MAYDEA: Titik Balik

MAYDEA: Titik Balik
Tugas Menyebalkan


__ADS_3

..."Aku mau berhenti membenci bukan karena ingin terlihat sebagai orang baik. Namun inilah caraku menjadi egois; dengan membuang seluruh perasaan negatif di dalam nuraniku."...


...««« MAYDEA »»»...


...͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏...


Satria tampak terdiam—sepertinya berpikir keras. Namun setelah beberapa saat, ia memilih untuk menyerah. Benar saja, perkataan Maydea berhasil membuat kepalanya didera oleh rasa pusing. Lelaki itu, kemudian mengembuskan napasnya secara kasar. "Sudahlah ...! Terserah kamu mau bersikap seperti apa—Ayah sudah tak mau peduli tentang itu. Lagi pula, tujuan Ayah ke sini, sebenarnya ingin memberi ini."


Satria tampak mengambil sesuatu dari balik saku bajunya, lalu menyodorkannya ke sang putri. Dengan perasaan tak enak, Maydea pun berbalik. Setelah berhadapan dengan ayahnya, gadis itu, kemudian mengamati benda yang ingin Satria berikan.


"Foto? Siapa mereka?" Maydea mengambil lembar itu dari tangan ayahnya. Dahinya berkerut; jujur saja ia penasaran. Ayahnya datang, dan tujuan utamanya memberi foto itu—pasti ada tujuan lain di baliknya, kan?


"Mereka anak-anak dari rekan kerja Ayah," jawab Satria. Lelaki itu menatap isi rumah di balik punggung Maydea. Ini mengingatkannya pada masa lalu—pada mendiang istrinya, Mayla. Wanita itu, pasti sudah tenang di tempat barunya. Satria tak berharap perubahan sikap Maydea membuat wanita itu merasa resah di alam sana. Sekali lagi, ia tak mengaca.


"Lalu?"


"Mereka akan segera berkunjung. Perkiraannya, lusa, mereka sampai sini. Mang Arya sedang sibuk; istrinya mau lahiran. Hanya dia pemandu wisata terbaik di sini. Karena sudah diberi kepercayaan, jadi Ayah harus tetap mengurus mereka. Tapi, Ayah sibuk—jadi, Ayah sudah memutuskan kalau kamu yang akan menjadi tour guide bagi mereka," ungkap Satria. Maydea yang mendengar itu pun mengerutkan keningnya karena tak suka. Lagi-lagi, ayahnya sembarangan mengambil keputusan.


"Kenapa harus aku? Ada banyak warga di sini—ada Ibu, ada Raka; Gendhis juga sedang libur, kan? Lagi-lagi Ayah tidak mau mendengarkanku," tutur Maydea. Ia menekuk bibirnya dengan kesal. Perasaannya, sungguh sedang sensitif.


"Kamu mengenal desa ini dengan sangat baik. Sulit mencari warga yang bersedia menjadi pemandu. Ayah sudah berusaha; tapi kebanyakan dari mereka sibuk—lalu tiba-tiba, terpikir oleh Ayah untuk meminta pertolonganmu," kata Satria. Lelaki itu menenggelamkan telapak tangannya di saku celana. Sore ini, cuaca terasa dingin. Kabut tipis pun mulai menyelimuti.


"Ayah bukan meminta pertolongan, tapi memaksaku karena Ayah sudah memutuskan sebelum bertanya kepadaku. Lagi pula, Ayah kan sebenarnya bisa menyuruh istri atau anak-anak tercinta Ayah." Maydea menekuk alisnya, sambil memandang lekat sosok-sosok di dalam foto. Muda mudi itu, tampak sangat bahagia di dalam selembar kertas tersebut.


"Sudahlah, May ...! Kamu tak bisa menolak. Kamu juga tahu istriku seperti apa; dan kamu seharusnya mengerti jika Raka sibuk sekolah dan Gendhis pasti lelah karena sibuk dengan kuliah, sedangkan kamu tidak punya pekerjaan," kata Satria. Ia menyorot sebentar ke ekspresi Maydea, sebelum akhirnya pergi berlalu begitu saja—bagai tanpa beban ia melakukannya.


