
..."Salah satu hal paling menyenangkan adalah ketika kita memiliki keluarga yang mau menerima kita apa adanya; di mana kita kita tak perlu menjadi sosok lain di hadapan mereka."...
...««« KALANDRA »»»...
...͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏...
Pagi itu, sebuah mobil jip telah memasuki sebuah gerbang pintu masuk desa. Tiga orang yang menjadi penumpang di kendaraan itu, tampak tengah tertidur dengan pulasnya—mengabaikan sang pengemudi yang sedang merana.
Austin tahu, keputusannya untuk mengalah kepada yang lain adalah sebuah kesalahan besar. Seharusnya, ia menerima saja tawaran Kinan, yang memintanya untuk menyerahkan setir kepada perempuan itu tiga jam lalu, sehingga ia tak perlu selelah sekarang ini.
Lewat pantulan kaca yang mengarah di kursi-kursi belakang, Austin benar-benar merasa seperti seorang sopir sungguhan yang bekerja untuk tiga tuannya, sekarang. Bahkan, Kala dan Dara yang biasanya selalu heboh, kini telah beristirahat dengan tenangnya.
"Sialan! Mereka malah tiduran!" Austin mengumpat sambil mengembuskan napasnya dengan kasar. Pemuda itu tak sadar jika tindakannya barusan, ternyata berhasil membangunkan sosok di belakang sana.
"Austin? Ah—sorry ..., aku ketiduran, tadi. Mau aku gantiin, 'nggak?" Kinan tampak menawarkan, namun Austin menggeleng pelan.
"Sebentar lagi sampai, kok .... Keeran 'gimana? Belum ada kabar?" Austin melirik sebentar ke arah belakang, lalu menghela napasnya. Bukan tanpa alasan mereka mengizinkan Keeran berangkat duluan, karena sebenarnya, mereka juga ingin pemuda itu mengecek kondisi di desa.
"Gak bisa. Keeran lupa bawa kuncinya, Austin! Memang ceroboh!" Kinan berdecak sebal. Wanita itu tampak tak peduli, meski yang ia bicarakan adalah adik kembarnya sendiri.
"Biasa," ujar Austin, mencoba bersikap tenang, walau pada kenyataannya, ia tengah mengatakan banyak sumpah serapah pada Keeran dari dalam batinnya. Menurut laki-laki itu, di antara tiga bersaudara, yaitu Kinan, Keeran, dan Kalandra, hanya Kinan-lah sosok yang waras. Jangan tanya bagaimana Dara—gadis itu tak jauh bedanya dengan Kala, sang sepupu, yang selalu heboh dan jahil setiap harinya.
"Sepertinya ini .... Ini benar vila-nya, kan, Nan?" tanya Austin. Kinan yang ditanya seperti itu pun tampak menengok ke luar selama beberapa detik, merenung, lalu mengangguk dengan mantap.
"Dara!" Kinan menggoyang-goyangkan tubuh adik sepupunya itu. Sengaja ia lakukan, karena Dara memang tak seperti Kala yang susah dibangunkan jika sedang tidur. Lagi pula, Kinan yakin, gadis tersebut, pasti bisa membangunkan si bungsu yang paling menyebalkan itu.
"Hmm." Dara hanya bergumam sebentar sebelum pada akhirnya, ia membuka mata sepenuhnya. Ketika di mobil, sebenarnya ia tak sedang benar-benar tertidur—yang artinya, kadang ia tidur sungguhan, kadang hanya setengah sadar, lalu ketika bangun, ia mencoba untuk tidur lagi. Ya—meskipun Dara tipe anak muda yang suka tidur di mana saja dan kapan saja, namun, ia tak akan bisa tertidur nyenyak jika tak berada di tempat yang nyaman. Ia tak bisa tidur dalam posisi duduk.
__ADS_1
"KALANDRA! WAKE UP! WAKE UP! WAKE UP!"
Austin tampak menyeringai di balik kursi kemudinya. Rupanya, tanpa diberitahu pun, Dara sudah tahu apa tugasnya. Terbukti ketika gadis itu berteriak untuk membangunkan sang sepupu, sedang suaranya, pada orang dengan pendengaran lemah, frekuensinya Austin yakini bisa menghancurkan gendang telinga mereka.
