anaphalis javanica, dari famili Asteraceae," ungkap Maydea. Gadis itu memandang getir bunga yang tampak mencolok itu. Ya, karena ia menyendiri, terpisah dari yang lain. "Analogimu cocok. Tapi aku tak begitu menyukainya," bilangnya.


"Oh—kenapa? Aku enggak menyinggung kamu, kan?" Kali ini, Keeran menggaruk kupingnya. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Ia bukan tipe pria yang berpengalaman dalam memahami wanita. Lagi pula, meski ia telah menjadi pria yang berpengalaman sekalipun, rasa-rasanya akan sulit memahami sosok seperti Maydea. Gadis tersebut berbeda dari orang pada umumnya.


"Kamu mau ikut?"


"Tidak. Aku sudah sarapan sebelum ke sini."


"Dengan apa?"


"Dengan ... mi instan." Maydea tampak ragu menyebutkan menu sarapannya. Sekarang, ia merasa seperti kembali menjadi anak SD—di mana ia akan malu-malu jika ditanya tadi sarapan apa oleh sang guru.


Tanpa aba-aba, Keeran yang tampak kesal langsung menarik Maydea. Kalau saja keseimbangan gadis itu buruk, ia pasti sudah terjatuh ketika sang pemuda memulai aksinya.


"Itu bukan sarapan, namanya."


"Aku yakin kalau kamu pasti tau kalau kalori di mi instan itu tinggi." Maydea menatap Keeran dari belakang. Sejujurnya, ia merasa tak tahu harus berbuat apa ketika berhadapan dengan pemuda aktif seperti Keeran. Apalagi, ia memang tak cukup sering berinteraksi dengan orang lain.


"Tapi, makan dengan mi instan saja tidak akan mencukupi kebutuhan gizimu, Nona ...!" jelas Keeran. Maydea hanya terkekeh tanpa suara. Rasanya sulit dipercaya ketika ia terlihat seakrab ini dengan sosok yang baru dikenalnya.

__ADS_1


"Setidaknya lumayan untuk mengganjal perut."


"Mengganjal perut? Bahasa dari mana, itu? Perut itu bukan pintu yang bisa kamu ganjal, Nona ...! Di perutmu ada organ pencernaan yang memerlukan makanan bergizi untuk bisa diproses, sehingga sistem tubuhmu bisa bekerja dengan baik. Kamu mengerti?" Keeran mengatakan kalimat itu dengan nada yang lucu. Seolah ia seorang guru SD yang sedang mengajari muridnya tentang sistem pencernaan. Seketika, Maydea merasa deja vu. Tingkah Keeran, berhasil melemparkan memorinya pada sosok Bunda yang telah lama tiada.


"Lalu?"


"Makanlah bersama kami," ajak Keeran. Maydea yang masih merasa aneh pun terdiam. Perasaan ini, entah terjadi karena Keeran yang sok akrab, atau karena Maydea yang memang sudah terbiasa dengan sikap tidak peduli orang-orang di sekitarnya.


"Aku rasa—" Maydea melepaskan genggaman tangan Keeran dari tangannya. Ia tak nyaman ketika harus mendapatkan sentuhan seperti itu. Ya, meski itu dari seorang pria tampan sekalipun. "—itu tidak perlu, Keeran ...! Tidak! Tidak perlu," katanya.


Di lain sisi, Keeran tampak mengerutkan keningnya. Pemuda itu memejamkan mata sambil mengingat-ingat cerita sang Bibi, tadi. Jujur saja, ia merasa miris.


"Maaf kalau sikapku membuatmu tak nyaman. Maaf juga karena sebenarnya aku sudah meng—ah!" Keeran menahan napasnya selama beberapa detik.


Tadinya, Keeran sempat berniat untuk memberitahu sang empu, bahwa ia sudah tahu cerita hidupnya; namun kalau dipikir-pikir kembali, ia rasa, itu bukanlah hal yang perlu. Lelaki tersebut tak mau kalau sampai Maydea merasa tersinggung dan dikasihani. Padahal, Keeran sebenarnya tulus.


"Apa?" Maydea menatap pemuda berjaket kulit itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ini baru awal pertemuan dan mereka belum lama berkenalan, namun Keeran sudah menunjukkan gelagat-gelagat aneh yang membuat Maydea merasa semakin tak karuan.


"I—itu ..., eh ..., lupakan saja!"


Maydea berdecak sebal. Matanya menyipit sembari menatap Keeran dengan pandangan menyelidik. Ia akui, ia merasa curiga kepada sang tuan muda keluarga Virya itu. Apa mungkin lelaki tersebut tertarik kepadanya dan tengah berusaha melakukan pendekatan?


Sontak, Maydea pun segera menepis buah pikiran gila yang keluar dari otaknya itu. Ia pikir, ia terlalu percaya diri dengan mengira Keeran sedang 'tertarik' kepadanya.


"Oh, ya—apa yang kamu lakukan semalam, Maydea? Sendirian di jam segitu?"


Maydea menipiskan bibirnya. Ia sadar, Keeran tengah mencoba untuk mengalihkan atensinya. Namun pada akhirnya, ia tetap menanggapi.


"Melihat candra," jawabnya.


"Oh, Candra?" Keeran bergumam dengan pikiran yang menerawang. Ia pikir, candra merupakan nama orang dan bukan bulan seperti yang Maydea maksud.


'Siapa Candra? Kekasihnya? Atau siapanya?' batinnya. Keeran, kemudian memandang Maydea dengan sekelebat rasa yang sulit dijelaskan. 'Apa aku ... merasa tertarik kepadanya?' tanyanya, kepada dirinya sendiri.


Sepanjang hidupnya, Keeran tak pernah merasa tertarik dengan lawan jenisnya. Ketika sekolah dan kuliah saja, ia hanya fokus pada dirinya sendiri, dan tidak memikirkan apa pun mengenai masalah percintaan. Ibaratnya, ia masih sangat polos, sehingga ia masih tidak bisa memahami perasaannya sendiri.


"Ikutlah ...! Anggap saja makanan pagi ini sebagai ... hadiah perkenalan," kata Keeran, dengan senyum tipis yang mengembang.

__ADS_1


"Kamu pasti tak tau jika Pak Bara tidak menyukaiku. Banyak yang tidak menyukaiku," lirih Maydea, membuat Keeran yang menyadari itu pun terhenyak.


"Enggak masalah, Maydea ...! Kita bisa membawa makanannya ke kursi itu, yang ada di depan taman. Kita bisa makan berdua di sana. Bibi Sarah, pasti tidak akan keberatan. Toh, ini vila milik keluargaku," tutur Keeran, dengan seringai menyebalkan di akhir kalimatnya. Benar, ia yang berkuasa di sini.


__ADS_2