Sang gadis albino menatap kepergian ayahnya dengan sendu. Ia memejamkan mata dan menarik napasnya dalam-dalam. Bersabar memang sesuatu yang tak mudah dan menguras tenaga. Namun, jika tidak mencoba untuk melakukannya, mungkin sekarang, ia sudah berada di balik bayang-bayang kelam seluruh kebenciannya. Gadis itu tak mau jika perasaan negatif sampai menggerogoti jiwanya. Meski begitu, tetap saja lukanya selalu ada dan akan sulit memaafkannya. Ayolah ~ nurani Maydea tak selapang itu.


'Semena-mena! Menyebalkan!' Maydea menggerutu dalam batinnya. Ia memfokuskan penglihatannya pada sosok-sosok yang tercetak pada selembar kertas itu. Sejenak, ia berpikir: bagaimana bisa mereka bersikap seceria itu?


"Kenapa harus aku yang ditugaskan untuk kalian? Semoga kalian tidak jadi datang!" gumam Maydea. Beberapa detik kemudian, ia segera masuk ke kediamannya, lalu segera meliputi tubuhnya dengan selimut. Atmosfer yang terasa dingin, membuat tubuhnya sedikit bergetar. Entah kenapa, sejak beberapa bulan belakangan ini, ia tak lagi tahan dengan hawa rendah di lingkungannya. Padahal, kalau ditengok ke belakang, dulu ia sangat kuat menghadapi suhu dingin.


Selama beberapa saat, Maydea tampak melamun. Entah apa yang direnungkan olehnya; agaknya, ia tengah bertanya-tanya mengenai nasibnya (?).

__ADS_1


Tak lama, Maydea pun beranjak ke pojok ruangan di mana terdapat sebuah meja kecil di sana. Di atasnya ada buku, lengkap dengan perlengkapan tulis lainnya. Maydea sering menulis apa yang dia rasakan dan alami di sana. Ya, sebut saja itu jurnal pribadinya.


...««« THE JOURNAL »»»...


...Hari ini berjalan dengan melelahkan. Aku merasa nasibku benar-benar mengenaskan. Segala emosi dan tenagaku seolah terkuras habis seiring dengan menjelangnya malam....


...Hari ini, emosi Gayatri kembali meledak—seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Ia kembali menyakitiku secara fisik dan verbal. Aku juga sangat marah karena dia berani menghina Bunda....


...Aku tak tahu jika Ayah akan pulang dari kota di hari ini. Aku benci ketika dia membiarkan istri barunya melakukan tindakan kriminal, yaitu menganiaya anak-anaknya; namun ketika aku melawan, dia malah menuduhku tidak sopan dan aku memang pantas dihukum karena aku yang bersalah. Tapi, salah seperti apa yang dia maksud?...


...Hari ini, aku merasa sedikit lega. Kuungkapkan perasaanku, pemikiranku. Ini sedikit membantu mengurangi bayang kebencian yang mulai melingkupi nuraniku....


...Dia memberiku sebuah tugas menyebalkan sebelum kepergiannya. Jujur saja, akan lebih baik dia tak pernah datang jika hanya hal itu tujuannya. Tidakkah dia mau berniat memelukku dan melepaskan kerinduan bersama-sama?...


...Aku berharap malam ini datang—datang dengan cara yang kuharapkan. Aku ingin melihat bagaimana berharganya cahaya bulan yang menerangi kelamnya malam. Aku menyukainya. Ia selalu mengingatkanku pada Bunda....


...Oh, ayolah—kenapa jiwaku terasa hampa? Aku jadi mau kembali ke masa lalu....


Maydea menghela napasnya, lalu terdiam. Ia selalu rutin menulis jurnal. Ia menulis lewat kata-kata yang sederhana; mungkin, hanya sesekali ia menulis menggunakan bahasa yang puitis.


Sang albino menatap ke kalander. Sekarang masih bulan Juli, namun hujan sudah mulai menunjukkan eksistensinya, meski normalnya, sekarang adalah waktu puncak musik kemarau. Ia rasa, musim memang sedang tak menentu. Mungkin inilah yang disebut fenomena La Niña.


Tahun ini, Maydea lebih sering diam di rumah daripada biasanya. Gayatri sering memanggilnya, namun lebih sering ia tak menghiraukannya. Sejujurnya, gadis itu tak tahan dengan cuaca. Saat musim kemarau, terik matahari benar-benar membakar kulitnya; sedang saat musim hujan, hampir setiap waktu ia kedinginan.


Maydea pun beranjak dan mengambil segelas air mineral untuk diminumnya. Matanya tampak jeli memerhatikan foto di tangannya. Kali ini, ia terlihat penasaran dengan sosok-sosok itu.