"Shiiit! Lu ganggu tidur gue, Dara! Gue yakin kalau suara lo bisa bersaing sama suara keledai." Kalandra yang baru bangun dari tidurnya, langsung mengucapkan apa pun yang ada di pikirannya. Ia yang memang belum mendapatkan kesadaran sepenuhnya itu pun mencoba tertidur kembali.
"KALA! KURANG AJAR!"
Austin pun meringis ketika melihat Dara menyeret Kala begitu saja untuk keluar dari mobil. Adik dari Kinan dan Keeran itu tampak merintih kesakitan ketika pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh sang sepupu.
Austin akui, meski Dara merupakan gadis bertubuh mungil, namun tenaganya bisa setara dengan tenaga Austin sendiri. Tak percaya? Austin sudah mencoba membuktikannya sendiri. Waktu mereka sedang latihan seni bela diri saja, pertarungan mereka selalu berakhir seri, meski tubuh Austin jauh lebih besar dari gadis tersebut.
"DARA! LEPAS, OI! GUE BISA BIKIN LAPORAN KE POLISI ATAS PASAL PENGANIAYAAN," ancam Kalandra. Namun tentu saja itu tak memengaruhi Dara. Gadis itu memang melepaskan pegangannya, tapi setelah itu, ia langsung menendang sesuatu di antara kedua paha sepupunya—membuat Kala merasa ngilu di area kebanggaannya.
"SIALAN, DARA! AH—SHIIIT!" Kalandra tak henti-hentinya mengumpat sembari memegang bagian bawah sana. Sungguh tak habis pikir, bagaimana bisa ia mempunyai sepupu manusia setengah iblis seperti Dara. Memang kasar—namun Kala rasa, itu merupakan penggambaran yang tepat untuk menjelaskan seberapa kuatnya sosok Dara.
"Oi! Om Bara! Bang Keeran ada di dalam, 'nggak?" tanya Kala, terdengar akrab. Ia memang tipe pemuda yang mudah berkawan. Bahkan, dengan orang tak dikenal pun, ia bisa bertingkah layaknya sahabat lama yang tak berjumpa setelah sekian purnama.
"Ada, ada! Tapi—" Belum sempat Bara mengusaikan ucapannya, namun Kala sudah melaung duluan sambil menyelonong masuk dengan wajah tengilnya. Ah—dia belum tahu saja dengan kondisi kakaknya ....
"Oi! Bang Keer—eh, wait, wait, wait ..., muka lo kenapa, Bang?"
Kalandra yang tampak terkejut pun segera berlari menghampiri Keeran, lalu memutar tubuh anak orang tuanya itu dengan tergesa-gesa. "Badan lo bonyok semua. Mirip maling yang habis digebukin sama warga," katanya, sambil mengelus-elus dagunya.
"Memang," sahut Keeran. Kalandra yang mendengar itu pun tampak cengo, lalu refleks menampar sang abang.
"Kala ...—kamu kurang ajar sekali ...," kata Keeran dengan penekanan di setiap nadanya. Luka di wajahnya, kini mendadak ngilu kembali setelah mendapat sebuah tamparan dari sang adik.
__ADS_1
"Sadar, Bang ...! Orang tua kita itu kaya—the crazy rich! Kekayaannya melimpah ruah sampai ke cucu cucunya cucunya cucunya cucu kita. Buat apa lo jadi maling, Bang?" Kala memegang bahu Keeran dengan kuat. Tatapannya tampak sangat tajam.
"Sialan! Apa yang kamu katakan, Bocah?! Aku tidak menjadi maling! Itu hanya salah paham. Mereka memukuliku karena mengira aku maling di vila ini," ungkap Keeran. Kala yang tampak kaget pun kembali spontan menampar sang kakak.
"Kalandra ...!" Keeran menggeram sambil memegang pipinya yang terasa sangat sakit. Ia merasa kalau gigi-giginya akan rontok sekarang juga. Oh—menjadi ompong di usia muda, sama sekali bukan impiannya.