'Aku akan memandu mereka?' batin Maydea. Namun sepertinya, ia tak memperhatikan seluruh insan di dalam foto, hanya satu yang menjadi fokusnya, dan dia seorang lelaki! Mungkinkah gadis itu sedang merasa tertarik dengan lawan jenisnya?


"Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku malah jadi tidak sabar menghadapi tugas menyebalkan itu?" gumam Maydea, berbicara pada dirinya sendiri. Ini memang kebiasaannya sejak lama; sejak ia masih sangat kecil—mungkin seusia PAUD. Hal ini berjalan semakin parah sejak kematian Bunda, dan puncaknya selepas sang ayah mengenalkan istri barunya. Sejak saat itu, Maydea benar-benar merasa tidak punya teman bicara terbaik selain dirinya sendiri.


Maydea memutuskan untuk menyimpan selembar fotonya ke laci meja sembari menepis perasaan-perasaan aneh yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Ayolah—ia tak mungkin merasa tertarik kepada sosok di dalam foto itu, kan?


Maydea menggelengkan kepalanya, lalu mengambil setelan pakaian hangatnya di dalam lemari kecil. Busana itu bekas ibunya. Untungnya, Mayla meninggalkan banyak barang-barang berguna untuk putri semata wayangnya.

__ADS_1


Maydea sudah merencanakan ini sejak semalam. Hari ini, ia ingin pergi menikmati malam di tempat favoritnya; mungkin, ia juga akan membawa gitar akustiknya. Pas sekali karena cuaca sedang mendukung; dan semoga saja, awan kelabu tak akan tiba-tiba datang untuk menumpahkan bulir-bulir pembawa harapan itu.


Kalau saja Maydea kebal terhadap segala jenis penyakit, maka hujan-hujanan, pasti menjadi hal yang amat menyenangkan. Hanya saja, ia tak punya orang lain untuk merawatnya jika ia sampai jatuh sakit. Raka pun tak mungkin punya waktu seluang itu.


"Dingin!" keluh Maydea, tiba-tiba. Ia menatap sang mentari yang setengah tubuhnya sudah tenggelam di ufuk sana; sejenak, itu membuatnya merasa hangat.


"Suhu udara yang rendah membuatku malas mandi," ungkapnya Maydea. Maka sudah diputuskan, bahwa ia tak akan mandi di sore ini.


...««« AUTHOR'S NOTES »»»...



Constantine Yang tak pernah menyangka hari ini akan tiba. Hari di mana ia harus mengorbankan seluruh kehidupan yang dimilikinya demi kemerdekaan kerajaannya, rakyatnya, dan keluarga yang bahkan tak pernah memikirkan perasaannya. Bahkan sebelum hari ini tiba, ia tak pernah tahu bahwa ia telah digadaikan oleh Sang Raja—ayahnya sendiri—yang melemparkannya pada sebuah keadaan di mana ia harus menikahi sang Pangeran cacat nan buruk rupa yang dibenci oleh semua orang.


Constantine yang tahu bagaimana cara memanfaatkan keadaan, pada akhirnya membuat sebuah kesepakatan dengan sang Pangeran. Keduanya pun terikat di dalam sebuah perjanjian yang dibuat secara diam-diam.


Sebenarnya, apa rencana Constantine dan sang Pangeran? Apakah kisah mereka hanya akan berdasar pada kesepakatan, atau akankah cinta hadir di antara keduanya?


.........



Dia adalah seorang penjahat wanita hebat dari abad ke-21 yang baru saja mati. Bukannya hidup tenang di Alam Roh seperti roh-roh lain, dia harus menelan pil pahit saat Dewa Keadilan mengatakan, bahwa dirinya harus bereinkarnasi agar seluruh dosanya dapat terampuni. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali; Itu artinya, jika dia mati, dia akan bereinkarnasi lagi.


Dan kini, takdir seolah mempermainkannya. Ketika berada di titik kehampaan dalam petualangan reinkarnasinya, dia dikejutkan oleh kehadiran tugas tak terduga yang harus diembannya bersama seorang Dewa yang bernama Justine; juga tentang identitasnya yang sebenarnya.


Tokoh utama antagonis yang terpaksa bereinkarnasi dan menerima tugas yang tak diinginkannya ~ Apakah dia mampu melakukannya? Lalu, ke mana lagikah takdir akan membawanya?


.........


Jangan lupa mampir ke cerita lain Author >o


...««« GOOD LUCK »»»...

__ADS_1


__ADS_2