"Maaf, Bang Keer ...! Gue gak sengaja 'naboknya. Refleks—sumpah!" Kala membentuk angka dua dengan jarinya, lalu mundur perlahan menjauhi sang kakak yang tampaknya akan segera meledak itu. Ia sadar betul, sesabar dan selembut apa pun sosok Keeran selama ini, lelaki itu akan tetap menjadi orang yang mengerikan ketika marah besar.
"Ya," kata Keeran. Kalandra pun menghela napasnya. Hanya butuh beberapa detik bagi saudaranya itu untuk tenang kembali. Keeran memang merupakan sosok yang selalu menjadi emosinya.
"Keer—what?! What happened? How could you be like this?" Kinan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya—beraksi syok dengan apa yang terjadi pada kembarannya itu. Meski pada realitasnya ia bersama kedua adiknya selalu ribut, tapi tak ada yang bisa menolak fakta bahwa mereka memang saling menyayangi.
"Wow! Lo ikut tawuran di kampung orang, Bang? Weh! Gak seru! Mestinya lo ajak gue kalau mau ikut tawuran. Gue selalu siap buat hajar para lawan," celetuk Dara. Gadis itu baru saja masuk, lalu disusul dengan Austin di belakangnya. Bara yang ada di sana pun tampak canggung.
"Wait ...! Kamu gak ikut tawuran seperti dulu, kan?" Kinan memandang sang adik dengan tajam, sedang yang merasa menjadi atensi pun tampak mengembuskan napas panjang.
"Kenapa kalian malah mengungkitnya di saat seperti ini? Waktu itu, aku benar-benar hanya iseng ikut-ikutan saja. Setelah itu, aku sudah tidak mau ikut lagi karena takut menjadi bulan-bulanan kalian lagi setelahnya," ungkap Keeran, mengingat masa lalu.
Waktu SMA dulu, Keeran yang masih polos benar-benar penasaran dengan dunia luar. Karena rasa penasarannya itu, Keeran pun sempat salah memilih teman. Akibatnya, ia pun pernah beberapa kali membolos kelas, sekali ikut tawuran, dan sekali mabuk karena dipaksa meminum minuman keras—setelahnya, ia pun memutuskan untuk meninggalkan teman-teman nakalnya itu, sehabis ia diajak untuk menonton film dewasa bersama; bahkan, ia juga ditawari untuk mempraktekkan adegannya bersama seorang wanita bayaran yang jelas langsung Keeran tolak.
Keeran yang pada dasarnya memiliki trauma, memilih selalu menghindar dari yang namanya perempuan. Hanya berinteraksi secukupnya dan hanya itu. Selama ini saja, wanita terdekatnya hanya sang ibu, Kinan, dan sang nenek yang telah tiada—lalu lumayan dengan Dara yang selalu bisa mencairkan suasana itu.
"Kalian jahat sekali memfitnah kakakku seperti itu .... Tega! Wahai manusia durjana, kukutuk kalian menjadi kodok dalam air comberan." Kalandra mulai menampakkan kembali tingkah absurdnya. Di sisi lain, Dara yang tampak kesal pun langsung menghampirinya dan mereka memulai kembali permainan lama.
Kalandra dan Dara tampak saling menjambak, mencubit, bahkan memamerkan bau mulut mereka masing-masing. Seolah tak ada malu, keduanya pun melakukannya, seolah mereka adalah anak TK yang sedang bertengkar karena masalah sepele seperti berebut mainan. Hanya saja, mereka adalah versi yang lebih matang, di mana pikiran keduanya, seharusnya sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Baru pagi hari dan rombongan pun baru tiba, namun vila sudah berhasil dibuat kacau seketika. Kehebohan yang dibuat Kala dan Dara, sepertinya merupakan tontonan yang menarik bagi Austin—terbukti ketika pemuda itu bertepuk tangan dan bersorak, seolah mendukung kedua remaja tersebut untuk semakin bertindak agresif.
__ADS_1
'Aku menjadi patung saja,' batin Bara.